BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Faktor Dominan Dalam Terbentuknya Gerakan Hijrah Kaum Muda Islam
5.1.1. Struktur Kesempatan Politik Gerakan Hijrah
Gerakan hijrah yang dilakukan oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu tidak bisa dilepaskan dari konteks struktur makro baik sosial, ekonomi, maupun politik. Gerakan hijrah ini merupakan salah satu dampak turunan dari kebijakan pemerintah di masa lalu. Heryanto (2015)menyatakan bahwa telah terjadi
kebangkitan Islamisasi menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Kelompok Islam yang sebelumnya dianggap sebagai ekstrem kanan, kemudian dirangkul dan dijadikan sekutu baru pemerintahan Soeharto untuk memperkuat posisi politiknya yang saat itu tengah melemah. Itulah masa ketika penggunaan jilbab tidak lagi dilarang, dan kelompok-kelompok Islam mulai menyatakan aspirasi politiknya secara terbuka tanpa perlu takut ditindas oleh rezim penguasa.
Dimasa Orde Baru rezim Soeharto membuat kebijakan yang memasung tumbuh berkembangnya gerakan Islam politik, dimulai dari penolakan rehabilitasi Partai Masyumi dan puncaknya penerapan Asas Tunggal Pancasila. Berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru yang menutup kran bagi tumbuh kembangnya Islam Politik menyadarkan bahwa jalur politik-struktural tidak memungkinkan terus dipaksakan sebagai alat tempuh untuk merealisasikan berbagai agenda dan aspirasi umat Islam.
Ketika runtuhnya orde baru, hal ini menjadi titik awal yang menjadikan era reformasi menjadi struktur kesempatan politik (political opportunity structure) bagi umat Islam Indonesia untuk terlibat aktif dalam pembentukan kembali negara-bangsa Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh beberapa kelompok umat Islam untuk mendapatkan eksistensinya seperti wacana syari‘ah
Islam, khilafah, hingga maraknya perda syari‘ah diberbagai daerah. Shohibul
Anshor Siregar (61 tahun) mengatakan :
“Di Indonesia, sejak Soeharto berkuasa, secara perlahan, terminologi agama difahami oleh banyak orang sekaligus tidak elok, kalau bukan pantang berpolitik. Mereka yang masih belum sadarperubahan yang terjadi di kalangan umat Islamlah yang tetap menganggap kesadaran berpolitik yang paralel dengan kesadaran beragama sebagai suatu masalah besar. Setelah reformasi ratusan partai yang dibentuk. Meski hanya 48 yang memenuhi syarat sebagai peserta pemilu, tetapi di
antaranya partai berbasis agama pun ada. Partai Islam ada, partai Katholik ada, partai Protestan pun ada. Jika belakangan yang tersisa hanyalah partai Islam, itu tidak otomatis menjadi dasar bagi pendapat bahwa politik SARA dilarang di Indonesia.” (Siregar, dalam wawancara pada 24 Januari 2019 di Kampus UMSU Pukul 21.07 WIB)
Menjelang priode terakhir kekuasaannya, tepatnya pada tahun 1993, Soeharto mengambil kebijakan politik yang lebih lunak terhadap kalangan Islam. Soeharto saat itu mulai melakukan pendekatan terhadap kalangan Islam, termasuk kiprahnya dalam membentuk ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), Bank Muamalat dan kabinet ijo royo-royo. Walaupun sebenarnynya, Soeharto berubah bukan untuk Islam, tapi lebih untuk kepentingan politiknya. Hal ini karena sikap pengekangan terhadap kalangan Islam masih terasa.
Menurut Siregar (61 tahun), turunnya Soeharto pada 1998, membuat ormas-ormas Islam lebih leluasa menyuarakan tuntutan. Masa reformas-ormasi menjadi titik balik penguatan dan peningkatan gerakan Islam baik struktural maupun kultural. Tipikal pertama ditandai dengan maraknya pendirian partai-partai Islam, meskipun hanya PKB, PKS, PAN, PPP, dan PBB yang survive hingga kini, namun begitupunmereka belum mampu memainkan peranan yang cukup signifikan. Tipikal kedua ditandai dengan menjamurnya sejumlah gerakan Islam, baik yang dikategorikan radikal, maupun tipikal gerakan yang sifatnya trans-nasional bertipe harokah juga semakin marak. Gerakan ini memiliki komitmen yang kuat dan daya jelajah tinggi di masyarakat.
. Setelah periode pasca-Reformasi, kelompok-kelompok dakwah Islam semakin menggunakan posisi dominan mereka di ruang-ruang publik muslim sebagai wahana untuk mengubah pola pikir kaum muda Muslim guna mendukung
tafsir yang lebih eksklusif tentang Islam. Dalam perjalanannya gerakan dakwah harokah yang telah mewarnai dinamika gerakan dan organisasi Islam baik dari segi wacana narasi keislaman, produk budaya, dan eksistensi pengakuan keberislaman yang semakin kuat di Indonesia. Kini, kelompok-kelompok dakwah seperti gerakan hijrah berkembang dikalangan kaum muda muslim, khususnya dikota-kota besar. Menurut Siregar (61 tahun) perkembangan gerakan itu pun tidak terbatas di kota Medan, malah makin besar kotanya makin besar pula komunitas hijrahnya, hal ini karena dukungan ketersediaan sumberdaya yang semakin besar pula.
Pada era ini, perkembangan gerakan hijrah sangat terlihat mulai dari banyaknya pengajian-pengajian, munculnya komunitas-komunitas hijrah, dan berfungsinya mesjid sebagai ruang publik yang dijadikan sentral gerakan dalam menyampaikan semangat hijrah ke publik muslim. Era reformasi merupakan sebuah bagian dari struktur kesempatan politik bagi gerakan hijrah untuk muncul dan berkembang serta bisa dengan bebas menyebarkan pandangan-pandangannya kepada masyarakat.
5.1.1.1. Kesadaran Kolektif Pasca Gerakan Aksi Bela Islam
Setelah 18 tahun usia reformasi, tepatnya di penghujung tahun 2016, muncul sebuah corak baru perkembangan budaya organisasi Islam berwajah tidak biasa. Perubahan tersebut bisa dilihat dari gerakan aksi damai 411 (4 November 2016) dan 212 (2 Desember 2016) yang menghadirkan wajah masyarakat muslim yang berbeda dari sebelumnya. Ini menandakan bahwa masyarakat muslim di era reformasi sangat dinamis, namun juga terdapat kemungkinan sebagai tanda bahwa
umat Muslim tengah bergerak ke arah yang berbeda dari organisasi masyarakat tradisional semisal NU dan Muhammadiyah.
Melalui gerakan aksi bela Islam ini, kaum muda Islam Indonesia menemukan satu titik dimana mereka memahami arti penting dari kerja kolektif (amal jama‘i). Kesadaran ini akan berdampak elementer bagi dunia gerakan pemuda dan mahasiswa, salah satunya semakin banyaknya publik muslim yang berpihak pada agenda gerakan Islam. Kesadaran kolektif akan identitas diri sebagai bagian dari Islam ini lah yang dimanfaatkan oleh para relawan dakwah komunitas Sahabat Hijrahkuuuntuk terusmengembangkan misi organisasinya dengan merekrut para relawan yangumumnya berasal dari kalangan kaum muda muslim terdidik. Komunitas Sahabat Hijrahkuu berdiri pada tanggal 18 oktober 2016 diinisiasi oleh Ahmad Kamal sebagai inisiator awal pembentukan komunitas ini. Ahmad Kamal (28 tahun) mengatakan :
“Maraknya perkembangan komunitas hijrah terjadi diakhir tahun 2016,hal ini dipicu dengan adanya aksi-aksi bela Islam. Kita sendiri waktu itu berdiri di tanggal 18 oktober 2016 namun mulai digagas itu sejak Ramadhan, perkiraan itu sekitar bulan bulan juli 2016.Ini saya katakan, perkembangan Islam akhir-akhir ini luar biasa, dan tuduhan-tuduhan dan fitnahan-fitnahan terhadap Islam itu sendiri itu juga lebih luar biasa lagi. Tapi semakin Islam ini dihina dan dilecehkan, maka akan semakin membakar dan meningkatkan ghirah kita dan kecintaan kita terhadap Islam” (Kamal, dalam wawancara pada 20 Juli 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 10.30 WIB).
Menurut Ahmad Kamal (28 tahun), tindakan diskriminatif dan penistaan terhadap Islam menjadi salah satu fakor yang memicu ghirah keislaman umat, hal itu akan membuat umat Islam semakin cinta dan peduli dengan agamanya. Ini adalah bentuk dari kesadaran kolektif umat Islam. Kesadaran kolektif akan
identitas diri sebagai bagian dari Islam, memberikan kontribusi terhadap kesadaran politik umat Islam.
Semangat hijrah diawali akan kesadaran kolektif akan keprihatinan terhadap isu-isu diskriminatif terhadap Islam. Namun hal ini justru membakar ghirah keislaman hingga berdampak pada perubahan diri ke arah yang lebih baik. Berubah dari pribadi yang gemar bermaksiat menjadi pribadi yang lebih taat. Berevolusi dari seseorang yang mengabaikan syariat menjadi pribadi yang memiliki kesadaran beragama.
Berangkat atas kesadaran identitas inilah, kian banyak masyarakat peduli dengan sesamanya dan yang terpenting pada agamanya. Aksi bela Islam yang telah sampai ke beberapa jilid ini setidaknya memberikan angin segar bagi dunia gerakan kaum mudaIslam, khususnya terhadap anak-anak muda kelas intelektual dan aktivis gerakan untuk membentuk wadah baru dalam menyalurkan ekspresi ke-Islamannya. Terbentuk dan bergabungnya kaum muda Islam kota Medan dalam gerakan hijrah yang dibangun komunitas Sahabat Hijrahkuu merupakan rentetan dari kesadaran kolektif yang terjadi dikalangan kaum muda Islam kota Medan.
Sebagai gerakan sosial, kesadaran politik umat Islam yang dikemas melalui gerakan hijrah komunitas Sahabat Hijrahkuu ini menjadi cerminan tumbuhnya partisipasi politik kaum muda Muslim Kota Medan yang juga bagian dari kelas menengah Muslim Indonesia secara keseluruhan. Hal ini penting mengingat pada pascapemilu 2014, pola partisipasi politik semakin mengalami penguatan di kalangan kelas menengah Muslim Indonesia. Selain itu, faktor kuat lain yang memengaruhi adalah Islam di Indonesia tidaklah selalu menjadi kekuatan politis
secara utuh, namun juga bisa berarti kekuatan sosial yang menyeluruh (Jati, 2016).
Partisipasi politik menjadi penting bagi gerakan umat mengingat sistem demokrasi yang mendorong adanya saluran aspirasi politik. Hal tersebut juga berlaku bagi gerakan yang dibangun oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu dalam upaya mengartikulasikan aspirasi politiknya. Karakter demokrasi Indonesia menunjukkan adanya relasi antara ranah pribadi dan kewargaan melalui penegakan aturan hukum; kaitan antara ranah politik dan masyarakat dengan membuka organisasi sipil maupun juga organisasi politik, serta relasi antara ranah politik maupun juga negara (lembaga trias politikadan partai politik) yang semakin padu (Abdurrahman, 2003). Dengan kata lain, keterbukaanpolitik formal dalam ranah negara perlu diimbangi dengan adanya saluran partisipasi politik informal publik. Dalam membangun saluran partisipasi politiknya, komunitas Sahabat Hijrahkuu memberikan dukungan partisipasi politiknya melalui partai politik yang meraka anggap berada pada kelompok yang membela Islam dalam kelompok aksi bela Islam 212.
Kegetiran masyarakat atas berbagai persoalan terutama dalam hal ekonomi, politik, dan degradasi moral menjadikan masyarakat mencari alternatifbaru. Salah satunya adalah munculnya berbagai pemikiran politik Islam yang kemudian melahirkan banyak gerakan. Konsolidasi ditingkatan negara terus dilakukan, namun pada saat yang sama, terdapat konsolidasi internal di kalangan umat Islam. Fenomena ini dapat dibaca dari munculnya gerakan politik Islam dengan berbagai isu aktual. Penegakan syariat, negara Islam, khilafah Islamiyah, masyarakat madani, dan gerakan-gerakan pelegal-formalan Islam dalam kehidupan
politik.Hadirnya komunitas Sahabat Hijrahku dengan gerakan sosial berbasis religius yang mereka bangun juga merupakan salah satu gerakan yang lahir akibat munculnya berbagai pemikiran politik Islam tersebut.
Adanya konteks yang teristimewakan dan tertindas kemudian mendorong adanya bentuk partisipasi politik kelas menengah Muslim Indonesia dalam penciptaan wacana baru: modernisme alternatif (Wichelen, 2010). Pengertian modernisme alternatif tersebut dapat dianalisis sebagai bentuk pencarian jalur modernisme lain yang tidak hanya mengandalkan adanya linearitas ekonomi, namun juga perbaikan moralitas. Kondisi itulah yang mendorong modernisme baru berlandaskan nilai-nilai agama. Hal itu juga berarti adanya komoditisasi nilai-nilai agama dalam bentuk konsumerisme. Dengan kata lain, Islam menerima adanya konsumerisme yang kemudian dipraktikkan dalam konteks produk syariah. Komunitas Sahabat Hijrahku bahkan memiliki badan amal usaha yang memproduksi pakaian Islami guna mendukung gerakan modernisme yang berlandaskan nilai-nilai Islami ini. Melalui hal ini, mereka berharap dapat membangun sebuah komunitas kaum muda modern yang bermoral.
Sedangkan dalam konteks “Muslim demokratis” secara sederhana dapat disimpulkan sebagai bentuk penerimaan umat Islam terhadap demokrasi sebagai sistem politik. Nilai-nilai demokrasi dalam Islam dikenal dalam berbagai istilah seperti halnya syura, ikhtilaf, ijtihad, dan juga ijma merupakan mekanisme pencapaian permusyawaratan dalam Islam. Selebihnya Islam tidak mengenalkan adanya liberalisme dan lebih percaya konsep ummah (Mujani, 2007). Dalam gerakan politiknya, komunitas Sahabat Hijrahkuu menerima sistem demokrasi sebagai wadah dalam menyalurkan partisipasi politik. Dengan kata lain, kaum
muda Muslim ini masih memiliki esklusivitas dan kolektivitas sebagai suatu kelompok yang kemudian merumuskan partisipasi politik dengan lebih memilih jalur moderat, namun tetap kritis dengan negara.
5.1.1.2. Islamophobia Sebagai Penghambat Perkembangan Gerakan Hijrah
Pada saat awal-awalberdirinya komunitas Sahabat Hijrahkuu, masih ada terjadi penolakan dari masyarakat karena dianggaporganisasi yang menyebarkan faham radikal. Hal ini disebabkan karena adanya pandangan stereotipikal Islam danjuga bangkitnya kembali gelombang Islamophobia, baik dalam hal agama, budaya, maupun politik. Berbagai stigma dilekatkan bahwa Islam identik dengan radikalisme, terorisme, dan kekerasan. Stigma ini seakan menjadi hambatan utama terhadap perkembangan gerakan hijrah.
Salah satu penolakan datang dari orang tua yang terkejut dengan perubahan tingkah laku dan cara berpakaian anaknya setelah berhijrah. Yang perempuan merubah tampilan dengan berpakaian syar‘i dengan jilbab besar bahkan beberapa ada yang bercadar, sementara yang laki-laki mulai memelihara janggut, bercelana cingkrang, dan rutin ikut pengajian yang di adakan oleh komunitas.
Apa yang disampaikan oleh Kamal terkait dengan penolakan ini sejalan dengan pemikiran apriori dan fenomena Islamophobia yang terjadi saat ini. Fenomena ini seolah mengaminkan apa yang diasumsikan sebagai simbol Islam seperti memanjangkan jenggot, bercelana komprang, jidat hitam, jilbab besar, dianggap sebagai simbol kaum radikal. Sehingga, tidak sedikit umat Islam yang terkontaminasi dengan stigma negatif ini, lalu mencukur jenggotnya.Begitu pun
wanita-wanita Muslimah yang mengenakan jilbab besar, bercadar, sering dianggap simbol radikal, terlebih pasca pelarangan memakai cadar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Terkait dengan memakai pakaian dengan simbol Islam ini, tentu ini bukanlah sebagai bentuk politik kesalehan (politic of piety) seperti yang digambarkan oleh Saba Mahmoud yang dikutip oleh Aziz (2017), dimana hal tersebut dijadikan untuk mengkontruksi diri dengan korelasi langsung atas modal-modal yang menyangga personal sebagai agensi. Selanjutnya strategi itu menjadi sistem yang mengkonsepsi tubuh untuk membentuk citra yang diinginkan. Dalam ruang politik kesalehan, ada sebuah usaha “pembalikan wacana” sebagai bagian untuk mengkontruksi identitas dan citra diri dengan mengubah sikap, melakukan perang wacana ataupun melekatkan simbol baru sebagai bagian personal (Aziz, 2017).
Mutia (25 tahun) mengatakan bahwa dirinya merasa lebih nyaman ketika menggunakan jilbab besar yang sesuai dengan anjuran Islam, dimana dirinya merasa lebih terjaga dari pandangan buruk laki-laki terhadap beberapa bagian dari tubuhnya yang bisa saja mengandung unsur sensualitas sehingga memancing nafsu laki-laki yang memandangnya. Hal ini dia sadari ketika mencoba untuk membandingkan dirinya dengan temannya yang masih menggunakan jilbab “segi tiga” yang berukuran lebih kecil dari jilbab yang ia pakai, dimana beberapa bagian sensitif seperti dada dan pinggul tidak tertutupi sehingga masih terlihat bentuk lekukannya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dinda (21 tahun) yang mengungkapkan alasan dirinya untuk mengenakan cadar. Menurut Dinda, tidak hanya pada bagian
dada dan pinggul, pada bagian wajah seorang wanita juga ada beberapa bagian yang bisa saja dapat menimbulkan nafsu bagi laki-laki yang memandangnya. Dalam wawancara dengan peneliti, Dinda mengatkan :
“Saya bercadar supaya lebih menjaga pandangan para ikhwan, karena di wajah kita ada beberapa bagian yang bisa menarik untuk dipandang para ikhwan, maka lebih baik ditutup, dan saya merasa lebih tenang ketika bercadar dari pada sebelumnya. Sebelumnya saya punya pengalaman buruk terkait pelecehan sebelum saya bercadar, dan tidak lagi setelah bercadar” (Dinda, dalam wawancara pada 19 Oktober 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 15.00 WIB).
Menurutnya, bercadar dapat melindungi dirinya dari godaan laki-laki, sebab dengan melihat wajah saja laki-laki bisa saja tergoda, terpesona, dan akhirnya merayu atau berbuat jahat kepada wanita.Sehingga menggunakan jilbab besar yang menjulur menutupi dada dan pinggul serta memakai cadar dapatmembantu kaum pria untuk menjaga pandangan terhadap wanita, sehingga mereka tidak terfitnah, tidak tergoda maupun terpesona olehnya.
Menurut Foucault yang dikutip King (2004), bahwa tubuh perempuan dianggap sebagai“other‖.Artinya, tubuh perempuan dinilai berbeda dengan tubuh laki-laki. Perempuan memilikibagian-bagian tubuh tertentu yang lebih menonjol ketimbang laki-laki, seperti payudara,pinggul dan bokong. Hal ini lah yang kemudian membuat tubuh perempuan menjadi sasaran eksploitasi dan seringkali dijadikan objek visual bagi memenuhi hasrat nafsu laki-laki.
Kesan sensual pada diri seorang wanita memang dapat muncul melalui beberapa ekspresi wajah. Bagianwajah berupa bibir dan mata dinilai memberikan kontribusi yang besar dalam membentuksensualitas seorang perempuan. Bibir yang sedikitterbuka atau mengangadapatmenimbulkan kesan sensual terutama
pada perempuan.Peasedan Pease (2004), menjelaskan bahwa ekspresiwajah perempuan dengan bibir menganga merujuk pada ekspresi sensual yang menunjukkankekuatan seksual seorang perempuan.Kesan sensual semakin kuat manakalaekspresi wajahdenganbibiryang sedikit menganga tersebut dikaitkan dengan ekspresi ketika perempuanmengalami orgasme saat berhubungan intim.
Bagi anggota komunitas Sahabat Hijrahkuu, ada beberapa hal yang menjadi alasan dasar mereka menggunakan jilbab besar (hijab) dan cadar, diantaranya;
pertama, hijab sebagai pelindung. Mereka merasa terlindungi setelah memakai
hijab karena terhindar dari gangguan danpandangan nafsu laki-laki. Kedua hijab sebagai penyempurna pakaian muslimah, karena untuk menutupi aurat. Hal ini sangat sejalan dengan apa yang diperintahkan Allah dalam Qur‟an surah Al-Ahzab ayat 59. Ketiga, hijab sebagai identitas. Karena memperoleh pembentukan identitas sebagai muslimah berhijab dan sudah berhijrah dari keburukan sifat masa lalu yang kembali pada kebaikan ajaran agama Islam.
Al-Qur‟an memang tidak mewajibkan satu model tertentu dalamberpakaian, termasuk model jilbab yang harus dipakai, karena ayat 59 dari surat Al-Ahzab tidak memberikanketegasantentang model tersebut. Dalam Qur‟an surat Al-Ahzab ayat 59 disebutkan :
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(QS. Al Ahzab: 59).
Dalam ayat ini disebutkan bahwa, “yang demikian (pakai jilbab) itusupaya merekalebih mudah untuk dikenal”. Penggalan ayat tersebut mengandung arti,
bahwa untuk ukuranbangsa Arab pada masa itu model jilbab lebih mudah untuk membedakanantara perempuan merdeka dari budak, sehingga mereka tidak digangguoleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Pada tempatlain, atau di kalangan masyarakat tertentu, bisa sajamodel pakaianwanitanyatidak serupa dengan model jilbab tersebut, maka boleh saja memakaiberbagai model pakaian yangdisukai, selama pakaian tersebut dapat menutup aurat. Artinya,pakaian tersebut selain longgar tidak pula tipis, sehingga bentuk tubuhdan warna kulit tidak kelihatandari luar (Shihab, 2002).
Jika dilihat dari asbabun nuzul ayat ini, ada peristiwa yang tampak dengan jelas bahwa ayat ini turunbukan khusus berkenaan dengan konteks menutup aurat perempuan,tetapi lebih dari itu, yakni agar mereka tidak diganggu oleh pria-prianakal atau usil. Sebelum turunnya ayat ini, cara berpakaian wanita merdeka ataubudak, yang baik-baik atau kurang sopan hampir dapat dikatakansama.Karena itu lelaki usil seringkali mengganggu wanita-wanita khususnyayang mereka ketahui atau duga sebagai hamba sahaya (Sidiq, 2012).
Dengan demikian, baik dulu maupun sekarang bila dijumpai kasus yang samakriterianyadengan peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayatitu, maka hukumnya adalah sama sesuai dengan kaedah ushul fiqih:hukum-hukum syara‘ didasarkan pada „illat (penyebabnya) adaatau tidak ada „illat tersebut. Jika ada, maka ada pula hukumnya. Sebaliknyajika tidak ada „illat maka tidak ada hukumnya. Berdasarkankaedah itu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa berjilbab hukumnyawajib (Shaleh, 2007).
Baberapa hal yang diurai diatasmerupakan alasan kuat bagi Dinda (21 tahun) dan Mutia (25 tahun) untuk menggunakan hijab dan cadar. Hal ini mereka
lakukan ketika berhijrah dan bergabung dengan komunitas Sahabat Hijrahkuu. Dari sisi lain, penggunaan cadar memang masih bermasalah dari segi penerimaan social (social acceptance). Secara sosiologis, bercadar bagi perempuan masih belum dianggap sebagai praktik dan norma yang lazim di kalangan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan cenderung mengembangkan ekspresi kultural-keagamaan yang berbeda dengan kecenderungan di tempat lain, terutama di Timur Tengah/Arab di mana bercadar mungkin mempunyai akar budaya yang lebih kuat.
Selama menjalani proses hijrah, baik Dinda maupun Mutia juga mengalami bebera kendala, termasuk cibiran dan pandangan negatif yang justru berasal dari teman-temannya terkait cadar yang mereka kenakan.
“Awal mula saya bercadar dan bertemu dangan teman-teman, ada yang mengejek, mengucapkan cie,,bercadar, atau mengucap salam tapi dengan cara mengejek dan tertawa setelahnya. Tidak hanya itu, saya juga pernah di bilang teroris oleh teman saya yang justru seorang muslim, dia mencecar saya dengan pertanyaan kenapa berhijab, bercadar, dan berwarna hitam. Tapi hal itu tidak menyurutkan saya untuk tetap istiqomah dalam berhijrah, dan tidak pula memutuskan hubungan pertemanan dengan mereka, bahkan saya berupaya memberi pemahaman pada mereka dan mengajak mereka untuk hijrah” (Dinda, dalam wawancara pada 19 Oktober 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 15.00 WIB).
Mutia (25 tahun) mengatakan :
“Awal mula setelah bercadar, teman-teman merasa keheranan dengan perubahan tampilan saya, setelah itu mereka bisa memahami. Tapi ada juga teman yang membatasi diri karena saya bercadar sementara dia belum berhijab” (Mutia, dalam wawancara pada 19 Oktober 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 15.30 WIB).
Bagi mereka anggota komunitas Sahabat Hijrahkuu, fase-fase sulit telah lewat, dimana ketika bercadar dipandang oleh orang lain sebagai sesuatu yang
identik dengan terorisme dan bom. Sehingga image yang berkembang di masyarakat bahwa cadar adalah pakaian teroris atau istri seorang teroris. Bagi Dinda (21 tahun) dan Mutia (25 tahun), bercadar justru akan menyelamatkan pandangan para lelaki terhadap para wanita dari nafsu sebagai “panah iblis”.
Menurut Kamal (28 tahun), diskriminasi, dan pandangan negetif yang