• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi : Pendidikan Literas

Dalam dokumen A B PROSIDING KBS 2 UNNES 2 1 319 (Halaman 69-80)

PERSOALAN LITERASI ABAD 21 Endry Boeriswat

PERSOALAN LITERASI DI INDONESIA

A. Solusi : Pendidikan Literas

Pedagogik bertujuan agar anak di kemudian hari mampu memahami dan menjalani kehidupan dan kelak dapat menghidupi diri mereka sendiri, dapat hidup secara bermakna, dan dapat turut memuliakan kehidupan. Untuk itu, mereka harus dididik agar menguasai sejumlah pengetahuan yang penting dalam hidup, menguasai keterampilan tertentu, dan memahami nilai-nilai kehidupan. Pertama kali yang diajarkan melalui pembelajaran pengetahuan, yang kedua diajarkan melalui latihan menguasai keterampilan nyata, dan yang ketiga diajarkan melalui pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan.

Pembelajaran berbasis literasi dalam dunia pendidikan memiliki keunggulan karena model literasi bukan hanya dimaksudkan agar mereka memiliki kapasitas mengerti makna konseptual dari wacana melainkan kemampuan berpartisipasi aktif secara penuh dalam menerapkan pemahaman sosial dan intelektual (White, 1985:56).

54

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaanya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan maksud/tujuan, literasi itu bersifat dinamis – tidak statis – dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus/ wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kultural.

Ada tujuh unsur yang membentuk definisi tersebut, yaitu berkenaan dengan interpretasi, kolaborasi, konvensi, pengetahuan kultural, pemecahan masalah, refleksi, dan penggunaan bahasa. Ketujuh hal tersebut merupakan prinsip-prinsip dari literasi. Teori belajar yang melandasi pendidikan literasi adalah teori belajar perkembangan kognitif Piaget. Piaget berpendirian bahwa anak berinteraksi dengan keadaan sekitarnya dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya di lingkungannya itu. Pembelajaran terjadi dalam kegiatan pemecahan masalah. Dua macam perkembangan, yakni asimilasi dan akomodasi, muncul dari kegiatan pemecahan masalah tersebut.

Dalam pendidikan literasi ini guru mempertimbangkan bahwa sebenarnya anak tersebut tidak pasif begitu saja dalam pembelajaran melainkan mereka juga aktif mengatasi masalah-masalah yang melingkupinya termasuk pemahaman akan makna bahasa dilakukan dengan melihat dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Teori Scaffolding Talk and Routin Bruner menjadi dasar dalam pendidikan literasi. Bagi Bruner, bahasa merupakan alat yang sangat penting bagi pertumbuhan kognitif anak. Scaffolding Talk ‘omongan guru’ yang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan di kelas, mulai dari memeriksa presensi, menerangkan, menyuruh siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran, sampai membubarkan kelas itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan bahasa anak. Terlebih lagi jika ‘omongan guru’ tersebut dilakukan terus-menerus

(rutin), anak akan menjadi terbiasa dengan kegiatan atau ucapan-ucapan guru pada waktu pelajaran berlangsung. Pada gilirannya anak akan merasa nyaman dan percaya

55

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

diri dengan ungkapan-ungkapan tersebut yang kemudian membuatnya siap untuk mempelajari hal-hal yang baru.

Berdasarkan teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses anak menguasai literasi harus merupakan belajar aktif yang memberi anak kesempatan untuk mengeksplorasi, memanipulasi dan menyelesaikan masalah sendiri untuk membangun sendiri pemahamannya. Hal ini dapat menjelaskan bagaimana proses pencapaian kemampuan literasi sebagai proses belajar individu. Namun hal ini berbeda dengan pendapat Vygotsky, yang menyatakan bila anak membangun pemahamannya sendiri, maka kemajuan pemikirannya tidak akan terlalu jauh. Oleh karena itu dibutuhkan interaksi sosial untuk meningkatkan kemajuan kognitif yang lebih dibandingkan anak belajar individu. Menurut Vygotsky lingkungan sosial mempengaruhi kognisi melalui alat berupa objek budaya, bahasa, simbol dan institusi sosial. interaksi sosial, kultural-historikal dan faktor individu adalah faktor kunci untuk perkembangan manusia. Interaksi dengan orang lain dalam lingkungan (kolaborasi, apprientice) merangsang proses perkembangan dan meningkatkan pertumbuhan kognitif. Tetapi interaksi bukan bersifat tradisional yang memberikan informasi pada anak, tetapi memberi kesempatan agar anak memiliki pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhannya.

Pendidikan literasi mempunyai tiga tahapan yaitu tiga R, yakni Responding, Revising, dan Reflecting (Kern, 2000). Responding ini melibatkan kedua belah pihak, baik guru maupun siswa. Revision yang dimaksud ini mencakup berbagai aktivitas berbahasa. Misalnya, dalam menyusun sebuah laporan kegiatan, revisi dapat dilaksanakanpada tataran perumusan gagasan, proses penyusunan, dan laporan yang tersusun. Reflecting berkenaan dengan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan, apa yang dilihat, dan apa yang dirasakan ketika pembelajaran dilaksanakan.

Pendidikan literasi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Materi Pendidikan Literasi memang berpijak pada bahasa. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

56

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Pada tahap ini materi terbanyak adalah phonemic Awareness dan Latter Sounds dan Phonics serta yang ketiga adalah Oral Language dan vocabulry. Pada tahap awal pengembangan literasi, penting untuk mengenalkan anak kecil literasi - berbagi kenikmatan tentang buku dan menunjukkan bagaimana bahasa dapat ditulis dengan huruf sehingga orang lain bisa membaca apa yang telah kita tulis. Tahap dasar ini biasanya dimulai di rumah dan berlanjut sampai tahun-tahun awal sekolah. Orangtua, pendidik anak usia dini, dan guru prek dapat berbuat banyak untuk mempersiapkan anak kecil membaca dan menulis melalui pengalaman buku bersama yang dirancang untuk memudahkan pemahaman anak tentang hubungan antara bahasa lisan dan cetak. Beberapa kelompok diet diet kebidanan utama pada tahap ini adalah: perkembangan bahasa lisan, konsep cetak, kesadaran fonemik, dan korespondensi dengan surat suara. Kebanyakan anak siap untuk beralih ke Tahap 1, pemerintah yang lebih serius terlibat dalam belajar membaca dan menulis, kadang di taman kanak-kanak.

57

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Pada tahap kedua kemampuan yang paling sedikit adalah teks struktur, Writing Convenstions dan knowlledge Building. Tahap ini adalah ketika siswa harus mengkonsolidasikan apa yang mereka pelajari di Tahap 1 dan dapat menerapkan keterampilan mereka dengan sedikit usaha. Sampai mereka mencapai kefasihan, membaca dan menulis merupakan karya bagi siswa. Upaya menangani "mekanika" mengurangi pemikiran mereka tentang gagasan dalam teks. Membaca dan menulis kelancaran datang dengan latihan. Agar siswa dapat membangun kelancaran membaca dan ekspresi, mereka perlu membaca untuk waktu yang lama dan penting untuk membaca apa yang menarik dan tidak terlalu menantang. Pada tahap ini membaca dengan keras kepada pasangan adalah cara efektif untuk membangun kefasihan. Dengan menulis juga, siswa perlu memiliki banyak kesempatan untuk berlatih: semakin mereka menulis, semakin mudah mendapatkannya. Sampai mereka adalah penulis yang fasih, tuntutan pembentukan surat, konstruksi ejaan dan kalimat mengambil dari kekayaan komposisi mereka. Begitu siswa menjadi lebih fasih dalam keterampilan mereka, mereka bisa berpikir lebih dalam tentang isi dari apa yang mereka baca dan tulis.

58

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Pada tahap ini indikator literasi informasi adalah Oral Language & vocabulary, writing proses, dan teks struktur dan konwledge building. Tahap ini adalah ketika siswa bergerak dari belajar membaca dan menulis untuk benar-benar melakukannya. Pada titik ini mereka perlu mempelajari bagaimana sistem bekerja dan harus diajarkan secara lebih eksplisit dan sistematis bagaimana masing-masing huruf dan pengelompokan huruf mewakili sebuah kode. Ini memberdayakan mereka untuk memecahkan kode (baca) kata-kata dengan memadukan suara dan mengkodekan (mengejanya) kata-kata dengan mengidentifikasi suara dalam kata-kata yang diucapkan dan mewakili mereka dalam bentuk cetak. Dengan menggunakan kode tersebut, mereka dapat menuliskan apa saja yang bisa mereka katakan (terkadang menggunakan "ejaan inventif") dan membaca kembali apa yang mereka dan yang lain telah menulis. Siswa juga perlu belajar membaca dan mengeja kata-kata biasa, tidak teratur, sehingga mereka bisa mengenali mereka dengan mudah saat membaca, dan mengeja dengan mudah dalam tulisan. Agar pembaca percaya diri mereka perlu banyak latihan membaca buku "diratakan" dengan tepat yang menggabungkan kata- kata frase dan kata-kata frekuensi tinggi, memungkinkan mereka menerapkan apa yang telah mereka pelajari dalam tugas yang dapat dikelola. Terlibat dalam kegiatan membaca dan menulis yang bermakna setiap hari membangun kompetensi dan kesenangan merek.

59

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Tahap 4

Pada tahap ini yang perlu disimpulkan adalah aspek reading comprehehebsion dan writing proses . Tahapan 0, 1 dan 2 membangun kompetensi dan kepercayaan siswa sebagai pembaca dan penulis. Di Tahap 3 mereka memperluas dan menerapkan keterampilan keaksaraan mereka. Mereka menggunakan membaca dan menulis sebagai sarana untuk memperoleh informasi baru, melakukan penelitian, merenungkan masalah dan mengkomunikasikan pemikiran dan perasaan yang lebih dalam. Pada titik ini, pengajaran dalam pemahaman bacaan yang lebih kompleks dan strategi komposisi tertulis akan memajukan kecanggihan mereka sebagai pembaca dan penulis. Siswa siap untuk mulai merenungkan pertimbangan tingkat yang lebih tinggi seperti audiensi, tujuan penulis, penggunaan struktur teks untuk mengatur dan berkomunikasi, dan kekuatan pilihan kata dalam menumbuhkan makna yang disampaikan dalam teks. Sedangkan pada tahap awal siswa belajar membaca dan menulis, di Tahap 3 dan seterusnya mereka menggunakan cara membaca dan menulis untuk menumbuhkan kecerdasan mereka.

60

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Boeriswati, Endry. (2011). Pengaruh Model Pembelajaran Terpadu terhadap

Kemampuan Pemahanan Konsep Kata Siswa SD Kelas 3 Jatibening Bekasi , Jakarta: UNJ.

________, (2011), Preschoolers Creative Speech Strategies, Bangkok: ICER ________, (2012) Profil Landasan Psikologi Belajar Bahasa dalam Pembelajaran

Bahasa sebagai Sarana Komunikatif dan Berpikir Kreatif, Jakarta: DIKTI ________. (2012), The Model of Speaking in Teaching Indonesia to Foreign

Speakers Based on Self-Regulated Learning and Anxiety Reduction Approaches, Sino-US English Teaching;May2012, Vol. 9 Issue 5, p1154 ________, (2012) “The Implementing Model of Empowering Eight for Information

Literacy” Science.gov (United States)

________. (2012) “The Model of Open – Distance Learning for Teaching Indonesian through Sociocultural Approach and Psychological Aspects to Students of Indonesian for Foreign”, conference. pixel- Florence Italy.

_________. (2013). “Using Sponge Puppet Strategies to Instill Characters through Storytelling to Elementary School”. Quality and Affordable Education (ISQAE 2013).

_______, (2013), Improving Phonemic Awareness Ability of Early Childhood through Mobile Phone, ECKO Academic Publishing House, Utah, USA

________, (2014) Model Pembelajaran Platinum dalam Mengoptimalkan Kinerja Otak, Prosiding Forum Komunikasi PascasarjanaLPTK Se Indonesia Denpasar: Undiksha.

_______, (2014) Strategi Komunikatif Alih Kode dalam Belajar Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Internasional, Jakarta: DIKTI

_______, (2014) Pengembangan Model Penilaian dengan Pendekatan Intergratif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia, Jakarta: DIKTI

_______, (2015) Pengembangan Instrumen Penilaian Authentik Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, Jakarta : UNJ

Breivik, Patricia. (2000) "Information Literacy and Lifelong Learning: The Magical Partnership." International Lifelong Learning Conference, Central

Queensland University, 2000.

http://elvis.cqu.edu.au/conference/2000/home.htm)

Brooks, J. , & Brooks, M. (1993). In search of understanding: The case for constructivist classrooms. Alexandria, VA: ASCD.

Brown, S. & Knight, P. (1994) Assessing Learners in Higher Education, London: Kogan Page.

Bunz, Ulla. (2002). Growing From Computer Literacy Towards Computer-Mediated Communication Competence: Evolution of a Field and Evaluation of a New Measurement Instrument, Department of Communication, Rutgers, The State University of New Jersey, New Brunswick, NJ.

Bruer, J. T. (1993). Schools for Thought: A Science of Learning in the Classroom. Cambridge MA: MIT Press.

Campbell, D. (2000). “Authentic assessment and authentic standards” [Electronic version]. Phi Delta Kappan, 81, 405-407.

Cabrera, G. A. 1992. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. Education 113 (1) : 59-63.

61

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Christie, F. (1987). Genres as choice. In I. Reid (ed.). The place of genre in learning: current debates. Geelong, Australia: Typereader Publications no. 1, Centre for Studies in LiteraryEducation, Deakin University.

Chomsky, Noam. 1988. Language and Problem of Knowledge. London: MIT Press. CILIP (2004) Information literacy: definition. Available at:

http://www.cilip.org.uk/getinvolved/

Comper, Anthony, (1999) president of the Bank of Montreal, told the 1999

http://www.bmo.com/company_info/speeches/comper/jun199.html).

Depdiknas, Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru SMP: Pedoman Penyusunan Rencana Pengajaran Bahasa Inggris (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004), h. 7.

Dewey, J. (1991). How we think. Buffalo, NY: Prometheus Books.

Doyle, C. (1996). Information literacy: status report from the United States. In D. Booker (Ed.), Learning for life: information literacy and the autonomous learner (p. 39-48).

Dochy, F. J. R. C. 1996. “Prior Knowledge and Learning”. Dalam Corte, E. D. , & Weinert, F. (Eds): International Encyclopedia of Development and Instructional Psychology. New York: Pergamon.

Elliott, Stephen N. , et. al. , 1996, Educational Psychology; effective teaching effective learning, 2nd Edition, USA: Brown & Benchmark Publisher

Ennis, R. (1994, July). Dispositions and abilities of idea critical thinkers. Critical thinking. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Ennis, R. H. 1981. Crithical Thinking. United States of America: Prentice-hall. Inc. Gagne, R. M. 1989. Essentials of Learning for Instruction. New York : Holt Renihart

and Winston.

Gerhard, M. 1971. Effective Teaching Strategies with the Behavioral Outcomes Approach. New York : Parker Publishing Company, Inc.

Harmer, Jeremy , (2003) The Practice of English Language Teaching (London: Pearson

Indrajit Richardus Eko (2010). Strategi dan Kiat Meningkatkan E-Literacy Masyarakat Indonesia, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer PERBANAS

Inoue, H., Naiti, E. & Koshizuka, M. (1997). Mediacy: what it is? Where to go?, In: First International Congress on Ethical, Legal, and Societal Aspects of Digital Information, Congress Center of Monte Carlo, Principality. of Monaco, 10-12 March 1997: Proceedings. Paris: UNESCO. Retrieved 10

March 2002 from

http://mirror.eschina.bnu.edu.cn/Mirror2/unesco/www.unesco.org/webwo rld/infoethics/ speech/inoue.htm

Kern, R. (2000). Literacy and Language Teaching. Oxford: Oxford University Press. Koper, R. (2000). From change to renewal: educational technology foundations of

electronic learning environments. Heerlen: Open University of the Netherlands, Educational Technology Expertise Center.

Kumaravadivelu, B. (2006) Understanding Language Teaching: From Method to Postmethod New York: Lawrence Erlbaum Associates, Inc

Leo Van Lier, (196) Interaction in the Language Curriculum: Awareness, Autonomy and Authenticity (London: Longman Group Limited

62

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Matsuda, Paul Kei dan Tony Silva. (2005). Second Language Writing Research: Perspectives on the Process of Knowledge Contruction. New ersey: Lawrene Erlbaum.

Miller, W. (1992). The future of bibliographic instruction and information literacy for the academic librarian. In The evolving educational mission of the library, B Baker and ME Litzinger (eds.), American Library Association, Chicago IL, pp 144-150.

Moore, P. (2000). Learning together: staff development for information literacy education, In: Information literacy around the world: advances in programs and research, edited by C. S. Bruce and P. C. Candy. (pp. 257-270). Wagga Wagga, NSW: Charles Sturt University.

Muir, A. & Oppenheim, C. (2001). Report on developments world-wide on national information policy. Prepared for Resource and the Library Association by Adrienne Muir and Charles Oppenheim with the assistance of Naomi Hammond and Jane Platts, Department of Information Science, Loughborough University. London: Library Association Retrieved 10 February 2002 from http://www.la-hq.org.uk/directory/prof_issues/nip/ Saomah, Aas. (2011). Implikasi Teori Belajar Terhadap Pendidikan Literasi.[Online].

Tersedia:http://ebookbrowse.com/implementasi-teori-belajar-dalam- pendidikan- literasi-pdf-d121750117

Takwin, Bagus, www.ui.ac.id/.../Pendidikan_Usia_Dini_Menga-

jar_Anak_Berpikir_Kritis.. Diakses februari 2016

Tapscott, Don (2000). Growing Up Digital: The Rise of the Net Generation, Mc-Graw Hill, New York.

Valenza, J. (1999). Media specialists: Leading the way to information literacy. Retrieved February 11, 2003.

Watt, D. H. (1980). Computer literacy: What should schools be doing about this?, Classroom Computer News, 1(2), 1-26.

Wells, B. (1987) Apprenticeship in Literacy. Dalam Interchange 18,1/2:109-123 Young, James. (1999). Learning to Learn: Assessing Information Technology

Literacy, Inventio Magazine, October 1999, Issue 2, Vol. 1.

Weil, D. (1991). “Critical thinking and education for democracy”. Institute for critical thinking resource/publication, series 4, no, 2. Upper Montclair, NJ: Institute for Critical Thinking, Montclair State College.

Weinstein, M. (1991). “Critical thinking and education for democracy”. Institute for Critical Thinking Resource Publication, Series 4, No. 2. Upper Montclair, NJ: Institute for Critical Thinking, Montclair State College.

Wiggins, G. (1996). “Practicing what we preach in designing authentic assessments”. Educational Leadership, 18-25.

Wilma Vialle et. al. (2000). Hand on Child Development. Australia: Social Sciences. Wittgenstein, Ludwig. (1961). Tractatus Logico-Philosophicus. London: Routledge &

Kegan Paul L. T D.

63

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

64

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

AWAKENING CULTURAL ETHOS AGAINST COLONIAL

Dalam dokumen A B PROSIDING KBS 2 UNNES 2 1 319 (Halaman 69-80)