BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Multimodal
2.3.2 Komunikasi Nirverbal
2.3.2.1 Gestur
Gestur adalah suatu bentuk komunikasi nirverbal dengan aksi tubuh yang terlihat
mengomunikasikan pesan-pesan tertentu. Gestur mengikutkan pergerakan dari tangan, wajah, atau bagian lain dari tubuh. Gestur berbeda dengan komunikasi fisik nirverbal yang tidak mengomunikasikan pesan tertentu, seperti tampilan ekspresif, proksemik, atau memperlihatkan atensi bergabung (Kress dan Leeuwen, 2006).
Gestur dalam sistem multimodal berisikan aspek pergerakan, kecepatan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh (Anstey dan Bull, 2010:1). Pergerakan dan kecepatan menunjukkan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengomunikasikan berbagai makna. Menurut (Galloway, 2004: 28) pesan ini berfungsi untuk mengungkapkan:
a) mendorong/membatasi, b) menyesuaikan/ mempertentangkan, c) responsif/ tak responsif, d) perasaan positif/negatif, e) memperhatikan/tidak memperhatikan, f) melancarkan/ tidak reseptif, g) menyetujui/menolak.
Menurut Leathers (1976) gestur dapat mengomunikasikan penilaian terhadap ekspresi senang dan tak senang seseorang, yang menunjukkan komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk. Selain itu dapat mengomunikasikan intesitas keterlibatan dalam suatu situasi. Ditambah pula untuk mengomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri dan mengomunikasian adanya atau kurang pengertian.
2.3.2.1.1 Jenis–Jenis Gestur
Menurut Kress dan Leewen (2006:287), ada beberapa bentuk pesan nirverbal yaitu :
a. Pesan Fasial
Komunikasi melalui pesan fasial merupakan bentuk komunikasi nirverbal yang paling jelas tapi juga merupakan bentuk komunikasi yang paling membingungkan karena memberikan bermacam-macam arti melalui gerakan anggota tubuh.
Ekspresi wajah sering disebut pesan fasial yang meliputi wajah, kontak mata, gerak kening, alis, mulut dan lain-lain. Ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain, seseorang
paling sering melihat wajah. Pada wajah terdapat kurang lebih sembilan puluh syaraf yang dapat menyampaikan pesan. Sedikit perubahan dapat saja mengubah arti dari pesan yang ingin disampaikan. Alis dan kening juga menambah makna pesan dari terkejut sampai dengan marah. Mulut, ketika tidak berbicara dapat membentuk sudut turun atau sudut naik yang membentuk sebuah senyuman (Kress dan Leewen, 2006:287).
Kontak mata adalah saluran yang penting dari komunikasi interpersonal, yang membantu dalam mengalirkan komunikasi dan juga menunjukkan minat pada seseorang.
Lebih lanjut, kontak mata antara pembicara dengan penerima pesan dapat meningkatkan kredibilitas pembicara. Pembicara yang dapat mengadakan kontak mata dengan baik dapat membuka alur komunikasi dan menunjukkan minat, perhatian, kehangatan, dan kredibilitasnya (Kress dan Leewen, 2006:287).
Dalam bahasa tubuh, wajah adalah bagian yang paling ekspresif, dalam setiap interaksi wajah merupakan hal pertama yang akan dirujuk secara alami, karena pada saat interaksi cenderung memandang wajah lawan bicara. Kata-kata yang dikeluarkan dipertegas oleh ekspresi wajah karena memberikan lebih banyak isyarat daripada melalui bagian tubuh yang lain, sesuatu yang memang harus diharapkan.
Ekspresi atau mimik wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mengalami ekspresi wajah tertentu secara sengaja, tapi umumnya ekspresi wajah dialami secara tidak sengaja akibat perasaan atau emosi manusia tersebut. Biasanya amat sulit menyembunyikan perasaan atau emosi dari wajah, walaupun banyak orang yang merasa amat ingin melakukannya (Birdwhistell, 1970:16).
Banyak penelitian yang telah dilakukan terkait dengan wajah seperti penelitian Darwin (1872) menyatakan bahwa “the additional role of gestures in early language development concentrates more on vocal or linguistic characters and humans use their voices to speak
because using their hands will make it troublesome ”.Darwin (1872) merupakan tokoh yang pertama sekali menyorot pentingnya mempelajari ekspresi wajah dan berbagai emosi yang ditunjukkan melalui wajah . Secara umum, telah diterima oleh semua budaya, dan terdapat enam jenis emosi yang mudah untuk diidentifikasi: a) kebahagiaan, b) kesedihan, c) keterkejutan, d) muak, e) rasa takut, f) marah.
Dok: Elsa
Gambar 2.2 Pesan Fasial yang digunakan oleh Guru Mata Pelajaran Kimia.
Pada gambar 2.2 di atas, guru terlihat tidak bersemangat dalam mengajar di dalam kelas, sehingga pesan fasial pada gambar ini adalah raut wajah guru yang menunjukkan tidak bersemangat dalam mengajar.
b. Pesan Postural
Komunikasi yang disampaikan melalui pesan postural adalah bagaimana sikap tubuh seseorang pada saat berkomunikasi. Sikap tubuh yang terbuka dan memerlukan ruang yang besar dapat mengindikasikan kenyamanan dan dominasi, sebaliknya sikap tubuh tertentu membuat seseorang terlihat kecil dan mengindikasikan inferioritas (Anstey dan Bull, 2010).
Dalam pesan postural mengomunikasikan sejumlah pesan yang terlihat dari cara
berjalan, berbicara, berdiri, dan duduk. Contoh seseorang berdiri tegak tapi tidak kaku dan sedikit condong ke depan menyatakan kepada orang lain bahwa dia dapat didekati, menerima dan ramah. Lebih jauh, kedekatan interpersonal tercipta ketika kita tercipta interaksi.
Berbicara dengan membalikkan punggung atau melihat ke lantai atau atap seharusnya dihindari karena menyatakan ketidaktertarikan terhadap lawan bicara
Ekman (1965:110) menyatakan bahwa terdapat tiga identifikasi tipe postural, yaitu: 1) Aksi tubuh; Gerakan yang terobservasi dengan awal dan akhir yang jelas, 2) Posisi tubuh;
ketiadaan gerak pada waktu-waktu yang jelas pada semua bagian tubuh, dan 3) Tipe tubuh;
tinggi badan, berat badan, dan kekuatan tubuh. Untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan komunikasi non verbal di antaranya adalah:
1) Gunakan sinyal yang cocok dengan kata-kata yang diucapkan. Komunikasi nonverbal seharusnya mendukung apa yang akan dikatakan seseorang, bukan melawannya. Jika seseorang mengatakan sesuatu, namun bahasa tubuhnya mengatakan sebaliknya, bisa jadi lawan bicaranya akan bingung atau merasa kalau orang tersebut adalah orang yang tidak sopan.
2) Arahkan pesan nonverbal pada konteks yang sedang dialami. Misalnya, nada suara ketika berbicara dengan anak kecil pasti berbeda dengan nada suara ketika berbicara dengan sekumpulan orang dewasa. Mudahnya, masuklah ke dalam background emosional orang yang sedang diajak bicara.
3) Gunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan positif. Meskipun sedang tidak merasakannya. Contoh: Jika seseorang sedang merasa gelisah mungkin karena job interview, presentasi, atau kencan, gunakan bahasa tubuh yang positif untuk menyampaikan untuk menyatakan rasa percaya diri meskipun sebenarnya tidak merasa percaya diri.
Dok: Elsa
Gambar 2.3 Pesan Postural yang digunakan oleh Guru Mata Pelajaran Olahraga.
c. Pesan Gestural
Pesan gestural ialah pesan yang menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengomunikasikan berbagai makna (Galloway, 2004:13).
Dalam penelitian ini, pesan gestural digunakan untuk mendorong guru untuk selalu melakukan gerakan-gerakan tubuh dan menyesuaikan gestur dengan materi yang di ajarkan.
Dok: Elsa
Gambar 2.4 Pesan Gestural yang digunakan oleh Guru mata pelajaran Olahraga.
Pada gambar 2.4 di atas, pesan gestural dapat tersampaikan dengan menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti tangan dan kaki untuk menyampaikan bagaimana cara menahan serangan lawan. Guru pada gambar ini selalu melakukan gerakan-gerakan tubuh dan menyesuaikan gestur dengan materi yang di ajarkan. Pada gambar di atas guru memberikan ujaran pernyataan yaitu karate ini biasanya adalah gerakan tangan.
2.4 Pengertian Guru
Secara etimologis, istilah guru berasal dari bahasa India yang artinya orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara. Pengertian guru kemudian semakin luas, tidak hanya terbatas dalam konteks keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik jasmaniah, seperti guru tari, guru olahraga, dan guru musik. Semua kecerdasan itu pada hakikatnya juga menjadi bagian dari kecerdasan ganda sebagaimana dijelaskan oleh pakar psikologi terkenal Garner (2010:115).
Dari aspek lain, beberapa pakar pendidikan telah mencoba merumuskan pengertian guru dengan definisi tertentu. Menurut Poerwadarminta (1996:15), guru adalah orang yang kerjanya mengajar. Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Dengan demikian, pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi saja, yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih.
Purwanto (2012:11-12) menyatakan bahwa guru ialah orang yang diserahi tanggung jawab sebagai pendidik di dalam lingkungan sekolah yang memiliki peran dan fungsi, yaitu : (1) guru sebagai pendidik; (2) guru sebagai pengajar; (2) guru sebagai pembimbing; (2) guru sebagai pemimpin; (2) guru sebagai pengelola pembelajaran; (2) guru sebagai model dan teladan; (2) guru sebagai administrator; (2) guru sebagai penasehat; (2) guru sebagai
pembaharu; (2) guru sebagai pendorong kreatifitas; (2) guru sebagai emansipator; (2) guru sebagai evaluator; (2) guru sebagai kulminator
2.5 Kurikulum
Sesuai dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan berbagai perkembangan serta perubahan yang sedang berlangsung dewasa ini, dalam pengembangan Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi perlu memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip (Kemdikbud, 2014) sebagai berikut:
1. Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;
2. Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
3. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah;
4. Pembelajaran berbasis kompetensi;
5. Pembelajaran terpadu;
6. Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi;
7. Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills;
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
13. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik;
14. Suasana belajar menyenangkan dan menantang.
Pembelajaran kurikulum 2013 ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan berperadaban dunia (Permendikbud, 2014).
Berdasarkan uraian di atas maka konsep pembelajaran kurikulum 2013 dapat disimpulkan sebagai proses pengembangan peserta didik menjadi pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan berperadaban dunia sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga dan masyarakat.
2.6 Kerangka Konseptual Penelitian
Adapun kerangka konseptual penelitian ini di gambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.5 Kerangka Konseptual Penelitian.
BENTUK, REALISASI, DAN PEMICU GESTUR , UJARAN, DAN KONTEKS GURU DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
DI SMA NEGERI 1 KUTALIMBARU KABUPATEN DELISERDANG.
MULTIMODAL
GESTUR LFS
FUNGSI UJARAN INTERPERSONAL
GESTUR DAN UJARAN
BENTUK GESTUR DAN UJARAN
PEMICU GESTUR DAN UJARAN
FASIAL POSTURAL GESTURAL
FAKTOR KURIKULUM 2013
FAKTOR BUDAYA
FAKTOR PSIKOLOGI
Pada gambar 2.5 dijelaskan kerangka konseptual yang dikemukakan pada penelitian ini, meliputi tahap-tahap, yaitu:
4. Menganalisis bentuk gestur dan ujaran guru dalam kegiatan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang.
a. Menganalisis Multimodal yang terdiri atas Gestur dan LFS khususnya bentuk interpersonal.
b. Menganalisis bentuk Gestur yang terdiri dari Fasial, postural dan Gestural dalam kegiatan pembelajaran di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang.
c. Menganalisis bentuk Gestur yang terdiri dari Fasial, postural dan Gestural dalam kegiatan pembelajaran di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang.
d. Menganalisis bentuk fungsi ujaran dalam kegiatan pembelajaran di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang.
5. Menginterpretasikan realisasi bentuk gestur dan ujaran guru dalam kegiatan pembelajaran di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang.
6. Mengkaji konteks dan penyebab atau pemicu penggunaan gestur oleh guru yaitu faktor kurikulum 2013, faktor budaya dan faktor psikologi.
2.7 Penelitian Relevan
Penelitian tentang multimodal dan gestur ini pernah dilakukan oleh beberapa peneliti, yaitu:
Sinar (2012) membahas penggunaan bahasa atau wacana dengan memberi perhatian secara bervariasi, mulai dari menganalisis gramatikal, realisasi bunyi, intonasi, leksikal, struktur sintaksis, aspek semantik, konteks situasi, budaya, ideologi bahasa dan analisis visual multimodal. Dengan mengombinasikan analisis metafungsi bahasa;
fungsi ideasional, fungsi interpersonal dan fungsi tekstual berdasarkan pada teori
Linguistik Sistemik Fungsional (LFS) konsep Halliday dan Hasan (1985) dengan analisis multimodal pada visual dari kedua teks iklan konsep Kress dan Leeuwen (2006) dan Cheong (2004).
Penelitian ini dilakukan berdasarkan analisis visual feminitas perempuan yang divisualisasikan dengan tubuh cantik mempesona dan seksi, begitu juga dengan maskulinitas laki-laki dengan tampilan tubuh kuat berotot. Sedangkan berdasarkan ideologi iklan cetak Marie dan L-Men yang merepresentasikan feminitas dan maskulinitas merupakan hasil konstruksi sosial budaya oleh masyarakat yang akhirnya mengakibatkan adanya bias dalam peran-peran sosial perempuan yang berbeda dengan laki- laki berdasarkan bahasa iklan cetak. Ungkapan klausa-klausa dalam iklan cetak sebagai teks dalam konteksnya berpotensi melahirkan nilai dan tatanan sosial masyarakat.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karena peneliti juga menggunakan teori yang sama, akan tetapi penelitian ini dibatasi hanya pada interpersonal saja yang fungsinya untuk mengetahui bagaimana hubungan sosial antara guru dan siswa.
Rahmah (2015) mengaplikasikan analisis multimodal terhadap wacana budaya untuk menemukan makna yang diciptakan oleh komponen verbal dan visual yang mengacu pada konsep analisis semiotik sosial. Metodologi penelitian ini dirancang berdasarkan basis-data, basis-observasi dan penelitian deskriptif- qualitatif. Sumber data penelitian ini adalah teks-teks verbal dan visual yang diambil dari prosedur A Multimodal of Traditional Wedding Ceremony Dynamics of Deli Malay Ethnic Group in Medan (selanjutnya disingkat DMTWC) yang dilaksanakan dalam perkawinan adat Melayu Deli (Selanjutnya disebut MD). Hasil analisis transitivitas pada tiga belas langkah perkawinan adat Melayu Deli menunjukkan ada keterkaitan antara verbal dan visual yang diwakili dominasi proses: Material; partisipan: Gol dan sirkumstan: Lokasi/Tempat. Hasil
verbal ini diperkuat oleh teks visual yang memberi informasi kepada pembaca tentang aksi yang dilaksanakan, siapa dan apa yang terafeksi oleh proses dan dimana aksi dilaksanakan. Hasil analisis visual menunjukkan struktur naratif DMTWC terdiri dari empat image terealisasi dalam aksi dan reaksi transaksional non-projectif yang terealisasi menjadi realisasi bidireksional dan sebelas image merupakan proses projektif yang direalisasikan oleh proses verbal. Berkenaan dengan makna interpersonal, teks DMTWC lebih menawarkan informasi dengan pilihan Modus terbanyak adalah Deklaratif.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu untuk menemukan makna yang diciptakan oleh komponen verbal dan nirverbal yang mengacu pada konsep analisis semiotik sosial. Metodologi penelitian ini dirancang berdasarkan basis-data, basis-observasi dan penelitian deskriptif kualitatif. Hanya saja perbedaan penelitian ini terletak pada objek penelitian yaitu, yang mana penelitian ini menganalisis tentang upacara perkawinan adat MD, sedangkan peneliti menganalisis tentang gestur guru dalam mengajar di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang.
Ningsih (2014) dalam penelitian ini menggunakan kerangka Cheong (2004) untuk mengungkap bagian-bagian dari bagian gambar dan lingustik, sementara transitivity Halliday dan Hasan (1985) digunakan untuk mengetahui proses-proses. Dengan cara demikian, penelitian ini menemukan hubungan antara gambar dan teks dalam satu konteks.
Hasilnya menunjukkan bahwa bagian-bagian gambar dalam iklan media cetak adalah Lead, Emblem, dan Display. Lead terdiri dari Locus of Attention (LoA) dan Complements to the Locus of Attention (Comp. LoA). Sementara, bagian-bagian lingiustiknya adalah Announcement, Emblem, Enhancer, Tag, dan Call-dan-Visit Information. Akhirnya, dalam penelitian ini ditemukan bahwa ada keterkaitan antara bagian-bagian gambar dan linguistik dalam iklan media cetak. Hal ini menyebabkan Contextualization Propensity (CP) tinggi, Interpretative Space (IS) sempit, dan Semantic Effervescence (SE) juga kecil.
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu bagaimana cara menganilis data penelitian khususnya untuk menganalisis bentuk interpersonal dalam penelitian ini, untuk menemukan hubungan antara gambar dan teks dalam satu konteks dalam hal ini gestur guru dalam mengajar di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deliserdang. Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu, data dan objek penelitian.
Cheong dan Liu (2014) membantu pembaca untuk memahami film melalui interaksi antara modalitas yang berbeda serta menawarkan perspektif linguistik dalam mengapresiasi film. Kehidupan Pi, pemenang empat penghargaan Academy, fotografi, efek visual dan musik asli, membuat sampel yang baik kaya sumber daya audial dan visual untuk mengeksplorasi hubungan antara Pi dan harimau Richard. Di bawah bimbingan sistemik tata bahasa fungsional dan tata bahasa visual, penelitian ini berusaha untuk mengeksplorasi hubungan antara Pi dan Richard si macan dalam film „Life of Pi’ dengan menganalisa bagaimana berbagai modalitas semiotik membuat makna dan bagaimana mereka berkontribusi memahami film.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu adanya kerangka teoritis berdasarkan tata bahasa visual yang bersifat adaptif untuk wacana film Life of Pi; berdasarkan analisis linguistik dan non linguistik, hubungan antara Pi dan harimau sebagian besar ditentukan oleh sikap Pi terhadap harimau. Sama hal nya dengan objek penelitian yang dilakukan peneliti yaitu bagaimana sikap siswa ditentukan oleh gestur guru saat mengajar di dalam kelas berbagai interaksi modalitas untuk membuat makna, yang memberikan perspektif baru. Penelitian ini membantu memperluas pemahaman linguistik dari wacana film dan dalam penelitian yang dilakukan peneliti membantu memperluas pemahaman linguistik dari wacana gestur guru mengajar dalam kelas, dan menyediakan perspektif baru dalam memahami wacana.
Hardianto , Dkk (2016) mendeskripsikan penggunaan gesture untuk memperbaiki kesalahan prosedural siswa dalam proses diskusi pemecahan masalah matematika. Hasil yang diperoleh, adalah: 1) siswa yang berkemampuan tinggi dapat memperbaiki kesalahan prosedural siswa yang berkemampuan sedang dan rendah dalam proses diskusi pemecahan masalah matematika dengan menggunakan gesture, yang meliputi:
pointing gesture, writing gesture, dan representational gesture, 2) pointing gesture yang digunakan oleh siswa yang berkemampuan tinggi dapat memperbaiki kesalahan prosedural siswa yang berkemampuan sedang dan rendah dalam proses diskusi pemecahan masalah matematika, 3) writing gesture yang digunakan oleh siswa yang berkemampuan tinggi dapat memperbaiki kesalahan prosedural siswa yang berkemampuan sedang dan rendah dalam proses diskusi pemecahan masalah matematika, dan 4) representational gesture yang digunakan oleh siswa yang berkemampuan tinggi dapat memperbaiki kesalahan prosedural siswa yang berkemampuan sedang dan rendah dalam proses diskusi pemecahan masalah matematika.
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu untuk mengetahui bagaimana gestur dalam hal ini gestur guru mengajar di kelas, bagaimana pointing gesture, writing gesture, representational gesture guru dalam mengajar di kelas di SMA N 1 Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang
Utami, dkk (2015) pada penelitiannya mendeskripsikan (1) penguatan verbal guru dalam pembelajaran teks cerpen di kelas VIIG SMP N 1 Banjar, (2) penguatan nirverbal guru dalam pembelajaran teks cerpen di kelas VIIG SMP N 1 Banjar, serta (3) fungsi penguatan verbal dan nirverbal guru dalam pembelajaran teks cerpen di kelas VIIG SMP N 1 Banjar.
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VIIG SMP N 1 Banjar dan objek penelitiannya adalah penguatan verbal dan nirverbal guru dalam pembelajaran teks cerpen di kelas VIIG
SMP N 1 Banjar. Data penelitian dikumpulkan melalui metode observasi dan metode wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah (1) penguatan verbal yang digunakan guru berupa kata “bagus, tepat, benar, dan cukup bagus”; (2) penguatan nirverbalnya berupa ekspresi wajah, gerakan tangan, gerakan mendekati, penguatan tdana, dan sentuhan; (3) Tuturan penguatan verbal guru mengdanung fungsi ekspresif, fungsi representatif, dan fungsi direktif, sedangkan tuturan penguatan nirverbal mengandung fungsi repetisi dan fungsi substitusi; (4) Penguatan gabungan yang digunakan guru berupa kata “bagus dan benar” disertai dengan acungan jempol dan tepuk tangan.
Wahyuningtias (2015) mengetahui perhatian siswa pada aplikasi gestur guru pada pembelajaran pendidikan Agama Islam, 2) untuk mengetahui implementasi gestur guru sebagai upaya menumbuhkan perhatian siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam, 3) untuk mengetahui peran gestur guru sebagai upaya menumbuhkan perhatian siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif, yang mana menitik beratkan pada “Peran gestur guru sebagai upaya menumbuhkan perhatian siswa pada pembelajaran pendidikan agama Islam”. Dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi.
Dari hasil penelitian ini, menghasilkan kesimpulan bahwa: 1) perhatian siswa pada aplikasi gestur pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Ketintang Surabaya berjalan sangat baik dan antusias didalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari cara siswa memperhatikan penjelasan guru, menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari guru ataupun bertanya kepada guru tentang materi yang disampaikan oleh guru. 2) implementasi gestur sebagai upaya menumbuhkan perhatian siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Ketintang Surabaya berjalan sesuai dengan teori. 3) peran gestur guru sebagai upaya menumbuhkan perhatian siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Ketintang Surabaya sangat berperan penting terhadap keberhasilan seorang guru didalam
menyampaikan sebuah materi pembelajaran dan sangat berpengaruh terhadap siswa karena dapat menarik perhatian siswa. Dari gestur guru tersebut siswa dapat tertarik terhadap apa yang disampaikan oleh guru dan siswa juga lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru.
Anstey dan Bull (2010) dalam jurnal penelitiannya tentang mengekplorasi teks multimodal dalam membantu para guru berpendapat bahwa definisi literasi saat ini sering mengacu pada teks multimedia dan multimodal, dan ada referensi untuk bahan-bahan tersebut di seluruh versi draf kurikulum bahasa Inggris nasional yang baru. Oleh karena itu, tepat waktu untuk mempertimbangkan bagaimana guru dapat menjadi akrab dan percaya diri dalam penggunaan teks multimodal di kelas. Para penulis mengidentifikasi bidang pembelajaran profesional nilai tertentu untuk mengintegrasikan teks multimodal ke dalam praktek kelas dan menyarankan cara-cara untuk memperkenalkan pembelajaran profesional di sekolah.
Penelitian yang dilakukan Anstey dan Bull (2010) memberikan kontribusi kepada penelitian ini dalam teori Kress dan Leeuwen (2006). Demikian juga halnya dengan
Penelitian yang dilakukan Anstey dan Bull (2010) memberikan kontribusi kepada penelitian ini dalam teori Kress dan Leeuwen (2006). Demikian juga halnya dengan