• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerakan Sosial dalam Perspektif Islam Populisme dan Post-Islamisme

BAB II KAJIAN LITERTUR

2.7. Gerakan Sosial dalam Perspektif Islam Populisme dan Post-Islamisme

Pengertian Islam Populisme secara sederhana dapat diartikansebagai Islam yang merakyat. Pengertian tersebut sebenarnyamerupakan bagian dari dua fenomena penting, yakni: pertama adanyaupaya untuk menginklusifkan Islam sebagai agama publik karenaIslam selama ini menjadi agama ekslusif bagi segelintir orang. Agamabukannya sebagai pengikat kebersamaan, namun justru menjadialat penindas untuk melanggengkan adanya legitimasi kekuasaandengan menghasilkan adanya rezim. Kedua Islam sebagai identitaspembebasan untuk melawan ketimpangan dan ketertindasan yangselama ini terjadi. Hal itulah yang

kemudian mendorong terjadinyagerakan politik dengan membawa Islam sebagai identitas kolektif (Jati, 2016).Kedua penyebab munculnya Islam populisme itu berimplikasipenting terhadap pilihan strategi perubahan sosialpolitik yangakan digunakan. Jati (2016) menambahkan, pengertian lain mengenai Islam populisme adalahIslam pembebasan. Istilah ini merupakan padanan kata yangterinspirasi semangat teologi pembebasan yang berkembang dalamkasus Amerika Selatan. Pembebasan tersebut terkait dengan upayamembebaskan kemiskinan maupun ketimpangan yang terjadi dalammasyarakat.

Islam populisme secara harfiah dapat diartikan sebagai usahauntuk mempopulerkan Islam dalam skala luas. Namun berbedadengan istilah Islam populer yang lebih cenderung mempopulerkanIslam ruang publik dalam bentuk produk budaya populer. Istilahpopulisme yang disematkan dalam Islam merupakan bagian dariupaya menunjukkan eksistensi sekaligus pula koeksistensi diridengan komunitas masyarakat lainnya (Jati, 2016). Eksistensi itu memangberakar pada masalah ketimpangan dan alienasi kelas yangterjadi karena akumulasi kapital yang tidak adil. Kondisi tersebutmendorong adanya pergolakan kelas yang cukup massif untukmelawan rezim otoritarianisme. Oleh karena itulah, gerakanpopulisme sebenarnya merupakan bagian dari gerakan kiri baruyang melanda kelas menengah muslim. Perspektif kiri ditempatkansebagai bentuk usaha penyadaran politik bahwa kemunduran kelasmenengah muslim sebagai

ummah adalah ketiadaan akses danredistribusi ekonomi yang tidak adil (Jati,

2016). Hal itulah yang kemudianmendorong adanya semangat pembebasan untuk melawan haltersebut.

Kemunculan Islam populisme dapat dilihat dari dua hal,Pertama, perkembangan industrialisasi dan kapitalisme yang tidakseimbang. Kehidupan perekonomian sendiri secara tidak berpihakpada masyarakat kelas menengah muslim, namun justru padakelas borjuasi yang didominasi kepentingan Barat maupun jugaTionghoa. Kedua, rezim pemerintahan yang otoriter telah memberanguskehidupan masyarakat dengan menciptakan prinsip monoloyalitasterhadap rezim (Jati, 2016).

Kedua kondisi itulah yang melatarbelakangihadirnya politik Islam sebagai bentuk ketimpangan kelas danpolitik yang dialami oleh kelas menengah muslim selama ini. Islam populis juga merupakan bentuk responsterhadap kontradiksi pembangunan kapitalisme yang selama inimengalienasikan masyarakat kelas menengah muslim (Hadiz, 2010). Hal itulahkemudian menciptakan adanya usaha untuk mempopulerkan Islamsebagai identitas politik kolektif yang ditujukan sebagai alatperjuangan politik (political struggle).Diskursus mengenai politik Islam tersebut kemudian diperkuat legitimasi secara teologisbahwa keterbelakangan umat Islam dikarenakan adanya dominasiekonomi-politik Barat yang menindas sehingga perlu untuk dilawan.Dari situlah soliditas maupun solidaritas masyarakat Muslim kelas menengah menjadi kunci penting dalam membangkitan semangatummah dalam level global (Jati, 2016).

Hadiz (2016) lebih menegaskan kemunculan gerakan populis sebagai produk perjuangan dan pertarungan kontemporer atas kekuasaan dan sumber daya material sekaligus sebagai resultat dari konflik yang terjadi dalam berbagai konteks sosial dan historis.Hadiz memaparkan kemunculan populisme Muslim sebagai warisan dari kebangkitan gerakan Pan-Islamisme yang muncul pada awal Abad 20 seiring dengan

memudarnya Kekaisaran Utsmaniyah. Tema sentral dari gerakan tersebut adalah pembangunan ummat demi munculnya jaman kejayaan Islam. Hadiz menggarisbawahi bahwa kemunculan gerakan tersebut sebagai reaksi terhadap dua hal. Pertama, “Dominasi Barat” yang pada saat itu direpresentasikan oleh masifnya kekuasaan kolonial negeri-negeri Eropa yang menjajah Afrika dan Asia. Kedua, “Pengaruh Barat” dalam bentuk gaya hidup, sistem nilai bahkan ideologi dan sistem politik dan ekonomi seperti kapitalisme, sekularisme, pluralisme dan demokrasi.

Perspektif Islam populisme menempatkan dimensi keadilansosial (social

justice) sebagai basis penting dalam membangkitkanidentitas kelas menengah.

Maka dalam perkembangan selanjutnya,Islam populisme kemudian bercabang dalam dua haluan utama,yakni kebutuhan akan membentuk negara Islam (darul

islam)dan membentuk masyarakat muslim (ummah). Pada model Islampopulisme

klasik, alienasi terhadap masyarakat muslim tersebutditunjukkan dengan cara defensif, yakni mendirikan suatu negaraatau komunitas kolektif yang mewajibkan umat Islam tergabung didalamnya (Hadiz, 2016).

Urgensi terbentuknya negara Islam tersebut merupakanjawaban atas ketimpangan kelas yang dialami oleh kelasmenengah Muslim tesebut. Dengan mendirikan negara Islam, makakeadilan sosial yang menjadi esensi dasar Islam populisme akantercapai dengan mudah. Hal itulah yang mendasari adanya perlawananbersenjata yang cenderung mengarahkan pada ekstrimisme maupunradikalisme. Namun strategi tersebut tidak berhasil untuk diterapkansecara sepenuhnya (Jati, 2016).

Berbeda halnya dengan Islamisme yang menekankan adanyaideologi kolektif komunitas dalam memformalisasikan agamasebagai aturan sehingga

berdampak pada pembentukan negara. Post-islamismemenekakankan pada adaptasi Islam dengan sekulerisme,liberalisasi, dan demokrasi (Bayat, 2013). Ideologi ini lebih menawarkan adanyareligiositas Islam dalam ruang publik sehingga mudah diterimaoleh masyarakat.

Pemahaman Post-Islamismediinisiasi oleh Asef Bayat untuk melihat perubahan signifikandalam masyarakat muslim paska revolusi seperti yang terjadi dalamstudi kasus Mesir, Turki, Tunisia, maupun Indonesia.Pada awalnya, Post-Islamisme hanya wujuddalam bentuk teori semata dan bukannya dalam bentuk praktikal. MenurutBayat (2013) Post-Islamisme sebagai bentuk strategi golongan Islamis untuk bertahan dalam meneruskanperjuangan Islam dalam politik. Menurut Dagi (2013), beliau mengulas Post-Islamisme sebagai satu perubahan strategipolitik Islam dengan meninggalkan ide fundamental yang bersifat teori negaraIslam menuju ide yang lebih realistik.

Berbeda dengan Islam populisme yang mengarahkan kepadaperubahan sosial-politik yang mengarahkan kepada aksi kekuasaandan gerakan konfliktual. Post-Islamisme lebih menyarankan adanyaperubahan sosial politik dimulai dari pembentukan ruang publik.Ruang publik tersebut ditujukan untuk sebagai ruang negosiasi,ruang diskusi, maupun ruang adaptasi. Hal tersebut sebenarnyaselaras dengan tujuan Post-Islamisme yakni untuk mengintegrasikantataran demokrasi, liberalisme, dan Islamisme dalam satu ruang (Jati, 2016).Kebutuhan ruang publik tersebut meningkat seiring dengankebutuhan kelas menengah untuk menunjukkan ekspresi danartikulasi identitas yang mereka inginkan. Munculnya kelompokdiskusi seperti halnya Paramadina, Maarif, dan lain sebagainyamerupakan bagian dari proses post-islamisme tersebut.

Secara garis besar pembabakan garis perubahansosial politik yang terjadi dalam Islam Populisme maupun Post-Islamisme dapat dijelaskan dalam tabulasi sebagai berikut.

Tabel 2.1 : Komparasi Islam Populis dan Post-Islamisme

No Parameter Perubahan Sosial Politik

Islam Populisme Post-Islamisme

1 Tujuan perubahan sosial politik

Eksistensi dan representasi kelas menengah muslim sebagai ummah

Adaptasi dan negosiasi kelas menengah muslim dalam demokrasi, liberalisme, dan sekulerisme

2 Genealogi perubahan sosial politik

Ketimpangan dan alienasi kelas

Otoritarianisme

3 Cara mencapai perubahan sosial politik

Membentuk gerakan politik

Membentuk partai politik

4 Ciri perubahan sosial politik Perubahan radikal Perubahan transformatif 5 Arah peruahan sosial politik Membentuk masyarakat

muslim kolektif

Membentuk kesalehan sosial dalam masyarakat

6 Relasi dengan negara Negara dipandang dalam relasi konfliktual

Negara dipandang dalam relasi kolegial

7 Segmentasi kelas menengah Kalangan borjuasi, intelektual, birokrat

Intelektual, rumah tangga, birokrat

Sumber : (Jati, 2016, hal. 140)