• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANGKAPAN DAN PENGANGKUTAN

6.6 Teknik Pengangkutan

Teknik pengangkutan satwa, khususnya trenggiling jawa yang diperkenankan menggunakan alat transportasi udara, darat ataupun laut. Saat

ini, trenggiling jawa tercantum dalam Lampiran II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES). Hal ini berarti memberikan kuota nol untuk ekspor setiap tahun. Perdagangan satwa ini yang melintasi perbatasan internasional untuk tujuan penelitian membutuhkan ijin dari CITES. Informasi lebih lanjut tersedia dari http://www.cites.org/eng/ resources/transport/mm1.shtml. Hubungi CITES kantor di masing-masing

negara untuk informasi tentang transportasi dalam batas-batas negara. Persiapan dan pengangkutan trenggiling jawa disesuaikan dengan prosedur, jarak tempuh, bentuk wadah angkut dan waktu pengangkutan.

Sebuah wadah angkut harus cukup besar untuk trenggiling dewasa agar satwa dapat berbalik dan meringkuk, serta memberikan ruang untuk memberikan air dan pakan. Idealnya, dalam mengangkut trenggiling harus satu individu per

box (tidak termasuk induk atau bayi yang masih hidup bersama induk), seperti

Gambar 48. Apabila induk dan anak trenggiling atau induk trenggiling yang sedang bunting, diperlukan pemeriksaan kondisinya secara intensif selama dalam perjalanan. Wadah angkut yang digunakan berupa kotak kayu, kotak plastik dan pipa paralon yang cukup kuat menahan cakaran kuku yang tajam dan kuat.

Gambar 48. Kotak angkut trenggiling jawa

Kotak kayu terbuat dari kayu setebal 1 cm dan pastikan tidak ada kesenjangan antara kayu dan trenggiling karena bisa cakarnya akan merusakkan kotak tersebut. Kotak angkut harus memiliki dua pintu, satu kecil (10 x 10 cm) untuk dapat memeriksa satwa selama transportasi dan satu pintu besar untuk masuk/keluarnya serta penyediakan air dan pakan. Setiap pintu harus sangat aman dan digembok, namun kotak harus diberi beberapa lubang sebesar pensil di bagian atas dan samping, sebagai ventilasi udara selama pengangkutan. Selain itu, sebagai alas dianjurkan untuk menggunakan serasah daun, kertas robek, atau sejenis anyaman seperti karung goni, handuk atau kain lembut. Pengangkutan

dengan kotak kayu yang berisi satu individu dengan tempat makan dan air minum dapat digunakan untuk jarak jauh. Penggunaan kapal laut ataupun pesawat terbang harus disertai dengan dokumentasi dan label yang memadai seperti pernyataan keadaan satwa, arah peletakan kotak kayu, faktor suhu yang disyaratkan, intruksi kebutuhan pakan, air dan waktu pemberian pakan. Pemeriksaan kondisi dan kesehatan trenggiling jawa hendaknya dilakukan secara rutin selama dalam perjalanan (Nguyen et al., 2014).

Lembaga konservasi, UD. Multi Jaya Abadi dan PT. Hexa Putra Bahari di Sumatera Utara memiliki kotak angkut trenggiling yang berbeda, berupa kotak plastik dan paralon yang dimodifikasi. Dalam satu plastik angkut dapat digunakan untuk 2-3 individu, sedangkan paralon hanya untuk satu individu. Kotak plastik ataupun paralon diberi beberapa lubang udara pada Gambar 49 di bawah ini.

selama transportasi dan satu pintu besar untuk masuk/keluarnya serta penyediakan air dan pakan. Setiap pintu harus sangat aman dan digembok, namun kotak harus diberi beberapa lubang sebesar pensil di bagian atas dan samping, sebagai ventilasi udara selama pengangkutan. Selain itu, sebagai alas dianjurkan untuk menggunakan serasah daun, kertas robek, atau sejenis anyaman seperti karung goni, handuk atau kain lembut. Pengangkutan dengan kotak kayu yang berisi satu individu dengan tempat makan dan air minum dapat digunakan untuk jarak jauh. Penggunaan kapal laut ataupun pesawat terbang harus disertai dengan dokumentasi dan label yang memadai seperti pernyataan keadaan satwa, arah peletakan kotak kayu, faktor suhu yang disyaratkan, intruksi kebutuhan pakan, air dan waktu pemberian pakan. Pemeriksaan kondisi dan kesehatan trenggiling jawa hendaknya dilakukan secara rutin selama dalam perjalanan (Nguyen et

al., 2014).

Lembaga konservasi, UD. Multi Jaya Abadi dan PT. Hexa Putra Bahari di Sumatera Utara memiliki kotak angkut trenggiling yang berbeda, berupa kotak plastik dan paralon yang dimodifikasi. Dalam satu plastik angkut dapat digunakan untuk 2-3 individu, sedangkan paralon hanya untuk satu individu. Kotak plastik ataupun paralon diberi beberapa lubang udara pada Gambar 50 di bawah ini.

  Gambar 50. Wadah angkut trenggiling jawa di Sumatera Utara

Pengangkutan dengan plastik angkut dapat dilakukan untuk jarak sedang menggunakan mobil bak atau menggunakan pesawat terbang. Di dalam plastik angkut dapat juga digunakan alas berupa serasah daun, kertas robek, dan sejenis bahan anyaman lainnya. Di dalam plastik angkut ditempatkan pakan beku dalam mangkuk yang besar dan cukup berat sehingga tidak mudah tumpah atau terguling selama pengangkutan. Pemberian air minum dilakukan saat istirahat, demikian juga untuk menghindari dehidrasi dilakukan penyiraman dengan air. Pengangkutan beberapa trenggiling jawa betina dilakukan dalam satu plastik angkut, sedangkan trenggiling jawa jantan hendaknya dipisahkan. Pemeriksaan kondisi dan kesehatan dilakukan secara rutin

Gambar 49. Wadah angkut trenggiling jawa di Sumatera Utara

Pengangkutan dengan plastik angkut dapat dilakukan untuk jarak sedang menggunakan mobil bak atau menggunakan pesawat terbang. Di dalam plastik angkut dapat juga digunakan alas berupa serasah daun, kertas robek, dan sejenis bahan anyaman lainnya. Di dalam plastik angkut ditempatkan pakan beku dalam mangkuk yang besar dan cukup berat sehingga tidak mudah tumpah atau terguling selama pengangkutan. Pemberian air minum dilakukan saat istirahat, demikian juga untuk menghindari dehidrasi dilakukan penyiraman dengan air. Pengangkutan beberapa trenggiling jawa betina dilakukan dalam satu plastik angkut, sedangkan trenggiling jawa jantan hendaknya dipisahkan. Pemeriksaan kondisi dan kesehatan dilakukan secara rutin selama dalam perjalanan. Apabila memungkinkan waktu perjalanan dilakukan pada malam hari, namun apabila tidak memungkinkan gunakan alat angkut yang ber ac agar terjaga suhu badan satwa.

103 Konservasi Trenggiling Jawa (Manis Javanica Desmarets, 1822)

Wadah paralon dapat digunakan untuk mengangkut trenggiling jarak pendek dengan menggunakan mobil bak tertutup, karena wadah ini tidak memungkinkan untuk menyimpan tempat makan. Trenggiling yang akan diangkut hendaknya telah diberikan makan terlebih dahulu, dan waktu pengangkutan yang terbaik adalah malam hari.

Bab 7