PENGELOLAAN TRENGGILING JAWA
8.8 Pelepasliaran Trenggiling Jawa Hasil Sitaan
Trenggiling jawa sitaan yang masih hidup pada saat pengiriman dalam kotak plastik (Gambar 66). Pada umumnya, kondisi badannya tertutup oleh kotoran dan urinenya yang mengakibatkan timbulnya bakteri dermatitis, pencernaan (gastric/ oesophageal ulcerations) dan ektoparasit sehingga umumnya mengalami stres psichologi
dan kekurangan makanan (malnutrition), dan kondisinya tidak sehat (Clark & Nguyen, et al., 2008).Setiba di Vietnam, penjualan satwa ini berdasarkan bobot badannya sehingga di lakukan injeksi campuran antara tepung jagung dan air atau cairan lainnya pada kulitnya. Akibat penangkapan di alam, transportasi dan perdagangan, satwa ini juga mengalami luka yang dapat menyebabkan infeksi dan fatal septicaemia (Clark &
Nguyen et al., 2008).Di Vietnam dikembangkan proyek pelepasliaran melalui program
The Carnivore and Pangolin Conservation Program (CPCP) (Wildlife Alliance, 2008),
dimana protokol pelaksanaan pelepasliaran trenggiling jawa hasil sitaan dilakukan di pusat penyelamatan dan rehabilitasi melalui 3 kegiatan yaitu pemeriksaan kesehatan, keragaman genetik, dan penilaian habitat pelepasliaran.
pusat penyelamatan dan rehabilitasi melalui 3 kegiatan yaitu pemeriksaan kesehatan, keragaman genetik, dan penilaian habitat pelepasliaran.
Gambar 66. Trenggiling jawa sitaan dalam kotak plastik (Gorman, 2012)
a. Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan pada trenggiling yang dilakukan, antara lain pengecekan kesehatan badan trenggiling untuk melihat adanya luka; pengecekan kotoran untuk mengetahui kandungan parasit dalam usus; analisis biochemicel dan darah (hemotological) untuk memonitor tingkat stres, respon immune, dan fungsi organ; pemeriksaan physik trenggiling untuk mencatat morfometrik tubuh.
Pengukuran bagian-bagian tubuh (morfometrik) diantaranya adalah panjang total, panjang badan, panjang ekor, panjang kepala, panjang kaki depan dan belakang, panjang telapak kaki, lingkar kepala, lingkar badan, lingkar ekor, dan bobot badan trenggiling. Bobot badan merupakan ukuran tubuh trenggiling yang ditimbang menggunakan timbangan gantung atau pegas, seperti pada Gambar 68 dan dinyatakan dalam gram atau kilogram. Beberapa cara menimbang trenggiling, yakni: timbang trenggiling di dalam kantung kain yang sebelumnya sudah ditimbang terlebih dahulu, kemudian menimbang trenggiling dalam kantung kain; namun apabila satwa tersebut meringkuk atau tidak aktif, tempatkan dalam ember plastik atau mangkuk atau tas kemudian timbang dengan menggunakan timbangan duduk; apabila satwa tersebut benar-benar aktif, masukkan ke dalam tas kemudian menggunakan timbangan gantung atau timbangan pegas.
Gambar 67. Penimbangan bobot badan trenggiling jawa menggunakan timbangan gantung atau pegas dalam kantong
Gambar 66. Trenggiling jawa sitaan dalam kotak plastik (Gorman, 2012)
143 Konservasi Trenggiling Jawa (Manis Javanica Desmarets, 1822)
8.8.1 Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan kesehatan pada trenggiling yang dilakukan, antara lain pengecekan kesehatan badan trenggiling untuk melihat adanya luka; pengecekan kotoran untuk mengetahui kandungan parasit dalam usus; analisis biochemicel
dan darah (hemotological) untuk memonitor tingkat stres, respon immune,
dan fungsi organ; pemeriksaan physik trenggiling untuk mencatat morfometrik tubuh.
Pengukuran bagian-bagian tubuh (morfometrik) diantaranya adalah panjang total, panjang badan, panjang ekor, panjang kepala, panjang kaki depan dan belakang, panjang telapak kaki, lingkar kepala, lingkar badan, lingkar ekor, dan bobot badan trenggiling. Bobot badan merupakan ukuran tubuh trenggiling yang ditimbang menggunakan timbangan gantung atau pegas, seperti pada Gambar 67 dan dinyatakan dalam gram atau kilogram. Beberapa cara menimbang trenggiling, yakni: timbang trenggiling di dalam kantung kain yang sebelumnya sudah ditimbang terlebih dahulu, kemudian menimbang trenggiling dalam kantung kain; namun apabila satwa tersebut meringkuk atau tidak aktif, tempatkan dalam ember plastik atau mangkuk atau tas kemudian timbang dengan menggunakan timbangan duduk; apabila satwa tersebut benar-benar aktif, masukkan ke dalam tas kemudian menggunakan timbangan gantung atau timbangan pegas.
Gambar 67. Penimbangan bobot badan trenggiling jawa menggunakan timbangan
Panjang total merupakan ukuran dari panjang kepala, panjang badan, dan panjang ekor yang diukur dengan menggunakan meteran kain merk butterfly.
Panjang kepala, diukur dari bagian cranial paling depan ke bagian paling belakang dan dinyatakan dalam sentimeter (cm). Panjang badan, diukur dari bagian cranial bagian belakang sampai pangkal ekor dan dinyatakan dalam sentimeter (cm). Panjang ekor diukur dari bagian pangkal ekor sampai ujung ekor. Panjang kaki depan dan belakang merupakan gabungan dari panjang paha (femur) dan panjang betis (tibia) yang diukur dari pangkal paha sampai pergelangan kaki. Panjang telapak kaki kaki depan belakang, diukur dari ujung tumit sampai ujung telapak kaki terpanjang. Semua pengukuran panjang pada tubuh (Gambar 68) dinyatakan dalam sentimeter (cm).
Panjang total merupakan ukuran dari panjang kepala, panjang badan, dan panjang ekor yang diukur dengan menggunakan meteran kain merk butterfly. Panjang kepala, diukur dari bagian cranial paling depan ke bagian paling belakang dan dinyatakan dalam sentimeter (cm). Panjang badan, diukur dari bagian cranial bagian belakang sampai pangkal ekor dan dinyatakan dalam sentimeter (cm). Panjang ekor diukur dari bagian pangkal ekor sampai ujung ekor. Panjang kaki depan dan belakang merupakan gabungan dari panjang paha (femur) dan panjang betis (tibia) yang diukur dari pangkal paha sampai pergelangan kaki. Panjang telapak kaki kaki depan belakang, diukur dari ujung tumit sampai ujung telapak kaki terpanjang. Semua pengukuran panjang pada tubuh (Gambar 69) dinyatakan dalam sentimeter (cm).
Gambar 68. Pengukuran panjang trenggiling jawa di penangkaran
Lingkar kepala diukur mengelilingi kepala yang paling besar; lingkar dada diukur mengelilingi dada di bawah tulang bahu; sedang lingkar ekor diukur mengelilingi pangkal ekor, dan semuanya dinyatakan dalam sentimeter (cm). Data kualitatif untuk fisik atau meristik diperoleh dengan membandingkan bentuk bagian tubuh atau penampilannya, warna sisik, bentuk sisik dan susunan sisik pada bagian ekor.
b. Pemeriksaan Keragaman Genetik
Kegiatan analisis DNA dimulai dengan ekstraksi atau isolasi DNA menggunakan Dneasy Blood dan Tissue Kit, Qiagen Sciences, Maryland, USA (Sambrook et al., 1989), sedangkan konsentrasi DNA secara kuantitatif dan kualitatif ditentukan melalui spektrofotometri sinar ultra violet menggunakan alat spektrofotometer (Beckman DU 650, Made in USA) (Gambar 69). Selain dengan cara di atas, visualisasi DNA dilakukan dengan proses elektroforesis pada gel agarose 1% yang diestimasi dari intensitas pancaran fluorescence oleh ethidium bromide. Selanjutnya, proses amplifikasi D-loop DNA mitokondria dengan PCR (Polymerase Chain Reaction), elektroforesis dan visualisasi produk PCR dengan gel agarose 2%, purifikasi produk PCR, sekuensing
Gambar 68. Pengukuran panjang trenggiling jawa di penangkaran
Lingkar kepala diukur mengelilingi kepala yang paling besar; lingkar dada diukur mengelilingi dada di bawah tulang bahu; sedang lingkar ekor diukur mengelilingi pangkal ekor, dan semuanya dinyatakan dalam sentimeter (cm). Data kualitatif untuk fisik atau meristik diperoleh dengan membandingkan bentuk bagian tubuh atau penampilannya, warna sisik, bentuk sisik dan susunan sisik pada bagian ekor.
8.8.2 b. Pemeriksaan Keragaman Genetik
Kegiatan analisis DNA dimulai dengan ekstraksi atau isolasi DNA menggunakan Dneasy Blood dan Tissue Kit, Qiagen Sciences, Maryland, USA (Sambrook et al., 1989), sedangkan konsentrasi DNA secara kuantitatif dan
kualitatif ditentukan melalui spektrofotometri sinar ultra violet menggunakan alat spektrofotometer (Beckman DU 650, Made in USA) (Gambar 69). Selain dengan cara di atas, visualisasi DNA dilakukan dengan proses elektroforesis pada gel agarose 1% yang diestimasi dari intensitas pancaran fluorescence oleh ethidium bromide. Selanjutnya, proses amplifikasi D-loop DNA mitokondria dengan PCR (Polymerase Chain Reaction), elektroforesis dan visualisasi produk
DNA mitokondria, analisis data sekuen D-loop DNA mitokondria dengan berbagai perangkat lunak komputer, yaitu MEGA (Moleculer Evolutionary Genetics Analysis) versi 5.95, NETWORK 4.1.0.8, dan DNA Sequence Polimorphisme (DnaSP) versi 5.10.01.
Analisis PCR adalah merupakan teknik perbanyakan D-loop DNA mitokondria dengan ukuran tertentu secara enzimatik melalui mekanisme perubahan suhu menggunakan Thermal Cycler 2720 AB - USA. Proses PCR dilakukan dengan reaksi PCR untuk volume 50µl: 1,25 µl forward primer (10 pmol), 1,25 µl reverse primer (10 pmol), 5 µl 10x PCR - buffer, 5 ul MgCl2 (25 pmol), 1 µl dNTP (10 pmol), 0,3 µl Taq (5 U/ul), 0,5 ul BSA (25 pmol), DNA template dan 33,7 µl H2O. Amplifikasi Control Region (D-loop) dari DNA mitokondria trenggiling, sepasang PCR primer
yaitu L 15997 (5’-AGCCCCCAAAGCTGATATTCT-3’) dan H 600 (5’-CATTTTCAGTGCTTTGCTTT-3’. Kondisi PCR: pre denaturasi 94oC selama 5 menit, dilanjutkan dengan 35 siklus terdiri dari denaturasi 94oC selama 60 detik, annealing 60oC selama 45 detik, extension 72oC selama 60 detik dan
final extension 72oC selama 10 menit (Takandjandji dan Sawitri, 2016bin press);
(Sawitri & Takandjandji, 2016 in press).
Proses PCR dilakukan terhadap 113 sampel dan berhasil diamplifikasi dengan sempurna dengan menggunakan Agarose Gel Electrophoresis (AGE) 2%.
Hasil elektroforesis terlihat ada pita (band) yang cukup tebal dan bersih sehingga
akan dilakukan clean-up sebelum proses sekuen DNA, tetapi produk PCR yang
masih terlihat ada band non target dilakukan isolasi pada band target dengan
menggunakan Gel atau PCR DNA Fragments Extraction Kit aid).
Sekuen fragmen D-loop DNA mitokondria diproses dari arah primer
forward H-600 dan primer reverse L-15997. Analisis dilakukan melalui beberapa
tahapan yaitu produk PCR dari fragmen D-loop DNA mitokondria dipurifikasi menggunakan MicroSpin S-400 HR Columns. Kit cycle sekuensing yang
digunakan adalah Big Dye*Terminator Version 3.1 (Applied Biosystems), dengan
total volume 20 μl yang mengandung 20 ng produk PCR yang telah dipurifikasi sebagai template DNA dan 3.2 pmol primer. Setiap tabung reaksi PCR berisi 8 μl Big Dye terminator ready reaction mix (campuran dNTP, ddNTP, bufer, enzim,
dan MgCl2), 8 μl air milliQ, 2 μl masing-masing primer forward atau reverse, dan
2 μl template DNA. Selanjutnya, tabung divortex sebentar, disentrifugasi selama
10 detik dan dilakukan reaksi sekuen di mesin PCR (Thermal Cycler Applied Biosystems type 9700). Kondisi PCR untuk reaksi sekuen adalah 96oC selama 10 detik, 50oC selama 5 detik, dan 60oC selama 4 menit sebanyak 25 siklus. Setelah proses selesai, produk PCR (reaksi sekuen) dipurifikasi menggunakan AMPure*PCR purification kit (Agencourt Bioscience Corporation, 500 Cummings Center, Beverly, MA). Purifikasi dimaksudkan untuk menghilangkan kelebihan
primer, nukleotida, dye - terminator, garam, dan enzim. Proses terakhir yaitu melakukan sekuen pada produk yang telah dipurifikasi, menggunakan mesin DNA sekuenser kapiler (ABI 3100).
Material DNA Visualisasi DNA Total dengan Agarose Gel Electrophoresis (AGE) 1%
PCR
Proses sekuen DNA
Hasil Sekuen DNA
Gambar 69. Skema Prosedur Analisis DNA
Proses PCR dilakukan terhadap 113 sampel dan berhasil diamplifikasi dengan sempurna dengan menggunakan Agarose Gel Electrophoresis (AGE) 2%. Hasil elektroforesis terlihat ada pita (band) yang cukup tebal dan bersih sehingga akan dilakukan clean-up sebelum proses sekuen DNA, tetapi produk PCR yang masih terlihat ada band non target dilakukan isolasi pada band target dengan menggunakan Gel atau PCR DNA Fragments Extraction Kit aid).
Ekstraksi DNA
Proses PCR
Visualisasi Produk PCR dengan Agarose Gel Electrophoresi 2%
Gambar 69. Skema Prosedur Analisis DNA
147 Konservasi Trenggiling Jawa (Manis Javanica Desmarets, 1822)
Analisis data sekuen meliputi viewing dan editing dari 226 sekuen fragmen
D-loop DNA mitokondria yaitu 113 sekuen dari arah primer forward H-600
dan 113 sekuen dari arah primer reverse L-15997. Apabila editing hasil sekuen
telah dilaksanakan, dilakukan multiple alignment sekuen dan analisis filogenetik
dengan metoda neighbor-joining, dimana kalkulasi matrik jarak genetik dengan
model Kimura-2 parameter yang diimplementasikan pada pairwise distance calculation dalam program perangkat lunak MEGA (Molecular Evolutionary Genetics Analysis) versi 5.05 (Tamura et al., 2011). Analisis Median-joining Network dari 113 sekuen trenggiling dilakukan dengan menggunakan program
perangkat lunak NETWORK 4.1.0.8. Estimasi polimorfisme DNA di dalam populasi meliputi jumlah haplotipe, situs polimorfik, keragaman haplotipe (haplotype diversity), keragaman nukleotida (nucleotide diversity), uji Fu & Li,
dan uji Tajima menggunakan perangkat lunak DNA Sequence Polymorphisme (DnaSP) versi 5.10.01 (Rozas et al., 2003).
8.8.3 c. Verifikasi Habitat Pelepasliaran
Verifikasi habitat pelepasliaran merupakan tahapan kegiatan seleksi kecocokan habitat untuk mengintroduksi trenggiling jawa ke alam. Kegiatan ini meliputi inventarisasi ketersediaan jenis pakan yang diindikasikan dengan adanya sarang semut dan sarang rayap; pembangunan kandang karantina, aklimitisasi atau penyesuaian, dan pelepasliaran (enclosure furniships); perencanaan
monitoring setelah pelepasliaran dengan membuat rumah rayap atau rumah semut yang terdapat di darat atau digantung di pohon dan pemasangan kamera trap dan pemasangan VHF radio-telemetry minimal 10 bulan; rapid assesment
habitat untuk mengetahui gangguan terhadap trenggiling, predator, tipe habitat, jenis pohon, dan tanda-tanda adanya sarang ataupun jumlah pohon lubang (Gambar 70).
c. Verifikasi Habitat Pelepasliaran
Verifikasi habitat pelepasliaran merupakan tahapan kegiatan seleksi kecocokan habitat untuk mengintroduksi trenggiling jawa ke alam. Kegiatan ini meliputi inventarisasi ketersediaan jenis pakan yang diindikasikan dengan adanya sarang semut dan sarang rayap; pembangunan kandang karantina, aklimitisasi atau penyesuaian, dan pelepasliaran (enclosure furniships); perencanaan monitoring setelah pelepasliaran dengan membuat rumah rayap atau rumah semut yang terdapat di darat atau digantung di pohon dan pemasangan kamera trap dan pemasangan VHF radio-telemetry minimal 10 bulan; rapid assesment habitat untuk mengetahui gangguan terhadap trenggiling, predator, tipe habitat, jenis pohon, dan tanda-tanda adanya sarang ataupun jumlah pohon lubang (Gambar 70).
Gambar 70. Pelepasliaran trenggiling jawa di Sultan Adam (Sumber: Adji, 2011)
Kandungan Bahan Aktif Bagian Tubuh Trenggiling Jawa
Analisis kandungan bahan aktif dilakukan untuk mengetahui bahan apa saja yang terkandung di dalam bagian tubuh trenggiling jawa (Gambar 72) yang selama ini dipercaya mempunyai khasiat dalam pengobatan tradisional. Hasil analisis kandungan bahan aktif dengan metode GCMS yang cukup menonjol adalah 1,4 – diaza - 2,5
dioxobicyclo [4.3.0] nonane (C14H16N2O2) pada kulit (22,18%) dan daging trenggiling
(13,60%) yang berfungsi melawan infeksi penyakit yang disebabkan oleh beberapa pathogen seperti Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus dan Enterobacteria faecalis (Gohar, et al., 2010). Zat Methanethiol (CAS) Mercaptomethane (17,35%) yang terdapat pada daging trenggiling merupakan bahan aktif yang digunakan pada produksi pestisida, fungisida, bahan bakar jet, dan plastik.
Gambar 70. Pelepasliaran trenggiling jawa di Sultan Adam (Sumber: Adji, 2011)