• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANGKARAN TRENGGILING JAWA

5.4 Perawatan Kesehatan dan Penyakit

Penyakit yang sering diderita oleh trenggiling jawa di penangkaran adalah caplak, diare, flu dan luka akibat gesekan dengan kawat saat memanjat, dan infeksi saluran pencernaan. Penyakit tersebut tidak mengenal batas umur trenggiling (Rianti et al., 2016ain press). Hasil identifikasi di Laboratorium Acarologi LIPI,

jenis caplak yang terdapat di trenggiling jawa adalah Amblyomma javanense,

Supino 1897 dari Family Ixodidae dan Rhipicephalus sanguineus Latreille, 1806

(Gambar 36).

Caplak (kutu babi) dalam bentuk kutu dewasa, nimpha dan larva terdapat di bawah sisik dan akan menyedot darah trenggiling jawa serta menimbukan efek gatal di sekujur tubuh sehingga nafsu makan trenggiling berkurang. Kutu atau caplak yang termasuk ektoparasit perlu dibasmi karena akan mengisap darah dengan merusak pembuluh darah terkecil (kapiler) sehingga akan menimbulkan

alergi dan gatal-gatal pada kulit (Kendal, 2008).

pembuluh darah terkecil (kapiler) sehingga akan menimbulkan alergi dan gatal-gatal pada kulit (Kendal, 2008).

Gambar 36. Caplak Amblyomma j. (a, b, c) dan Rhipicephalus s. (d) yang menyerang kulit trenggiling jawa

Rianti et al., (2016a in press) menyatakan bahwa dari 45 individu trenggiling di Medan, 68,80% diantaranya terkena infeksi caplak dan jantan lebih tinggi (88,90%) dibandingkan dengan betina (42.90%). Sementara itu, secara signifikan tercatat bahwa anak-anak trenggiling jawa 100% terinfeksi caplak dibandingkan dewasa (63,60%). Sebagai ektoparasit, caplak bersifat haematophagus atau penghisap darah dan dapat menjadi patogen zoonosis pada hewan dan manusia (Jongejan & Uilenberg, 2004). Adanya kelisera (alat sengat) dan hipostom (gigi), caplak dapat melekat kuat pada inangnya sehingga sulit dihilangkan (Sumantri, 2007). Serangan caplak pada trenggiling jawa membahayakan karena menjadi parasit yang menggigit kulit, menghisap darah hingga getah bening di bagian perut. Kondisi tubuh trenggiling yang terserang caplak, harus dibersihkan dengan mengambilnya secara manual atau diberikan antibiotik. Caplak terbanyak ditemukan atau tersebar di luar areal kandang atau dengan kata lain caplak memiliki daya hidup (survival) yang cukup tinggi sampai menemukan inang baru serta mampu beradaptasi dengan lingkungan melalui cara hidupnya yang berkelompok dan diam. Isapan darah oleh kutu tersebut dapat menyebabkan anemia, bobot badan dan nafsu makan menurun, serta berpengaruh terhadap pergerakan (Yang et al., 2007). Untuk mengobati infeksi penyakit ini, dapat digunakan doksisiklin (senyawa turunan

tetrasiklin), atau amoksisilin (antibiotik beta-laktam). Apabila penyakit telah memasuki

fase kronis, dapat digunakan penisilin atau ceftriaxone dalam dosis tinggi yang disertai dengan probenicid, senyawa kimia yang dapat mempertahankan serum antibiotik di dalam tubuh (Ahmad, 2015).

Menurut Nguyen et al., (2014), trenggiling yang baru tiba dari alam umumnya membawa parasit eksternal berupa kutu atau caplak. Kondisi ini ditemukan pada trenggiling sitaan yang dititipkan di lembaga konservasi, sehingga kutu atau caplak yang ada di bawah sisik trenggiling harus segera dihilangkan karena akan menyebabkan iritasi. Kutu atau caplak pada trenggiling yang diidentifikasi sebagai Ambylomma javanensis dapat dihilangkan dengan perlakuan, sebagai berikut:

A B

c d

b a

Gambar 36. Caplak Amblyomma j. (a, b, c) dan Rhipicephalus s. (d) yang menyerang

kulit trenggiling jawa

Rianti et al., (2016a in press) menyatakan bahwa dari 45 individu

trenggiling di Medan, 68,80% diantaranya terkena infeksi caplak dan jantan lebih tinggi (88,90%) dibandingkan dengan betina (42.90%). Sementara itu, secara signifikan tercatat bahwa anak-anak trenggiling jawa 100% terinfeksi caplak dibandingkan dewasa (63,60%). Sebagai ektoparasit, caplak bersifat

haematophagus atau penghisap darah dan dapat menjadi patogen zoonosis

pada hewan dan manusia (Jongejan & Uilenberg, 2004). Adanya kelisera (alat

sengat) dan hipostom (gigi), caplak dapat melekat kuat pada inangnya sehingga

sulit dihilangkan (Sumantri, 2007). Serangan caplak pada trenggiling jawa membahayakan karena menjadi parasit yang menggigit kulit, menghisap darah hingga getah bening di bagian perut. Kondisi tubuh trenggiling yang terserang caplak, harus dibersihkan dengan mengambilnya secara manual atau diberikan antibiotik. Caplak terbanyak ditemukan atau tersebar di luar areal kandang atau dengan kata lain caplak memiliki daya hidup (survival) yang cukup tinggi

sampai menemukan inang baru serta mampu beradaptasi dengan lingkungan melalui cara hidupnya yang berkelompok dan diam. Isapan darah oleh kutu tersebut dapat menyebabkan anemia, bobot badan dan nafsu makan menurun, serta berpengaruh terhadap pergerakan (Yang et al., 2007). Untuk mengobati

infeksi penyakit ini, dapat digunakan doksisiklin (senyawa turunan tetrasiklin),

atau amoksisilin (antibiotik beta-laktam). Apabila penyakit telah memasuki fase

kronis, dapat digunakan penisilin atau ceftriaxone dalam dosis tinggi yang disertai

dengan probenicid, senyawa kimia yang dapat mempertahankan serum antibiotik

di dalam tubuh (Ahmad, 2015).

Menurut Nguyen et al., (2014), trenggiling yang baru tiba dari alam

umumnya membawa parasit eksternal berupa kutu atau caplak. Kondisi ini ditemukan pada trenggiling sitaan yang dititipkan di lembaga konservasi, sehingga kutu atau caplak yang ada di bawah sisik trenggiling harus segera dihilangkan karena akan menyebabkan iritasi. Kutu atau caplak pada trenggiling yang diidentifikasi sebagai Ambylomma javanensis dapat dihilangkan dengan

perlakuan, sebagai berikut:

1. Pegang kulit tubuh dengan menggunakan forceps

2. Dengan lembut memutar dan menarik kutu atau caplak pada saat yang sama 3. Periksa kutu tersebut, dimana tubuh atau bagian perutnya bulat, dengan

kepala dan kaki yang kecil

4. Simpan kutu dalam botol kecil dengan sekrup atas tutup, diisi dengan 70% Etanol. Label botol dengan informasi sebanyak mungkin, termasuk tanggal, jenis trenggiling, asal hewan, dan status kesehatan saat tiba di penangkaran 5. Gigitan bekas kutu diolesi alkohol untuk mensterilkan lukanya.

Flu yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri sering terjadi pada trenggiling jawa dengan gejala pilek dan bersin-bersin yang dapat berlangsung cukup lama dan mudah sekali menular kepada trenggiling jawa lainnya. Penyakit ini jarang menyebabkan kematian pada trenggiling jawa tetapi dapat berakibat fatal apabila menyerang anak trenggiling. Oleh karena itu pencegahan dengan vaksinasi rutin merupakan tindakan terbaik. Penyakit ini dapat menyebar melalui air liur, cairan bersin/droplet yang mengandung virus, kontak langsung atau tidak

tidak langsung dapat terjadi melalui sentuhan manusia. Oleh karena itu, perlu mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik setelah memegang trenggiling jawa yang sakit agar tidak menulari trenggiling lainnya. Namun hingga saat ini belum ada obat untuk flu trenggiling jawa sehingga apabila gejala penyakit ini terjadi pada trenggiling, maka perlu dibawa ke dokter hewan. Trenggiling jawa yang terinfeksi oleh virus sebaiknya dipisahkan dari trenggiling yang lain, dikurangi rasa stresnya, dan kandang sebaiknya memiliki sirkulasi udara yang cukup. Pemberian obat-obatan seperti antibiotik lebih bersifat mencegah infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri. Obat-obat lain yang diberikan biasanya bertujuan untuk mengurangi gejala flu dan selebihnya sangat tergantung pada sistem kekebalan tubuh trenggiling jawa.

Penggunaan kawat pada dinding dan atap perlu diwaspadai karena trenggiling jawa suka mengendus-endus menggunakan moncong dan hidung yang dimasukkan ke dalam lubang kawat, serta cakarnya untuk memanjat sehingga dapat menyebabkan luka yang sangat sulit disembuhkan. Di samping itu, luka juga dapat diakibatkan saat penangkapan yang menggunakan jerat atau senar. Infeksi akibat luka tersebut dapat mengakibatkan bakteri, virus ataupun jamur sehingga bernanah dan berbau serta mengganggu kesehatan trenggiling. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan memberikan gentian violet yang dioleskan pada bagian tubuh yang luka, atau membersihkan bagian

yang luka dengan alkohol kemudian mengoleskan dengan betadine. Di Night Safari, Singapura, trenggiling Jawa terluka karena menggosokkan bagian tubuh yang lunak seperti pipi dan hidungnya di kandang atau kawat. Trenggiling yang terluka diberi serbuk Bacitrin dan Neomycin secara berulang-ulang atau

semprotan Zymox® (Vijayan et al., 2008).

Analisis endoparasit dilakukan untuk mengetahui adanya kandungan telur cacing nematoda dan ookista koksidia cacing pada tubuh trenggiling melalui analisis feces di laboratorium melalui pengapungan, jika terbukti terdapat parasit

gastrointestinal, trenggiling diberi pengobatan dan tetap berada di karantina

sampai hasil analisis feces melalui tes pengapungan negatif. Menurut Takandjandji et al., (2011), analisis endoparasit dapat dilakukan di Laboratorium Helmintologi

IPB menggunakan metode Mc Master, filtrasi-sedimentasi, dan pengapungan untuk mengetahui adanya cacing atau tidak pada tubuh trenggiling jawa.

Hasil analisis menunjukkan trenggiling jawa di penangkaran UD. Multi Jaya Abadi tidak ditemukan telur cacing (Rianti et al., 2016ain press). Hal ini

karena pakan yang diberikan dan lingkungan kandang cukup bersih. Cacingan sering dianggap penyakit yang ringan, padahal penyebab kematian terbesar pada satwa yang dipelihara oleh manusia diakibatkan penyakit cacing. Stres dapat meningkatkan jumlah infeksi cacing dalam tubuh sehingga sangat memudahkan bagi parasit untuk menular ke trenggiling lainnya. Diare, badan kurus,

kekurangan cairan (dehidrasi), anemia, dan badan lemas merupakan gejala awal yang ditimbulkan oleh adanya infeksi cacing. Namun apabila penyakit cacing tidak segera diobati maka akan menyebabkan kematian. Untuk menghindari cacing tersebut, trenggiling di penangkaran secara regular diberi obat cacing

Albendazole setiap tiga bulan.

Infeksi saluran pencernaan dalam bentuk diare, ditandai dengan kotorannya yang berwarna keputih-putihan seperti kapur atau pada unggas disebut pullorum (BWD = Bacilary White Diarrhea) yang disebabkan oleh

bakteri Salmonella pullorum dapat menular bahkan menimbulkan mortalitas

yang sangat tinggi (Anonimous, 2009). Kondisi ini kemungkinan terjadi karena tertular oleh unggas (ayam, menthok, maupun angsa) yang terdapat di sekitar penangkaran. Gejala klinis yang terlihat adalah nafsu makan menurun, frekuensi pengeluaran feces (kotoran) berwarna putih seperti kapur, dan badan menjadi lemas. Pengobatan berak kapur dapat dilakukan dengan suntikan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas oleh dokter

hewan. Menurut Clark & Nguyen (2008), penyakit infeksi saluran pencernaan yang menyerang trenggiling juga disebabkan coccidiosis, dimana coccidia adalah spesifik inang parasit protozoa yang menular antar satwa. Gejala yang ditunjukkan hampir sama dengan penyakit saluran pencernaan seperti diare, demam, berat badan menurun, tidak mau makan, dan terkadang sampai kematian. Coccidiosis

disebabkan kondisi yang berdesak-desakan waktu transportasi dengan sanitasi yang kotor dan pakan yang kurang (Kahn, 2008).

Menurut Novriyanti (2011), beberapa tindakan manajemen perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit yang dilakukan di penangkaran trenggiling jawa di UD Multi Jaya Abadi, diantaranya adalah:

1. Pemeriksaan kondisi dan kebersihan tubuh trengiling jawa secara rutin, melihat tanda-tanda atau gejala kelainan pada fisiknya seperti perubahan warna pada moncong, pengeluaran air liur yang berlebihan, pengukuran suhu tubuh, serta membersihkan, memandikan, dan menggosok-gosok bagian sisik menggunakan sikat pakaian yang halus.

2. Pengelolaan sanitasi kandang, fasilitas penunjang dan lingkungan sekitar kandang, dilakukan secara rutin dan teratur setiap hari dengan cara menyemprotkan air untuk membersihkan kandang dari sisa-sisa makanan dan kotoran yang terdapat di lantai ataupun di baskom tempat minum atau tempat mandi.

3. Penyediaan pakan yang tepat dan sesuai dengan kualitas dan kuantitas serta habit trenggiling jawa yang memenuhi syarat kesehatan dan kebutuhan hidup dan produktivitas.

Petugas atau keeper satwa trenggiling jawa di CPCP, Vietnam setiap hari

dipindahkan ke kandang karantina untuk pengobatan selanjutnya (Nguyen, et al., 2014). Petugas selalu memeriksa tempat makannya setiap pagi, memantau

jumlah makanan yang tersisa, mengamati perilaku selama makan dan setiap tanda-tanda umum dari sakit (luka, gerakan abnormal, atau penurunan bobot badan). Feces harus dipantau setiap hari dan apabila terdapat kelainan pada feces, penjaga harus bisa menggambarkan dan melaporkan.

Pemeriksaan fisik pada trenggiling dilakukan selama masa karantina saat baru tiba di lembaga konservasi, dan apabila terdapat tanda-tanda sakit. Petugas yang bertugas memeriksa fisik trenggiling sebanyak satu orang, satu orang sebagai penangkap trenggiling, dan seorang lagi untuk melakukan penilaian kesehatan visual. Hal ini karena tidak mungkin untuk meluruskan seekor trenggiling dewasa yang telah meringkuk menjadi bola. Kesabaran dan penanganan lembut sangat diperlukan sehingga trenggiling akan meluruskan badannya dengan sendiri. Setelah trenggiling tergulung, pegang dengan lembut ekornya lalu mengangkat sehingga lengan atau kaki depan menyentuh tanah. Pastikan bahwa Anda memiliki banyak ruang dan daerah ini bebas dari benda-benda karena trenggiling secara alami akan menjangkau apa yg ada di dekatnya. Jika trenggiling sangat aktif, anestesi mungkin diperlukan tetapi dibawah pengawasan dokter hewan.

Secara khusus di penangkaran trenggiling Jawa di CPCP Vietnam, yang perlu dicatat selama pemeriksaan fisik atau penilaian kesehatan yakni:

1. Jenis kelamin 2. Morfometrik

3. Suhu tubuh (suhu tubuh normal adalah 33 - 350C)

4. Score kondisi tubuh (score kondisi tubuh mulai dari angka 5 ke bawah)

5. Bobot badan (penurunan bobot badan yang cepat dapat menyebabkan kematian sehingga kondisi tubuh dan bobot badan sangat penting)

6. Tingkat pernapasan (tingkat pernapasan normal 60-100 kali per menit dan respirasi trenggiling sehat diukur saat tidur lebih dalam dan jauh lebih lambat yakni 12 - 16 napas per menit)

7. Denyut jantung (sangat sulit untuk mendapatkan denyut jantung akurat dalam trenggiling, karena suara hati yang teredam oleh suara yang dihasilkan selama mengendus, selin itu trenggiling selalu mencoba untuk meringkuk, dan HR terjaga mulai 80-200 denyut per menit)

8. Perilaku trenggiling jawa perlu diwaspadai untuk mengetahui kesehatan dan responnya terhadap lingkungan baru. Apabila stres, satwa ini dengan cepat menggulung menjadi bola dan sangat ketat. Kondisi kesehatan trenggiling jawa yang buruk akan terlihat dari respon yang lambat terhadap sentuhan manusia dan lingkungannya. Trenggiling yang sakit, sering tidur dalam posisi yang sedikit tergulung dan akan terjadi sedikit perlawanan apabila ada upaya untuk meluruskan trenggiling

9. Lesi eksternal yaitu keadaan jaringan yang abnormal pada tubuh trenggiling

karena proses beberapa penyakit seperti trauma fisik, kimiawi, elektris, infeksi, masalah metabolisme. Periksa untuk setiap trauma eksternal, termasuk luka bekas perangkap jerat dan luka gigitan anjing pada trenggiling yang baru tiba dari alam. Banyak hasil sitaan perdagangan ilegal trenggiling jawa yang dititipkan di CPCP yang mengalami dermatitis atau peradangan pada kulit dan lembab di bawah sisik akibat kebersihan yang kurang baik.

10. Pemeriksaan mata untuk mengetahui tanda-tanda peradangan. Ulserasi kornea telah terlihat pada trenggiling sitaan akibat trauma sesuatu atau terkena benturan benda tajam. Catatan, di sekitar mata trenggiling sering terlihat basah seperti mengeluarkan air mata yang cenderung banyak dan ini normal.

11. Pemeriksaan hidung untuk menemukan adanya sekret dari hidung atau tidak 12. Kondisi feces harus sering diperiksa apakah ada telur parasit, larva atau cacing dewasa. Pemeriksaan harus dilakukan setidaknya setiap tahun untuk trenggiling di penangkaran. Sampel feces harus segera diperiksa menggunakan larutan 33% Zinc Sulphate sebagai solusi mengambang feces

dan kontainer Fecalyzer® (EVSCO Farmasi, Buena, NJ). Kedua pengolahan sampel dan parasit identifikasi mengikuti teknik yang dijelaskan oleh Zajac & Conboy (2006) untuk mengetahui adanya parasitisme gastrointestinal.

Jika ada bukti cacing gastrointestinal, trenggiling tersebut disuntik dengan

subkutan Ivermectin 10 mg/ml (Ivomec® 1% Injection untuk Sapi dan Babi)

dengan dosis 200 – 400 μg/kg bobot badan. Untuk pencegahan, feces dianalisis setiap satu minggu, dan trenggiling diobati. Apabila terdapat ookista koksidia dalam feces, trenggiling diberi secara oral dengan Toltrazuril (Baycox 2,5%, Bayer Healthcare AG) pada tingkat dosis 5mg/kg, sekali sehari

selama tiga hari (Zajac & Conboy, 2006). Pengapungan feces kemudian diulang, dan pengobatan dilanjutkan sampai tes pengapungan feces negatif.

Ulserasi mukosa mulut, esofagus dan lambung adalah tanda yang paling umum

terlihat pada saat dilakukan nekropsi pada trenggiling jawa di CPCP (Chin et al., 2003),

penyebabnya tidak diketahui pasti, namun stres memainkan peran penting. Identifikasi

histopatologimembuktikan bahwa penyebab infeksi tidak ditemukan. Pengobatan

profilaksis(untuk menjaga atau mencegah), diberikan obat lambung dan antibiosis

profilaksis dimulai segera setelah trenggiling mulai menunjukkan tanda-tanda sakit. Di

CPCP, trenggiling yang masih makan, obat lambung oral dicampurkan dengan semut beku ke dalam mangkuk kecil dan apabila trenggiling tidak mau makan, obat diberikan langsung ke mulut menggunakan jarum suntik. Jenis obat-obat tersebut adalah: 1. Ranitidine HCL (Zantac Syrup, GlaxoSmithKline UK) 3.5mg/kg 2 x sehari,

diberikan secara oral (dapat diberikan selama diperlukan)

2. Sukralfat (Antepsin*Suspension, Chugai Pharma Uk Ltd), 0.5ml 2 x sehari,

3. Profilaksis antibiosis menggunakan Amoksisilin/asam klavulanat, 8,75 mg/

kg subkutan 1 x sehari selama 7 hari.

Ulserasi kornea (Gambar 37) dapat dapat diketahui dengan menggunakan pewarna flouroscene dan lampu UV. Pengobatan topikal (superficial ulserasi kornea) pada trenggiling jawa di CPCP, menggunakan aplikasi topikal (5 x

per hari ) dari antibakteri non-steroid krim mata. Ulkus ini menggunakan

flouroscene, dan menggunakan topikal, nonsteroid, antibakteri salep mata (3 x

sehari selama 10 hari). Setiap kasus harus diamati secara individual dan intervensi bedah dapat dilakukan namun harus di bawah pengawasan dokter hewan yang berpengalaman.

Gambar 37. Kornea ulserasi pada trenggiling remaja sitaan

Dermatitis lembab sering terdapat di bawah sisik dan hal ini mayoritas pada trenggiling sitaan hasil perdagangan ilegal yang diangkut dengan wadah yang tidak memadai sehingga keadaan trenggiling yang meringkuk di dalam tas sempit, tidak dapat bergerak dan bercampur dengan kotorannya. Pengobatan topikal dilakukan pada daerah yang terkena dermatitis, dibersihkan setiap hari dengan cairan chlorhexidine dalam air menggunakan jarum suntik untuk

menyemprotnya, selain itu gunakan kapas untuk menghilangkan kotoran dan bahan nekrotik dengan larutan encer iodium kemudian syringed produk hidrokoloid(Nguyen et al., 2014) DuoDERM® hydroactive Paste (Convatec Inc),

diterapkan secara topikal telah ditemukan untuk kecepatan proses penyembuhan. Antibiosis dilakukan dengan Amoksisilin/asam klavulanat, 8,75 mg/kg subkutan

sekali hari selama tujuh hari. Sebagian besar trenggiling jawa di penangkaran terlihat mulai ada perubahan dan luka di bawah sisik umumnya sembuh dalam waktu 7-10 hari.

Luka trauma terkait dengan perburuan dan perdagangan illegal terutama luka karena bekas gigitan anjing dan jerat perangkap yang sering terlihat pada

trenggiling yang baru tiba di CPCP, Vietnam. Pengobatan dilakukan secara topikal dan antibiosis. Pengobatan topikal dilakukan di daerah luka dengan

cara pembersihan setiap hari menggunakan cairan chlorhexidine dalam air

(menggunakan jarum suntik untuk menyiram daerah luka, dan kapas untuk menghilangkan kotoran dan bahan nekrotik). Produk hidrokoloid canggih, seperti DuoDERM® hydroactive Paste (Convatec Inc) dan SoloSite*Gel (Smith

& Nephew), dioleskan pada bagian yang terluka untuk mempercepat proses penyembuhan luka (Gambar 38). Luka jerat bekas perangkap pada anggota badan dan daerah yang terluka harus dibalut atau diperban setiap pagi, usahakan bagian yang terluka tidak lembab dan selalu bersih sampai trenggiling menjadi aktif di malam hari. Luka bekas jeratan yang dilakukan pemburu, umumnya akan sembuh setelah 1 bulan kemudian. Gunakan bahan pembalut yang dapat menyembuhkan luka. Pengobatan antibiosis yakni dengan menggunakan

Amoksisilin/asam klavulanat 8,75 mg/kg subkutan 1 x sehari selama 7 - 10 hari.

hidrokoloid canggih, seperti DuoDERM® hydroactive Paste (Convatec Inc) dan

SoloSite*Gel (Smith & Nephew), dioleskan pada bagian yang terluka untuk mempercepat

proses penyembuhan luka (Gambar 39). Luka jerat bekas perangkap pada anggota badan dan daerah yang terluka harus dibalut atau diperban setiap pagi, usahakan bagian yang terluka tidak lembab dan selalu bersih sampai trenggiling menjadi aktif di malam hari. Luka bekas jeratan yang dilakukan pemburu, umumnya akan sembuh setelah 1 bulan kemudian. Gunakan bahan pembalut yang dapat menyembuhkan luka. Pengobatan antibiosis yakni dengan menggunakan Amoksisilin/asam klavulanat 8,75 mg/kg subkutan 1 x sehari selama 7 - 10 hari.

Gambar 39. Luka bekas jeratan pemburu yang mulai sembuh

Masa karantina pada trenggiling yang baru tiba di lembaga konservasi umumnya berlangsung selama 30 hari, tetapi dapat diperpanjang jika ada tanda-tanda penyakit atau jika trenggiling masih memerlukan pengobatan medis. Penanganan dapat dilakukan secara cepat pada trenggiling yang baru tiba di penangkaran yakni dengan mengamati kondisi kesehatan dan berat badannya. Pemeriksaan yang lebih teliti dilakukan secepat mungkin segera setelah tiba, namun trenggiling liar cenderung takut dengan manusia, dan akan cepat meringkuk menjadi bola apabila disentuh. Kesabaran dan penanganan lembut diperlukan, namun anestesi atau pembiusan diperlukan apabila kondisi trenggiling membutuhkan pembedahan.

Anestesi inhalasi (pemberian obat dalam bentuk uap langsung ke hidung dan

paru-paru menggunakan alat nebulizer) merupakan hal yang aman dan efektif pada trenggiling di penangkaran (Nguyen et al., 2014). Dengan demikian trenggiling dengan mudah dapat ditempatkan ke dalam kotak induksi, yang memungkinkan induksi anestesi menggunakan 5% Isoflurane, dicampur dengan oksigen pada tingkat aliran 100 ml/kg. Satwa ini dapat menggunakan Isoflurane (~ 2%), namun konsentrasi isoflurane (suatu obat anestesi volatile yang induksinya cepat dan pemulihannya cepat, tidak iritasi dan

Gambar 38. Luka bekas jeratan pemburu yang mulai sembuh

Masa karantina pada trenggiling yang baru tiba di lembaga konservasi umumnya berlangsung selama 30 hari, tetapi dapat diperpanjang jika ada tanda-tanda penyakit atau jika trenggiling masih memerlukan pengobatan medis. Penanganan dapat dilakukan secara cepat pada trenggiling yang baru tiba di penangkaran yakni dengan mengamati kondisi kesehatan dan berat badannya. Pemeriksaan yang lebih teliti dilakukan secepat mungkin segera setelah tiba, namun trenggiling liar cenderung takut dengan manusia, dan akan cepat meringkuk menjadi bola apabila disentuh. Kesabaran dan penanganan lembut diperlukan, namun anestesi atau pembiusan diperlukan apabila kondisi trenggiling membutuhkan pembedahan.

Anestesi inhalasi (pemberian obat dalam bentuk uap langsung ke hidung

dan paru-paru menggunakan alat nebulizer) merupakan hal yang aman dan

85 Konservasi Trenggiling Jawa (Manis Javanica Desmarets, 1822)

efektif pada trenggiling di penangkaran (Nguyen et al., 2014). Dengan demikian trenggiling dengan mudah dapat ditempatkan ke dalam kotak induksi, yang memungkinkan induksi anestesi menggunakan 5% Isoflurane, dicampur dengan oksigen pada tingkat aliran 100 ml/kg. Satwa ini dapat menggunakan Isoflurane (~ 2%), namun konsentrasi isoflurane (suatu obat anestesi volatile yang induksinya cepat dan pemulihannya cepat, tidak iritasi dan tidak menimbulkan