BAB V. PENUTUP
B. Saran
Hidup bersama dibangun atas dasar teladan komunitas Gereja purba yaitu semua anggota sehati sejiwa untuk mewartakan Allah sesuai dengan teladan-Nya melalui doa-Nya, amanat-Nya dan terutama wafat-Nya sebagai sumber perdamaian. Dengan demikian bahwa komunitas merupakan suatu anugerah sekaligus tugas kewajiban. Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam menghayati cita-cita persatuan sebagai (“communio”) tidak dapat dihindari, akan tetapi justru dalam menghadapi tantangan komunitas menjadi ruang istimewa tempat pembinaan nilai-nilai Kristiani yang otentik seperti kerendahan hati, cinta dan pelayanan yang tidak berpusat pada diri sendiri, kesabaran dan pengorbanan dapat terlaksana. Tidak perlu dikatakan, dukungan
yang saling diberikan, saling mendengarkan dan menemani, perubahan dan pengampunan yang muncul setelah saat-saat konflik dan kesalah-pahaman, semua itu memberikan kesempatan bagi perkembangan menuju kematangan dan kekayaan cinta serta iman. Untuk itu penulis menawarkan beberapa saran berkaitan dengan skripsi ini dengan tujuan membantu pemahaman akan hidup berkomunitas Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus secara utuh dan dapat diwujudkan dalam hidup dan karya perutusan masing-masing.
1. Menjadikan Allah sebagai pusat hidup berkomunitas dengan membina relasi personal dengan Yesus yang tersalib melalui kontemplasi, refleksi, dan diskresi sehingga mampu mengembangkan budaya pengampunan dan kesetaraan sebagai orang yang terpanggil untuk membangun komunitas religius dalam situasi dunia yang terus berkembang.
2. Sebagai anggota religius CB dipanggil dan diundang oleh Allah melalui Gereja untuk mengembangkan komunitas dengan berbelarasa sesuai dengan spiritualitas kongregasi untuk mencintai mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah.
3. Membangun hidup berkomunitas tidaklah mudah. Oleh karena itu perlu memiliki semangat pengampunan untuk membangun budaya rekonsiliasi sehingga menjadi komunitas yang pengampun.
4. Ekaristi sebagai pusat hidup dan sumber kekuatan dalam seluruh perjalanan hidup panggilan.
5. Setiap anggota perlu mendalami Konstitusi sebagai pedoman hidup dalam menghayati spiritualitas kongregasi yang dapat memberi kekuatan untuk menanggung kelemahan manusiawi dalam hidup bersama sebagai komunitas.
6. Perlunya pertobatan yang terus-menerus dalam membangun hidup bersama sehingga mendorong setiap pribadi untuk mampu menerima sesama dengan seluruh kelemahan dan kekurangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardas, (2001-2005). Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang CB. (2005). Kapitel Umum dan dan Kapitel Provinsi
____. (2011). Kapitel Umum. Maastricht.
____. (2004). Konstitusi beserta Direktorium Kongregasi Suster-suster
Cinta Kasih St. Carolus Borromeus.
Darminta, J (1982). Berbagai Segi Penghayatan Hidup Religius
Sehari-hari. Cetakan ke-1,Yogyakarta: Kanisius
_____. (1981). Persembahanku Cintaku. Seri Ikhrar 10, Yogyakarta: Kanisius
_____. (1993). Tumbuh dalam Roh Panduan Pemeriksaan Batin Dari Hari
ke Hari. Seri Spiritualitas Kristen. Yogyakarta: Kanisius
_____. (2003). Mencitrakan Hidup Religius.Komisi Pemimpin Umum Tarekat Religius Awam. Yogyakarta: Kanisius.
_____. (1997). Sabda di Bukit.Konstitusi Hidup Kerajaan Allah.
Yogyakarta: Kanisius.
_____. (1993). Mengubah tanpa Kekerasan. Yogyakarta: Kanisius.
_____. (2010). Diktat Perspektif Hati dalam Pendidikan Etika. Pusat Spiritualitas Girisonta
_____. (2008).Membangun Komunitas Formatif. Yogkarta: Kanisius. _____. (2008). Bentuk-Bentuk Komunitas. Yogyakarta: Kanisius. _____. (2008). Landasan Hidup Berkomunitas. Yogyakarta: Kansius. _____. (2008). Komunitas dan Karya. Yogyakarta: Kanisius.
_____. (2008). Menyongsong Hidup Baru. Yogyakarta: Kanisius _____. (2000). Yesus Sang Pendoa. Rohani, hal 37.
Driscol (2002). Sekolah Cinta. Rohani, hal 38.
Dewanto, (2006) Berdamai dengan Allah. Rohani, hal 145.
Dennis, (1981). Penyembuhan luka-luka batin. Yogyakrta: Kanisius. Harjawiyata, Frans. (1983). Bentuk-bentuk Hidup Religius. Seri Hidup
Dalam Roh 6. Cetakan ke-2, Yogyakarta: Kanisius ______. (2014). Belajar Mencintai dengan Tulus. Utusan, hal. 21 Jacobs, Tom. (1985). Buah Renungan. Yogyakarta: Kansius. __________. (1985). Sikap Dasar Kristiani. Yogyakarta: Kanisius.
Joyce. (1987). Kaul Harta Melimpah dalam Bejana Tanah Liat. Yogyakarta: Kanisius.
KWI, (1996) Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.
KGK, (1995). Katekismus Gereja Katolik, hal. 711
Louf, Andre. Hidup di dalam Komunitas. Seri Gedono no.1
Moi dkk. (2012) Meraih Kelimpahan Hidup. Bajawa Press, Yogyakarta Martasudjita.E. (1999) Komunitas Peziarah.. Yogyakarta: Kanisius _________. (2001). Komunitas Transformatif . Yogyakarta: Kanisius Muller. Geiko (1999). Pengampunan Membebaskan. Ende, Arnoldus Meninger, (1999). Pribadi Menjadi Utuh. Yogyakarta: Kanisius.
Mujiran, (1996). Hidup Berkomunitas dan Kedekatan Manusia kepada
Nafsu. Rohani, hal. 267
Nouwen, J.M. Henri. (1995). Kembalinya Si Anak Hilang. Membangun Sikap Kebapaan, Persaudaraan dan Keputraan. Yogyakarta: Kanisius.
______. (1998). Yang Terluka Yang Menyembuhkan.Pelayanan dalam Masyarakat Modern. Yogyakarta: Kanisius.
Ola Tukan. (1995). Hidup Religius, Simbol Pemihakan Allah. Rohani, hal. 196-201).
Prasetyo, M. (1982). Ciri Khas Komunitas Hidup Kristiani.Seri Pastoral No.77.Pusat Pastoral Yogyakarta.
Paul, Birt Mary. (1979). Hidup Dalam Pengampunan Setiap Saat. Jakarta:
Yayasan Pekabaran Injil. “Immauel”.
Riyanto, (2004). Mukjizat Pengampunan untuk Hidup Damai dan
Sejahtera. Yogyakarta: Kanisius.
Richard. (2000). Ekaristi dan Pengampunan. Rohani, hal. 24-25.
Smedes, B. (1991). Memaafkan Kekuatan Yang Membebaskan. Cetakan ke-1, Yogyakarta: Kanisius.
Suharyo, I. Mgr., (Ed.). (1998). Komunitas Alternatif Hidup Bersama
Menebar Kasih. Cetakan ke-1,Yogyakarta: Kanisius.
Sumarno, (2013). Diktat Mata Kuliah semester VI Prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma. Program Pengalaman
Pendidikan Agama Katolik.
Suparno, (2002). Dasar Hidup Bersama. Rohani, hal. 32-33.
Setyakarjana, (1997). Arah Katekese Di Indonesia. Pusat Kateketik Yogyakarta.
Soenarjo, (1984). Kepemimpinan Biara. Yogyakarta: Kanisius.
Suhardiyanto. HJ. (2008). Sejarah Pendidikan Agama kuliah semester IV, Prodi IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Sujoko, (1986). Kebersamaan dan Kesatuan. Rohani, hal. 302-303
Suwito, (2006). Pengampunan sebagai proses memiliki kemerdekaan sejati
dalam Roh. Rohani 2000, hal 4-5.
Tukan Peter, (1986). Hidup Komunitas dan Merasul. Rohani, hal. 323. __________. (1986). Hidup Berkomunitas Merasul: Bagai Mendayung di
Tengah Gelombang. Rohani, hal 318
Yohanes Paulus II, Paus. (1996). Vita Consecrata. (Hidup Bakti): Anjuran Apostolik tentang Hidup Bakti bagi Para Religius. (R.
Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen. KWI. (Seri Dokumen Gerejawi No.51).
Yohanes Paulus II, Paus. (1979). Catechesi Trandendae. Anjuran Apostolik kepada para Uskup, Klerus dan segenap umat beriman, tentang katekese masa kini. (R. Hardawiryana, Penerjemah).
Yohanes Paulus II, Paus. (2001). Novo Mellennio Ineunte. Surat Apostolik kepada para Uskup, para Imam dan para Diakon, para Religius pria maupun Wanita dan segenap umat beriman awam.
PENGAMPUNAN MENYEMBUHKAN
1500 Ceritera Bermakna Penerbit Obor (1999) Hal.111. No 1191 (Frank Mihalic, SVD)
Seorang gadis dirawat selama beberapa bulan karena menderita anemia, namun tidak ada kemajuan berarti. Dokter yang merawatnya memutuskan untuk mengirimnya ke sebuah sanatorium yang jauh letaknya.
Hal pertama yang dialaminya di sana, ialah pemeriksaan fisikyang lengkap. Dokter pemeriksa fisiknya menemukan bahwa kondisi darahnya terhitung sangat normal. Dokter tersebut melakukan ulang dan ia tidak yakin pada apa yang dilihatnya. Maka ia memanggil gadis itu dan menanyakan
kepadanya,” adakah sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidupmu semenjak pemeriksaanmu yang terakhir?”
Ya,” katanya. “Sekonyong-konyong saya dapat mengampuni
seseorang yang membuat saya sangat menderita suatu dendam yang membara sepanjang hidup kepadanya. Pada saat itu, saya merasa ada perubahan
menyeluruh dalam diriku”.
Maka sekarang dokter memahami persoalannya. Sikap batin gadis itu telah berubah, dan kondisi darahnya pun dengan sendirinya berubah.
Marah terhadap seseorang dapat menjadi kebodohan, karena orang lain mungkin tidak menyadari sama sekali kebencianmu itu. maka, satu-satunya yang paling disakiti adalah diri kita sendiri.
Matius 18:21-35 Perumpamaan tentang Pengampunan
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai
berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa
terhadap aku? sampai tujuh kali?”
18:22 Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan
amapai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali
18:23 Sebab hal kerajaan surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya
18:24 Setelah ia mulai dengan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta
18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan suapaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya
18:26 Maka sujudlah hamba itu menyambah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan
18:27 Lalu tergerakalah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan mengahapuskan hutangnya
18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhuitang seratus dinar kepaanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan
18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penajra samapai dilaunaskannya hutangnya
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka
18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku
18:33 Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya
18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hati.