BAB III. ARAHAN PENGHAYATAN SPIRITUALITAS
D. Pergulatan Yang Diisyaratkan dalam Konstitusi
Konstitusi KSFL, 1999 psl.6 mengatakan sebagai berikut: “Roh Tuhan ada padaku. Oleh sebab Ia mengurapi aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku” (Luk. 4:18). Kalimat ini mengajak kembali anggota KSFL untuk menyadari sepenuhnya tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan sendiri yakni dengan menyampaikan dan membawa kabar baik dan kabar gembira kepada orang-orang miskin dan sederhana melalui karya pelayanan setiap hari.
1. Pergulatan Nilai
Kehadiran Kongregasi KSFL dalam karya pelayanan adalah untuk mewujudkan dan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah, seperti: kedamaian, cintakasih, kegembiraan, sukacita, pengampunan, kerendahan hati, dan sebagainya. Maka setiap anggota KSFL hendakya membaktikan seluruh hidupnya untuk pewartaan Kerajaan Allah dengan perkataan dan perbuatan demi pelimpahan rahmat (Konst KSFL, 1999: 90). Kalimat ini mengajak setiap anggota KSFL untuk mewujudkan semangat injili yakni dengan menjadi pelayan bagi semua orang dan menjadi pembawa damai, serta menjadi saudara bagi semua orang, khususnya bagi orang-orang miskin, sederhana dan tersingkir. Melayani mereka yang lapar dan haus, menyapa mereka yang sakit, dan menghargai mereka
yang martabatnya tidak dihargai (Mat 25:35-36). Seperti teladan Yesus yang hadir ke dunia ini bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani semua orang. (Mat 20:28). (Konst KSFL, 1999: 93) berbicara: Setiap suster dalam pergaulan dalam tugas setiap hari senantiasa berusaha kerja sama, menghormati orang lain khususnya teman sekerja dan jangan ingin berada di atas orang lain. Kalimat ini mau menegaskan bahwa dalam setiap karya pelayanan, hendaklah setiap orang menghidupi kerendahan hati, dan tetap menghargai serta mencintai rekan kerja dan tetap mengusahakan kerjasama yang baik, karena kehadiran para suster KSFL adalah menjadi saudara bagi semua orang. Untuk tercapainya visi dan misi maka para suster KSFL haruslah berusaha untuk menghidupi nilai-nilai dalam Konstitusi yang sudah disebutkan di atas. Dalam pergulatan nilai ini juga, para suster KSFL hendaknya tetap setia pada fokus yang akan dicapai yakni menjadi saudara bagi semua orang tanpa terkecuali. Setiap orang juga sangat perlu menyadari bahwa pelayanan yang dilakukan hanyalah untuk Tuhan sendiri melalui orang-orang yang dilayani.
Nilai-nilai religius hendaknya diperjuangkan dan tetap dihidupi oleh setiap anggota religius. Menghayati nilai-nilai religius, seperti halnya: hadir untuk melayani bukan untuk dilayani, melayani dengan rendah hati, bersabar dengan semua orang, mau dan rela berkorban. Selain hal ini ada juga keutamaan-keutamaan yang sangat mendukung nilai-nilai religius ini dan sangat perlu untuk dihayati oleh para religius seperti: penyangkalan diri, kesahajaan hidup, tanggung jawab, kesetiaan, sikap lepas bebas, dan kemiskinan (Ridick, 1987: 124). Nilai persaudaraan yang dihidupi dan dihayati hendaknya juga diwujudkan dalam karya
pelayanan kepada semua orang. Nilai persaudaraan yang dihayati akan dengan sendirinya terpancar juga kepada siapa saja yang dijumpai dan juga hendaknya berusaha untuk membagikannya dengan mereka yang kita jumpai dalam karya pelayanan. Dengan demikian akan semakin nyatalah bahwa kehadiran para suster KSFL adalah menjadi saudara bagi siapa saja yang dijumpai.
2. Pergulatan Cara Kerja
Cara kerja yang sangat diharapkan adalah sebagaimana teladan Santo Fransiskus Assisi, yakni dengan mengerjakan tugas dengan rendah hati dalam semangat doa dan bakti (Konst KSFL, 1999: 92). Dalam karya pelayanan semangat doa dan rendah hati sangat penting, sehingga kita sendiri dan orang yang kita layani dapat merasakan kegembiraan dan bahkan dapat merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Hanya saja pada zaman sekarang ini, kaum religius kurang menghidupi doa dalam karya pelayanan. Mereka terlalu mengutamakan karya-karya dalam menjalankan perutusan. Pada hal kita sebagai murid Kristus haruslah meneladan hidup-Nya yang selalu menjalin relasi dengan Bapa-Nya yang mengutus. Seluruh hidup Yesus ditentukan kesatuan-Nya dengan Allah. Doa merupakan penghayatan kesatuan sempurna dengan Bapa (Iman Katolik, 200-201). Komunikasi inilah yang menjadi kekuatan yang menjadikan Yesus tegar hingga setia pada misi kehadiran-Nya di dunia. Yesus tetap tegar dan tidak putus asa meskipun manusia menghianati-Nya dan Yesus tidak menyesal kepada Bapa-Nya yang mengutus Dia ke dunia ini. Yesus tidak mempersalahkan Bapa-Nya meskipun Dia mengalami ketidakadilan, dan tidak menolak kenyataan
meskipun Yesus harus membayar kesetiaan itu dengan nyawa-Nya sendiri. Hal ini dilakukan oleh Yesus karena Yesus sangat mencintai Bapa-Nya dan Bapa juga sangat mencintai Yesus dalam segala hal.
KSFL juga sebagai orang yang terpanggil, haruslah belajar dari Yesus sebagai utusan Bapa. Sebagai pengikut-Nya, maka cara kerja para suster KSFL haruslah mewujudkan cara kerja Yesus sendiri. Yesus yang selalu setia dan selalu mendahulukan serta mencari kehendak Bapa-Nya. Para suster KSFL juga hendaknya demikian dan rela berkorban demi keselamatan dan kebahagiaan sesama. Kehadiran KSFL sebagai utusan yang menjalankan tugas perutusan, hendaknya selalu tersambung dengan Bapa yang mengutus dan selalu menjalin komunikasi dengan-Nya. Oleh sebab itu kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya dan selalu menyerahkan segalanya kepada Tuhan (Konst KSFL, 1999: 59). Dengan adanya komunikasi dengan Bapa yang mengutus, KSFL dalam karya pelayanan dengan sendirinya akan menghadirkan Kerajaan Allah. Banyak orang akan mengalami sukacita, kedamaian, penghiburan, dan juga kesembuhan.
Setiap suster KSFL hendaknya menyadari dirinya sebagai seorang religius. Dengan adanya kesadaran ini, maka akan berusaha untuk menyeimbangkan dan mengutamakan hidup doa daripada karya. Seorang religius bukanlah hanya sebagai pekerja, tetapi juga lebih lagi sebagai pendoa. Seperti halnya teladan Yesus dalam karya-Nya selalu menjalin relasi dengan Bapa-Nya. Yesus mendasari pewartaan-Nya dengan doa, artinya dengan mempererat relasi-Nya dengan Bapa dan berserah hanya kepada-Nya (Andreas, 2010: 94). Kita tetap setia kepada panggilan kita sebagai pelayan. Bekerja adalah suatu anugerah tetapi
kita yakin bahwa hidup lebih daripada kerja. Pelayanan kita hendaknya diwarnai semangat kesederhanaan dan kesahajaan (Konst KSFL, 1999: 92). Kalimat ini mau menegaskan bahwa bekerja itu adalah sungguh anugerah Tuhan, maka hendaknya pertama-tama mensyukurinya kepada Sang pemberi dengan menjalin relasi dengan-Nya dalam setiap langkah hidup kita. Menjalin relasi yang terus-menerus dengan Tuhan sendiri akan mewarnai pelayanan kita dengan kesederhanaan dan kesahajaan.
Hendaknya masing-masing suster tetap ingat bahwa hanya satu hal yang harus selalu menjiwai seluruh karya yakni semangat pengabdian. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas pelayanan, masing-masing suster hendaknya:
Bertindak atas nama persaudaraan kita serta besikap sebagai saudara bagi semua orang.
Saling membantu, menyemangati, dan mendukung setiap suster. Dalam karya pastoral mengusahakan kerja sama dengan para pelayan
pastoral Gereja setempat.
Menjalin kerja sama dengan keluarga-keluarga Fransiskan lainnya (Konst KSFL, 1999: 69).
3. Menuju ke Perwujudan Pelayanan Secara Baru
Pelayanan untuk Tuhan dalam hal ini adalah pelayanan yang murah hati yakni pelayanan yang penuh dengan pengabdian (Martasudjita, 2003: 52). Pengabdian yang dimaksud disini adalah pelayanan yang tulus, tanpa pamrih, rendah hati, dan tidak memikirkan kepentingan diri sendiri. Pelayanan yang tulus dan tanpa pamrih berarti sungguh-sungguh memberikan diri untuk Tuhan melalui kehadiran dan pelayanan kepada sesama. Semua pelayanan di setiap karya yang dikelola oleh anggota KSFL adalah merupakan pengabdian dan pemberian diri kepada Tuhan melalui pelayanan kepada Gereja dan juga sesama. Dengan
demikian setiap anggota KSFL haruslah menyadari bahwa pelayanan yang dilakukan adalah sebagai pengabdian yang tulus dan dengan semangat kerendahan hati.
Dalam melaksanakan karya pelayanan, setiap anggota KSFL hendaknya berusaha untuk menghidupi kharisma kongregasi yakni pengosongan diri yang sedalam-dalamnya, seperti Yesus yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba sampai wafat di salib (Konst KSFL, 1999: vii). Pelayanan yang dilakukan oleh KSFL adalah pelayanan kepada Tuhan sendiri yang dapat diwujudnyatakan dalam sikap dan tindakan setiap hari. Pelayanan bukanlah kekuasaan, melainkan untuk mengembangkan orang lain. Konst KSFL, 1999: 89, menegaskan bahwa:
Hendaklah para saudara tetap ingat bahwa kita sebagai seorang Fransiskan pengikut Yesus Kristus yang mengosongkan dan menghampakan diri, tidak gila hormat dan mencari kekuasaan, melainkan tetap terarah kepada pengabdian dan kesejahteraan semua orang. Kita semua jangan menganggap jabatan sebagai milik yang harus dipertahankan, tugas dan jabatan hendaknya kita rela melepaskannya pada waktu yang ditetapkan, karena kita adalah kaum peziarah yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Kita mencari kota yang akan datang.
Kerendahan hati adalah hal yang paling utama untuk melakukan setiap perbuatan secara khusus dalam menjalankan tugas perutusan. Artikel di atas memiliki arti yang sangat dalam, yakni pengosongan diri sebagai anggota KSFL haruslah siap sedia dan dengan rendah hati untuk menerima karya perutusan apapun dan kemanapun akan diutus. Dengan cara demikian tugas pelayanan akan semakin dihayati sebagai pengabdian yang tulus kepada Tuhan. Melepaskan segala keinginan dan kehendak yang menghalangi karya perutusan akan semakin meneguhkan dan menyempurnakan pelayanan kepada Tuhan.
Santo Fransiskus Assisi, mengajak para saudaranya untuk menyampaikan salam ini kepada semua orang yang mereka jumpai, “semoga Tuhan memberimu damai” (Syukur, 2006: 120). Anggota KSFL sebagai pengikut Santo Fransiskus Assisi, diharapkan untuk memelihara dan membagikan damai kepada semua orang yang mereka jumpai dan mereka layani. Tuhan telah memberi damai kepada mereka sebelum memulai karya pelayanan. Damai yang dimiliki oleh setiap saudara akan dirasakan oleh semua orang dengan kehadiran mereka di tengah-tengah umat. Damai yang mereka bagikan akan menjadi sukacita bagi diri sendiri dan juga orang lain. Dengan demikian kesaksian hidup injili para suster KSFL akan terwujud dalam karya pelayanan sehari-hari. Dengan demikian kehadiran KSFL sangat dirindukan oleh semua orang apabila mereka sungguh menjadi saksi yang membawa kedamaian hati, kegembiraan rohani, sukacita, kesembuhan, dan menjadi saudara bagi semua orang dan semua alam ciptaan lainnya seperti teladan hidup Santo Fransiskus Assisi. (Konst KSFL, 1999: 91).