• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Hijrah Dalam Tipologi Artikulasi Gerakan Sosial

5.2.3. Hijrah dan Gerakan Sosial Rasional-Inklusif

Kemudian jika gerakan hijrah diposisikan sebagai bentuk tipologi artikulasi GSI rasional-inklusif. Kelompok ini lebih menekankan pada pemahaman ajaran Islam secara terbuka. Dengan keterbukaan itu Islam akan mampu menjadi

―Rahmat bagi seluruh alam‖.Mereka yang terwakili dalam kelompok ini

memberi peluang dan apresiasi terhadap pluralisme agama-agama, dan Islam diharapkan dapat didefinisikan secara inklusivistik, tidak harus terpaku secara rigid dan literalis sesuai yang tertuang dalam kitab suci, tetapi harus mampu diterjemahkan pada kehidupan kemanusiaan secara konkrit. Sehingga dengan demikian simbol-simbol Islam harus terbuka dan dimengerti oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim.

Dalam hal ini, peneliti akan melihat bagaimana komunitas Sahabat Hijrahkuu menerapkan konsep “rahmatan lil‘alamin” dalam gerakannya.Kamal (28 tahun) mengatakan :

“Rahmatan lil‘alamin itu rahmat bagi sekalian alam, dalam hal ini adalah Islam mengajarkan kita tentang toleransi terhadap umat agama lain, bersosialisasi dengan mereka, memberikan kenyamanan dan keamanan pada mereka dilingkungan kita, dan tetap saling membantu pada hal-hal yang memang sewajarnya dibantu. Islam sudah cukup sempurna mengajarkan cinta, kasih sayang dan toleransi kepada kita umat Islam, cukup itu jadi landasan bukan menyama-ratakan agama, agama jelas tidak sama. Kalau kita ikut-ikutan mengatakan sama, maka aqidah kita pun rusak. Rahmatan lil‘alamin yang harus kita terapkan itu adalah kita biarkan mereka beribadah sesuai agama mereka, biarkan mereka beribadah dengan nyaman tanpa merasa terganggu asal prosesi peribadatannya juga tidak mengganggu ibadah kita”(Kamal, dalam wawancara pada 20 Juli 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 10.30 WIB).

Menurut Kamal, rahmatan lil‘alamin itu bukan berarti sikap toleransiyang berlebih-lebihan dengan komunitasnon-Muslim. Ini berangkat dari kenyataan

bahwa rahmatan lil‗alamin sangat erat kaitannyadengan kerasulan Nabi Muhammad. Islam tidak melarang umatnya berinteraksidengan komunitas agama lain. RahmatAllah yang diberikan melalui Islam, tidakmungkin dapat disampaikan kepada umatlain, jika komunikasi dengan mereka tidakberjalan baik. Karena itu, para ulamafuqaha dari berbagai mazhab membolehkanseorang Muslim memberikan sedekahsunnah kepada non-Muslim yang bukankafir harbi. Demikian pula sebaliknya,seorang Muslim diperbolehkan menerimabantuan dan hadiah yang diberikan olehnon-Muslim. Para ulama fuqaha jugamewajibkan seorang Muslim memberinafkah kepada istri, orang tua, dan anak-anakyang non-Muslim (Ramli, 2011).

Maka seorang Muslim, dalam menghayatidan menerapkan pesan Islam

rahmatan lil‗ala min tidak boleh menghilangkan misidakwah yang dibawa oleh

Islam itu sendiri. Misalnya, memberikan khotbah dalam acara kebaktian agama lain, mengikuti acara ritualagama lain, atau doa bersama lintas agamadengan alasan itu adalah Islam rahmatan lil‗alamin. Kegiatan-kegiatansemacam itu justru mengaburkan makna rahmatan lil‗alaminyang berkaitan erat dengan misi dakwahIslam. Menurut Kamal (28 tahun) hal ini jelas salah dan dapat merusak aqidah.

Islam rahmatan lil‘alamin selanjutnya dapat dilihat dalam praktek ajaran Islam dalamrealitas sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnyagenerasi pertama. Nabi Muhammad senantiasa berpihak kepada kaum mushtad‘afin,kepedulian sosial, fakir, miskin dan orang-orang yang terkena musibah. Guna menjaminterpeliharanya hak-hak asasi manusia lebihlanjut dapat dibaca dalam Piagam Madinah yangdibuat oleh Nabi Muhammad semasa di

Madinah dan disepakati oleh seluruh perwakilankomunitas penduduk Madinah. Isi Piagam Madinah yang sebanyak 47 pasal itu antara lainmengandung visi etis, solidaritas, persatuan, kebebasan, pengakuan supremasi hukum, keadilan,serta kontrol sosial untuk mengajak kepada kebaikan dalam mencegah kemungkaran (Pulungan, 2002).

Dalam konteks Islam sebagai rahmatan lil‘alamin, Islam telah mengatur segala tata hubungan, baik aspek teologis, ritual, sosial danmuamalah, dan humantis dan kemanusian. Pertama, aspek teologi. Dalamurusan teologis, Islam memberikan rumusan jelas, hal-hal yang diyakinidan memaknai ketauhidan secara komprehensif, meliputi keyakinanumat Muslim di dalam berdakwah kepada umat non-Muslim (Rasyid, 2016).

Di satu sisi, semangat ketauhidan yang kehilangan panggungnyamembuat problem teologis tersendiri bagi kaum muda Islam saat ini. Penyegaran inidiperlukan sebagai bentuk upaya implementasi ajaran Islam secara baikdan benar kontekstual, namun tidak kehilangan asasnya dan setiap orangmampu membawa Islam dengan semangat kemanusiaan. Semangat inilah yang dibawa komunitas Sahabat Hijrahkuu dalam gerakan-gerakan dakwahnya.

Kedua, aspek-aspek ritual ibadah dalam kehidupan sehari-sehari,baik di

dalam al-Qur‟an dan hadis tidak boleh menjadikan sesama Islamsaling bermusuhan. Aturan operasionalnya sudah terdapat pada keduanyadan untuk urusan kontemporer maka tetap berpijakan pada kedua sumber,dilengkapi dengan

Perpecahan merupakan akibat dari perselisihan, sekalipuntidak semua perselisihan itu perpecahan. Perpecahan adalah sebuahkepastian. Ada beberapa fenomena yang terjadidi Indonesia, yang menyebabkan terjadinya perpecahan dalam internalIslam, yaitu: berlebih-lebihan (tasyaddudi) dalam beragama dan terlalumenyepelekan dan memudahkan (tasyahhuli) asas-asas agama Islam,fanatik buta terhadap salah satu ulama dalam menjadikannya sebagaipayung dalam beragama, kurangnya memahami pola bermazhab danber-istinbat dengan baik dan benar. Akhirnya, masalah-masalah ijtihadiahdialihkan dan diangkat menjadi masalah ajaran Islam paling tinggi.

Bagi komunitas Sahabat Hijrahkuu, Perselisihan dan perbedaan adalah rahmatdari Allah. Perbedaan-perbedaan khilafiahakan memperkaya keilmuan dan keyakinan mereka dalam memahami Islam. Bagi mereka ini lah yang dinamakan dengan pluralisme terhadap perbedaan harokah. Dan hal ini tercermin dalam motto gerakan mereka yaitu ―apapun harokahmu, aku saudaramu‖.

Ketiga, aspek sosial dan muamalah. Dalam konteks ini, Islam

hanyaberbicara ketentuan-ketentuan dasar dan pilar-pilarnya saja. Operasionaldan pelaksanaannya diserahkan kepada kesepakatan bersama dan lokalitastempat tumbuh kembangnya sebuah hukum (Muzadi, 2002). Bagi komunitas Sahabat Hijrahkuu, untuk urusan muamalah, selagi tidak merusak aqidah, tetap harus menjalin hubungan dengan non-muslim, dan boleh saja melakukan jual beli dengan mereka. Di sisi lain, karena seorang Muslimbertanggung jawab menerapkan basyiran wa nadziran lil‗alamin (pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada seluruh alam). Islam melarangumatnya berinteraksi

dengan non-Muslimdalam hal-hal yang dapat menghapus misidakwah Islam terhadap mereka, yaitu hal-hal yang dapat merusak aqidah.

Bagi komunitas Sahabat Hijrahkuu, toleransi yang terimplementasi dari konsep rahmatan lil‘alamin bahwa Islam menghargai perbedaan agama, tetapi bukan berarti dalam melaksanakan toleransi ini denganmencampur adukkan antara kepentingan sosial dan aqidah. Dalam melaksanakantoleransi ada batasan-batasan tertentu.Toleransi antar umat beragama bukan sinkretisme, seperti yang telahdijelaskan di atas. Toleransi tidak dibenarkan dengan mengakui kebenaran semuaagama. Sebab menurut Kamal (28 tahun) orang sering salah kaprah dalam mengartikan dan melaksanakan toleransi. Toleransi antar umat beragama yang diharapkan di sini adalahtoleransi yang tidak menyangkut bidang aqidah atau dogma masing-masingagama. Melainkan hanya menyangkut amal sosial antar sesama insan sosial,sesama warga negara sehingga tercipta persatuan dankesatuan.

Sikap plural yang terjadi di komunitas Sahabat Hijrahkuu bukanlah plural dalam arti yang luas, namun plural dalam hal khilafiyah, yang dimaksud

khilafiyah di sini adalah perselisihan fiqih yang termasuk kategori ikhtilaf tanawwu‘ (perbedaan variatif), bukan perselisihan aqidah yang termasuk ikhtilaf tadhadh (perselisihan kontradiktif).

Jika dilihat dari pemahaman komunitas Sahabat Hijrahkuu terkait dengan isu-isu toleransi, maka gerakan sosial yang dibangun oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu bisa saja dimasukkan dalam kelompok tipologi artikulasi GSI

rasional-inklusif. Namun, gerakan yang mereka bangun tidak hanya sebatas pada gerakan

rasional-inklusif. Namun diluar itu ada banyak pola-pola gerakan lainnya yang juga

dilakukan oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu. Gerakan rasional-inklusif ini hanya sebagian dari gerakan yang dibangun oleh komunitas sahabat hijrahkuu, sehingga memasukkan gerakan hijrah yang mereka bangun kedalam kelompok gerakan

rasional-inklusif menurut peneliti juga belum begitu tepat.