• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN LITERTUR

2.2. Gerakan Sosial Baru (New Social Movement)

Dalam satu dekade terakhir ini, perspektif gerakan sosial didominasi oleh pendekatan political approach. Pendekatan ini melihat gerakan sosial dalam kerangka state-centerdness, menjadikan negara sebagai target dari gerakan sosial, karena negaralah satu satunya otoritas (source of power)(Armstrong, 2006). Pandangan ini menjadi dominan karena sejalan dengan perkembangannya, gerakan sosial yang bermunculan memang secara tidak langsung bersinggungan dengan kepentingan negara, misalnya gerakan buruh, gerakan mahasiswa, serta

civil rightsandanti-war movements(Porta, 2006).

Namun, pandangan ini mendapatkan banyak kritikan, terutama sejak mulai berkembangnya apa yang disebut Tilly(1998) sebagai new social movements, yaitu gerakan-gerakan yang berbasis pada isu-isu seperti lingkungan, preferensi seksual, dan gender. Gerakan-gerakan tersebut tidak semata-mata menjadikan negara sebagai target, sehingga hadirlah berbagai definisi baru mengenai gerakan sosial.

Salah satunya adalah yang dibawakan oleh Snow(2004), yang mengatakan bahwa gerakan sosial dapat menjadi suatu tumpang tindih kolektivitas yang bertindak dengan beberapa tingkatan organisasi dan kesinambungan diluar jalur institusi dan organisasi sebagai otoritas murni yang melakukan penentangan dan pembelaan terhadap sesuatu yang ada, baik secara institusi atau kultural, dalam kelompok organisasi, masyarakat, budaya, atau di tatanan dunia manapun.

Dari pernyataan itu, Snow mendefinisikan gerakan sosial sebagai gerakan kolektif yang terorganisasi dan berkelanjutan, yang bertujuan untuk menentang otoritas yang ada, baik secara institusi maupun kultural. Penjelasan Snow menunjukkan bahwa negara bukanlah satu-satunya source of power and authority. Gerakan sosial tidak hanya menjadikan negara sebagai targetnya, tetapi juga berbagai otoritas lain dari berbagai insititusi dan cultural meaning yang menjadi bagian dari masyarakat. Bagi Snow, gerakan sosial itu menentang apa yang disebut sebagai institutional authority, baik yang berada pada area politik seperti negara maupun yang lainya seperti korporasi, agama atau dunia pendidikan atau bentuk-bentuk culturalauthority seperti sistem kepercayaan atau praktik dari sistem kepercayaan tersebut(Snow, 2004).

Definisi diatas merupakan salah satu definisi saja dari sekian banyak definisi yang ada mengenai gerakan sosial. Bahkan Opp(2009) menyebutkan perlunya suatu usaha yang lebih untuk mendefinisikan gerakan sosial, mengingat terlalu banyak pemikiran yang berkembang tentang hal itu. Meski banyak definisi yang dibangun mengenai gerakan sosial, semuanya biasanya melingkupi karakter-karakter dari gerakan sosial secara umum, seperti tindakan kolektif, terorganisasi, memiliki kontinuitas, serta memiliki tujuan (change-oriented goals or claims) (Benford, 2000)

New Social Movement Theory merupakan konsep teoritentang gerakan

sosial baru (GSB),denganmenggunakan kelompok (organisasi) sebagai unitanalisis, keterlibatan anggota juga diperhitungkan, namun dengan batasan tertentu.Dalam perkembangannya, para ahli telah memperluas kajiannya ke berbagai negara sedang berkembang, dan menemukan tipe gerakan sosial yang

kurang lebih sama(Singh, 2001). Merujuk pada Pichardo dan Singh, menurut Suharko(2006) bahwa ciri menonjol GSB yang dianggap membedakannya dari gerakan sosial “lama” atau tradisional, dapat diformulasikan sebagai berikut:

Pertama, ideologi dan tujuan. GSB menanggalkan orientasi ideologis yang

kuat melekat pada gerakan sosial lama, sebagaimana sering terungkap dalam ungkapan-ungkapan “anti kapitalisme”, “revolusi kelas”. GSB menepis semua asumsi Marxian bahwa semua perjuangan dan pengelompokan didasarkan atas konsep kelas. Dengan penekanan pada isu-isu spesifik dan non materialistik, GSB tampil sebagai perjuangan lintas kelas. Singhmenambahkan bahwa GSB pada dasarnya merupakan bentuk respon terhadaphadir dan menguatnya dua institusi yang menerobos masuk ke hampir semua relung kehidupan warga, yakni negara dan pasar(Singh, 2001). Karena itu, GSB membangkitkan isu “pertahanan diri” komunitas dan masyarakat untuk melawan ekspansi aparat negara dan pasar yang makin meningkat. Ekspresi terjelasnya mewujud dalam lahirnya agen-agen yang memperjuangkan pengawasan dan kontrol sosial, kaum urban marginal, aktivis lingkungan, kelompok anti otoritarian, kaum anti rasisme, dan juga para feminis. GSB melawan tata sosial dan kondisi yang didominasi oleh negara dan pasar dan menyerukan sebuah kondisi yang lebih adil dan bermartabat.

Kedua, taktik dan pengorganisasian. GSB umumnya tidak lagi mengikuti

model pengorganisasian serikat buruh industri dan model politik kepartaian. GSB lebih memilih saluran diluar politik normal, menerapkan taktik yang mengganggu, dan memobilisasi opini publik untuk mendapatkan daya tawar politik. Para aktivis GSB juga cenderung mempergunakan bentuk-bentuk demonstrasi yang sangat

dramatis dan direncanakan matang sebelumnya, lengkap dengan kostum dan representasi simboliknya.

Ketiga, struktur. GSB berupaya membangun struktur yang merefleksikan

bentuk pemerintah representatif yang mereka inginkan. GSB mengorganisir diri dalam gaya yang mengalir dan tidak kaku untuk menghindari bahaya oligarkisasi. Mereka berupaya merotasi kepemimpinan, melakukan pemungutan suara untuk semua isu, dan memiliki organisasi ad hoc yang tidak permanen. Mereka juga mengembangkan format yang tidakbirokratis sambil berargumen bahwa birokrasi modern telah membawa kepada kondisi dehumanisasi. Singkatnya, mereka menyerukan dan menciptakan struktur yang lebih responsif kepada kebutuhan-kebutuhan individu, yakni struktur yang terbuka, ter-desentralisasi, dan non khirarkhis.

Keempat, partisipan atau aktor. Partisipan GSB berasal dari berbagai basis

sosial yang melintasi kategori-kategori sosial seperti gender, pendidikan, okupasi dan kelas. Mereka tidak terkotakkan pada penggolongan tertentu seperti kaum proletar, petani, dan buruh, sebagaimana aktor-aktor gerakan sosial lama yang biasanya melibatkan kaum marginal dan teralienasi. Para aktor GSB juga berbeda dari gerakan sosial lama yang biasanya melibatkan kaum marginal dan teralienasi. Ada kesan yang kuat bahwa partisipan GSB umumnya berasal dari kalangan kelas menengah baru sebuah strata sosial yang muncul belakangan yang bekerja di sektor-sektor non-produktif. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini umumnya tidak terikat oleh motif-motif keuntungan korporasi. Mereka umumnya bekerja di sektor-sektor yang sangat bergantung pada belanja negara seperti kaum

akademisi, seniman, agen-agen pelayanan kemanusiaan, dan mereka umumnya merupakan kaum terdidik(Pichardo, 1997).

Kelima, medan atau area. Medan atau area aksi-aksi GSB juga melintasi

batas-batas region dari arus lokal hingga internasional. Isu-isu yang menjadi kepedulian GSB melintasi sekat-sekat bangsa dan masyarakat. Dalam hal ini GSB menunjukkan wajah trans manusia dengan mendukung kelestarian alam dimana manusia merupakan salah satu bagiannya. Ini secara jelas terpantul dari gerakan-gerakan anti nuklir, ekologi, perdamaian, dan sebagainya, yang menghemparkan kebersamaan warga dari beragam nasionalitas, kebudayaan dan sistem politik (Singh, 2001)

Dengan ciri-ciri tersebut diatas, GSB menampakkan wajah gerakansosial yang plural. Pluralitas ini terpantul jelas dari bentuk-bentuk aksi GSByang menapaki banyak jalur, mencita-citakan beragam tujuan, danmenyuarakan aneka kepentingan. Medan atau arena aksi-aksi GSB juga melintasi batas-batas region, dari tingkat lokal hingga internasional, sehingga mewujud menjadi gerakan transnasional. Karena itu pula strategi dan cara mobilisasi mereka pun bersifat global. GSB menampakkan wajah trans-manusia dengan mendukung kelestarian alam, dimana manusia merupakan salah satu didalamnya. Ini secara jelas terpantul dalam gerakan-gerakan anti nuklir, lingkungan atau ekologi, perdamaian, dan sebagainya, yang menghamparkan kebersamaan warga dari beragam nasionalitas, kebudayaan dan sistem politik (Singh, 2001).

Salah satu wajah atau tampilan GSB tersebut mungkin bisa ditemukan dalam gerakan hijrah kaum muda Islam di Kota Medan, yang merupakan bagian

dari gerakan hijrah yang terjadi di Indonesia yang mulai berkembang sejak akhir tahun 2016 hingga sekarang.

Suharko (2006) memaparkan bahwa istilah gerakan sosial baru (GSB) dipergunakan secara luas untuk merujuk pada fenomena gerakan sosial yang dimulai pada pertengahan era 1960-an dan setelahnya, terutama dinegara-negara maju yang telah memasuki era ekonomi pasca-industrial (post-industrial

economy). Ini merupakanperiode dekonstruksi yang menyoroti fenomena gerakan

sosial terkait denganstruktur-struktur individual dan sosial yang tidak selalu memiliki unsur-unsurbaku seperti gerakan fundamentalis (Islam, Hindu, Kristen), gerakan kanan baru,politik identitas dan politik rasial, gerakan sosial baru dan sebagainya. Parasosiolog gerakan sosial menangggapi kenyataan baru itu dengan teori dan konsepkebudayaan, pembingkaian dan konstruksi identitas(Mirsel, 2004 ).

Pada dasarnya GSB muncul sebagai respon terhadap peralihan bentuk-bentuk gerakan sosial kontemporer dinegara-negara Barat yang berkait dengan berkembangnya suatu dunia pasca-modern atau pasca-industrial (Pichardo, 1997). Gerakan sosial tradisional biasanya dicirikan secara kuat oleh tujuan ekonomi-material sebagaimana tercermin dari gerakan kaum buruh. Sementara GSB lebih berpusat pada tujuan-tujuan non-material. GSB biasanya menekankan pada perubahan-perubahan dalam gaya hidup dan kebudayaan dari pada mendorong perubahan-perubahan spesifik dalam kebijakan publik atau perubahan ekonomi, sebagaimana tercermin dari gerakan lingkungan, anti perang, perdamaian, feminisme, dan sejenisnya(Nash, 2005).

Para ahli telah mengamati gejala sosial ini secara intens, hasilnya adalah bahwa dalam komunitas ilmu sosial, GSB dipahami sebagai dua hal, Pertama, GSB dipahami sebagai suatu tipe gerakan sosial yang memiliki tampilan karakter yang baru dan bahkan mungkin unik. Kedua, akumulasi pengetahuan yang dihasilkan dari riset tentang GSB telah membawanya kepada status sebagai suatu paradigma dalam memahami kenyataan sosial itu sendiri(Pichardo, 1997). Penelitian ini mendasarkan rujukannya pada pemahaman yang pertama yang menempatkan GSB sebagai tipe gerakan sosial. Ataumerujuk ke Pichardo(1997) bahwa GSB merupakan sekedar kisah tambahan yang muncul belakangan dalam episode yang disebut gerakan sosial (the repertoire of social movements)