BAB III. KONGREGASI SANTO CAROLUS BORROMEUS
A. UNDANGAN GEREJA MASA SEKARANG
2. Komunitas yang Menghayati Hidup
Yesus selama hidup-Nya di dunia, Ia memanggil mereka yang dikehendaki-Nya, supaya mereka menyertai Dia, dan Ia mendidik mereka hidup menurut teladan-Nya bagi Bapa dan bagi perutusan yang telah diterima-Nya dari Bapa (bdk. Mrk 3:13-15). Begitulah Ia memulai keluarga baru, yang dari abad ke abad akan mencakup mereka yang siap
“menjalankan kehendak Allah” (bdk. Mrk 3:32-35). Sesudah kenaikan
Tuhan ke surga, sebagai buah karunia Roh Kudus, terbentuklah rukun hidup persaudaraan di sekitar para rasul, berhimpun dalam puji syukur kepada Allah dan dalam pengalaman konkret persekutuan (bdk. Kis 2:42-47; 4:32-35). Hidup jemaat itu, bahkan lebih dari pengalaman hidup dalam persekutuan penuh dengan Kristus yang dihayati oleh Dua Belas Rasul, selalu dijadikan pola yang menjadi acuan Gereja, bila Gereja berusaha kembali kepada semangat aslinya, dan dengan kekuatan Injil yang segar meneruskan lagi perjalanannya di sepanjang sejarah.
Yang mengenakan bentuk jemaat manusiawi sebagai kediaman Tritunggal Mahakudus, untuk menyalurkan ke dalam sejarah kurnia-kurnia persekutuan yang khas bagi ketiga Pribadi ilahi. Banyak situasi dan cara-cara persekutuan persaudaraan diungkapkan dalam Gereja. Hidup bakti pasti dapat dianggap berjasa karena secara efektif membantu untuk tetap menghidupkan dalam Gereja kewajiban persaudaraan sebagai bentuk kesaksian akan Tritunggal. Dengan tiada hentinya mengembangkan cintakasih persaudaraan, juga dalam wahana hidup bersama, hidup bakti
telah menunjukan, bahwa ikut serta dalam persekutuan Tritunggal dapat mengubah hubungan manusiawi dan menciptakan corak baru solidaritas. Hidup bakti mengamanatkan kepada umat baik keindahan persekutuan persaudaraan maupun cara-cara hidup yang dalam kenyataan mengantar
kepadanya. Para anggota hidup bakti hidup “bagi” Allah dan “dari” Allah,
dan justru karena itu mereka mampu memberi kesaskian akan kuasa rahmat untuk mendamaikan, serta mengatasi kecenderungan-kecenderungan yang terdapat dalam hati manusia dan pada masyarakat (VC, art . 41).
Hidup bersaudara dalam arti hidup dalam cintakasih merupakan lambang yang jelas bagi persekutuan gerejawi. Corak hidup itu dipraktekan secara khas, dalam tarekat-tarekat Religius dan Serikat-serikat Apostolis; Hidup berkomunitas beroleh relevansi khusus. Dimensi persekutuan persaudaraan juga tidak asing bagi institut-institut sekular, atau bahkan bagi bentuk-bentuk hidup bakti yang dihayati secara perorangan. Dengan hidup sebagai murid Kristus menurut Injil, mereka semua menyanggupkan diri
untuk melaksanakan “perintah baru” Tuhan, yakni saling mengasihi seperti
Ia mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34). Cintakasih mendorong Kristus untuk menyerahkan Diri, bahkan sampai korban termulia di salib. Begitupula dikalangan para murid-Nya tidak mungkin ada kesatuan yang sejati tanpa cintakasih timbal-balik yang tanpa syarat, yang meminta kesediaan untuk dengan murah hati melayani sesama, kesiagaan untuk menampung mereka seperti adanya, tanpa menilai mereka (bdk. Mat 7: 1-2). Para anggota hidup
dicurahkan ke dalam hati mereka oleh Roh Kudus (bdk. Rom 5:5), mengalami panggilan batin untuk berbagi bersama segala sesuatu: barang-barang materiil dan pengalaman-pengalaman rohani, bakat-kemampuan dan inspirasi-inspirasi, cita-cita kerasulan dan pelayanan kasih: “dalam hidup berkomunitas kuasa Roh Kudus yang berkarya dalam seorang individu sekaligus tersalurkan kepada semua anggota.
Maka dalam hidup berkomunitas dalam cara tertentu perlu menjadi jelas, bahwa lebih dari sekedar upaya untuk menunaikan perutusan khusus, persekutuan persaudaraan yang merupakan ruang yang disinari oleh Allah, untuk mengalami kehadiran tersembunyai Tuhan yang bangkit mulia (bdk.
Mat 18:20). Untuk terwujudkan berkat cintakasih antar anggota komunitas,
dan ditopang oleh doa untuk kesatuan, anugerah khusus Roh bagi mereka yang dengan patuh mendengarkan Injil. Roh Kudus sendirilah yang membimbing jiwa untuk mengalami persekutuan dengan Bapa dan dengan Putera-Nya Yesus Kristus (bdk. 1 Yoh 1:3), dan persekutuan adalah sumber hidup bersaudara. Rohlah yang membimbing komunitas-komunitas hidup bakti dalam menunaikan misi pelayanan mereka kepada Gereja dan kepada segenap umat manusia, menurut inspirasi mereka (VC, art. 42).
Membangun komunitas religius bersumber dari Komunitas Agung
Tritunggal Mahakudus. “Bapa dan Roh Kudus adalah satu komunitas
Agung. Pola interaksi dan relasi komunitas agung itu adalah kasih, sebab Allah adalah kasih (1Yoh 4:8). Jadi dalam komunitas agung itu hanya satu acara tunggal dan pokok, yaitu kasih. Inilah inti pokok kasih ialah saling
menyerahkan diri seutuhnya. Demikianlah dalam komunitas kasih trinitas, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus terjadi tindakan saling menyerahkan diri satu sama lain. Tantangan dalam komunitas Kristiani ialah menghadirkan komunitas Tritunggal Mahakudus dalam lingkungan hidup kita dengan mengupayakan hubungan yang saling menyerahkan diri satu sama lain. Relasi dalam komunitas murid ialah pola relasi yang mendapat hidup dan maknanya dari relasi satu sama lain dengan Yesus Kristus. Berkat relasi kita dengan Yesus dan berkat Roh Kudus, kita dimasukan ke dalam relasi Allah Tritunggal. Komunitas murid Yesus tentu mengikuti gerak kasih Kristus kepada Bapa-Nya (Martasudjita, 2001:44-48).
Semua anggota komunitas biara akan menjadi pribadi yang utuh, bila mereka senantiasa bertumpu di atas landasan cintakasih Allah Tirtunggal. Bahtera hidup komunitas biara haruslah merupakan pengejawantahan dari komunitas Allah Tritunggal. Allah Tritunggal adalah asal dan citra asli serta penyempurnaan persekutuan hidup kita. Hubungan antar pribadi yang dalam dasar cintaksaih Allah Tritunggal, memainkan suatu peranan yang bersifat membentuk. Pribadi Allah Tritunggal haruslah dipandang dalam daya gerak cinta yang saling berelasi, yang dinamis-cinta Bapa kepada Dirinya terpancar keluar kepada cinta yang saling memberi dan menerima (cinta Bapa kepada Putera tercinta dan dan cinta Putera kepada Bapa), akhirnya kepada bersama membagi cinta dalam Roh Kudus.
Setiap anggota komunitas hendaknya selalu berusaha untuk menimba air kehidupan dari sumber dan kekuatan yakni Allah Tritunggal;
sebab di dalam satu Roh, dipermandikan dan diberi minum dari satu Roh (bdk. 1 Kor 12:13), maka segala peselisihan harus kita jauhkan. Membangun komunitas yang betumpu di atas basis Allah Tritunggal, akan membuat setiap anggota komunitas merasa berada “di rumah”, dimana spontanitas serta kreativitas dapat berkembang dengan baik. Membina cinta persaudaraan atas dasar cinta Allah Tritunggal akan membuat semakin yakin akan diri sendiri bahwa kini berada pada jalur yang benar dan tepat sasar (Peter, 1986:323-324).