• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

B. YESUS SANG PENGAMPUN

1. Ajaran Yesus Dalam Doa Bapa Kami

Seperti ini bukanlah satu-satunya dalam ajaran Yesus: “Haruslah kamu sempurna, seperti Bapamu, seperti Bapamu yang ada disurga adalah

sempurna” (Mat 5:48). “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36). “Aku memberikan perintah baru kepada

kamu yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah

mengasihi kamu” (Yoh 13:34). Tidaklah mungkin mengikuti perintah

Tuhan, andaikata itu berarti mengikuti contoh ilahi secara lahiriah. Tetapi

disini dimaksudkan satu keikutsertaan yang hidup “keluar dari kedalaman hati”, pada kekudusan, kerahiman dan cinta Allah kita. Hanya Roh, yang dariNya kita “hidup” (Gal 5:25), dapat membuat sikap Yesus menjadi sikap “kita”. Kesatuan pengampunan menjadi mungkin, apabila kita saling mengampuni, “sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:32). Dengan demikian kata-kata Tuhan mengenai

pengampunan, artinya cinta yang mencintai sampai kesudahnnya, menjadi hidup (KGK, 1995:711).

“Ampunilah kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Melalui doa Bapa Kami ini mau menyadarkan manusia bahwa

sebenarnya hidup tergantung sepenuhnya pada Allah, tetapi setiap kali manusia bertindak seolah-olah berkuasa sendiri atas segala-galanya. Atas dasar kesadaran itu manusia memohon agar Allah membebaskan utang kepada-Nya. Ini adalah rahmat yang amat besar, karena manusia tidak mampu membebaskan dirinya sendiri dari dosa-dosa. Dalam doa ini Yesus secara mendasar menghubungkan kesalahan-kesalahan manusia terhadap sesama. Agar dapat menerima pengampunan dari Allah, manusia dituntut saling mengampuni (bdk. Mat 5:7; 6; 14-15; Mrk 11:25). Meskipun demikian pengampunan yang berikan kepada sesama tidak boleh dipandang sebagai syarat atau membuat seseorang mempunyai hak atas pengampunan Allah. Pengampunan kepada sesama, pertama-tama, merupakan tanda ketulusan dan kesungguhan untuk mohon ampun kepada Allah. Pengampunan Allah sendiri adalah rahmat yang diberikan atas dasar kasih dan kesetiaan-Nya bdk. Yes 55:6-7 ; Dan 9:18-19 (Iman Katolik, 206-207).

Hubungan awal antara manusia dan Allah oleh para Bapa Gereja

digambarkan sebagai dalam suasana “berbicara merdeka”. Suatu

komunikasi dengan Allah tanpa takut, penuh keakraban, tanpa ada pura-puaraan, tanpa topeng dan permainan. Manusia mampu berkomuniksi murni dan intim dengan Allah. Dengan menyebut Allah Bapa, Yesus menawarkan

suatu proses penyembuhan dari segala luka karena berbagai sebab, seperti kurang kasih, kurang kelembutan, kurang persaudaraan, kurang aman dan lain sebagainya. Bapa memberi jawaban atas segala kekurangan yang dimiliki manusia dalam hidup ini. Tetapi hal ini memang tidak mudah, terutama bagi mereka yang tak mengalami figur Bapa yang cukup sehat dan mengesan (Mat 23:37). Tetapi yang jelas tantangan pula bagi mereka yang tidak memiliki atau mengalami figur Bapa dan ibu yang baik. Bagaimanapun juga sulitnya, ajakan Yesus menyebut Allah Bapa menjanjikan banyak hal bagi manusia yang terluka, meski untuk itu orang sering harus melalui proses panjang dan menyakitkan. Dengan sebutan ini manusia dikembalikan pula dalam persaudaraan, karena diajak untuk berseru bersama Bapa Kami (Darminta, 1992:16-17).

Doa Bapa Kami merupakan doa tahun iubileum. Doa yang menuju untuk terealisasinya pemebebasan dari keadaan yang tidak manusiawi, ketidakadilan dan penindasan, hidup dalam zaman rekonsiliasi dan pemulihan martabat hidup manusia. Itulah yang dilakukan oleh Yesus seperti makan bersama dengan orang pendosa, tidak menghukum pelacur, menyembuhkan penyakit, memanggil orang berdosa (Darminta, 1992:41).

2. Yesus Sebagai Pengampun dalam Salib-Nya

Dengan cinta kasih-Nya yang tak berkesudahan, Yesus bersabda,

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan

wafat-Nya di kayu salib merupakan wujud cinta kasih-wafat-Nya yang tiada batas. Dengan tulus hati Yesus mengorbankan diri-Nya demi keselamatan seluruh umat yang di kasihi-Nya. Cinta sejati tidak mengenal alasan, tidak memiliki ukuran, tidak menciptakan batas-batas, tidak menghitung-hitung, tidak mengingat kesalahan, dan tidak memaksakan aneka, macam persyaratan. Yesus selalu bertindak atas dasar cinta. Dari kediaman Allah Tritunggal, Yesus membawa kepada manusia cinta yang besar dan tidak terbatas, yaitu cinta ilahi yang merangkul segalanya. Cintakasih kasih Yesus mendorong manusia untuk mensyukuri, menanggapi, dan selanjutnya membagikannya kepada orang-orang yang dicintainya. Sebagai murid-murid-Nya manusia sekalian diundang dan sekaligus dimampukan oleh-Nya untuk mengasihi saudara-saudari dengan tulus seperti Yesus. Cinta sejati yang rela berkorban sekaligus merupakan cinta yang tulus, yaitu cinta yang mengalir dari hati yang jujur, bersih dari pamrih-pamrih pribadi. Cinta semacam ini bebas dari rasa senang atau tidak dan bebas dari keinginan untuk memaksakan syarat-syarat tertentu. Cinta yang tulus membuat orang bertobat dari perbuatannya yang jahat. Cinta yang tulus, kecuali membuat orang yang dicintainya bersukacita, juga membuat diri sendiri merasa bahagia. Untuk itu, perlu belajar mencintai dengan tulus, belajar membuka hati, belajar untuk berkorban, dan belajar untuk lebih mencintai dengan tulus seperti Yesus mencintai manusia (Heryatno, 2014:21).

Yesus memberikan kepenuhan arti baru kepada seluruh umat manusia dengan menjadikan tubuh-Nya yang hancur menjadi jalan

penyembuhan, pembebasan, dan kehidupan baru. Dengan demikian seperti halnya Yesus, orang yang memaklumkan pembebasan dipanggil tidak hanya untuk merawat luka-lukanya sendiri dan luka-luka orang lain, akan tetapi menjadikan luka-luka-Nya sendiri sumber kekuatan penyembuhannya (Nouwen, 1989:80).

Kalau seseorang tidak takut untuk masuk ke dalam diri batin sendiri dan memusatkan perhatian pada gerak jiwa sendiri, orang akan mengetahui bahwa hidup berarti dicintai. Pengalaman ini mengatakan kepada setiap orang bahwa manusia hanya dapat mencintai karena dilahirkan oleh kasih; bahwa orang hanya dapat memberi karena hidup seseorang adalah anugerah; dan bahwa seseorang hanya dapat membuat orang lain bebas karena sudah dibebaskan oleh Dia, yang hati-Nya jauh lebih besar daripada hati manusia (Nouwen, 1989: 87).

Persahabatan yang kuat terjadi bila saling mengasihi secara tulus, karena percaya bahwa Allah telah mengasihi manusia (bdk 1 Yoh 4:10). Mengasihi saudara terutama yang paling hina adalah perintah Allah (bdk Yoh15:9; Mat 25:31-46). Perintah Allah bukanlah sekedar himbauan yang dapat ditanggapi secara sukarela. Karena itu, sikap paling tepat sebagai pengikut Kristus adalah menuruti perintah-Nya. “Barang siapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam dalam Allah dan Allah diam didalam Dia” (1 Yoh 3:24; bdk. Yoh 15:9-17). Kasih yang tulus merupakan karunia Allah yang menyelamatkan semua orang (bdk. Tit 2:11). Maka terhadap kekerasan yang terjadi dalam hidup bersama hendaknya berjuang untuk

menyingkirkannya secara aktif tanpa kekerasan. Dengan kasih yang tulus, seseorang berkehendak memutus lingkaran balas dendam (Ardas, 2001-2005:20).

Kedamaian merasuki hati dan jiwa saat cinta Tuhan yang penuh pengampunan, belas kasihan, dan kemurahan hati membersihkan dosa-dosa manusia. Ia selalu mengulurkan tangan-Nya untuk merangkul manusia. Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk menuntun dan membimbing manusia. Tuhan selalu menerima dengan penuh cinta, apa pun dan bagaimana pun keadaan manusia. Tuhan Yesus meyakinkan bahwa Ia akan mengampuni siapa pun yang datang kepada-Nya. Pengampunan-Nya akan mendatangkan kedamaian yang tak dapat diberikan oleh dunia (Riyanto, 2004:92-93).

3. Hidup Berkomunitas Menurut Mateus 18:1-20

Para murid diajak untuk membangun komunitas beriman secara benar (Mat 18:1-5), tidak saling memberi batu sandungan (Mat 18:6-11), bahkan justru mencari dan menemukan yang hilang dan menjauh (Mat 18:12-14), memberi sumbangan demi kebaikan sesama (Mat 18:15-20). Hal ini yang dikehendaki oleh Yesus dalam membangun komunitas para murid. Dengan demikian para murid juga ditantang oleh Yesus untuk mengenakan kebijaksanaan dan tanggung jawab yaitu seorang yang dekat dengan Allah, karena kedekatan dengan Allah itulah yang memberikan kemerdekaan,

keterbukaan, dan kepedulian terhadap sesama dalam membangun komunitas (Darminta,1997:55).

Kemampuan mencintai merupakan kualitas tertinggi yang dapat dimiliki sebagai pribadi manusia, bahkan tidak hanya secara manusiawi belaka namun sampai pada tingkat rohani manusia. Sebab dengan cinta, Tuhan telah menciptakan manusia dan makhluk lainnya serta bumi dan segala isinya. Mencintai Tuhan seperti mencintai diri sendiri dan sesama harus menjadi persembahan yang terbesar dalam kehidupan manusia. Membenci Tuhan atau seseorang merupakan tindakan yang melawan cinta dan menghancurkan kemampuan manusia untuk mencinta. Tuhan adalah kasih dan penuh cinta, maka kebencian berlawanan dengan eksistensi Tuhan. Kebencian merupakan sumber dosa karena kebencian adalah akar dan tindakan-tindakan jahat. Kesabaran itu menetralkan kebencian, pengampunan menyembuhkan kebencian, dan belas kasih serta kemurahan hati mengangkat sikap dan tindakan orang yang penuh kasih dan pengampunan ke tingkat pertama cinta.

Apabila seseorang sampai pada tingkat pertama cinta akan memiliki sikap menghargai, menerima, dan melibatkan peranan Tuhan dalam kehidupannya. Pengampunan dan kasih meningkatkan kemampuan manusia untuk mencintai sesama seperti diri sendiri, sebagaimana Tuhan mencintainya dan sesama. Belaskasihan berarti menaruh kasih, ikut menderita bersama yang lain, berdukacita bersama dan tertimpa kemalangan dengan niat untuk menolong. Sikap belas kasih demikian seperti yang

disabdakan Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali….?” “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-22). Kekuatan dan

kemampuan mencinta datangnya dari Tuhan, yakni cinta Tuhan yang tertuju kepada manusia dan sebaliknya, cinta manusia yang diarahkan kepada Tuhan. Cinta merupakan suatu tindakan timbal balik. Kekuatan dan kemampuan mencinta semakin bertambah dan meningkat sejalan dengan bertambahnya cinta Tuhan yang dialami manusia. Semakin seseorang mencintai Tuhan dan sesama, ia akan semakin menerima cinta dan sekaligus menambah kemampuan untuk mencintai (Riyanto, 2004:16-17).

Ungkapan Yesus, saat ditanya oleh Petrus, “Tuhan, sampai berapa

kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah kepadaku? Sampai

tujuh kali?” Yesus menjawab,”Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Ini menunjukan bahwa pengampunan itu tiada

batasnya (Suwito, 2000:6). Dengan ungkapan Yesus semakin jelas bahwa mengampuni tanpa batas merupakan panggilan ilahi yang mana setiap orang berjuang untuk mengampuni walaupun itu kadang tidak mudah untuk dilakukan oleh manusia.

Kristus tidak membuat macam-macam syarat seperti, “Aku mau mengampuni jika kamu berubah atau jika kamu minta maaf”. Maka seandainya orang itupun tidak berubah atau berjanji mau memperbaiki diri, dan wajib mengampuni. Bukan hanya mengampuni sebanyak tujuh kali,

tetapi tujuh puluh kali tujuh (Mat 18:22). Kristus sedemikian mengasihi bukan karena orang tersebut sedemikan berharga atau berjasa, tetapi karena kasih pengampunan-Nya yang berlimpah ruah. Bahkan Ia akan lebih banyak mengampuni orang yang banyak melakukan dosa (Dennis, 198138-39).

C. PENGAMPUNAN YANG DIHAYATI BUNDA ELISABETH