BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Hijrah Dalam Tipologi Artikulasi Gerakan Sosial
5.2.1. Hijrah dan Gerakan Sosial Fundamentalis-Radikal
Jika gerakan hijrah diposisikan sebagai bentuk tipologi artikulasi GSI
fundamentalis-radikal. Kelompok ini berada pada absolutisme pemikiran yang
mendasarkan diri pada teks klasik Islam, karena penekanan pada teks semacam itu mempunyai implikasi langsung terhadap tindakan sosial politiknya, orientasi keberagamaan pada kelompok ini sangat mengutamakan skripturalisme absolut, sikap mereka umumnya sangat ekstrem, termasuk dalam kelompok ini mereka yang melakukan tindakan teror. Tindakan-tindakan dari kelompok ini selain mengedepankan simbol-simbol keagamaan tetapi juga sering bersifat “anarkhis”.
Dalam hal ini, peneliti akan melihat bagaimana komunitas Sahabat Hijrahkuu memahami teks klasik Islam dalam gerakan hijrah yang mereka bangun. Salah satu contohnya adalah bagaimana sikap mereka dalam memahami nilai-nilai jihad dalam gerakannya. Ahmad Kamal (28 tahun) mengatakan :
“Jihad itu juga sudah diatur dalam Islam, dan makna jihad itu sendiri luas, belajar itu juga jihad, menuntut ilmu jihad, mencari nafkah juga jihad. Nah, konsep jihad yang kita laklukan sejauh ini adalah jihad dalam belajar menuntut ilmu agama, sebab perlu dipaksakan diri ini untuk terus belajar, dan jihad lainnya adalah untuk melakukan dakwah, termasuk diantaranya membuat program-program dakwah, program kajian-kajian ini”(Kamal, dalam wawancara pada 20 Juli 2018 di Sekretariat SHKUU Pukul 10.30 WIB).
Menurut Kamal, apa yang mereka fahami tentang jihad ialahberjuang atau berusaha dengan keras, namun bukan harus berarti perang secara fisik. Jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai perjuangan untuk agama, itu tidak harus berarti perjuangan fisik. Jika yang dimaksud disini jihad dalam artian perang, maka Islam tidak mengajarkan untuk memulai peperangan, dan harus juga memperhatikan hal apa yang memicu perang itu terjadi, bukan atas dasar fanatik buta seperti yang tercermin dalam kelompok fundamentalis-radikal.
Makna jihad memang sedikit atau banyak mengalami pergeseran dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan masing-masing pemikir. Secara
etimologi, kata jihad berasal dari bahasa Arab, jihad adalah bentuk isim mashdar
dari kata jaahada-yujaahidu-jihaadan-mujahadah.Kata ini merupakan derivasi darikata jahada-yajhadu-jahdan. Secara etimologi, jihad berarti mencurahkan usaha, kemampuan, dan tenaga. Dengan kata lain, ia berarti bersungguh-sungguh (Al-Qardhawi, 2010).
Zuhaeli (2006), mendefinisikan jihad dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk memerangikaum kafir dan berjuang melawan mereka dengan jiwa, harta, dan lisan mereka.Definisi ini menyamakan jihad dengan perang
(al-Qital) didasarkan hanya pada pemahamanbahwa qital adalah tingkatan jihad yang
fundamentalis-radikal dalam misi jihadnya. Mereka seringkali menyamakan
antara jihad denganal-qital, atau perang.Padahal secara bahasa dan syariat jihadbukan sekedar perang, secara bahasa dan syariat jihad dan qital maknanya berbeda.Qitaladalah bentuk mashdar dengan wazn (timbangan) fi‘al dari
qatala-yuqatilu-qitalan-muqatalan,dan bentuk musytaq dari kata qatala-yaqtulu-qatlan
yang berarti menghilangkan jiwa oranglain (Al-Qardhawi, 2010).
Secara konfrehensif Yusuf Al-Qardhawi (2010) mendefinisikan jihad sebagai mencurahkan segenap upaya di jalan Allah untukmelawan keburukan dan kebatilan. Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalamdiri dalam bentuk nafsu dan godaan syetan, dilanjutkan dengan melawan keburukan disekitarmasyarakat, dan berakhir dengan melawan keburukan di manapun sesuai kemampuan. Ia jugamenjelaskan bahwa jihad melibatkan aktifitas hati berupa niat dan keteguhan, aktifitas lisanberupa dakwah dan penjelasan, aktifitas intelektual berupa pemikiran dan ide, serta aktifitastubuh berupa perang dan lain sebagainya.
Jihad yang difahami oleh Sahabat Hijrahkuu adalah jihad dalam proses
istiqomah ketika hijrah, dengan mencurahkan segenap kemampuan untuk
mencapai apayang dicintai Allah dan menolak semua yang dibenci Allah (Taymiah, 2007). Jihad dengan mencurahkan kemampuan untuk menyebarkan dan membela dakwah Islam dengan upaya yang terarah dan terusmenerus untuk meciptakan perkembangan Islam.
Didalam Al-Qur‟an, kata hijrah cenderung selalu diikuti dengan kata jihad. Kata hijrah disebutkan dalam 18 surah di dalam Al-Qur‟an, dan 6 surah selalu diikuti dengan kata jihad, yaitu pada surah Al-Baqarah ayat 218, surah Al-Anfaal ayat 72, surah Al-Anfaal ayat 74, surah Al-Anfaal ayat 75, surah At-Taubah ayat
20, surah An-Nahl ayat 110. Dalam ajaran Islam, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah dan memperoleh kemenangan jika telah memiliki dan mengamalkan tiga perkara, yaitu iman, hijrah dan jihad.Iman tidak bisa dilepaskan dari hijrah dan jihad.
Menurut Kamal (28 tahun) orang yang berhijrah akan mengalami proses ujian setelah hijrahnya, ia akan melewati ujian itu untuk memperkuat keimanannya, dan itu adalah bentuk jihad setelah berhijrah. Hal ini senada dengan makna jihad juga disampaikan oleh Shihab (2007), menurutnya kata jihad diambil dari kata jahd, yang berarti letih atausukar.Karena jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Jihad juga bisa bermakna juhd,yang berarti kemampuan.Jihad memang menuntut kemampuan, dan harus sebesar kemampuan. Dari kata yang sama, tersusun ucapan jahida bir-rajuulyang artinya seseorang sedang mengalami ujian. Terlihat bahwa kata ini mengandung maknaujian dan cobaan, hal yang wajar jika seseorang yang berhijrah harus menghadapi ujian dan cobaan untuk meningkatkan keimanannya. karena jihad memang merupakan ujian dan cobaan bagi kualitasseseorang (Shihab, 2007).
Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, memasukkan gerakan hijrah dalam kelompok tipologi gerakan yang fundamentalis-radikaltentu sangat tidak tepat. karena gerakan hijrah yang dilakukan oleh komunitas Sahabat Hijrahkuu tidak mendasarkan pemahaman agama pada teks klasik yang sangat mengutamakan skriptualisme absolut, sebagaimana yang biasanya dilakukan oleh kelompok fundamentalis-radikaldalam gerakan sosial yang mereka lakukan.