LITERASI DALAM PEMBELAJARAN Dewi Utama Faizah
PRAKTIK-PRAKTIK PEMBUDAYAAN LITERASI BERBASIS NILAI LOKAL
Proses pembelajaran yang diharapkan dalam pembudayaan literasi di SD adalah sebuah cara melalui pendekatan untuk menumbuhkembangkan secara optimal kapasitas diri individu pemelajar dengan orang lain yang ada di sekitar mereka. Pentingnya dinamika sosial dalam asessmen dan signifikannya materi literasi dengan pembelajaran merupakan target pencapaian pelaksanaan gerakan literasi di SD. Mengalirkan pesan budaya dalam mengembangkan kehidupan ilmiah dan berbudi pekerti melalui konsep literasi di tahap pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran diharapkan mampu menuju terbentuknya ekosistem pendidikan yang kuat, literat, dan berkelanjutan.
Kami tim pokja literasi di SD mencoba memediasi budaya lokal dalam setiap pelatihan semiloka di berbagai provinsi dan Kabupaten/Kota. Dalam perjalanannya, gerakan literasi di SD memunculkan ide antara lain:
1. Munculnya Beragam Karya Guru dan Siswa di Kelas berupa pojok baca, media pembelajaran, alat peraga, big book berbasis budaya seperti yang terjadi di kota Padang, kabupaten Dompu, kota Solok, Provinsi Palangka Raya, kota Tarakan, kabupaten Nunukan, kotip Depok, Makasar, Bali dsbnya
2. Terbentuknya Tim Literasi Sekolah, di berbagai wilayah yang telah melaksanakan gerakan literasi secara masif.
3. Terbentuknya Forum Literasi Guru sebagai gerakan pembaruan pendidikan yang saling berkolaborasi bersinergi antarguru antarwilayah. Terkoneksinya guru-guru di Kabupaten Dompu, Kota Padang, Kota Tarakan, kota Jogja, Kota Depok, Kota Sukabumi, Kota Makasar, Kota Palangkaraya dsbnya dalam gerakan aksi literasi.
4. Tersentuhnya Anak-anak kurang Beruntung melalui Psiko-Sosial Edukasi melalui guru yang literat (Kasus Rama dari Lakey Hu’U, Dompu, NTB, Kasus Timu tiga bersaudara dari SD Insana, NTT).
33
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
Pembudayaan Literasi di Sekolah Dasar diharapkan mampu menguatkan kurikulum (apapun namanya kurikulum yang berlaku di sekolah saat ini) serta mampu berdiri sejajar dengan beragam budaya yang ada di Indonesia sebagai proses sosial (bahasa, adat istiadat budaya, nilai-nilai kebajikan, latar geografis) terhadap pendidikan. Tentunya masih dalam simpul ikatan Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena Indonesia memiliki 3000 kelompok etnis tersebar dari kilometer nol di ujung pulau Sumatra hingga Papua. Mampukah pendidikan "makes us not only what we are but who we are, and who we could become?"
Cara-cara belajar yang konvensional harus enyah dari ruang kelas kita. Imajinasi dan kreativitas berpikir harus bangkit melalui Pembudayaan literasi. Vygotsky sangat mendorong adanya pesan budaya dalam proses pembelajaran di sekolah. Kontribusi budaya, interaksi sosial, dan sejarah perkembangan mental individual sangat berpengaruh khususnya dalam perkembangan bahasa, membaca, dan menulis peserta didik. Pembelajaran berdasarkan budaya, dan interaksi sosial mengacu pada perkembangan fungsi mental tinggi. Dikenal dengan istilah “Sosio-Historis- Kultural” yang berdampak terhadap persepsi, memori, dan berpikir manusia.
Lokal inisiatif di mana anak hadir sangat diutamakan. Agar anak-anak Indonesia mengenali jati diri, identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Penanaman nilai-nilai kebangsaan dengan mengenali kekayaan sumber daya alamnya dan keberagaman sebagai bangsa harus menjadi perangkat (tools) dan simbol yang digunakan manusia sebagai proses psikologi kemanusiaan. Mampu mewarnai keberagaman bak pelangi dalam pembudayaan literasi dasar di satuan pendidikan dasar bernama SEKOLAH DASAR.
Memandang siswa sebagai makhluk sosial, adalah awal yang patut untuk dikaji saat kita membahas pembudayaan literasi di SD. Siswa adalah subjek aktif yang membangun diri mereka sendiri melalui aksi-aksi sosial. Peran sosio-kultural dalam perspektif pendidikan inilah hendaknya harus terus-menerus digali secara mendalam untuk membumikan regulasi PENUMBUHAN BUDI PEKERTI (Permendikbud Nomor 23 tahun 2015) di seluruh sekolah dasar yang ada di Indonesia. Dunia perbukuan dan penerbit juga melakukan pembenahan terhadap mutu kualitas
34
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
perbukuan anak. Buku-buku teks dan nonteks yang hidup (living books) mampu memicu budaya baca generasi millinium yang saat ini tengah berada di ruang kelas kita. Teks multimoda, multiliterasi dan multicultural hadir di ruang kelas yang difasilitasi sang guru protagonist. Bukankah ini tengah dicari-cari dalam konsep sekolah rujukan saat ini?
Peran sosiokultural dalam praktik-praktik perkembangan manusia yang memandang manusia dengan cara manusiawi sebagai gaya hidup yang alamiah harus saling memediasi untuk mampu 'MERUBAH SEJARAH KEMANUSIAAN MENJADI LEBIH BAIK". Di dalam proses pendidikan di sekolah, di komunitas, dan tentunya di dalam rumah tangga Indonesia gerakan literasi sekolah harusnya menjadi budaya yang tumbuh secara alamiah dan dikaji secara terus-menerus secara ilmiah. Bukankah membangun perikehidupan bersekolah yang baik, guru sebagai pendidik beradaptasi, aktif serta mampu mendidik dirinya sendiri secara terus-menerus, bertumbuh terus sesuai dengan kondisi yang ada.
Saatnya guru kita sebagai pelaku budaya (Protagonis Budaya) memiliki "KONSEP MEDIASI BUDAYA ". Bagaimana budaya sebagai pintu masuk proses sosio- mental psikologis dipahami guru sebagai perangkat mendidik, sehingga ia mampu memahami dirinya sebagai pendidik profesional, memahami perannya sebagai guru pedagogis yang kreatif berdiri tegak kokoh menyambut peserta didiknya yang datang dari beragam latar budaya yang unik di kelas yang menjadi tanggung jawabnya setiap hari, setiap waktu.
Saatnya sekolah kita "Living Knowledge in Practice!". Oleh karena pendidikan selalu akan menjadi pusat proses pembudayaan. Guru dan peserta didik akan bersinergi saling membangun "sense" sebagai human relationship melalui konsep nilai-nilai kebajikan dasar (basic goodness) dan nilai-nilai dasar literasi (basic literacy). Guru dan siswa sama-sama senasib. Mereka adalah arsitek, saling mengkonstruk tradisi berpikir menjadi manusia ilmiah dalam konsep kehidupan sosial sehari-hari. Itulah mimpi Vygotksy yang genius, yang menginspirasi tokoh-tokoh pendidikan di seluruh dunia. Meski ia wafat dalam usia muda 37 tahun (1896-1934) namun pemikirannya diyakini banyak orang hingga hari ini bahwa pengalaman- pengalaman belajar individu anak yang mempertemukannya dengan budaya sangat
35
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
dibutuhkannya sebagai makhluk sosial untuk dapat meraih “Zones of Proximal Development”. Vygotsky menjadikan pendidikan bermartabat untuk mendidik anak manusia secara manusiawi.
Saya mengucapkan terimakasih, telah ikut menjadi bagian jejaring sosial hiperkoneksi di kegiatan yang amat mulia ini. Berharap kurikulum literasi dasar di SD menjadi mata kuliah wajib calon guru di LPTK seluruh Indonesia yang mendidik calon guru PAUD dan SD menjadi literat. Semoga UNNES dapat menjadi simpul jagad kebajikan bumi Pertiwi yang multikultural. Mampu memaknai ALAM TERKEMBANG MENJADI GURU.
Tak perlu menjadi orang terkenal. Hal-hal kecil yang menyentuh dalam kehidupan sehari-hari adalah hal yang besar, ketika kita bisa merubah cara pandang. Saatnya kita melangkah ke arah pendidikan yang memberikan NILAI TAMBAH pada Kehidupan Kemanusiaan yang Literat.
Salam Literasi
Jakarta, 10 Oktober 2017 Dewi Utama Faizah
36
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629
37
ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629