BAB III. KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS
B. PENGERTIAN HIDUP BERKOMUNITAS
2. Gereja sebagai Communio
Yesus telah memberi Gereja sebagai lingkungan hidup manusia (paguyuban) tempat Ia hadir dan mengajar manusia menjadi putera-puteri
dan saudara-saudari. Yesus menjadikan Gereja sumber hidup-Nya, Tubuh-Nya, sakramnen keselamatan, Ibu dan Guru. Gereja melahirkan manusia sebagai putera-puteri Allah yang hidup hanya untuk mengasihi dan dan dikasihi karena belaskasihan Allah yang mau menyelamatkan manusia dari dosa. Gereja adalah Sakramen Kesatuan persaudaraan dalam Kristus. Di dalam Gereja manusia belajar menjadi yakin bahwa dicintai oleh Bapa dalam Kristus. Diri manusia yang terdalam adalah Kristus yang hadir dan bersatu dengan Bapa (Driscoll, 2002 : 38).
Pembaktian religius yang dihayati akan mencapai perkembangan penuh dalam komunitas. Dengan pembaktiannya, seorang religius sekaligus dan menyanggupkan diri kepada Allah dan menjadi anggota tarekat religius. Dengan berbuat demikian dan dengan hidup di sebuah komunitas, seorang religius memberi kesaksian akan kehadiran Kerajaan Allah, mewartakannya, dan berjuang untuk kedatangannya. Dengan hidup di sebuah komunitas tentu dipersatukan dalam sabda Allah dan Ekaristi, para religius menyambut misi khas bersama untuk mengubah dunia dengan kerja sama dalam misi penyelamatan Kristus. Dalam Gereja aspek komunitas religius merupakan ungkapan yang menunjukan kesamaan martabat masing-masing anggotanya, kesamaan fundamental sebagai anak-anak Allah, sebagai pribadi yang dipanggil dan dibaktikan. Komunitas religius berdasarkan Sabda Allah, yang memanggil anggota-anggotanya untuk mengikuti Yesus dengan meninggalkan gaya hidupnya dan dengan mengenakan gaya hidup religius
atas dasar panggilan yang diterima oleh anggota-anggotanya untuk mengikuti Kristus. Ukuran dari suatu komunitas religius bukanlah demi kegunaan atau keuntungannya, melainkan terutama demi kenabian.
Dalam Gereja, komunitas persaudaraan religius mengungkapkan tanggung jawab bersama dari semua anggotanya, sebagaimana mereka berbagi dalam organisasi internal dalam pelayanan-pelayanan, yang diemban oleh tarekat untuk mewujudkan misinya. Hidup berkomunitas juga memberi kesaksian terhadap luasnya keanekaragaman anugerah dan karisma, kebutuhan dan panggilan, peranan dan pelayanan. Hal itu menunjukan bahwa tidak ada komunitas Kristiani yang dari dirinya sendiri
merupakan sebuah “sel” Gereja. Oleh karena itu, komunitas harus masuk
dalam totalitas Gereja dan menimba hidup dari totalitas Gereja. Ini berarti bahwa komunitas religius hidup dalam kebersamaan dengan semua unsur Gereja baik pelayan-pelayan terthabis maupun awam (Darminta, 2003:23-27).
Setiap anggota Gereja dipanggil Allah untuk mencapai kesucian hidupnya. Mereka dipanggil Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka melainkan karenanya, supaya dengan kesucian tersebut cara hidup di dunia ini menjadi lebih manusiawi (Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis
tentang Gereja, art. 40).
Kesucian Gereja tersebut harus tampak dalam buah rahmat yang dihasilkan oleh Roh dalam hidup kaum beriman. Masing-masing anggota Gereja dapat
mencapai kekudusan/kesempurnaan hidup melalui berbagai bentuk pilihan hidup dan karya.
Ikatan persaudaraan antar anggota menjadi lebih erat, hendaknya mereka yang disebut para bruder, para rekan sekerja, atau dengan nama lain, melibatkan diri secara lebih erat dengan perihidup serta karya-karya komunitas (Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Pembaharuan Hidup Religius art. 15).
Hidup bersaudara dalam arti hidup bersama dalam cintakasih merupakan lambang yang jelas bagi perekutuan gerejawi. Corak hidup itu dipraktekan secara khas dalam Tarekat-tarekat Religius dan serikat-serikat Apostolis. Di situ hidup komunitas beroleh relevansi khusus. Dimensi persekutuan persaudaraan juga tidak asing bagi institut-institut Sekular, atau bahkan bagi bentuk-bentuk hidup bakti yang dihayati secara perseorangan. Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, mereka semua menyanggupkan diri untuk melaksanakan “perintah baru” Tuhan, yakni saling mengasihi seperti Ia mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34). Para anggota
hidup bakti, yang menjadi “sehati sejiwa” (Kis 4:32) melalui cintakasih
yang dicurahkan ke dalam hati mereka oleh Roh Kudus (bdk. Rom 5:5), mengalami panggilan batin untuk berbagi bersama segala sesuatu: barang-barang materiil dan pengalaman-pengalaman rohani, bakat-kemampuan dan inspirasi-inspirasi, cita-cita kerasulan dan pelayanan kasih: dalam hidup berkomunitas kuasa Roh Kudus yang berkarya dalam seorang indivudu sekaligus tersalurkan kepada semua anggota. Dengan demikian dalam hidup
berkomunitas dalam cara tertentu perlu menjadi jelas, bahwa lebih dari sekedar upaya untuk menunaikan perutusan khusus persekutuan persaudaraan itu ruang yang disinari oleh Allah, untuk mengalami kehadiran tersembunyi Tuhan yang bangkit mulia (bdk. Mat 18:20). Berkat cintakasih timbal-balik antara semua anggota komunitas cintakasih yang dipupuk melalui sabda dan Ekaristi, dimurnikan dalam sakramen perdamaian, dan ditopang oleh doa untuk kesatuan, anugerah khusus Roh bagi mereka yang dengan patuh mendengarkan Injil. Roh Kudus sendirilah yang membimbing jiwa untuk mengalami persekutuan dengan Bapa dengan Putera-Nya Yesus Kristus (bdk. 1 Yoh 1:3), dan persekutuan itu sumber hidup bersaudara. Rohlah yang membimbing komunitas-komunitas hidup bakti dalam menunaikan misi pelayanan mereka kepada Gereja dan kepada segenap umat manusia, menurut inspirasi asli mereka (VC, 62-64).
Membangun komunitas adalah sebuah proses untuk membentuk setiap pribadi. Setiap anggota wajib membangun diri dari dalam, saling membangun dalam kerja sama, pembicaraan, dan pergaulan, dan atas dasar itu semua anggota bersama membentuk kesatuan di bawah pembinaan seorang pemimpin.
Cinta persaudaraan merupakan inspirasi yang mengatur hidup dan hubungan antara komunitas. Tak jarang mendengar ungkapan yang
mengatakan bahwa harus ada semangat “sehati dan sejiwa”. Maka untuk
mencapai itu segala macam hal yang menyebabkan perbedaan harus dihindari, karena perpecahan inilah merupakan hambatan adanya semangat
sehati dan sejiwa. Bila ada perbedaan watak, dan karenanya terjadi perbedaan-perbedaan yang mungkin mencekam, hendaknya kesatuan, damai dan cinta dipulihkan kembali dengan mengingat kembali bahwa tiap-tiap religius adalah saudara satu sama lain dan sama-sama anak-anak Bapa yang satu. Dengan demikian adapun kecenderungan-kecenderungan tertentu dalam hidup yang perlu diperhatikan yang kadang menghambat tumbuh dan berkembangnya kesatuan hati dan jiwa.
Hubungan-hubungan rohani dan kerja sama timbal-balik penuh persaudaraan antara berbagai Tarekat Hidup Bakti dan Serikat-serikat Hidup Apostolis ditopang dan dimantapkan oleh kesadaran akan persatuan Gerejawi. Mereka dipersatukan oleh komitmen bersama untuk mengikuti Kristus, dan yang diilhami oleh Roh yang sama niscaya akan menampilkan secara kelihatan, ibarat ranting-ranting pada suatu pokok anggur, kepenuhan Injil cinta kasih (Darminta dkk, 2008:78).
Dunia telah memasuki millenium baru yang dibebani pertentangan-pertentangan dalam kemajuan ekonomi budaya dan teknologi, yang menjanjikan kemungkinan amat luas bagi kelompok kecil yang serba beruntung, sedangkan itu meninggalkan jutaaan rakyat lain bukan sekedar pada pinggiran-pinggiran kemajuan tetapi dalam kondisi hidup yang jauh di bawah minimum menurut tuntutan martabat manusia. Skenario kemelaratan melebar luas tanpa batas, selain bentuk-bentuk tradisionalnya juga pula yang lebih baru sering menyangkut sektor dan kelompok kaya-raya finansial, yang diancam oleh keputusasaan akibat tiadanya makna dalam hidup
mereka, akibat kecanduan narkoba, rasa takut ditinggalkan dalam keadaan lanjut usia atau banyak penyakit, akibat marginalisasi dan diskriminasi sosial. Mereka yang mengalami penggusuran secara tidak adil oleh penguasa-penguasa yang memiliki modal, pengangguran, anak-anak jalanan, yang tidak memiliki tempat tinggal (NMI, art 50).
Untuk menjembatani berbagai persoalan kehidupan menggereja, Gereja menyadari kembali salah satu aspek jati dirinya sebagai persekutuan hidup beriman (communio). Hidup pesekutuan ini merupakan tantangan dalam hidup menggereja, yang ditandai ileh berbagai panggilan dan fungsi. Unsur baru hidup persekutuan menggereja untuk dewasa ini ialah persekutuan dengan dunia berbagai dinamika hidupnya sebagaimana ditegaskan di dalam Gaudium et Spes. Persekutuan hidup menggereja maupun persekutuan di dalam masyarakat kiranya tidak cukup hanya dilandasi oleh kesamaan nasib, tetapi dilandasi oleh yang laing hakiki dari jati diri manusia, sebagaimana di wahyukan oleh Allah, ialah bahwa semua manusia adalah citra Allah dan seluruh alam semesta alam merupakan anugerah Allah untuk menjadi sarana membangun hidup dalam kecitraan Allah (Darminta, 1993:44-46).