• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Dalam dokumen A B PROSIDING KBS 2 UNNES 2 1 319 (Halaman 108-118)

PENGEMBANGAN BUKU PENGAYAAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA BERMUATAN NILAI BUDAYA UNTUK

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Prototipe dan Hasil Penilaian Ahli terhadap Buku Pengayaan Apresiasi Dongeng yang Bermuatan CLIL

93

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Prototipe buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL disusun sesuai dengan prinsip-prinsip yang diperoleh. Pada subbab ini akan diuraikan prototipe buku pengayaan yang meliputi bagian: (1) sampul buku, (2) fisik buku, dan (3) isi buku. Bagian sampul terdiri atas sampul depan dan belakang. Bagian fisik, buku dicetak dengan ukuran A4 pada kertas 80 gram. Adapun pada bagian isi buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL terdiri atas 3 bagian, yakni: (a) bagian awal, (b) bagian isi, dan (c) bagian akhir. Bagian awalan buku yang berisi halaman prancis, hak cipta, serta bagian-bagian pengantar. Bagian isi berisi teori dongeng dan enam bab paket dongeng yang terdiri atas dongeng, panduan mengapresiasi dongeng, panduan memahami muatan ungkapan Jawa, panduan memahami muatan IPA/IPS, evaluasi, dan refleksi. Bagian akhir terdiri atas refleksi akhir dan identitas penulis.

Setelah prototipe buku pengayaan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL disusun, prototipe tersebut kemudian dinilai oleh ahli. Dari penilaian dan koreksi dari tiga ahli, diperoleh hasil sebagai berikut.

Pada aspek isi, nilai rata-rata yang diperoleh dari ahli, yaitu 94,9. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penilaian pada aspek materi dan isi buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL tergolong sangat baik. Tidak semua aspek mendapatkan saran perbaikan dari ahli. Aspek yang mendapatkan saran perbaikan adalah aspek yang masih dirasa kurang memadai. Saran perbaikan yang direkomendasikan ahli yaitu: (1) pada aspek komposisi muatan IPA/IPS sebaiknya seimbang, (2) sebaiknya tidak usah ada sisipan kosakata bahasa Jawa. Alsannya, muatan ungkapan Jawa bukan berati harus berbahasa Jawa. Sisipan kosakata berbahasa Jawa malah dapat membuat peserta didik kebingungan karena tidak ada patokan yang jelas kosakata mana yang akan menggunakan bahasa Jawa, (3) nasihat dalam dongeng sebaiknya disampaikan dengan cara yang lebih komunikatif, (4) dongeng yang disajikan akan lebih kontekstual bila tokoh-tokohnya dikenali pada zaman sekarang, (5) latar dongeng seharusnya lebih beragam, dan (6) ungkapan Jawa yang dimunculkan seyogyanya yang memiliki makna memberikan motivasi.

Pada aspek penyajian, nilai rata-rata yang diperoleh dari ahli, yaitu 91,7. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa aspek penyajian buku pengayaan apresiasi

94

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

dongeng yang bermuatan CLIL tergolong sangat baik. Saran perbaikan yang diberikan guru dan ahli meliputi satu subaspek. Pada aspek peningkatan keaktifan siswa, ahli menyarankan bahwa perlu ditambah latihan berupa pemeragaan sederhana (sosio- drama) dari adegan dongeng. Hal tersebut akan membuat peserta didik tidak sekadar menjawab pertanyaan atau berdiskusi tetapi juga terlibat aktif.

Pada aspek bahasa dan keterbacaan, nilai rata-rata yang diperoleh dari ahli adalah 93,75. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa aspek bahasa dan keterbacaan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL tergolong sangat baik tergolong sangat baik. Saran yang diberikan ahli meliputi dua aspek. Pada aspek bahasa, hendaknya tidak perlu menyisipkan kosakata berbahasa Jawa karena justru akan membingungkan. Sedangkan, pad aspek komunikatif, kata sapaan yang digunakan sebaiknya “kamu” bukan “kalian”. Alasannya, “kalian” merupakan sapaan untuk lebih dari satu orang.

Pada aspek grafika nilai rata-rata yang diperoleh dari ahli adalah 82,1. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek grafika pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL tergolong baik. Ada empat saran perbaikan yang direkomendasikan ahli. Saran-saran tersebut yaitu: (1) pada aspek komposisi, sebaiknya bentuk geometris perlu lebih beragam, tidak hanya bujur sangkar, (2) pada aspek pewarnaan, sebaiknya dibuat lebih cerah seperti warna pastel, dan (3) pada aspek jenis huruf sebaiknya diubah dengan jenis huruf yang tidak berkesan kaku. Selain itu, perlu ada variasi jenis huruf sehingga peserta didik tidak bosan.

Keefektifan Buku Pengayaan Apresiasi Dongeng yang Bermuatan CLIL bagi Peserta Didik SD Kelas 3

Keefektifan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL diketahui dengan cara uji coba secara terbatas. Adapun sekolah yang dipilih yakni SD Negeri Kadilangu I di Demak. Sekolah tersebut dipilih atas pertimbangan nilai-nilai budaya Jawa yang masih dipegang teguh oleh peserta didik. SD N Kadilangu I Demak berada di wilayah pedesaan yang masih sangat kental dengan budaya pesisiran.

Berkaitan dengan muatan ungkapan Jawa yang diintegrasikan dalam materi ajar keterampilan mengapresiasi dongeng maka tidak cukup jika hanya menggunakan penilaian berdasarkan hasil skor pemerolehan apresiasi dongeng peserta didik saja.

95

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Oleh karena itu, peneliti menggunakan instrumen pedoman observasi peserta didik dalam pembelajaran keterampilan mengapresiasi dongeng. Pedoman observasi tersebut meliputi 1) antusias peserta didik pada saat pelaksanaan pembelajaran mengapresiasi dongeng, 2) ketertarikan peserta didik terhadap materi pelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, dan 3) hasil belajar keterampilan mengapresiasi dongeng peserta didik

Setelah pembelajaran apresiasi dongeng menggunakan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL dilakukan posttes, diperoleh perbedaan pemerolehan skor bahkan mencapai tingkat ketuntasan 100%. Hal tersebut dibuktikan dengan pemerolehan skor yang dicapai peserta didik di atas kriteria ketuntasan minimal. Adapun pemerolehan skor untuk kemampuan apresiasi dongeng yaitu sebanyak 6 atau 23% peserta didik memperoleh skor 85-100 dan sebanyak 20 atau 77% peserta didik memperoleh skor 75-84. Jadi, terdapat peningkatan pemerolehan skor peserta didik sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan skor setelah pembelajaran dilakukan dengan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL.

Selain dilakukan pretest dan postes, peneliti juga mendata tanggapan peserta didik. Tanggapan peserta didik terhadap buku pengayaan diperoleh menggunakan angket tanggapan peserta didik. Angket tanggapan digunakan untuk mengetahui kesan dan pesan peserta didik terhadap penggunaan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL. Angket tanggapan tersebut diisi oleh peserta didik pada akhir pembelajaran.

Berdasarkan hasil pengisian angket tanggapan peserta didik terhadap uji coba buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL dapat disimpulkan: (1) peserta didik merasa senang terhadap buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL, (2) peserta tidak merasa bosan karena desain buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL yang meliputi gambar ilustrasi, pewarnaan, dan tata letak dibuat menarik dan sesuai selera peserta didik, (3) peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam memahami materi yang disajikan dalam buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL, dan (4) peserta didik termotivasi untuk

96

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

berbuat baik dan terus bersemangat sesuai dengan muatan nilai ungkapan Jawa pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL

Keempat simpulan tanggapan peserta didik tersebut menunjukkan bahwa buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL mampu menarik dan memotivasi peserta didik.

Pemahasan Hasil Penelitian

Pembahasan kesesuaian buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL dengan teori yang digunakan bertujuan agar produk yang dibuat tidak sekadar bisa memenuhi kebutuhan di lapangan, tapi juga bisa dipertanggungjawabkan dari segi keilmuan. Konsep yang menjadi landasan utama dalam pengembangan buku tersebut adalah perpaduan konsep pengembangan buku pengayaan dan buku teks, konsep dongeng, konsep tentang CLIL, serta konsep tentang ungkapan Jawa.

Buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL disusun dengan memadukan prinsip pengembangan buku pengayaan dan buku teks. Kedua prinsip tersebut dipadukan atas dasar pertimbangan kebermanfaatan. Buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL bukanlah termasuk dalam jenis buku teks karena penyusunannya tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran dalam kurun waktu satu semester atau satu tahun ajaran. Buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL termasuk dalam jenis buku pengayaan karena disusun sebagai suplemen yang mendukung pembelajaran apresiasi dongeng.

Prinsip pengembangan buku pengayaan digunakan karena buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL termasuk buku pengayaan kepribadian. Prinsip buku pengayaan yang digunakan di dalam buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL adalah (1) buku tersebut bukan merupakan acuan wajib dalam pembelajaran dan (2) buku tersebut dapat mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional (Puskurbuk 2008:2).

Adapun prinsip pengembangan buku teks diterapkan dalam pengembangan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL digunakan atas pertimbangan bahwa buku tersebut memiliki keterkaitan dengan salah satu kompetensi dasar di dalam standar isi dan buku tersebut disusun untuk peserta didik SD kelas 3.

97

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Penerapan prinsip tersebut tampak jelas pada konsep pengembangan buku teks yakni aspek isi, penyajian, bahasa dan keterbacaan, serta grafika (Puskurbuk 2008:55) yang terdapat pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL.

Berkaitan dengan aspek dongeng yang terdapat pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL yakni dongeng modern. Hal tersebut berdasar pada Nurgiyantoro (2005:18) yang mengklasifikasikan dongeng berdasarkan waktu kemunculannya, yakni dongeng klasik dan dongeng modern. Dongeng klasik merupakan dongeng yang sudah ada sejak zaman dahulu dan tersebar secara turun- temurun serta tidak jelas siapa pengarangnya dan kapan dongeng itu dibuat. Berbeda dengan dongeng klasik, dongeng modern merupakan dongeng yang sengaja dikarang oleh seseorang dengan maksud agar dibaca orang lain. Dengan begitu, sudah jelas bahwa dongeng-dongeng yang terdapat pada buku pengayaan merupakan jenis dongeng modern yang sengaja dikarang.

Dalam menyusun dongeng perlu diperhatikan beberapa unsur, yakni ide, susunan ide, serta bahasa dan gaya bahasa. Ide berkaitan dengan tema yang diusung, susunan ide berkaitan dengan unsur-unsur cerita terutama rangkaian cerita, sedangkan bahasa terkait dengan keterbacaan pembaca. Unsur-unsur tersebut menjadi hal-hal yang mendasari penulisan dongeng pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL.

Dari segi tema dongeng, tema yang diaplikasikan yakni tema bebas. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Majid (2008:76) bahwa tema imajinasi bebas yang cocok untuk anak usia 5 sampai 8 atau 9 tahun. Tema imajinasi bebas berisi hal-hal yang terjadi di luar lingkungan sehari-hari. Terbukti pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL yang terdiri atas enam dongeng. keenam dongeng tersebut memiliki tema bebas tapi sesuai dengan perkembangan peserta didik SD kelas 3.

Dari segi susunan ide, hal tersebut berkaitan dengan peristiwa atau kejadian yang terangkai dalam cerita. Unsur-unsur ini terdiri atas tokoh-tokoh, perbincangan yang terjadi di antara tokoh dan tema sentral yang dijiwai para tokoh yang mengikat

98

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

hubungan di antara mereka.hal-hal tersebut sudah diaplikasikan pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL.

Sedangkan bahasa terkait dengan keterbacaan pembaca. Aspek komunikatif, dialogis dan interaktif, lugas, keruntutan alur pikir, koherensi, kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar, serta kesesuaian istilah, simbol, dan lambang dengan perkembangan peserta didik menjadi hal-hal yang harus diperhatikan.

Konsep selanjutnya yang mendasari pengembangan buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL yakni Content Language Integrated Learning (CLIL). Coyle (2006:24) menyatakan bahwa 4C yang merupakan penerapan CLIL, yaitu content, communication, cognition, culture (community/citizenship). Penerapan konsep 4C pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL yakni : (1) content diintegrasikan dengan memberikan muatan IPA/IPS pada dongeng, (2) communication diintegrasikan dengan menjadikan dongeng yang merupakan genre teks sastra sebagai sarana mengomunikasikan muatan CLIL, (3) cognition diintegrasikan pada panduan mengapresiasi dongeng dan memahami muatan ungkapan Jawa dan CLIL yang terdapat pada dongeng, dan (4) culture diintegrasikan dengan muatan ungkapan Jawa pada dongeng.

Konsep terakhir yakni ungkapan Jawa. Ungkapan Jawa terinci dalam banyak jenis, di antaranya berupa wangsalan, parikan, sanepa, tembung entar, peribasan, bebasan, dan saloka. Ungkapan-ungkapan tersebut berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku (Adicondro 2013:5). Pada buku pengayaan apresiasi dongeng yang bermuatan CLIL, ungkapan Jawa yang digunakan yakni ungkapan yang berisi nasihat. Hal tersebut berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik SD kelas 3 dan juga atas dasar pertimbangan perkembangan psikologi peserta didik.

SIMPULAN

Berdasar pada hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa buku pengayaan apresiasi dongeng bermuatan CLIL dan ungkapan Jawa adalah sebagai berikut. 1. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan buku pengayaan apresiasi dongeng

99

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

pengayaan cara mengapresiasi dongeng sebagai salah satu bentuk pendidikan karakter siswa. Siswa dan guru membutuhkan penyajian yang runtut pada setiap bab dan penyajian rangkuman pada setiap akhir bab. Pada aspek bahasa, siswa dan guru menginginkan buku pengayaan apresiasi dongeng bermuatan CLIL dan ungkapan Jawa dengan ragam bahasa formal, komunikatif, santai, dan mudah dipahami. Dari segi kegrafikaan, desain sampul buku dirancang menarik dan berkonsep halus; desain isi dirancang sesuai dengan kebutuhan isi buku; desain ukuran buku diinginkan berukuran A4.

2. Draf buku pengayaan apresiasi dongeng bermuatan CLIL dan ungkapan Jawa disusun dengan mengacu pada empat dimensi, yakni (1) materi/isi buku, meliputi bab dongeng, cara mengapresiasi dongeng, ulasan muatan ungkapan Jawa, ulasan muatan CLIL, dan refleksi; (2) penyajian buku pengayaan apresiasi dongeng bermuatan CLIL dan ungkapan Jawa terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, isi, dan penutup; (3) bahasa dan keterbacaan dalam buku digunakan ragam bahasa formal dan komunikatif, kalimat sederhana dan mudah dipahami, dan gaya bahasa lugas; (4) grafika buku pengayaan apresiasi dongeng bermuatan CLIL dan ungkapan Jawa meliputi desain sampul, desain isi, dan desain kulit buku.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar baru Algesindo Offset.

Coyle, D. 2006. “Developing CLIL: Towards a Theory of Practice” dalam Monograph 6 (pp. 5–29) Barcelona: APAC.

Danandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain.. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.

Endraswara, Suwardi. 2005. Buku Pinter Budaya Jawa Mutiara Adiluhung Orang Jawa. Yogyakarta: Gelombang Pasang.

100

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Gall, Meredith D., Joyce P. Gall, dan Walter R. Borg. 1983. Educational Research An Introduction (4th ed.). New York: Pearson Education, Inc.

Haryati, Nas. 2013. “Paparan Kuliah Apresiasi Prosa”. Semarang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes.

Huda, Miftakhul. 2013. “Produksi Cerita Pendek Melalui Pengembangan Nilai-Nilai Peribahasa Indonesia: Sebuah Kajian Awal”, dalam Seminar Nasional: Teks sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Menyongsong Kurikulum 2013. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Koentjoroningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Magnis, Franz dan Suseno. 2001. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mulyasa, E. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pranowo, Iwan. 2013. “Kasmaran Berilmu Pengetahuan”. Dalam A. Ferry T. Indratno (eds.). Menyambut Kurikulum 2013. Jakarta: Gramedia.

Priyono, Kusumo. 2006. Terampil Mendongeng. Jakarta: Grasindo.

Pusat Perbukuan. 2005. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya.

Puskurbuk. 2008. Pedoman Penulisan Buku Nonteks: Buku Pengayaan, Referensi, dan Panduan Pendidik. Jakarta: Depdiknas.

Puspitarini, Margaret. 2014. Kurikulum 2013, dari Guru hingga Buku Ajar. http://www.okezone.com (diunduh 2 April 2013).

Sitepu, B.P. 2012. Penulisan Buku Teks Pelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Subyantoro. 2013. ”Basis Pembelajaran Bahasa yang Komunikatif pada Kurikulum

2013”. Makalah, disampaikan pada Seminar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan tema Apa Kabar Kurikulum 2013. Semarang, 11 Januari. Suratno, Pardi. 2009. Gusti Ora Sare. Yogyakarta: Adiwacana.

Widyastuti, Susana. 2010. “Peribahasa: Cerminan Kepribadian Budaya Lokal dan Penerapannya di Masa Kini”. Proceeding of National Seminar of Yogyakarta University of Technology. Yogyakarta. http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/531. (diunduh 10 Januari 2014).

101

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

Zulfadhli. 2005. Pengajaran Apresiasi Sastra di Sekolah Dasar: Sebuah Pengantar. Jurnal Bahasa Sastra dan Seni Vol 6 Nomor 2. Padang: Depdikbud.

102

ISSN 2598-0610 e-ISSN 2598-0629

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR MATA

Dalam dokumen A B PROSIDING KBS 2 UNNES 2 1 319 (Halaman 108-118)