BAB III. KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS
A. UNDANGAN GEREJA MASA SEKARANG
3. Komunitas yang mampu Menjawab Kebutuhan
Untuk memperoleh gambaran yang memadai tentang penghayatan hidup berkomunitas, maka orang perlu mempunyai gambaran yang jelas tentang bentuk atau model hidup berkomunitas di mana ia berada. Beberapa model hidup komunitas religius berdasarkan segi penghayatan, sikap maupun pendekatan terhadap hidup komunitas meliputi; komunitas rasuli atau zaman para rasul (Kis 2:41-47; 4:32-37), dan komunitas rasul yang berjalan mengikuti Yesus merasul (Luk 9:1-6; 10:12). Komunitas rasuli atau zaman para rasul (Kis 2:42-47; 4:32-37), komunitas umat kristen di Yerusalem; bersifat komunitas koinonia di mana setiap anggota menghayati hidup bersama, memecahkan roti bersama, membagi milik, sehingga tidak ada orang yang merasa berkekurangan. Komunitas ini merelakan milik dan harta pribadi demi kepentingan bersama. Komunitas kesatuan, satu hati satu jiwa, sebagai pujian kepada Allah. Komunitas inilah yang menjadi inspirasi
dasar bagi kongregasi religius monastik. Komunitas merupakan sarana penghayatan kemiskinan dalam persaudaraan. Komunitas rasul yang berjalan mengikuti Yesus merasul (Luk 9:1-6; 10:1-12). Komunitas ini merupakan kelompok murid yang dipanggil untuk hidup bersama dengan Yesus dalam perjalanan Yesus mewartakan Kerajaan Allah. Kelompok ini hidup dalam kemiskinan sebagai orang yang selalu berjalan dalam merasul, dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, selalu pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain (Mrk 1:13-39) kebersamaan lebih tertuju untuk merasul. Cara hidup mereka ialah hidup yang selalu siap untuk diutus dan pergi. Kerasulan mereka diikat dan dipersatukan oleh Yesus dan kuasa Yesus yang diberikan kepada mereka.
Komunitas merupakan inspirasi dasar bagi para religius yang muncul pada abad XII dan XIII dan dipertajam oleh kelompok religius yang mucul pada abad XV dan XVI dan abad-abad sesudahnya (Darminta, 1983:90).
Ciri-ciri komunitas yang disebutkan diatas ini memberikan bantuan untuk menemukan model penghayatan konkret yang sesuai dengan tuntutan hidup Kristiani. Adapun ciri komunitas kristiani antara lain: doa bersama dan persaudaraan (kis 2:56; 4:32; 14:22), pewartaan sabda melalui kotbah (Kis 2:14; 3:12), milik demi kepentingan bersama digerakan oleh Roh Kudus (Kis 4:32-35), mengadakan keputusan bersama, mujizat dan penyembuhan (Kis 2:4; 5:16). Berdasarkan kesaksian komunitas para rasul, dapat dilihat beberapa model hidup komunitas dengan ciri-ciri hidup
berkomunitas di mana orang itu berada dan hidup meliputi; komunitas tradisional, komunitas sosial-psikologis, komunitas pelayanan, komunitas kesaksian hidup, komunitas kesaksian sabda, komunitas rohaniah, dan komunitas pneumatis (Darminta, 1981:11-20).
a. Komunitas Tradisional
Komunitas ini tempat tinggal sebagai pusat dari komunitas, kehadiran secara fisik merupakan tuntutan bagi setiap anggota. Komunitas menyediakan setiap kebutuhan anggota. Komunitas menekankan penting hidupnya hidup bersama yakni sebagai sarana untuk memupuk rasa kebersamaan dalam komunitas. Komunitas cenderung untuk mempunyai karya apostolat yang satu dan sama. Keanekaragaman karya dialami gangguan hidup bersama keyakinan dasar hidup bersama berarti hidup dalam komunitas. Tujunannya adalah untuk mempermudah pelaksanaan hidup komunitas supaya dapat berdoa, bekerja dan hidup bersama dalam damai dan melaksanakan karya Kerajaan Allah (Darminta, 1981: 14-15).
b. Komunitas Sosial-Psikologis
Dalam komunitas ini yang menjadi perhatian utama adalah perkembangan dan pertumbuhan masing-masing pribadi. Doa bersama dirasakan sebagai suatu tantangan dalam membantu pribadi masing-masing untuk tumbuh dan berkembang. Doa bersama dihayati sebagai suatu bantuan bagi pribadi masing-masing demi pertumbuhan dalam mengikuti
visi dan anugerah-anugerahnya serta bertahan hidup pada saat-saat sukar. Faktor penentu untuk mengadakan keputusan adalah bagaimana komunitas dapat membantu anggota untuk merealisasikan potensi hidupnya sebagai seorang religius. Perubahan diterima sebagai proses pertumbuhan yang normal. Pembinaan diarahkan untuk membantu masing-masing pribadi agar dapat menemukan, memperkembangkan dan mengarahkan bakat-bakat yang dimiliki. Keyakinan dasar ini ialah melayani kebutuhan masing-masing anggota (Darminta, 1981:15).
c. Komunitas Pelayanan
Dalam komunitas ini tempat tidaklah menjadi penting bagi mereka. Perjumpaan dan kebersamaan dalam hidup bersama juga kurang dipentingkan. Pelayanan kepada masyarakat luas sangat diutamakan sehingga pelayanan keluar sangat diharapkan karena ini merupakan tugas pelayanan. Doa bersama jarang dilakukan hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu saja banyak waktu untuk doa pribadi. Keanekaragaman dalam kerasulan dapat diterima namun ada pembatasannya. Faktor yang cukup untuk mengambil keputusan ialah bagaimana keputusan ini akan memberikan kesiapsiagaan dan efisiensi dalam pelayanan bagi orang lain. Perubahan dipengaruhi oleh perubahan kebutuhan masyarakat yang dilayani. Yang menjadi keyakinan dasar bahwa komunitas merupakan bagian dari anggota untuk melayani anggota masyarakat yang lebih luas. Komitmen kepada pelayanan kerasulan merupakan kriterium untuk
mengadakan evaluasi dan refleksi pribadi. Didasarkan pula atas harapan untuk membangun dunia yang lebih baik, di mana manusia dapat hidup dengan lebih merdeka, adil dan manusiawi (Darminta, 1981: 16-17).
d. Komunitas Kesaksian Hidup
Komunitas ini merupakan cara dan penghayatan hidup sebagai kesaksian dalam hidup berkomunitas kepada masyarakat. Komunitas dihayati sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Doa bersama merupakan tempat untuk sharing pengalaman iman. Mengundang orang luar untuk berdoa bersama, pelayanan dipilih sejauh tidak merugikan kesaksian hidup komunitas karena hidup komunitas itu merupakan kerasulan. Maka dapat dipahami jikalau terjadi ketegangan antara komunitas sebagai tujuan dan komunitas sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Masa pembinaan merupakan masa mempersiapkan orang untuk menghayati hidup komunitas sebagai yang bernilai dan komunitas sebagai kesaksian secara keseluruhan. Keyakinan dasar dari komunitas kesaskian adalah komunitas kristiani secara keseluruhan saksi hidup bersama dalam masyarakat manusia yang lebih luas yang mengalami tindakan Allah (Darminta, 1981: 17-18).
e. Komunitas Kesaksian Sabda
Komunitas ini menekankan kesaksian sabda. Yang menjadi komitmen pelayanan adalah menyampaikan sabda kepada masyarakat luas. Keputusan bersama dibuat dalam terang pelayanan sabda. Pembinaan dan
pembentukan anggota ialah memperoleh ketrampilan untuk menyampaikan dan memberikan kesaksian dengan efektif. Karya pelayanan lebih diutamakan yang lebih berpautan dengan pewartaan sabda. Kesaksian dasar ialah bahwa komunitas membantu anggota-anggotanya untuk memberikan kesaksian sabda dan ketekunan penyelamatan sabda dalam dunia masa kini. Keputusan bersama dibuat dalam terang pelayanan sabda. Harapan dari komunitas ini ialah bahwa dengan memberi kesaksian sabda anggota komunitas membuat sabda hadir dan mempengaruhi masyarakat luas (Darminta, 1981:18)
f. Komunitas Rohaniah
Dalam komunitas ini tempat merupakan hal yang penting karena tempat merupakan pusat hidup komunitas dan tempat untuk menemukan kekuatan. Komunitas ini mengingatkan akan para murid yang dahulu bersama dan berkumpul di ruang perjamuan, bertekun dengan sehati berdoa bersama-sama. Namun yang lebih penting adalah ibadat sendiri, karena setiap orang dan juga komunitas secara keseluruhan dipanggil ke kesucian, ke komitmen kepada doa, ke hidup cinta yang kaya bersama Allah. Pelayanan kerasulan lebih tergantung pada bagaimana masing-masing maupun komunitas telah mengintegrasikan kerohaniannya dengan kebutuhan hidup dan perhatian dunia. Doa menjadi pilihan yang utama. Faktor utama untuk mengadakan keputusan maupun perubahan ialah
maupun komunitas. Pembinaan dan pendidikan anggota lebih menekankan perkembangan, Pemupukan dan pertumbuhan hidup doa (Darminta, 1981:18-19).
g. Komunitas Pneumatis
Komunitas merupakan kesatuan hidup untuk mendengarkan Roh.
Doa merupakan penantian dan pencaharian akan bimbingan Roh dari hari ke hari. Roh terus-menerus dirasakan memanggil komunitas dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda. Roh menjadi faktor penentu dalam membuat keputusan dan melaksanakannya. Dasar komunitas ini ialah keyakinan bahwa Roh meresapi seluruh hidup, dan dengan demikian komunitas berada di mana-mana. Tuntutannya adalah masing-masing anggota menyerahkan diri kepada bimbingan Roh (Darminta, 1981:20).