• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS

B. PENGERTIAN HIDUP BERKOMUNITAS

1. Tantangan Hidup Berkomunitas

Para suster saat ini menghadapi suatu tantangan besar dalam konteks sekarang ini. Sebagai religius dalam Gereja yang hidup dalam masyarakat global sekarang ini, kehidupan dalam komunitas merupakan tanda iman dan harapan bagi sesama. Bagi para suster CB untuk menjadi pembawa damai bagi orang lain adalah harus mulai dari komunitas sendiri. Apabila pengalaman setiap suster dalam komunitas sungguh autentik, komunitas akan menjadi komunitas yang memberikan kesaksian yang efektif akan Kasih Allah. Langkah pertama ialah memulai dimana berada sejak saat ini (Kapitel Umum dan Kapitel Provinsi 2005:35).

Membawa damai kepada komunitas dan pelayanan kerasulan seharusnya menjadi identitas religius CB yang diutus di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan kekerasan dan korup. Damai dalam komunitas berarti bahagia dalam menjalani hidup, dalam berkarya dan dalam melakukan peziarahan hidup bersama dalam komunitas dan pelayanan kita sebagai suster-suster CB. Damai yang dimaksud adalah

dan saling memperhatikan. Damai seharusnya menjadi misi dalam pelayanan kerasulan dimanapun para suster CB berada dan apapun bentuk pelayanannya. Para suster CB dipanggil untuk membawa damai melawan roh-roh jahat seperti: suasana antipasti, rasa benci, iri hati dan saling menyalahkan di antara oarng-orang tersebut, dan dalam keadaan seperti itu mereka meninggal satu persatu (EG. 112). Bahkan dalam masyarakat, komunitas, keluarga-keluarga dan dalam Gereja pun tidak bebas dari roh-roh jahat semacam itu (Kapitel Provinsi 2011:14-15).

Kongregasi CB menekankan nilai pentingnya komunitas dalam kehidupan sebagai religius. Dalam keberagaman sifat dan pandangan, Tuhan telah mengumpulkan para suster CB bersama untuk berbagi kehidupan dan misi atau perutusan. Kehadiran Roh Kuduslah yang mengikat dan memungkinkan para suster CB bersatu hati dan pikiran. Komunitas adalah suatu anugerah sekaligus tugas kewajiban. Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam menghayati cita-cita persatuan (“communio”) tidak dapat dihindari. Akan tetapi, justru dalam menghadapi tantangan ini komunitas menjadi ruang istimewa tempat tempat pembinaan nilai-nilai kristiani yang otentik seperti kerendahan hati, cinta dan pelayanan yang tidak berpusat pada diri sendiri, kesabaran dan pengorbanan dapat terlaksana. Tidak perlu dikatakan, dukungan diberikan, saling mendengarkan dan menemani, perubahan hati dan pengampunan yang muncul sesudah saat-saat konflik dan kesalah-pahaman, semua itu memberikan kesempatan bagi perkembangan menuju kematangan dan kekayaan cinta serta iman.

Pengalaman “communio” harus meluas sampai kepada banyak

orang yang dengan mereka para suster CB dapat berbagi persahabatan dan pelayanan. Oleh karena itu, para suster CB diajak untuk menciptakan

suasana “welcome” kesediaan menerima tamu, dirumah-rumah sehingga

saudara-saudari dapat merasakan kehadiran Roh Kudus yang memberi inspirasi dan memanggil setiap orang kepada kepenuhan hidup. Sebagai suatu pengejwantahan atas pengalaman spiritualitas, para suster CB terus mencari cara-cara untuk mewujudkan kebersamaan yang memberikan

kesaksian warta gembira “communio” dalam dunia yang ditandai oleh

kemiskinan, ketidaadilan, pengucilan dan kerusakan ekologis; namun yang sesungguhnya merindukan pengalaman mendalam akan kesatuan dan harmoni (Kapitel Umum 2011:39)

Kesatuan hidup sebagai komunitas dibangun dengan doa, baik bersama maupun pribadi, dan dipupuk dengan Ekaristi (Konst. Ps. 36). Bersama-sama membangun dan mengembangkan komunitas sebagai fokus dan lokus. Yesus Kristus yang tersalib menjadi sumber kekuatan dan tujuan pelayanan suster CB. Panggilan kenabian tarekat religius untuk berpartisipasi dalam peranan kenabian Kristus amat ditekankan oleh para Bapa Sinode (Bdk. VC. 84). Dimensi kenabian yang menjadi jati diri hidup bakti bersumber pada sifat radikal mengikuti Kristus. Oleh karena itu sebagai pribadi dan komunitas dipanggil dan diutus untuk menghidupi

dimensi kenabian yang terwujud dalam ‘komunitas kontras’ sebagai

Membangun hidup berkomunitas dalam communio tidaklah

mudah. Perlu suatu komitmen bersama untuk mau menghayati suatu bentuk pertobatan konkret dalam hidup sehari-hari melalui tugas dan pelayanan yang dipercayakan kepada setiap anggota komunitas. Semua anggota diajak untuk berusaha menghayati hidup dalam communio kasih persaudaraan sejati yang diterima dari Allah sendiri. Namun, banyak kesulitan dan tantangan yang dialami oleh setiap pribadi untuk sungguh menghayatinya karena terbentur oleh egoisme dan kepentingan diri sendiri yang justru menghalangi pertumbuhan dan perkembangan setiap anggota komunitas sebagai seorang pribadi yang dikehendaki Allah (Darminta dkk, 2008:35-36).

Hidup bersama bukanlah soal yang gampang. Kadangkala setiap pribadi betul-betul ditantang untuk berkorban demi sesama. Sebagai religius dipanggil untuk hidup bersama dengan pribadi yang sudah direncanakan sebelumnya, atau dengan pribadi-pribadi yang cocok, dan juga sering tidak kenal dengan pribadi yang akan hidup bersama. Setiap orang sering berhadapan dengan pribadi yang berbeda karakter, latar belakang asal, perbedaan watak, perpedaan tingkat pendidikan semuanya itu menjadi masalah dalam hidup bersama (Mujiran, 1996:267)

Menjadi anggota komunitas menuntut suatu pemahaman yang bebas atas anggota atau pribadi lain dalam komunitas, termasuk pemahaman atas kecenderungan-kecenderungan afektif yang ada dalam dirinya maupun pada diri anggota-anggota lain. Dengan begitu tumbuhlah suatu hubungan

pribadi terjalin dengan adanya aksi dan reaksi dalam hubungan afektif satu sama lain, dengan siapa ikatan-ikatan itu dibangun untuk hidup bersama. Taraf kesadaran yang dicapai ialah bahwa orang lain mempunyai nilai bagi dirinya. Dan kesadaran itu dijelmakan dalam sikap, perbuatan, tingkah laku yang mengatur hubungan itu. Dengan begitu kesadaran itu sendiri dapat berkembang dan dapat menumbuhkan sikap yang lebih dalam, tingkah laku dan perbuatan yang tepat, maupun pemahaman yang semakin penuh satu sama lain (Darminta, 1981: 23).

Realitas hidup bersama sering menimbulkan ketegangan. Mengusahakan kesatuan dan kebersamaan dalam komunitas sering tidak gampang, karena disebabkan oleh kemajemukan para anggota komunitas itu sendiri, dan mungkin disebabkan pula oleh kemajemukan tugas atau bidang pekerjaan. Kemajemukan pribadi-pribadi yang bervariasi dari suku, bahasa, kaum dan bangsa; di tambah lagi dengan perbedaan usia, tingkat perndidikan, bakat-bakat dan lain sebagainya iotu yang jelas sangat membutuhkan saling pengertian dan penerimaan yang tulus ikhlas. Sementara kemajemukan dibidang pekerjaan membutuhkan kebijaksanaan untuk menyeimbangkan kepentingan pribadi dan kebutuhan komunitas (Sujoko, 1986:303).