BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Wujud Bahasa Nonverbal
4.2.1.1 Wujud Bahasa Nonverbal Dinamis
4.2.1.1.1 Gestur
Gestur merupakan wujud bahasa nonverbal yang melibatkan berbagai gerakan-gerakan pada kepala, tangan, dan anggota tubuh. Perekaman data di
lapangan merekam gerakan-gerakan tersebut menjadi wujud bahasa nonverbal yang sering digunakan baik oleh penutur maupun mitra tutur dalam interaksi pembelajaran. Dengan demikian, gestur menjadi subbab pertama dideskripsikan secara terperinci. Beragam gestur pada kepala muncul ketika penutur dan mitra tutur saling berinteraksi. Fenomena pertama dari bahasa nonverbal bagian kepala adalah gestur anggukan. Gestur mengangguk adalah gestur kepala yang naik turun sebagai bentuk persetujuan atau pemahaman ketika menyimak sesuatu (Givens, 2015:68). Gestur mengangguk memang banyak memberikan maksud sebagai bentuk persetujuan.
Data 1
1. Wujud: anggukan mitra tutur 2. Keterangan: gerakan pada gambar
merupakan gerakan anggukan. Seorang mitra tutur menyimak penutur dengan mengangguk. Berdasarkan sudut pandang kultural, gerakan tersebut merupakan pelumas komunikasi yang belum berarti dimaksudkan sebagai gerakan menyetujui. Namun, menunjukkan mitra tutur yang konsentrasi terhadap penjelasan penutur. Selain itu mitra tutur memandang
langsung kepada penutur sebagai bentuk
monitoring, yaitu kontak langsung
terhadap penutur.
3. Tuturan: maka hakekatnya bahasa adalah
bunyi. Ada cara-cara menciptakan bunyi. Begitu ya teman-teman.
4. Kompetensi: decoding, yaitu
mengintepretasi pesan tuturan dari penutur melalui anggukan.
5. Konteks: konteks kultural, yaitu interaksi pembelajaran di dalam kelas ketika mitra tutur menyimak penjelasan dari penutur dengan menunjukkan gerakan anggukan dilakukan oleh seorang mahasiswa dalam kelas mata kuliah Bahasa Indonesia program studi Pendidikan Guru Sekolah
Dasar. Konteks kultural merujuk pada gestur anggukan sebagai cerminan budaya Jawa yang biasa digunakan ketika
mendengarkan seseorang yang sedang berbicara.
Data 1 menunjukkan wujud gestur mengangguk sebagai ungkapan bukan sebuah persetujuan artinya mitra tutur menggangguk bukan semata-mata setuju melainkan gestur kebiasaan. Dalam konteks kebudayaan Jawa anggukan tersebut layaknya sebuah pelumas komunikasi yang bertujuan untuk fokus terhadap penutur. Berdasarkan perspektif komunikasi, gestur anggukan data 1 adalah gestur ilustrasi, gestur tersebut mengilustrasikan kata ‘iya’. Berdasarkan perspektif kebahasaan dilihat berdasarkan kompetensi mitra tutur yang decoding, yaitu intepretasi pesan tuturan. Intepretasi tersebut dengan anggukan yang menunjukkan tanda bahasa, yaitu anggukan sebagai emblem menggantikan kata ‘iya’. Dengan demikian, mitra tutur jelas menunjukkan kompetensi komunikasi dalam mengintepresi pesan tuturan dari penutur dengan wujud anggukan. Wujud anggukan data 1 berupa wujud emblematis dan tanda bahasa, yaitu menggantikan kata-kata tertentu sebagai respon
decode. Mitra tutur merasa menyetujui penjelasan penutur yang ditandai pada frasa “begitu ya teman-teman”. Mitra tutur menanggapi tuturan tersebut dengan gestur
mengangguk, artinya mitra tutur memang benar-benar menyimak dan memahami penjelasan penutur sehingga akhirnya mitra tutur menyetujui penjelasan tersebut dengan anggukan. Gestur anggukan tersebut berperan sebagai gestur ilustrator, artinya gestur anggukan sebagai representasi verbal untuk menyetujui penutur. Gestur ilustrator adalah gestur langsung yang berfungsi untuk menggambarkan
sesuatu yang ingin diucapkan tetapi tidak diucapkan langsung secara verbal (Matsumoto, 2013).
Data 2
1. Wujud: anggukan mitra tutur
2. Keterangan: gestur mengangguk yang terjadi ketika mendengarkan respon atau pertanyaan dari salah satu audiens. Mitra tutur mengangguk sebagai respon terhadap pertanyaan dari penutur. Kontak mata juga ditunjukkan oleh mitra tutur kepada penutur yang sedang bertanya kepadanya.
3. Tuturan: kamu dan aku biasanya kan juga
disebut ‘loe gue’ gitu kan?
4. Kompetensi: kompetensi decoding, yaitu mitra tutur mengintepretasikan pesan tuturan dengan anggukan.
5. Konteks: konteks situasional, yaitu diskusi yang terjadi pada saat presentasi kelompok di depan kelas, mitra tutur menanggapi pertanyaan dari penutur dengan anggukan. Mitra tutur berada dalam situasi sebagai presentator yang berdiri di depan kelas yang berusaha merespon seorang penutur.
Gerakan anggukan dilakukan oleh seorang mahasiswa dalam kelas mata kuliah Bahasa Indonesia program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Data 2 menunjukkan gestur anggukan sebagai respon terhadap pertanyaan dari penutur. Gestur anggukan tersebut jelas menujukkan persetujuan mitra tutur terhadap penutur. Berdasarkan perspektif komunikasi, gestur anggukan data 2 adalah ilustrasi, artinya gestur tersebut mengilustrasikan persetujuan mitra tutur tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata (Matsumoto, 2013). Mitra tutur menerima pesan tuturan melalui kompetensi decode yang ditunjukkan dengan anggukan. Gestur anggukan tersebut masih menjadi sign language pada pertanyaan penutur. Mitra tutur merespon pertanyaan tersebut secara ikonis, artinya anggukan
sebagai tanda bahasa yang menyoroti tuturan (McNeill, 2000). Mitra tutur menunjukkan sikap yang baik dengan memberikan tanggapan atas pertanyaan penutur dengan anggukan. Gestur mengangguk tersebut lebih diartikan sebagai gestur memahami pertanyaan yang diungkapkan kepada presentator.
Data 3
1. Wujud: anggukan mitra tutur
2. Keterangan: gestur mengangguk terjadi ketika mendengarkan respon atau jawaban dari presentator. Mitra tutur mengangguk sebagai bentuk menyetujui jawaban-jawaban penutur. Kontak mata mitra tutur memandang langsung ke arah penutur yang sedang berbicara kepadanya.
3. Tuturan: dalam metode kan berarti ada
proses pembelajarannya juga to?
4. Kompetensi: kompetensi decoding, yaitu mitra tutur mengangguk terhadap
pertanyaan penutur sebagai maksud menyetujui.
5. Konteks: konteks situasional, yaitu
presentasi kelompok di dalam kelas, penutur menjawab pertanyaan dari mitra tutur. Mitra tutur memperhatikan pertanyaan penutur dan merespon pertanyaan tersebut dengan anggukan. Gerakan tersebut mencerminkan situasi mitra tutur ketika mendengarkan penutur berbicara langsung kepadanya. Gerakan anggukan dilakukan oleh seorang mahasiswa dalam kelas mata kuliah Bahasa Indonesia program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Gestur anggukan pada data 3 adalah gestur yang mengilustrasikan kata ‘iya’. Mitra tutur tidak perlu menyetujui pertanyaan penutur dengan bahasa verbal. Anggukan tersebut sudah cukup mengintepretasikan pesan komunikasi dari mitra tutur. Berdasarkan perspektif komunikasi gestur tersebut merupakan gestur yang menggantikan kata-kata dan mengilustrasikan kata ‘iya’ sehingga mitra tutur tidak
perlu mengatakan ‘iya’ tetapi digantikan dengan anggukan (Matsumoto, 2013). Berdasarkan perspektif kebahasaan, gestur anggukan data 3 termasuk tuturan yang independen, yaitu tuturan yang menggantikan bahasa verbal (Knapp, 2013). Dengan demikian, anggukan data 3 merupakan gestur persetujuan yang telah menjadi gerakan emblematis, gerakan yang menggantikan ilustrasi kata yang diucapkan dalam suatu tuturan (Burgoon, 2016).
Data 4
1. Wujud: anggukan mitra tutur. 2. Keterangan: gestur mengangguk.
Gerakan terjadi ketika mendengarkan salah satu audiens yang bertanya. Audiens sebagai penutur sedang bertanya secara langsung kepada mitra tutur. Sikap mitra tutur tentu
menunjukkan sikap penyimak yang baik dengan mengangguk terhadap penutur. Gerakan anggukan dari segi kultural, yaitu kebudayaan Jawa. Gerakan tersebut merupakan pelumas komunikasi dan terjadi selama tuturan terjadi bukan diakhir tuturan.
3. Tuturan: mereka itu menolak hierarki.
Mengapa mereka menolak dalam segala hal yang berbau hierarki?
4. Kompetensi: kompetensi decoding, yaitu mitra tutur mengintepretasikan pesan tuturan penutur melalui gestur anggukan.
5. Konteks: konteks kultural, yaitu interaksi pembelajaran di dalam kelas, ketika penutur sedang bertanya kepada mitra tutur, gestur anggukan tersebut menampilkan secara spesifik terhadap kebiasaan seseorang ketika menyimak selalu mengangguk. Gestur anggukan merujuk sebagai cerminan kultur Jawa yang digunakan saat mendengarkan seseorang berbicara. Gerakan anggukan dilakukan oleh seorang dosen mata
kuliah Agama dalam kelas program studi Pendidikan Ilmu Agama Katolik.
Gestur mengangguk memiliki peran yang lain. Anggukan tidak hanya dipahami sebagai bentuk memahami dan/atau menyetujui sesuatu hal, anggukan juga dipahami sebagai gestur kebiasaan dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Kebiasaan mengangguk sangat erat terkait dengan interaksi antarpenutur berlatar belakang budaya Jawa. Masyarakat Jawa memiliki kebiasaan mengangguk ketika berinteraksi satu sama lain. Kebiasaan tersebut menjadi sebuah ungkapan kultural Jawa yang unik. Sebuah budaya mempunyai lebih dari satu kebiasaan (Burgoon, 2010: 32). Dalam sudut pandang McNeill (2000) ungkapan unik tersebut termasuk sebagai gerakan yang ikonis, yaitu gerakan yang menyoroti tuturan penutur dengan isyarat tertentu, seperti anggukan. Maka dari itu, pemahaman suatu kultural dapat untuk memahami sebuah penggunaan kebiasaan bahasa nonverbal dan mencoba untuk menggunakannya dalam komunikasi sesuai dengan pemahaman akan kultur itu sendiri (Matsumoto, 2013:98). Istilah yang erat kaitan dalam kebiasaan tersebut adalah gestur anggukan seperti pada gambar 3 disebut pelumas komunikasi. Dalam komunikasi, seseorang mengangguk bukan untuk menyetujui melainkan menunjukkan bahwa dirinya sedang menyimak dengan saksama tuturan. Pernyataan tersebut berarti bahasa nonverbal tidak hanya sebagai konstruksi maksud dalam sebuah komunikasi tetapi bahasa nonverbal juga menajdi bentuk unik dari penutur dan mitra tutur dengan berlatar belakang budaya. Salah satunya adalah mengangguk. Gestur mengangguk dalam masyarakat Jawa tidak dapat
dipahami dalam satu sudut pandang sebagai bentuk persetujuan atau pemahaman. Gestur mengangguk ini menjadi sebuah cermin budaya Jawa.
Gestur mengangguk pada data 4 menunjukkan bahwa gestur tersebut muncul ketika mendengarkan sebuah penjelasan panjang dari penutur. Gestur tersebut bukan semata-mata ingin menyetujui atau memahami suatu penjelasan melainkan gestur tersebut menjadi cermin tindak kebiasaan yang dipengaruhi oleh budaya. Gestur mengangguk dapat disebut sebagai gestur berperan sebagai Batons. Batons adalah gestur yang menekankan sebuah kata atau frasa terkadang gestur secara bertempo seperti kronometer (Matsumoto, 2013:76). Gestur mengangguk pada fenomena di atas berarti gestur yang muncul karena mendengarkan penjelasan verbal dari penutur. Meskipun gestur tersebut tidak mempunyai maksud tertentu, gestur tersebut justru memberikan dampak positif secara visual. Dampak positif tersebut tentu saja dirasakan oleh penutur. Dalam konteks budaya Jawa, ketika seorang penutur yang berbicara ditanggapi dengang saksama dengan gestur mengangguk, penutur tersebut sudah merasa sangat dihargai, dihormati, diterima dengan baik. Penutur menilai bahwa mitra tutur tersebut menghargai tuturan yang disampaikannya.
Data 5
1. Wujud: anggukan penutur
2. Keterangan: Gerakan anggukan terjadi ketika dosen tersebut memberikan penjelasan. Penutur memberikan penjelasan dengan mengangguk. Gerakan tersebut seolah-olah
memberikan penekanan terhadap tiap penjelasan verbal penutur. Penekanan dengan menggangguk. Penekanan pada kata ‘pandai bergaul’, ‘berbicara’, dan ‘menjunjung orang lain’.
3. Tuturan: ya alternatif pertama, pandai
dihilangkan. Pandai bergaul,
berbicara, dan menjunjung orang lain adalah modal dasar pemasar produk.
4. Kompetensi: kompetensi encoding, yaitu pemilihan gestur anggukan sebagai penakanan terhadap pesan tuturan verbal.
5. Konteks: konteks linguistik, yaitu interaksi pembelajaran di dalam kelas, penutur menjelaskan materi dengan penekanan pada materi, penekanan tepat terjadi pada koteks, yaitu kata dan frasa tertentu dalam tuturan, yaitu ‘pandai bergaul’, ‘berbicara’, dan ‘menjunjung orang lain’. Gerakan anggukan
dilakukan oleh seorang dosen mata kuliah Bahasa Indonesia dalam kelas program studi Pendidikan Fisika.
Gestur mengangguk berperan sebagai penekanan tuturan. Gestur mengangguk tidak hanya digunakan oleh mitra tutur sebagai bentuk menyetujui dan menyetujui serta kebiasaan. Anggukan juga muncul bersama-sama pada saat berbicara. Fenomena tersebut terjadi pada penutur. Penutur menggunakan bahasa untuk berkomunikasi yang saling beriringian dengan menggunakan bahasa nonverbal dalam komunikasi tersebut. Berdasarkan perspektif komunikasi gestur tersebut adalah gestur regulator, artinya gestur yang memberi penekanan pada tiap
penjelasan tuturan verbal (Liliweri, 2009). Penutur memberikan penekanan kepada kata-kata tertentu dalam tuturannya. Selain itu, sudut pandang kebahasaan menjelaskan anggukan sebagai penekanan merupakan bentuk beat, bentuk tersebut bermaksud menggambarkan penutur yang menekankan frasa tertentu dalam tuturan patut menjadi perhatian mitra tutur. Beberapa kata yang diberi beat, yaitu ‘pandai bergaul’, ‘berbicara’, dan ‘menjujung orang lain’. Kompetensi encoding, yaitu pengepakan kata-kata yang hendak dituturkan dan disertai dengan gestur anggukan. Gestur anggukan merupakan kompetensi encoding yang dilakukan oleh penutur untuk mengirimkan pesan komunikasi kepada mitra tutur.
Data 6
1. Wujud: anggukan mitra tutur
2. Keterangan: anggukan dilakukan oleh mitra tutur sebagai respon terhadap pertanyaan dari penutur. Mitra tutur menyetujui penutur dengan anggukan. Gerakan anggukan tersebut bermaksud memberikan gambaran mitra tutur yang setuju terhadap penutur.
3. Tuturan: tapi penulisannya berantakan
ya? Susunannya ya? Besok lagi harus lebih rapi.
4. Kompetensi: kompetensi decoding, yaitu intepretasi pesan tuturan verbal penutur dengan anggukan yang dilakukan oleh mitra tutur.
5. Konteks: konteks situasional, yaitu interaksi pembelajaran di dalam kelas, seorang mahasiswa mendapatkan masukan dan saran dari dosen. Situasi digambarkan pada mitra tutur yang merespon tuturan verbal penutur dengan gestur anggukan. Gerakan anggukan dilakukan oleh seorang mahasiswa dalam kelas program studi Pendidikan Akuntansi.
Data 6 merupakan respon anggukan terhadap pertanyaan penutur. Gestur tersebut jelas mengungkapkan persetujuan. Mitra tutur terlihat mengangguk sekaligus mengucapkan kata ‘iya’. Berdasarkan perspektik komunikasi, gestur tersebut berperan sebagai ilustrasi, gestur yang menyertai bahasa verbal (Burgoon, 2016). Bahasa verbal anggukan biasa menggambarkan respon positif persetujuan terhadap tuturan penutur. Berdasarkan segi kebahasaan, anggukan tersebut merupakan tindakan bahasa (action language), yaitu gerakan-gerakan yang melakukan tindakan bahasa melalui gerakan (Knapp, 2013). Mitra tutur menunjukkan kompetensi decoding untuk merespon pesan komunikasi dari penutur.
Data 7
1. Wujud: anggukan penutur
2. Keterangan: Penutur mengangguk ketika sedang menjelaskan materi kepada mitra tutur. Gerakan anggukan terkesan lebih komunikatif, artinya penjelasan verbal mendapatkan penekanan pada kata ‘melafalkan’. Kontak mata dan gerakan pada jari menyertai tuturan verbal sebagai penekanan. Namun gestur anggukan menjadi gestur utama dalam tuturan penutur.
3. Tuturan: ingat pertemuan ke berapa,
saya pernah memberikan penghambat membaca cepat salah satunya? Mela….melafalkan.
4. Kompetensi: kompetensi encoding, yaitu pemilihan gestur anggukan sebagai wujud bahasa nonverbal yang mengiringi pesan tuturan verbal. 5. Konteks: konteks linguistik, yaitu
interaksi pembelajaran dalam kelas, penutur menjelaskan materi dengan penekanan-penekanan pada materi. Konteks linguistik merujuk pada
penekanan tersebut terjadi tepat pada koteks, yaitu kata ‘melafalkan’. Peristiwa tersebut terjadi pada kelas program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan gerakan dilakukan oleh seorang dosen mata kuliah
Jurnalistik.
Penutur memberikan penekanan-penekanan dalam tiap penjelasan verbalnya. Penekanan-penekanan tersebut dilakukan dengan mengangguk. Gestur anggukan pada data 7 adalah gestur sebagai tindakan regulator, artinya penutur mengangguk ketika menjelaskan sesuatu karena berharap dengan tindakan tersebut mitra tutur dapat mengingat tiap kata-kata atau frasa dalam penjelasan verbalnya. Anggukan terjadi tepat pada kata ‘melafalkan’. Anggukan yang dilakukan oleh penutur termasuk gerakan deictic, yaitu gerakan yang menonjolkan sesuatu dari suatu tuturan (McNeill, 2000). Penutur meyakini tindakan bahasa yang dilakukannya mempengaruhi mitra tutur. Kompetensi encoding yang penutur lakukan merupakan penutur bertutur secara verbal dengan disertai bahasa nonverbal berupa anggukan. Dengan demikian, gestur anggukan penutur merupakan gestur yang tepat dilakukan untuk menyampaikan tuturan dalam konteks interaksi pembelajaran, yaitu penekanan dan penonjolan beberapa kata yang penting.
Gestur menggeleng terjadi pada seorang penutur yang sedang menjelaskan secara verbal kepada mitra tutur. Gestur menggeleng muncul saling berkaitan dengan penjelasan verbal. Gestur yang secara langsung saling berkaitan dengan perkataan verbal dan biasanya membantu mengilustrasikan sesuatu yang diungkapkan secara verbal (Knapp, 2014:12). Gestur menggeleng tersebut sebagai ilustrasi untuk menegaskan maksud ‘tidak’ pada ungkapan verbal.
Data 8
1. Wujud: gelengan penutur
2. Keterangan: penutur menjelaskan materi sambil menggeleng. Gestur menggeleng tersebut sebagai bentuk ilustrasi penjelasan yang menegaskan maksud ‘tidak’. Gestur gelengan terjadi dalam situasi interaksi di kelas, penutur sedang memberikan penjelasan melalui tuturan verbal disertai gestur gelengan. 3. Tuturan: LAD atau Language
Acquisition Device adalah sebuah perangkat yang dimiliki seorang anak. Yang si Chomsky sendiri gak tahu apa sebetulnya alat itu.
4. Kompetensi: encoding
5. Konteks: konteks linguistik, yaitu interaksi pembelajaran dalam kelas, penutur memberikan penjelasan materi dengan penekanan pada materi tertentu.
Pada data 8 menunjukkan gestur gelengan seorang penutur. Penutur tersebut menggeleng pada saat mengucapkan tuturan, “Yang si Chomsky sendiri gak tahu
apa sebetulnya alat itu.” Frasa ‘gak tahu’ menjadi penanda bahasa munculnya
gestur gelengan tersebut. Gestur gelengan yang mengilustrasikan kata ‘tidak’ memiliki persamaan dengan gestur anggukan yang mengilustrasikan kata ‘iya’. Penutur terbiasa untuk mengilustrasikan kedua ungkapan verbal tersebut atau bahkan mengganti ungkapan tersebut tanpa berkata ‘tidak’. Penutur ingin memberikan ilustrasi terhadap penjelasan dari tuturan tersebut. Sebenarnya, penutur tanpa harus menggeleng juga sudah jelas memberikan pesan pada tuturan tersebut. Namun, gestur menggeleng yang dilakukan oleh penutur memberikan kesan yang lebih komunikatif.
Gestur kepala yang muncul dalam peristiwa interaksi pembelajaran adalah gestur kepala yang dimiringkan. Ada dua bentuk kepala dimiringkan, yaitu gestur yang dilakukan oleh penutur dan gestur yang dilakukan oleh mitra tutur.
Data 43
1. Wujud: kepala dimiringkan
2. Keterangan: Gerakan terjadi ketika mahasiswa tersebut mendengarkan penjelasan. Mitra tutur memiringkan kepala merupakan kebiasaan ketika mitra tutur sedang menyimak penjelasan panjang dari penutur. 3. Tuturan: lalu bahasa itu adalah simbol
atau lambang. Mulai dari satuan terkecil morfologi atau kalau kita ya hurufnya huruf.
4. Kompetensi: kompetensi decoding, yaitu intepretasi pesan tuturan verbal dengan gerakan kepala.
5. Konteks bahasa nonverbal adalah konteks situasional, yaitu interaksi pembelajaran di dalam kelas, penutur sedang menjelaskan materi. Gerakan kepala tersebut dilakukan oleh seorang mahasiswa dalam kelas mata kuliah Bahasa Indonesia program studi Pendidikan Sekolah Dasar.
Pada data 43 menunjukkan gestur kepala dimiringkan biasanya lebih menunjukkan pada kebiasaan seseorang ketika menyimak sesuatu. Gestur kepala dimiringkan seperti pada data 43 menunjukkan gestur tersebut sebagai kebiasaaan. Jika diamati dengan saksama, gestur tersebut justru menunjukkan situasi seorang mitra tutur yang bosan atau lelah. Penutur tidak menunjukkan antusias ketika menyimak penjelasan penutur. Gestur tersebut berperan sebagai gestur adaptor (Liliweri, 2009). Gestur adaptor memberikan penjelasan bahwa gestur mencerminkan keadaan atau situasi fisik (Burgoon 2016). Berdasarkan kompetensi mitra tutur,
yaitu kompetensi decoding, mitra tutur mengintepretasi tuturan penutur dengan menyimak dengan saksama disertai gestur kepala yang dimiringkan. Wujud bahasa nonverbal tersebut menunjukkan gestur emblematis yang khas dilakukan oleh mitra tutur ketika menyimak.
Data 44
1. Wujud: kepala dimiringkan 2. Keterangan: Gestur kepala
dimiringkan menggambarkan penutur sedang mencari seseorang yang diajaknya bicara. Penutur sedang bertanya kepada salah mitra tutur. Gerakan tersebut terjadi ketika penutur bertanya kepada mitara tutur dalam interaksi pembelajaran.
3. Tuturan: perlu dikonfirmasi ke depan
atau tidak? Perlu. Agus sudah selesai belum?
4. Kompetensi: encoding
5. Konteks: konteks situasional, yaitu interaksi pembelajaran, penutur bertanya kepada mitra tutur.
Gestur kepala dimiringkan yang lain adalah gestur yang menunjukkan penutur sedang mencari atau melihat mitra tutur yang sedang diajak bicara oleh penutur. Jika dilihat berdasarkan tuturan verbal, gestur kepala menggambarkan pencarian dapat dilihat berikut ini. Penutur, “perlu dikonfirmasi ke depan atau
tidak? Perlu. Agus sudah selesai belum?” Gestur tersebut muncul setelah penutur
menyebutkan ‘agus sudah selesai belum’ artinya penutur memang mencari seseorang bernama agus. Oleh karena itu, penutur memiringkan kepala untuk melihat mitra tutur yang diajaknya berbicara. Gestur kepala tersebut berperan sebagai gestur ilustrator, artinya tindakan gestur tersebut memberi bantuan kepada penutur dalam penyampaian tuturannya (Burgoon, 2016:127). Wujud bahasa
nonverbal data 44 dapat dimaknai pula sebagai gerakan ikon, artinya gerakan tersebut merujuk pada hal-hal konkret dalam tuturan, hal konkret tersebut adalah salah satu nama orang, yaitu ‘agus’. Kata ‘agus’ indikasi gerakan kepala dilakukan oleh penutur.
4.2.1.2.1 Gestur pada Bagian Tubuh
Gestur bagian tubuh merepresentasikan bahasa nonverbal dalam gestur-gestur pada tangan, lengan, siku, kaki, pundak, perut, dan gestur-gestur tubuh lainnya. Penutur dan mitra tutur menggunakan gestur jari dalam tiap tuturan. Wujud bahasa dalam gestur jari ditunjukkan dalam beberapa situasi, seperti situasi saat memberikan penghargaan menunjukkan gestur ibu jari, situasi menunjuk seseorang dengan menggerakkan gestur telunjuk, dan masih banyak gestur jari dalam tiap situasi tuturan. Jari telunjuk memang jelas menggambarkan seseorang menunjuk sesuatu bahkan menunjuk seseorang. Namun dalam beberapa situasi jari telunjuk juga menjadi sebuah tanda akan sesuatu hal. Perbedaan penggunaan jari telunjuk pada arah jari tersebut digestur. Berikut beberapa gambar tentang gestur jari telunjuk.
Data 46
1. Wujud: jari telunjuk penutur
2. Keterangan: Gestur jari telunjuk yang diarahkan kepada salah satu mitra tutur. Penutur menggerakkan jari telunjung menyertai tuturan verbalnya penekanan pada frasa ‘mas pojok’. Hal tersebut mempertegas maksud penutur yang ditunjukkan kepada mitra tutur. 3. Tuturan: satu ya, mas pojok.
4. Kompetensi: kompetensi encoding, yaitu penyampaian pesan tuturan verbal disertai gerakan jari telunjuk.
5. Konteks: konteks linguistik, yaitu interaksi pembelajaran di dalam kelas, penutur sedang meminta salah mitra tutur. Penutur memberikan penekanan pada frasa ‘mas pojok’ dengan disertai gerakan jari telunjuk. Gerakan
dilakukan oleh seorang dosen mata kuliah Bahasa Indonesia program studi Pendidikan Sejarah.
Data 46 menunjukkan seorang penutur yang menunjuk salah satu mitra tutur. Arah gestur jari telunjuk jelas, yaitu jari telunjuk mengarah kepada mitra tutur. Penutur tersebut berkata, “satu ya, mas pojok.” Tuturan tersebut juga jelas menunjukkan tindakan penutur yang memilih mitra tutur. Gestur jari telunjuk tersebut berperan sebagai gestur regulator, artinya gestur yang membantu memberikan penekanan pada tuturan verbal. Gestur regulator pada gestur pada jari tersebut mengelola interaksi dua arah (Burgoon, 2016). Berdasarkan kompetensi
encoding, gestur jari telunjuk penutur mengarah pada tanda bahasa (sign language)
pada frasa ‘mas pojok’, tanpa ada gestur tersebut frasa tersebut tentu membingungkan mitra tutur karena ambigu. Namun, gestur jari telunjuk tersebut