EKOLOGI TRENGGILING JAWA
4.1 Habitat dan Populasi
Trenggiling jawa (M. javanica) tidak memilih habitat tertentu dalam
mencari makan dan menempatkan sarang. Satwa ini menggunakan seluruh tipe habitat seperti hutan alam primer dan hutan sekunder, hutan campuran, savana, daerah budidaya termasuk kebun rakyat dan ladang di sekitar pemukiman masyarakat yang bervegetasi semak cukup rapat, ladang, perkebunan karet, dan kelapa sawit (Lim, 2008; Chin & Pantel, 2008; Kuswanda & Setyawati, 2015). Namun satwa ini lebih banyak ditemukan di hutan sekunder karena habitat tersebut memberikan kemudahan dalam menempatkan lubang tidur dan ketersediaan pakan utama berupa semut dan rayap (Gambar 25). Lim & Ng (2008) melaporkan bahwa trenggiling jawa di Singapura, memiliki preferensi habitat yang utama di hutan sekunder, tetapi ditemukan juga di hutan monokultur dan daerah pemukiman atau urban. Menurut Manshur et al., (2015), M. javanica di
TN. Gunung Halimun Salak cenderung menggunakan hutan sekunder sebagai habitatnya dengan tegakan dominan berupa manii (Maesopsis eminii), puspa
Gambar 25. Habitat trenggiling jawa trenggiling jawa di alam (Schima wallichii), ki
endog (Xanthophyllum excelsum), ki jebug (Kibessia azurea), dan rasamala
Berdasarkan habitatnya, trenggiling dapat dibagi menjadi trenggiling tipe terestrial dan arboreal. Tipe terestrial akan menggali lubang atau menempati lubang yang telah ditinggalkan satwa lain untuk tidur dan bersarang, sedangkan tipe arboreal termasuk trenggiling jawa menggunakan cekungan pada tonggak pohon atau cabang kayu untuk melakukan aktivitas. Kedua tipe tersebut tidak mutlak terpisah karena terkadang keduanya digunakan oleh trenggiling, tergantung kondisi lokasi. Ciri-ciri lubang trenggiling diantaranya memiliki kelerengan sekitar 300C-600C, menghadap matahari agar memudahkan dalam menggali, dan menjaga temperatur (Chang, 2004). Temperatur pada lubang sarang tidak terpengaruh oleh temperatur di luar sarang. Hal ini terjadi pada lubang sarang trenggiling china yang berkisar antara 17,800C – 210C, walaupun temperatur di luar berfluktuasi pada musim dingin dan panas sekitar 4,600C - 38,300C (Bao et al., 2013). Menurut Kuswanda dan Setyawati (2015),
berdasarkan model RSF (Resources Selection Function) trenggiling jawa dengan
persamaan regresi logistik menghasilkan nilai Nagelkerke R2 sebesar 83,5%, yang berarti seleksi penempatan liang sumber pakan dan sarang tidur dipengaruhi oleh jenis dan sedikitnya jumlah tumbuhan pada tingkat semai dan tumbuhan bawah tetapi pH tanah yang mendekati normal.
Hasil uji Krusal-Wallis (H test) menunjukkan bahwa tidak ada komponen
habitat dengan karakteristik tertentu yang menunjukkan kekhasan penggunaan habitat oleh M. javanica (Manshur et al., 2015). Hal ini berarti bahwa M. javanica mampu memanfaatkan seluruh komponen habitat untuk berbagai
fungsi. Namun M. javanica memiliki pola seleksi habitat yang ketat karena
seluruh lokasi yang digunakan untuk berbagai fungsi harus memenuhi kriteria komponen habitat sebagai syarat. Keberadaan pesaing dalam hal pemanfaatan sumber pakan atau sarang merupakan faktor yang mempengaruhi penggunaan suatu lokasi oleh M. javanica untuk berbagai fungsi habitat. Hal ini berarti
apabila terdapat kompetitor di suatu lokasi, M. javanica cenderung tidak akan
menggunakan lokasi tersebut sebagai habitatnya walaupun lokasi tersebut memiliki karakteristik habitat yang sesuai dengan kebutuhannya.
Trenggiling jawa di Indonesia dapat dijumpai sampai pada ketinggian 400 meter (m) di atas permukaan laut (dpl), walaupun spesimen yang terdapat di Natural History Museum, London berasal dari P. Lombok pada ketinggian 1.500 m dpl (Duckworth et al., 2008a). Satwa ini di P. Sumatera dan P. Jawa ditemukan hanya pada ketinggian sampai 400 m dpl (Nowak, 1999 dalam Boeadi, 2006 pers. comm).
Kajian daerah jelajah trenggiling jawa di Singapura dilakukan dengan perhitungan Minimum Convex Polygon, MCP dan Ranges software 7 (South et al., 2005) serta penggunaan kamera trap. Trenggiling jawa betina yang
Holohil Systems) seberat 21 gram pada sisik di bagian ekor dengan sekrup yang
dihubungkan dengan telemetry penerima portabel (Portable Telemetry Receiver)
(R-1000; Communications Specialist) dan H-antena (RA-2°; Telonics). Dengan
peralatan ini, dalam kurun waktu dari 8 September sampai 12 Desember 2005 trenggiling jawa dan anaknya menggunakan tiga lubang sarang pada waktu reproduksi, yakni lubang di bawah pohon yang masih hidup ataupun sudah mati berdiameter 54-104 cm dengan lubang masuk berdiameter 13-24 cm (Lim & Ng, 2008). Menurut Sopyan (2008), di Desa Katenong, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, lubang tidur trenggiling jawa berbentuk melingkar dengan ukuran diameter 15x25 cm atau 20x25 cm dengan panjang lubang sekitar 60-350 cm dan berjarak dengan sarang semut atau rayap sekitar 50-100 m. Kuswanda (2014) dan Kuswanda & Setyawati (2015) melaporkan bahwa lubang sarang trenggiling jawa di Suaka Margasatwa Siranggas, Sumatera Utara ditemukan pada permukaan tanah yang miring dan atau di bawah akar pohon, terdapat gundukan tanah atau serasah di dalam lubang, tidak ada gigitan pada batang atau akar tumbuhan di sekitar lubang, tanah di sekitar lubang bersih dan cenderung gembur serta di sekitarnya dijumpai sarang semut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Manshur et al., (2015) bahwa terdapat empat pertimbangan
pada trenggiling jawa dalam pemilihan habitat strategi, yaitu: (1) kelimpahan
sumber pakan dan spesifikasi jenis pakan, (2) strategi anti kompetisi, (3) strategi anti predator, dan (4) strategi termoregulasi. Strategi tersebut ditunjukkan dengan adanya pemilihan lokasi yang bertujuan meminimalkan ruang gerak, dan perilaku menghindarkan diri dari predator dan kompetitor.
Hasil pengamatan Takandjandji et al., (2011), jenis pohon yang digunakan
trenggiling Jawa di kawasan hutan TNGGP, Jawa Barat untuk membuat lubang adalah pohon yang berukuran cukup besar dengan diameter (Ø) >50 cm, memiliki tajuk yang lebar, perakaran kuat dan berbanir seperti jenis riung anak (Castanopsis javanica), saninten (Castanopsis argentea), walen (Ficus ribes),
kawoyang (Pygeum latifolium), rasamala (Altingia excelsa), pasang kayang
(Quercus induta), manglid (Manglitia glauca) ki jeruk (Acronychia laurifolia),
huru leur (Persea racemosa), puspa (Schima wallichii), hamerang (Ficus alba) dan
pasang batu (Lithocarpus indicus). Di bawah pohon yang besar tersebut umumnya
tidak dijumpai anakan pohon sehingga lantai hutan dipenuhi oleh serasah daun yang mengering. Menurut Sopyan (2008), jenis vegetasi yang dijumpai di hutan sekunder diantaranya pohon ficus, palem, bambu, pepakuan dan rotan. Lubang masuk yang dijumpai terdapat di bawah akar pohon sedangkan lubang keluar terletak pada dinding yang cukup terjal (Gambar 26). Kondisi ini sesuai dengan temuan Sopyan (2008), dimana trenggiling jawa ditemukan di daerah yang bertopografi berbukit dan curam, jarang di tempat yang datar.
Gambar 26. Liang masuk sarang trenggiling jawa di kawasan TNGGP
Berdasarkan hasil penelitian Manshur et al., (2015), M. javanica
menggunakan habitat dengan karakteristik khusus yang dikelompokkan menjadi enam ciri utama, yaitu: (1) kerapatan tutupan tajuk atas dengan kategori tinggi yang dicirikan dengan nilai kerapatan yang sangat tinggi pada tumbuhan tingkat tiang (498,67±150,14 individu/ha) dan jarang pada tumbuhan tingkat pohon (160,33±113,25 jenis/ha), (2) jumlah jenis tumbuhan yang digunakan sebagai sarang pakan dengan kategori cenderung jarang (5,13±1,41 individu/ ha), (3) keberadaan pakan yang sangat dekat di sekitar sarang (118,66±156,46
m), (4) kecenderungan habitat tidak terdapat kompetitor (426,86±366,25 m) maupun predator (2.492,90±1.484,24 m), (5) kelerengan lahan sangat curam
(72,23±17,93%), dan (6) tekstur tanah pada lokasi cenderung dikategorikan bertekstur lempung. Pemilihan tutupan tajuk atas dengan karakteristik tinggi bagi trenggiling jawa bertujuan untuk memperoleh kondisi optimum bagi
pertumbuhannya, yaitu memilih habitat yang memiliki sumberdaya pakan yang melimpah (Manshur et al., 2015) dan pada saat yang bersamaan memiliki
kondisi habitat yang mendukung trenggiling dalam menerapkan strategi anti
predatornya.
M. javanica diketahui memilih habitat pada lokasi yang memiliki
kelerengan curam hingga sangat curam (72%) sebagai strategi anti predator sehingga berkemampuan menggelinding hingga 3 m/detik dengan memanfaatkan kelerengan lahan sebagai bentuk strategi anti predator. Pemilihan habitat ini tidak terlepas dari kemampuan mobilitas Pholidota yang rendah (Lim & Ng, 2008) sehingga M. javanica memanfaatkan kelerengan lahan untuk meningkatkan
kecepatan berlari. Hal ini berarti M. javanica dapat menghindari predator
Pola pemilihan habitat pada trenggiling jawa memperhatikan aspek
termoregulasi dimana tekstur tanah memiliki kategori sedang dan tutupan tajuk atas dengan kategori tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Manshur
et al., (2015), fluktuasi suhu tubuh pada satwa dipengaruhi oleh intensitas
pergerakan dan kondisi lingkungan mikro, khususnya pada mamalia insectivorous
dengan tingkat basal metabolismenya rendah. Sarang trenggiling jawa pada umumnya ditemukan pada jenis tanah lempung yang bertekstur pasir dan liat dengan fluktuasi suhu dan kelembaban mikro pada kisaran normal. Terciptanya kondisi yang demikian didukung oleh jumlah pori-pori yang banyak sehingga daya presipitasinya cukup tinggi. Namun kandungan fraksi liat yang cukup banyak juga mempunyai kemampuan menyimpan air sehingga terjadi kesesuaian lingkungan di dalam sarang (Manshur et al., 2015; Bormann, 2012).
M. javanica cenderung menggunakan habitat dengan kerapatan tumbuhan
pohon jarang hingga sedang, namun kerapatan tumbuhan tingkat tiang termasuk tinggi. Kondisi ini menciptakan kestabilan suhu optimum bagi pertumbuhan satwa ini karena paparan lantai hutan akan menerima panas dan menyimpannya lebih lama sehingga memberikan keseimbangan energi terutama dalam proses termoregulasi serta berdampak pada ketersediaan pakan berupa serangga yang melimpah (Manshur et al.,
2015).
Populasi trenggiling di dunia secara keseluruhan mengalami kecenderungan penurunan yang diakibatkan oleh penebangan pohon sarang pada saat menangkap trenggiling jawa, seperti yang terjadi di Vietnam (Newton, 2008; Nguyen et al., 2008; Lim & Ng, 2008), namun perburuan dan perdagangan liar untuk
dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan obat tradisional memberikan andil penurunan sebesar ≤ 80% dalam jangka waktu 21 tahun terakhir atau tiga generasi (Challender et al., 2014). Pemulihan populasi trenggiling jawa juga mengalami
kendala karena kemampuan satwa ini dalam bereproduksi sangat lambat, sehingga tidak dapat mengembalikan populasi yang menurun secara drastis (Nowak, 1999; Newton et al., 2008; Pantel & Chin, 2008; Lim & Ng, 2008).
Estimasi populasi trenggiling jawa dilakukan dengan cara penelitian kepadatan, daerah jelajah serta liang yang masih digunakan ataupun liang yang tidak digunakan. Inventarisasi populasi trenggiling jawa hendaknya dilakukan pada waktu musim hujan karena pada saat itu satwa lebih aktif mencari makan dan jejak yang ditinggalkan dapat terlihat, selanjutnya dengan mempertimbangkan luasan daerah jelajah, pemanfaatan habitat serta menggunakan anjing pelacak yang terlatih akan diketahui keberadaannya (Nguyen et al., 2014).