• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNITAS SEBAGAI ARENA LITERASI SASTRA

Dalam dokumen A B PROSIDING KBS 2 UNNES 2 1 319 (Halaman 32-36)

KOMUNITAS DAN SAYEMBARA SEBAGAI ARENA LITERASI SASTRA

KOMUNITAS SEBAGAI ARENA LITERASI SASTRA

Komunitas sastra sebagai sebuah arena dalam menjalankan aktivitasnya tidak bisa dilepaskan dari modal budaya. Modal budaya terwujud dalam menjalin keakraban guna memperoleh kemudahan dalam memanfaatkan bentuk-bentuk budaya yang dilembagakan (sekolah, perguruan tinggi, badan bahasa, dan lain-lain) yang ada di puncak hirarki budaya masyarakat. Modal tersebut diperlukan karena pengembangan sastra tidak dapat dilakukan secara maksimal tanpa bantuan dan kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah tingkat provinsi sampai kecamatan, sastrawan, guru, dosen, peneliti, mahasiswa dan masyarakat. Orang-orang yang bergabung dalam sebuah komunitas sastra memiliki kepedulian dan perhatian yang besar untuk mejaga kelangsungan sastra, mereka membaktikan hidupnya untuk meningkatkan budaya baca tulis di daerah melaui gerakan literasi sastra.

17

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Komunitas dapat dijadikan arena gerakan literasi masyarakat khususnya masyarakat pendidikan tinggi. Kumunitas sastra menjadi sebuah wadah untuk menjadikan anggotanya literat sepanjang hayat melalui pelibatan masyarakat dalam mengapresiasi sekaligus mengekspresikan sastra. Para pemangku posisi di dalam komunitas sastra sebagai arena literasi dalam operasinya menggunakan berbagai strategi guna melangsungkan hidupnya. Ide strategi dimuncukan oleh para patron komunitas sastra untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah diperhitungkan. Tujuan komunitas sastra pada umumnya yaitu mengapresiasi dan mengekspresikan karya sastra. Komunitas sastra dalam kegiatannya seyogyanya harus betul-betul memosisikan sastra sesuai dengan porsinya. Hal ini penting, mengingat selama ini sastra hanya dijadikan sebagai elemen pelengkap atau tambahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Para pemangku posisi dalam komunitas sastra terus berusaha baik secara individu atau kolegial, melindungi atau memperbaiki posisi mereka. Banyak cara yang dapat dilakukan sebuah komunitas untuk melindungi dan memperbaiki posisi sastra, di antaranya dengan aktivitas membaca dan menulis sastra. Pembiasaan (conditioning) membaca dan mengapresiasi karya sastra dapat menumbuhkembahkan nilai rasa karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi alatmenyambung pikiran/logika dan bukan menyambung rasa (Wijaya, 2007). Komunitas sastra perlu melakukan inovasi berkelanjutan agar dapat menjadi wadah/tempat yang baik bagi upaya menghidupkan sastra. Aktivitas membaca dan menulis sastra perlu digalakkan menggali dan mengembangkan potensi masyarakat dalam bersastra, sebagai bagian dari kegiatan apresiasi dan ekspresi sastra.

Kegiatan membaca sastra di sebuah komunitas dilakukan dengan beragam model. Arena literasi sastra tidak hanya sebagai medan membaca apresiatif saja, akan tetapi ada aktivitas membaca kreatif sekaligus diskusi sastra. Anggota komunitas tidak hanya mampu membaca sastra, tetapi juga berani mengeksplorasi kemampuan mereka melalui kegiatan berliterasi dengan menulis sastra.

Beragam komunitas sastra di Indonesia berkembang pesat. Perkembangan komunitas sastra di Indonesia tidak bisa terlepas dari patron komunitas tersebut. Patron dalam komunitas sastra menjadi odal simbolik. Komunitas Salihara memilili

18

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

ketergantugan besar pada sosok Gunawan Muhammad, Komunias Sastra Indonesia (KSI) tidak bisa dilepaskan dari nama Ahmadun Yosi Herfanda dan Slamet Raharjo, Komunitas Maiyah memiliki patron Emha Ainun Najib, begitu pula dengan komunitas-komunitas sastra lainnya.

Komunitas sastra juga yang tumbuh di daerah dan di media sosial. Entah itu komunitas yang mempunyai medan riil maupun medan online. Melalui arena komunitas sastra, gerakan literasi semakin menemukan bentuk nyatanya. Artinya, komunitas sastra bisa menjadi instrumen untuk menumbuhkan literasi dikalangan masyarakat.

Komunitas sastra sebagai arena literasi memiliki berbagai fungsi, diantaranya: 1) sebagai fungsi komunikasi. Komunitas sastra bisa menjadi media komunikasi antara sastrawan, pemerhati sastra, peneliti sastra, dan masyarakat. Media komunikasi ini, diharapkan bisa menjembatani keinginan masing-masing pihak. 2) Fungsi pengembangan keahlian menulis sastra. Komunitas sastra bisa menjadi ajang penyaluran bakat menulis. Bagi mereka yang sudah dari awal berbakat menulis, maupun mereka yang kurang punya bakat menulis tetapi ingin belajar dan bisa menulis. Komunitas sastra bisa memublikasikan hasil karyanya dan minimal akan dibaca oleh seluruh anggota komunitas. 3) Fungsi transfer pengetahuan sastra. komunitas sastra mengadakan forum diskusi, bedah buku sastra, ulasan sastra. Komunitas sastra juga mengasah dan mengolah rasa kemanusiaan dan kepekaan lewat sastra; 4) Publikasi karya sastra, adanya komunitas sastra masyarakat bisa mengetahui karya yang ditulis oleh anggota komunitas. 5) Media Propaganda, komunitas sastra dapat menjadikan kesepahaman dalam mempererat persamaan visi misi dalam membentuk tata nilai peradaban bangsa. Anggota komunitas melalui literasi mampu bersikap kritis atas ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Gerakan literasi dapat berkembang seiring dengan tumbuh kembangnya komunitas sastra.

Komunitas PMK yang dipresideni Sosiawan Leak melakukan gerakan literasi “Puisi Menolak Korupsi”. Komunitas PMK melakukan gerakan literasi atas kegelisahan para penyair yang sudah mulai jengah dengan fenomena korupsi di Indonesia. Leak dan kawan-kawan melakukan gerakan literasi dengan menggiatkan gerakan menulis puisi guna menolak korupsi. Pembacaan puisi, seminar, orasi budaya,

19

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

diskusi dilakukan komunitas di berbagi tempat. Peran komunitas literasi dalam bentuk, taman bacaan masyarakat, perpustakaan bergerak, sudut baca, rumah buku, dan sebagainya sangat penting sebagai jembatan antara penulis dan pembaca dalam melakukan propaganda literasi antikorupsi (Venayaksa, 2017).

Komunitas Rumah Dunia yang berada di Ciloang, Serang Banten, melakukan kegiatan literasi dalam bentuk menulis puisi, membaca buku sastra, diskusi dan bedah karya digelar tiap bulan. Hal itu, mendorong anggota komunitas untuk mencintai dunia literasi. Komunitas tersebut melatih anak-anak berperan aktif memeriahkan segala bentuk kegiatan yang digelar, seperti wisata gambar, wisata dongeng, mengarang, wisata lakon, kelas musik dan kelas puisi, yang semuanya dibimbing oleh para relawan. Nafas komunitas Rumah Dunia adalah karya. Seperti yang Pramoedya Ananta Toer pernah katakan, ”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dari perkataan tersebut bisa disimpulkan, sebuah karya lebih kekal dari durasi usia pengarangnya. Hal itu kemudian dikuatkan oleh larik puisi dari Chairil Anwar, ”Aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Komunitas sastra saat ini menjamur di wilayah Semarang dan sekitarnya. Perkembangan komunitas sastra pernah di tulis oleh Andrian pada tahun 2016. Hasil amatan penulis terdapat beberapa komunitas sastra yang menjadi arena literasi sastra di Semarang saat ini tidak jauh beda dengan dengan komunitas yang pernah diungkap oleh Andrian. Yang membedakan saat ini banyak muncul komunitas literasi sastra berbasis online. Komunitas sastra yang memiliki ruang riil, diantaranya; Pesantren budaya “Surau Kami” di Jalan Tusam Raya Banyumanik Semarang, komunitas “Kumandang Sastra” yang selalu rutin membacakan sastra di RRI Semarang, “Lacikata” sebagai komunitas yang diinisiasi oleh orang-orang Hysteria, “Komunitas Sendangmulyo” berdiri sejak tahun 2003, bermarkas di Jl. Bougenvile Raya II nomor 26 Sendang Mulyo Semarang, Komunitas “Rumah Buku Simpul” diinisiasi oleh dosen Unnes berada di Sekaran Semarang, “Kedai Kopi ABG” di Gunungpati Semarang, komunitas “Bengkel Sastra Maluku” bermarkas di jalan Taman Maluku Semarang dan komunitas-komunitas sastra yang berbasis kampus dan sekolah. Komunitas sastra yang menggunakan media sosial sebagi basis literasi di antaranya;

20

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

komunitas “Soeket Teki”, DDT Komunitas Sastra Puisi Online Nusantara”, komunitas “Fiksimini,” Fiksiminiers mulai membentuk komunitas-komunitas kecil di masing- masing kotanya hingga terbentuklah FMJogja (komunitas Fiksimini Jogja), Fiksiminiers Jakarta, FMersSBY (Fiksiminiers Surabaya), fiksiminiBDG (Fiksiminiers Bandung), dan kota-kota lainnya. Banyaknya komunitas literasi sastra yang hidup diberbagai wilayah menjadikan arena lierasi sastra tumbuh subur. Hal ini ditandai dengan makin banyaknya produksi karya sastra dan makin maraknya kegiatan apresiasi sasra.

Dalam dokumen A B PROSIDING KBS 2 UNNES 2 1 319 (Halaman 32-36)