BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Wujud Bahasa Nonverbal
4.2.1.2 Wujud Bahasa Nonverbal Statis
4.2.1.2.1 Postur Fisik
Postur fisik merupakan wujud bahasa nonverbal bersifat statis. Postur fisik melekat pada penutur dan mitra tutur secara fisik. Wujud bahasa nonverbal postur diamati secara menyeluruh dengan melihat fisik seorang penutur dan mitra tutur. Lain halnya dengan bahasa nonverbal bagian kepala dan bahasa nonverbal bagian badan yang bersifat dinamis, bahasa nonverbal postur fisik adalah wujud bahasa nonverbal yang diamati tidak harus dalam keadaan ketika seorang penutur dan mitra tutur bertutur kata.
Wujud postur memiliki peran yang unik dalam budaya orang Jawa. Bahkan termasuk bagian dari penilaian terhadap seseorang. Bahasa nonverbal postuk fisik, meliputi postur tinggi besar, postur tinggi kurus, hidung mancung, hidung pesek,
mata sipit, mata membelalak, mata melorok, lesung pipi, bentuk bibir dan warna rambut, warna rambut dan aksesoris, aksesoris wanita, pakaian formal laki-laki, dan pakaian formal perempuan. Identifikasi bahasa nonverbal statis, yaitu postur fisik merupakan usaha untuk memberikan penjelasan-penjelasan tentang wujud bahasa nonverbal dengan menggunakan sudut pandang kultural khususnya budaya Jawa.
Postur badan mempengaruhi seseorang dalam memberikan kesan terhadap seseorang yang berpostur tinggi baik besar maupun kurus. Dalam masyarakat Jawa yang notabene memiliki postur sedang artinya tidak berbadan tinggi besar, ketika melihat seseorang memiliki postur yang tinggi besar dan tinggi kurus muncul sebuah kesan yang berbeda. Mereka memandang seseorang berpostur tersebut dengan beberapa sudut pandang dengan mengungkapkan sudut pandang tersebut melalui pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul, meliputi pertanyaan tentang asal, makanan, dan umur. Secara visual, orang yang berbadan tinggi besar memberikan dampak positif.
Data 92 dan Data 93
1. Wujud: postur fisik 2. Keterangan: Secara visual
memberikan kesan kagum. Kesan tersebut merupakan penilaian tertentu yang biasa diungkapkan oleh seseorang Postur tinggi dan besar diistilahkan sebagai
Endomorph, yaitu lebih berat
dibandingkan dengan tinggi mereka. Postus tinggi dan kurus diistilahkan sebagai Ectomorph, lebih kecil dibandingkan tinggi badan. Postur tinggi dan kurus menampilkan kesan yang sedikit negatif.
3. Konteks: Postur tersebut ditampilkan oleh seorang mahasiswa prodi PGSD di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia. Kultur merujuk pada postur fisik yang tinggi dan besar serta gerak tangan yang luwes. Kultur merujuk pada tampilan mitra tutur yang memiliki postur tinggi dan kurus. Postur tersebut ditampilkan oleh seorang
mahasiswa prodi PGSD di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia. Mahasiswa tersebut sedang mendengarkan dengan saksama pertanyaan dari seorang penutur.
Pada data di atas menunjukkan dua orang yang memiliki postur tinggi baik besar maupun kurus. Kedua gambar tersebut memberikan penilaian yang berikan oleh orang yang memiliki latar belakang budaya Jawa. Masyarakat Jawa mudah untuk memberikan perasaan kagum melalui postur yang dapat dilihat langsung secara visual. Berdasarkan pendapat Burgoon (2016), gambar bagian kiri menunjukkan postur badan yang disebut endomorph, badan lebih besar kurang seimbang dengan tinggi badan. Gambar kanan menunjukkan postur badan yang disebut ectomorph, badan lebih kecil kurang seimbang dengan tinggi badan.
Bentuk hidung tentu saja berbentuk mancung dan berbentuk pesek. Secara umum, masyarakat Jawa memiliki hidung yang pesek. Oleh karena itu, ketika melihat orang Jawa yang berhidung mancung memberikan dampak visual yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti pertanyaan tentang keturunan. Orang Jawa akan sedikit heran terhadap orang Jawa yang berhidung mancung. Oleh karena itu, wajar jika masyarakat Jawa mempunyai rasa ingin tahu terhadap
keturunan. Lain halnya dengan melihat orang Jawa berhidung pesek. Hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah. Masyarakat Jawa tidak merasa kagum terhadap seseorang yang memiliki hidung yang pesek. Masyarakat jawa hanya melihat bentuk hidung, mereka dapat memberikan penilaian terhadap seseorang.
Data 94 dan Data 95
1. Wujud: bentuk hidung
2. Keterangan: bentuk hidung mancung diperhatikan sebagai bentuk daya tarik wajah. Bentuk hidung pesek menampilkan daya tarik wajah yang berbeda, yaitu menampilkan wajah yang khas dengan latar belakang budaya Jawa.
3. Konteks: Bentuk hidung ditampilkan oleh seorang dosen mata kuliah Bahasa Indonesia prodi Pendidikan Sejarah. Penutur sedang dalam situasi mendengarkan mitra tutur yang bertanya kepadanya. Bentuk hidung ditampilkan oleh seorang mahasiswa PGSD di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Bentuk mata yang dimiliki oleh seseorang yang berlatar belakang Jawa adalah mata yang membelalak dan mata yang melorok. Namun, beberapa orang Jawa memiliki mata yang sipit. Mata yang sipit memberikan kesan yang berbeda dalam masyarakat Jawa. Mereka tentu banyak bertanya-tanya terkait dengan keturunan. Lain halnya dengan seseorang yang sudah memiliki mata membelalak dan mata melorok. Bentuk mata tersebut merupakan ciri fisik dari orang yang berasal dari masyarakat Jawa pada umumnya. Mata yang membelalak memberikan kesan bahwa orang yang memiliki bentuk mata tersebut merupakan seorang Jawa tulen. Mata yang
membelalak biasanya akan mudah untuk menunjukkan mata yang melorok. Mata melorok merupakan kebiasaan masyarakat Jawa untuk mengungkapkan seseorang yang antusias dan memberikan penegasan. Masyarakat Jawa yang berantusias biasanya menunjukkan penekanannya melalui mata yang melorok.
Data 96, 97, dan Data 98
1. Wujud: bentuk mata
2. Keterangan: seseorang yang memiliki bentuk mata yang berbeda-beda. Mata yang sipit menjadi perhatian dan seringkali menilai sebagai bentuk mata yang memiliki daya tarik wajah berbeda dari bentuk mata lainnya. Bentuk mata sipit didukung dengan gerakan tangan yang sidakep menunjukkan posisi yang luwes. Mata membelalak tersebut memberikan kesan bahwa mahasiswa ekspresif dalam menjelaskan materi. Mata yang melorok memberikan daya tarik wajah yang berbeda. Kontak mata tersebut sebagai bentuk
monitoring/pemantauan terhadap
sesuatu yang dilihat langsung oleh mahasiswa tersebut.
3. Konteks: interaksi pembelajaran di dalam kelas. Bentuk mata sipit ditampilkan oleh seorang dosen prodi Pendidikan Akuntansi. Penutur adalah seorang mahasiswa PGSD di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia. Bentuk mata tersebut ditampilkan oleh mahasiswa PGSD di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Bentuk bibir termasuk dalam wujud bahasa nonverbal statis. Sama dengan ukuran postur fisik dan bentuk mata, bentuk bibir juga memberikan dampak positif
secara visual terhadap seseorang yang melihatnya. Masyarakat Jawa memberikan perhitungan dalam menilai seseorang melalui bentuk bibir. Selain bentuk bibir, rambut yang diwarnai juga memberikan dampak positif yang lain. Warna rambut yang pirang memberikan gambaran bahwa seseorang berusaha untuk tampil baik dan menunjukkan fesyen zaman sekarang.
Data 100
1. Wujud: bentuk bibir dan warna rambut
2. Keterangan: mahasiswa tersebut memiliki bentuk bibir yang secara visual berdampak positif. Mahasiswa tersebut juga mengecat rambut sehingga berwarna pirang.
3. Konteks: konteks kultural, mitra tutur tampak mengecat warna rambut menjadi kemerahan.
Tindakan tersebut merupakan bentuk tren zaman yang mempengaruhi kaum muda. Dalam masyarakat Jawa tren tersebut kurang berkenan karena tidak
menampilkan paras cantik orang Jawa pada umumnya, yaitu warna rambut hitam. Pewarnaan atau coloring bertujuan untuk menampilkan keadaan fisik yang berbeda dan meningkatkan kepercayaan diri. Mahasiswa
Warna rambut tidak hanya dilakukan oleh perempuan. Zaman sekarang, laki-laki juga mewarnai rambutnya untuk membuat tampilan fisik yang lebih baik. Namun, sudut pandang masyarakat Jawa berbeda. Masyarakat Jawa memandang laki-laki mewarnai rambut tidaklah baik dan tidak wajar. Oleh karena itu, masyarakat Jawa kadang memandang negatif laki-laki mewarnai rambutnya.
Data 101
1. Wujud: warna rambut
2. Keterangan: mahasiswa tersebut mengecat rambutnya dan memakai aksesori jam tangan. Pemakaian
aksesoris jam tangan merupakan hal maklum. Namun seorang laki-laki yang mengecat rambut biasanya menimbulkan kesan negatif.
3. Konteks: konteks kultural, konteks kultural, mitra tutur tampak mengecat warna rambut menjadi
kemerahan. Tindakan tersebut merupakan bentuk tren zaman yang mempengaruhi kaum muda. Dalam masyarakat Jawa tren tersebut kurang berkenan karena tidak menampilkan paras gagah seorang laki-laki Jawa pada umumnya, yaitu warna rambut hitam. Mahasiswa tersebut adalah mahasiswa prodi Pendidikan Fisika di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Selain warna rambut, lesung pada pipi memberikan tampilan yang menarik. Masyarakat Jawa selalu memberikan daya ketertarikannya terutama melalui lesung pipit. Lesung pipit menjadi ciri khas fisik. Seseorang tidak selalu memiliki lesung pada pipit. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki lesung pada pipi memberikan tampilan yang berbeda.
Data 99
1. Wujud: lesung pipit
2. Keterangan: Orang tersebut memiliki lesung di pipit. Dalam masyarakat Jawa seorang perempuan memiliki lesung akan memberikan kesan positif. Lesung pipit menjadi salah daya tarik wajah.
3. Konteks: konteks bahasa nonverbal adalah konteks kultural, seorang perempuan beretnis Jawa
menunjukkan senyuman yang secara alami terbentuk lesung pipit.