LITERASI DALAM PEMBELAJARAN Dewi Utama Faizah
GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR
Pertemuan PBB di Praha (2003) yang merumuskan “Information Literacy” meski telah 14 tahun berlalu, namun belum terlambat bagi Indonesia untuk bangkit
29
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
menentukan arah pendidikan, terutama di Sekolah Dasar. Jika kita telisik khususnya literasi dasar (basic literacy) di SD selama ini hanya fokus pada reading, writing, and counting (calistung) melalui pendekatan teks. Indonesia sebagai negara yang memiliki ratusan suku bangsa membutuhkan pola pendidikan literasi yang berdiferensiasi mulai PAUD melalui literasi dini sesuai dengan praktik-praktik perkembangan yang patut (Sue Bredekamp) hingga literasi dasar di SD sebagai wujud perekat pendidikan multikukultural.
Kenyataan yang dijumpai di lapangan, sosialisasi dan semiloka lebih bermakna dan tumbuh dengan baik bila dilakukan melalui pendekatan pendidikan multikultural. Sebutlah di Provinsi Kalimantan Tengah, sosialisasi dan semiloka sukses dilaksanakan pada kegiatan literasi Provinsi melalui seni menari ber-Manasai dan membuat buku besar (BigBook) oleh guru-guru. Begitu juga di Padang dan Solok, Dompu, dan Tarakan. Geliat literasi tumbuh sehat dari sekolah yang berbasis komunitas karena mereka merasakan terwadahinya kebutuhan mereka sebagai pewaris budaya. Melalui literasi identifikasi terhadap siswa yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan (field dependent/field sensitive) telah menjadi perhatian guru di sekolah. Mereka memahami siswa yang mengalami kesulitan dalam lingkungan belajar mereka. Warga sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah mampu memediasi dan mengintervensi siswa yang mengalami kesulitan terhadap sosial-historis-budaya karena berbagai macam penyebab, seperi orang tua menjadi tkw, hidup diasuh nenek atau orang lain, kemiskinan, dan sebagainya. Gerakan literasi ini mampu menyentuh aspek kemanusiaan melalui dialog-dialog budaya bersama komunitas pendidikan.
Untuk itu ditawarkan keutamaan implementasi literasi yang menyenangkan penuh imajinasi dan kreativitas dan sesuai dengan tumbuh kembang anak usia SD melalui pendidikan multikultural dengan pendekatan bermain, “role play in human development”. Pendekatan ini memaknai literasi dini dengan modal sosial-historis- budaya, dan bahasa ibu untuk menguatkan literasi dasar terkait dengan 4 aspek yaitu: aspek speaking, listening, calculating, perceiving, and drawing, sebagai bagian berbahasa yang utuh (language arts).
30
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
Konsep bermain ini sangat istimewa. Oleh karena dunia anak itu adalah bermain. Melalui bermain menguatkan masa kanak-kanak yang inisiatif dan produktif lewat imajinasi dan kreativitas. Oleh karena bermain merupakan zona proxima perkembangan anak. Dalam bermain anak membentuk perikehidupan (basic goodness) dan membangun ke-literasian dasar (basic literacy). Melalui aktivitas bermain anak menakar kemampuan diri dan melesatkan proses berpikir dalam keberagaman, multiliterasi, dan cerdas secara komprehensif.
Selanjutnya keberadaan dan akses siswa terhadap buku berkualitas dengan pemeringkatan membaca menjadi kebutuhan utama saat ini. Setiap kelas menyediakan pojok baca yang berisikan buku-buku mengandung pesan moral, budaya, memiliki ruh/hidup/nyata sesuai lokal konteks di mana siswa berada. Keberadaan kurikulum yang berdiferensiasi sesuai dengan konteks muatan lokal akan menggairahkan kembali perbukuan dan penerbit serta took buku yang ada di Indonesia. Praktik-praktik jual beli LKS, buku teks, buku nonteks yang tidak ramah otak anak (twaddle book) bisa disingkirkan dari kegiatan hidup bersekolah. Semarak buku berkualitas yang nyata, memahami dunia anak dan tumbuh kembangnya (Living Books) akan hadir menggairahkan penulis, illustrator, dan penerbit Indonesia. Perpustakaan sekolah menjadi disukai siswa karena menyediakan buku-buku berkualitas.
Speaking & Listening Reading & Writing Counting & Calculating Perceiving & Drawing Kerajinan tangan (menenun, sulam menyulan, mengukir, keramik, memahat, mematung, dsbnya) Permainan Tradisi Mendongeng Membacakan buku Bernyanyi, Berpuisi
Membaca dan menulis yang menyenangkan melalui pendekatan berbahasa yang utuh (The Whole Language)
31
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
HARTA KARUN BUDAYA DALAM AKSI LITERASI (Funds of Knowledge)2
Harta karun budaya dan proses sosial yang terjadi dalam aktivitas sehari-hari di sekolah memberikan warna lain pentingnya esensi kemanusiaan hadir di sekolah (Living Knowledge in Practice). Gerakan literasi di sekolah membangun kepedulian, dan guru melek terhadap latar sosial-historis-budaya setiap individu siswa. Setiap siswanya unik dan istimewa. Ada hubungan erat bersinerginya keluarga dan sekolah lewat orangtua dan guru serta kuatnya komunitas sekolah. Saling kunjung antara orang tua dan guru ke rumah dan sekolah bagi siswa yang membutuhkan fasilitasi khusus menguatkan iklim budaya sekolah. Guru-guru menjadi pelaku budaya yang diistilahkan sebagai PROTAGONIS BUDAYA. Keluarga dan sekolah akan bersama- sama membangun praktik-praktik literasi, sosial, budaya yang pedagogis.
Literasi BUKAN hanya sekedar pandai “CALISTUNG” sebagai kecakapan menyelesaikan tugas-tugas akademik belaka seperti yang selama ini dipratikkan di sekolah. Literasi dasar hendaknya mampu mengungkit pesan sosial-historis-budaya mengembangkan beragam kapasitas siswa bersekolah. Lembaga sekolah adalah wadah sosial yang mempertemukan anak dengan beragam budaya dalam konsep kehidupan nyata sehari-hari. Di sekolah mereka mengasah saintifik (kehidupan ilmiah) dan konsep kehidupan sehari-hari menjadi materi ajar yang imajinatif kreatif menyenangkan.
Seluruh warga sekolah bergembira melaksanakan gerakan literasi dasar di SD, mampu bercakap, menyimak, membaca, menulis, berhitung dan memperhitungkan, merasakan dan menggambarkan kehidupan secara utuh sebagai bagian dari sistem kerja sensori-indrawi seutuhnya.
Manusia yang hidup di abad ke 21harus tumbuh mengakar ke bumi menjulai ke langit tinggi. Memiliki hi tech, high concept, dan tak kehilangan hi touch, saling memberi makna sebagai manusia. Manusia masa depan memiliki bidang pekerjaan yang berkaitan dengan seni, sebagai Artis, Desainer, Storyteller, Inventors, Caregivers, Conselors. Fungsi otak kanan sangat dipentingkan untuk mendampingi tumbuhnya manusia yang memiliki kebajikan dan literat.
32
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
PRAKTIK-PRAKTIK PEMBUDAYAAN LITERASI BERBASIS NILAI