• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SPIRITUALITAS PELAYANAN SANTO FRANSISKUS

B. Spiritualitas Pelayanan Santo Fransiskus Assisi

3. Pokok-pokok penting Spiritualitas Pelayanan

Santo Fransiskus, dalam kebijaksanaannya yang sederhana, melihat kemiskinan dan kedinaan sebagai saudari kembar. Kita secara mutlak bergantung pada Allah dalam segala hal. Itulah kedinaan. Kita tidak menginginkan hal-hal lain kecuali Allah: itulah kemiskinan. Sebagai mahluk ciptaan, kita miskin di hadapan Allah: itulah kemiskinan dan kedinaan. Kedinaan merupakan keutamaan yang menyadarkan kita bahwa kita tidak berarti apa-apa bila terpisah dari Allah, melainkan kita tergantung total pada Allah (Syukur, 2007: 124). Kalimat ini semakin menyadarkan bahwa sebagai anggota Fansiskan, pelayanan yang dilakukan melalui sesama adalah untuk Tuhan sendiri.

Semangat pelayanan Santo Fransiskus Assisi sangat nyata dalam hidupnya sehari-hari. Fransiskus melayani tanpa membeda-bedakan secara khusus orang melarat (kusta) dan menyebut semua orang menjadi saudara. Setiap orang adalah rahmat yang dianugerahkan Tuhan. Perjumpaan Santo Fransiskus dengan orang kusta merupakan awal mula Fransiskus untuk melayani dan menaruh belaskasih kepada sesama yang menderita. Santo Fransiskus dalam semangat pelayanannya menyapa semua orang dan bahkan sangat memperhatikan dan memelihara ciptaan lainnya. Fransiskus mengharapkan dan menasihati para saudaranya untuk tetap bertahan dalam kedinaan, yakni berlaku selalu dan di mana-mana dengan sungguh-sungguh hina dina. Sejalan dengan pertobatan, kemiskinan, dan doa, kehinadinaan sesungguhnya merupakan satu dari 4 nilai dasariah yang harus mewarnai wajah rohani seluruh gerakan Fransiskan (Syukur, 2006: 145). Karya pelayanan yang sungguh-sungguh dihayati dan dilakukan bagi semua orang khususnya yang sangat menderita, miskin, melarat, dan tersingkir menjadi pengabdian yang tulus kepada Tuhan.

“Pelayanan yang tulus sangat diharapkan pada zaman sekarang. Melalui ensiklik Dives in Misericordia, Sri Paus Yohanes Paulus II mengundang kita semua untuk menghadirkan pengalaman iman akan Allah yang berbelas kasih bagi masyarakat dunia sekarang ini. Sikap belas kasih ini merupakan rangkuman sifat dan kesempurnaan Allah” (Martasudjita, 2003: 76).

Pada zaman sekarang ini, masyarakat selalu diwarnai dengan kekejaman, ketidakadilan, kegelisahan hidup dan kecemasan lainnya. Maka dengan adanya keprihatinan ini manusia perlu sadar dan yakin bahwa mereka dicintai dan dikasihi oleh Allah yang berbelas kasih.

Dalam hal mewujudkan pelayanan yang penuh dengan belas kasih bukanlah mudah, karena akan mengalami hambatan-hambatan. Namun sebagai pengikut Fransiskan yang menghidupi Spiritualitas persaudaraan, akan mampu menjalaninya dengan saling mendukung, saling meneguhkan satu sama lain. Hidup rukun, damai, dan bersatu yang dialami di komunitas akan sangat bepengaruh dalam karya pelayanan. Maka di komunitas sangat diharapkan untuk saling melayani, mencintai, dan memelihara damai di dalam hati masing-masing. Dengan demikian tugas perutusan di luar komunitas akan dengan sendirinya terpancar apa yang sudah dialami di dalam komunitas. Fransiskus dalam menjalankan tugas pelayanannya kepada orang-orang miskin, dia sangat mengalami semangat dan kegembiraan. Fransiskus mengajak para saudaranya untuk bergembira pada waktu bersama dengan orang miskin tanpa mengharapkan balas jasa. Kegembiraan itu, seperti saat Fransiskus bertemu dengan orang kusta (Syukur, 2006: 130).

Pertemuan Fransiskus dengan orang kusta merupakan suatu tanda nyata pertobatan dan kebebasan batiniah untuk tidak menutup diri terhadap orang lain. Hanya dengan kemiskinan yang membebaskan mampu melepaskan pusat perhatian dari diri sendiri menuju kepada Allah dan menuju sesama. Santo Fransiskus Assisi mengatakan,”Inilah kegembiraan sejati, yaitu berbagi penderitaan dengan dunia sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus” ( Krispuwana Cahyadi, 2003: 73). Orang yang mau mengikuti Kristus berarti bersedia untuk meneladan sikap hidup-Nya. Jika seseorang semakin berani untuk meninggalkan kepentingan dirinya sendiri untuk melayani dan memperhatikan

kebutuhan orang lain, maka Tuhan akan semakin mencintai dan memperhatikan kebutuhan hidup kita.

Fransiskus mempraktekkan ajaran perumpamaan orang Samaria yang baik hati terhadap orang kusta. Pergi menjumpainaya dan menjumpainya dan melaksanakan belaskasih terhadapnya. Fransiskus mewujudnyatakan belas kasih yang nyata kepada orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat. Sepanjang hidupnya Fransiskus selalu panik bila bertemu dengan orang kusta. Suatu hari di tengah jalan di Assisi, dia melakukan yang luar biasa hanya dapat dijelaskan karena daya Roh Yesus. Fransiskus mendekati dan menyentuh orang kusta. Pada awalnya dia sangat jijik dan keringat dingin bercucuran dari dahinya karena merasa tidak mampu untuk melakukan belas kasih kepada orang kusta itu. Dia merangkul bahu dan mencium keningnya, biarpun bau busuk menyerang seluruh inderanya (Syukur, 2002: 27). Pada zaman sekarang ini pelayanan yang yang diharapkan dan diperlukan oleh sesama adalah pelayanan yang nyata, dan menyentuh perjuangan hidup manusia. Berani keluar dari diri sendiri, menyapa, memperhatikan, dan mencintai orang-orang miskin, tersingkir, dan menderita. Bahkan jika perlu, bersedia untuk tinggal bersama mereka dan mengalami apa yang mereka alami.

Fransiskus dari Assisi dinamai Santo Pelindung Ekologi tahun1989 karena alasan sangat tepat. Fransiskus melihat bahwa semua ciptaan adalah baik, sangat baik. Fransiskus percaya bahwa semua ciptaan adalah pemberian Tuhan. Dalam Nyanyian Saudara Matahari, Fransiskus memuji Tuhan untuk semua ciptaan-matahari, bulan, bintang-bintang dan langit, angin dan udara, air dan api,

bunga-bunga dan buah-buahan dan tanam-tanaman (Syukur, 2007: 279). Hati Fransiskus selalu dipenuhi dengan rasa syukur untuk semua pemberian Tuhan. Fransiskus belajar dan mengikuti Yesus yang menghargai semua ciptaan. Kemurahan hati Allah yang dinyatakan dalam Kej 1, mendorong saudari-saudara untuk memuji Tuhan Allah dan mengucapkan syukur kepada-Nya dengan dan karena segenap ciptaan (Syukur, 2006: 57).

Fransiskus belajar dari Yesus yang menggunakan alam ciptaan sebagai dasar untuk menjelaskan kebenaran-kebenaran yang bersifat rohani kepada orang-orang yang berkumpul disekitarnya. Dia mengatakan tentang benih-benih dan domba, pohon ara dan ladang, mutiara-mutiara dan tanaman, gandum dan air (Syukur, 2006: 279). Yesus berbicara tentang unsur-unsur ciptaan Tuhan atau dengan menggunakan perumpamaan untuk membawa manusia lebih dekat pada Tuhan. Fransiskus sungguh menghargai, peduli dan memelihara lingkungan hidup. Fransiskus bukan hanya melihat dan memperhatikan, dan menyebut manusia sebagai saudara. Namun Fransiskus juga sangat memelihara dan menyebut saudara semua ciptaan lainnya yang juga perlu untuk diperhatikan.