BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Hijrah Dalam Tipologi Artikulasi Gerakan Sosial
5.2.2. Hijrah dan Gerakan Sosial Formalis-Simbolik
Jika gerakan hijrah diposisikan sebagai bentuk tipologi artikulasi GSI
formalis-simbolik. Kelompok Islam ini menghendaki penampilan idiom-idiom
atau simbol-simbol Islam secara formal dalam kehidupan publik atau politik, seperti istilah negara Islam, khilafah Islamiyah, dan kelembagaan negara yang islami.
Dalam hal ini, peneliti akan melihat bagaimana komunitas Sahabat Hijrahkuu memandang khilafah dan sistem demokrasi. Kamal (28 tahun) mengatakan :
“Karena memang negara kita ini bukan negara yang menganut sistem Islam, melainkan sistem demokrasi, sah-sah saja. Namun semoga negara ini tidak anti dengan Islam dan syariat Islam, sebab negara kita adalah salah satu negara paling besar penduduk Islamnya”(Kamal, dalam wawancara pada 20 Juli 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 10.30 WIB).
Menurut Kamal, bahwa komunitas Sahabat Hijrahkuu tidak mempermasalahkan sistem demokrasi yang dianut dalam pemerintahan Indonesia, sebagai warga negara, mereka harus tunduk pada sistem tersebut.Walaupun dalamkonstitusi negara Indonesia tidak disebutkan bahwa Indonesia adalah negaramuslim, namun pada kenyataannya Islam cukup mengambil peranan pentingdalam kehidupan sosial politik di di negara ini. Hal ini tentunya dikarenakan Indonesiaadalah negara mayoritas muslim dan banyak pemikir-pemikir Islam yang turutandil dalam percaturan politik nasional, walaupun tidak berada dalam sebuahsistem politik Islam namun tetap saja simbol-simbol Islam dinilai penting sebagai suatu bentuk eksisitensi dalam kancah politik Indonesia.
Berkaitan dengan khilafah Islamiyah, Kamal (28 tahun) mengatakan bahwa mereka memandang sistem khilafah adalah sistem yang baik, dimana aturan hidup yang Islami benar-benar ditegakkan. Khilafah merupakan sistem yang dahulu diterapkan masa kejayaan Islam dimulai dari Rasulullah dan Khulafaurrasyidin.
Kata khilafah dalam gramatika bahasa Arab merupakan bentuk kata bendaverbal yang mensyaratkan adanya subyek atau pelaku yang aktif yang disebutkhalifah. Kata khilafah dengan demikian menunjuk pada serangkaian tindakan yangdilakukan oleh seseorang, yaitu seseorang yang disebut khalifah. Oleh karena itutidak akan ada suatu khilafah tanpa adanya seorang khalifah(Shitu-Agbetola, 1991). Kata khalifah sendiri berasal dari akar kata khalafa, yang berartimenggantikan, mengikuti, atau yang datang kemudian (Munawwir A. , 1984).Menurut Ganai (2001), secaraliteral khilafah berarti penggantian terhadap pendahulu, baik bersifat individualmaupun kelompok. Sedangkan secara teknis,
khilafah adalah lembaga pemerintahanIslam yang berdasarkan pada Al-Qur‟an
dan Sunnah. Khilafah merupakan mediumuntuk menegakkan din (agama) dan memajukan syariah.
Namun perkembangannya, makna Khilafah disebut juga “negaraIslam” (addawlah al islamiyah) atau “sistem pemerintah Islam” (nizham al hukm fi al
islam). Pandangan ini dirumuskan dalam kalimat ―Al Islam diin wa minhu ad daulah‖ (Islam adalah agama, di antaranya adalahajaran tentang bernegara). Ini
berbeda dengan konsep sekularisme dariBarat yang memisahkan agama dan negara (fashlud diin ‗an ad daulah) (Baidhowi, 2016).Pemahaman Agama dan negara dalam ajaran Islam tidak terpisah,paling tidak ada dua sebab berikut :
Pertama, karakter Nabi Muhammad yang menyatukan fungsikenabian (nubuwwah) dan kepemimpinan (ri`asah). Setelah hijrah keMadinah (622 M), Nabi Muhammad bukan hanya berkedudukan sebagai Nabi (penyampai risalah), namun juga berkedudukan sebagai kepalanegara (ra`is ad dawlah). Terbukti Nabi Muhammad menjalankan fungsi-fungsikepala negara, seperti mengadakan perjanjian, mengumumkanperang, mengirim atau menerima duta besar, dan seterusnya. Setelah Nabi Muhammad wafat, fungsi kenabian berakhir, yakni tidak ada Nabi lagi, tapi fungsi kepemimpinan tetap diteruskan olehpara khalifah selanjutnya (Zallum, 2002).
Kedua, karakter agama Islam itu sendiri yang bersifatkomprehensif
(syumuliah), yaitu tidak hanya mengatur aspek ibadahritual, tapi mengatur segala aspek kehidupan. (Lihat Q.S. Al Ma`idah :3, Q.S. An Nahl : 89). Karenanya Islam membutuhkan eksistensinegara atau kekuasaan untuk menjalankan hukum-hukum Islam secaramenyeluruh (Maushili).
Berdasarkan prinsip-prinsip realitas kenegaraan yang terkandung di dalam Al-Qur‟an, Nabi Muhammad pernah membangun suatu Daulah Islamiyah (negara Islam). Watt (1969)menyatakan bahwa negara Islam yang dibangun Nabi Muhammad itu merupakan suatunegara yang penduduknya terdiri dari percampuran berbagai suku bangsa Arab. Mereka, parasuku itu bercampur dengan tujuan untuk mengadakan persekutuan dengan Nabi Muhammad. Wilayah kekuasaan Nabi Muhammad ini pada mulanya sekitar Mekah dan Madinahsaja, yang kemudian setelah melakukan perluasan wilayah, kekuasaanya melebar keseluruhjazirah Arab. Tolak ukur Watt (1969) menilai kekuasaan Nabi Muhammad sebagai negara Islam adalah karena telah terdapatnya
perangkat-perangkat dasarpemerintahan yang ternyata telah memenuhi persyaratan sebagai suatu negara Modern.
Persyaratan pokok tersebut antara lain ; adanya kelompok manusia, adanya ketaatan kepadasuatu aturan tertentu, mempunyai wilayah tertentu, mempunyai pemerintahan, memiliki ikatanbersama.Semua jaminan hak asasi ini ditetapkan dengan terlebih dahulu yang menentukan antarahak dan kewajiban mereka didalam suatu konstitusi atau undang-undang tertulis. Misalnya,seperti yang tercantum dalam sebuah konstitusi yang dikenal dengan Piagam Madinah.
Menurut para ilmuwan politik, Piagam Madinah merupakan konstitusi tertulispertama didunia (First Written Constitution in the World). Nabi Muhammad menandatanganipiagam ini pada tahun 1 hijriah (622 M) sebagai lahirnya negara Islam pertama (Adhayanto, 2011). Namun demikian,sebagai konstitusi pertama negara Islam Piagam Madinah tidak mencantumkan negara Islam didalamnya (Sjadzali, 1993). Kehidupan bermasyarakat, sosial dan politik saat itu berjalan dengan baik, berbagai persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah dan berdasarkanketentuan hukum Islam. Jadi dengan kata lain bukan hanya konsep demokrasiyang memiliki gagasan musyawarah, dalam Islam ternyata juga memiliki nilai-nilaipersamaan, keadilan dan lain sebagainya.
Berdasarkan kenyataan historis ini, Watt (1969), Arnold Toynbee, dan Michael Hartsampai pada kesimpulan bahwa Nabi Muhammad tidak hanya merupakan seorang Nabi(the prophet) tetapi juga seorang negarawan (the
Khilafah bukan istilah asing bagi umat Islam. Nyaris di seluruh dunia
meyakininya sebagai ajaran sentral yang termaktub di dalam dua sumber utama hukum Islam, Al-Qur‟an dan Hadits. Hanya saja penafsiran khilafah kian berkembang dan beragam. Manusia adalah khalifah, khalifah fil ardh, wakil Tuhan di muka bumi. Hal ini sesuai dengan kesepakatan para ulama, baik ulama pramodern maupun modern. Pada praktiknya, manusia bertugas membawa misi keilahian untuk membangun bumi termasuk mengembangkan peradaban demi kemaslahatan umat manusia. Namun ketika khilafah dipahami sebagai kekuasaan politik, maka disinilah terjadi perbedaan pendapat dari para ulama.
Penafsiran khilafah sebagai strategi politik lahir pasca bubarnya kekhalifahan Utsmani di Turki pada tahun 1924. Di dalam sejarahnya, beberapa ulama mendorong pengertian khilafah sebagai lembaga politik-pemerintahan. Beberapa di antaranya adalah pemikir Islam Rasyid Ridha, Abul Kalam Azad dan pendiri Hizbut Tahrir (HT) Taqiyuddin An Nabhani.
Di era modern, konsep politik khilafah sejatinya malah semakin kabur. Ketidakrealistisan itu terletak kepada fakta bahwa negara-negara muslim yang ada hari ini masing-masing sudah membentuk negara bangsa. Apalagi dengan bentuk dan sistem negara yang beragam.
Ahmad Kamal (28 tahun) tidak memungkiri bahwa dalam gerakan hijrah yang dilakukan oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu, mereka juga turut ambil bagian dalam menegakkan khilafah. Namun bukan dalam gerakan mendirikan negara Islam secara formal, tapi sebuah gerakan penyadaran lewat jalur dakwah untuk mendekatkan ummat pada ajaran Islam, salah satunya adalah gerakan meramaikan mesjid, dengan mengajak orang untuk shalat berjamaah di mesjid.
Mereka meyakini, bahwa Islam akan bangkit melalui mesjid, dan salah satu tanda kebangkitan itu adalah jika jumlah jamaah shalat subuh itu sama dengan jamaah shalat jum‟at.
Ketua komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Dr. Watni Marpaung, M.A, menilai bahwa makna khilafah yang difahami oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu yang terimplementasikan dalam menjemput kejayaan Islam dengan menghidupkan mesjid menjadi pusat peradaban, sangat kontekstual dan sungguh menarik. Ia mengatakan :
“Apa yang mereka fahami tentang konsep khilafah ini justru bisa mensintesiskan apa yang ada di NKRI ini, bahwa bukan mau menentang pancasila dan sistem yang ada di NKRI, tapi mengisi kekosongan yang belum ada. Jadi khilafah itu tidak musti merubah tatanan sistem bernegara ini. Mereka bisa merumuskan arah baru tentang khilafah, jika ini tersosialisasikan secara luas, maka orang tidak akan lagi merisaukan dan mempersoalkan khilafah, karena maknanya bukan lagi pada persoalan ingin makar”. (Marpaung, dalam wawancara pada 28 Januari 2019 di Gedung Rektorat UINSU Pukul 09.00 WIB).
Gerakan yang dilakukan oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu berorientasi pada upaya sadar dan serius membangun kesadaran keagamaan umat Islam, khususnya dikalangan kaum muda Muslim.Khilafah yang difahami oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu bukanlah gerakan untuk mengingkari, mengubah, atau mengganti sistem politik dan pemerintahan serta Pancasila sebagai ideologi bangsa. Namun justru gerakan memupuk persatuan dan kebersamaan muslim dalam kemajemukan, hal ini tercermin dari framing utama gerakan yang mereka bangun dengan meretas perbedaan harokah. Berbeda dengan kolompok gerakan
formalis-simbolikyang menghendaki penampilan idiom-idiom atau simbol-simbol
Islam, khilafah Islamiyah, dan kelembagaan negara yang islami, dimana gerakan yang mereka bangun berorientasi pada legal-formal serta lebih banyak motif politiknya daripada upaya sadar dan serius membangun kesadaran keagamaan umat Islam.
Menurut Marpaung (37 tahun), walaupun demikian, tidak bisa dinafikan bahwa khilafah ini adalah sebuah sistem, dimana Islam pernah jaya dengan kekuatan politik dan ekonomi dibawah sistem ini, dengan sistem sosial yang juga berjalan dengan baik. Menurutnya, jika dilihat lebih lanjut,sebenarnya undang-undang perkawinan, dan beberapa produk undang-undang-undang-undang lainnya yang kini diterapkan di Indonesia merupakan produk hukum Islam, dan itu adalah produk dari sistem khilafah. Kontekstualisasi makna khilafahyang dijalankan oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu menunjukkan adanya perubahan pandangan strategis pada hal fiqihiyah terkait khilafah.Dan ini sungguh berbeda dengan apa yang di tonjolkan HTI dengan konsep khilafah yang mereka usung.
Maka di dalam konteks ini perlu dilakukan kontekstualisasi dan penafsiran baru terhadap semboyan khilafah. Khilafah sebaiknya bisa dipahami sebagai konsep yang membawa pesan kesatuan, persatuan, dan kebersamaan umat Islam secara nasional. Manifestasi kekhilafahan hari ini baiknya dihadirkan dalam bentuk semangat keumatan dan persaudaraan. Jargon khalifah, tidak seharusnya mengganggu sistem politik dan bentuk pemerintahan yang sah. Hadirnya jargon
khilafah tidak boleh mengingkari, mengubah, atau mengganti sistem politik dan
pemerintahan yang ada, yakni Pancasila. Khilafah harusnya justru bisa memupuk persatuan dan kebersamaan muslim dalam kemajemukan.