• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANGKARAN TRENGGILING JAWA

5.5 Perilaku Trenggiling di Penangkaran

Perilaku satwa (animal behaviour) bersifat genetis tetapi dapat berubah

disesuaikan dengan pengaruh lingkungan dan proses pembelajaran (learning process) (Havez, 1968). Pengetahuan tentang perilaku trenggiling jawa di alam

maupun di penangkaran akan mengakses pada kesejahteraan dan pengelolaan satwa, pengembangan protokol di rehabilitasi dan pelepasliaran serta program budidayanya (Challender, 2008; Masy’ud et al., 2011).

Penelitian mengenai aktivitas harian pada trenggiling jawa yang hidup di alam dapat menjadi dasar pembanding bagi satwaliar yang berada dalam kandang. Aktivitas mencari makan dapat mencapai 50% atau lebih dari keseluruhan aktivitas harian, sehingga sangat penting untuk satwa di dalam kandang memiliki perilaku yang banyak berhubungan dengan makan untuk mengekspresikan perilaku tersebut dan hal ini harus dibantu oleh perawat satwa (keeper).

Sejak abad ke 19, penangkaran trenggiling telah dilakukan tetapi keberhasilannya hanya beberapa hari (Yang et al., 2007) sampai lebih dari 12 hari

penangkaran trenggiling, ada yang mengatakan mudah (Heath & Vanderlip, 1988), beberapa diantaranya mengatakan keberhasilannya sulit dilaksanakan (Yang et al., 2007). Pengetahuan yang kurang tentang kebutuhan penangkaran

trenggiling mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi (71%) pada tahun pertama dan setelah dua setengah tahun kematian mencapai 89% (Hoyt, 1987). Kegagalan penangkaran juga dipicu oleh kurangnya pengetahuan tentang perilaku sosial, ekologi pakan, dan reproduksi trenggiling (Challender, 2008).

Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi trenggiling jawa di alam adalah dengan mengetahui perilaku di penangkaran (Sawitri et al., 2012).

Menurut Suratmo (1979), pemahaman tentang perilaku perlu diketahui agar dapat menguasai ilmu atau pengetahuan tentang ekologi dan pakan dalam rangka mendapatkan keahlian dalam pembinaan populasi. Berdasarkan fungsi dan manfaat trenggiling secara ekonomi, diperlukan penelitian tentang perilaku guna mendukung kelestarian pemanfaatannya.

Penelitian perilaku trenggiling jawa di penangkaran berguna untuk mengetahui adaptasi terhadap lingkungan buatan, sarana dan prasarana, kesehatan, dan aktivitas hariannya. Penelitian perilaku diharapkan mampu memberikan gambaran tentang pengelolaan dan pemeliharaan trenggiling di penangkaran bagi pengusaha atau masyarakat yang berminat menangkarkan satwa ini. Aktivitas harian trenggiling jawa di dalam kandang, erat kaitannya dengan faktor internal seperti suhu tubuh dan faktor eksternal seperti aspek teknis pengelolaan (pemberian pakan, pembersihan kandang, prasarana penunjang di kandang), kapasitas kandang, hubungan sosial (social pattern),

suhu lingkungan, dan daya adaptasi (Novriyanti, 2011).

Di CPCP, Vietnam pada tahun 2008 dilakukan penelitian tentang perilaku trenggiling jawa yang bertujuan untuk memberikan masukan tentang cara pemeliharaan dan pengelolaan Manis javanica di penangkaran. Perilaku yang

diamati meliputi makan pakan beku, makan pakan hidup, berjalan, berhenti, memanjat, menggali, mencakar, minum, tidur, dan lainnya (Nguyen et al., 2014).

Antara jantan dan betina memiliki sedikit perbedaan dalam perilaku, dimana jantan lebih menonjol dengan perilaku tidur, sedangkan betina lebih menonjol pada perilaku yang terkait dengan kegiatan makan yaitu pakan beku ataupun hidup dan mencari pakan dengan berjalan dan memanjat (Challender, 2008).

Manis javanica di CPCP Vietnam terutama yang jantan, mulai beraktivitas

lebih awal yakni pukul 17.00 sampai 03.45 sedangkan betina memulai aktivitasnya pukul 18.00 sampai 00.45 dan diteruskan lagi pada pukul 02.00 sampai 04.45 (Nguyen et al., 2014). Pada saat M. javanica jantan bangun, ia

akan membangunkan betina dengan mengendus-enduskan hidungnya ke badan trenggiling betina. Apabila M. javanica betina merasa terganggu, ia akan pindah

Perilaku bergerak trenggiling jawa di penangkaran terdiri dari aktivitas bangun tidur, berjalan, mendatangi pakan, memanjat, membersihkan diri atau mandi, dan berdiri. Berjalan adalah aktivitas aktif yang dilakukan dengan berpindah tempat di lantai, sedangkan memanjat dilakukan dari bawah kandang naik ke atas ranting pohon atau kawat pada kandang bagian atas. Mendatangi adalah aktivitas mendekati pakan sedangkan membersihkan diri adalah aktivitas yang dilakukan dengan mandi di bak air minum, dan umumnya dilakukan setelah defekasi. Aktivitas berdiri dilakukan dengan cara menegakkan tubuh di atas kedua kaki belakang dengan bertumpu pada tulang ekor (Sawitri et al., 2012). Pengetahuan tentang perilaku

ini penting karena berhubungan dengan persiapan sarana prasarana yang dibutuhkan trenggiling dalam melakukan aktivitas bergerak.

Selain perilaku bergerak, diamati pula perilaku tidur yang meliputi waktu tidur, tempat tidur, cara tidur (posisi), dan aktivitas yang dilakukan saat tidur. Perilaku tidur dilakukan dengan mata terpejam, sedangkan cara tidur dengan posisi tubuh melingkar, terlentang, memanjangkan tubuh baik di lantai, di atas para maupun di atas pagar kawat. Akitivitas tidur dilakukan sepanjang siang hari sampai matahari terbenam, namun apabila cuaca panas maka satwa ini akan bangun untuk sekedar membasahi tubuhnya dengan memasukkan kepala atau badannya ke dalam bak air atau baskom (Gambar 40). Aktivitas tidur siang hari pada M. javanica di Singapura, mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00

sampai 06.00 waktu setempat atau pukul 04.00 sampai 07.00 (Lim & Ng, 2008). Aktivitas tidur pada malam hari, dimulai pada pukul 22.00 waktu setempat atau sesudah makan. Perpindahan aktivitas dari diurnal (siang hari) ke malam hari

(nokturnal) terjadi pada pukul 15.00 sampai 18.00, ditandai dengan perubahan

aktivitas tidur ke aktivitas bergerak. Perubahan pola aktivitas ini tergantung pada adaptasi trenggiling terhadap suhu kandang, cuaca, waktu pemberian pakan, dan proses belajar terhadap lingkungan buatan di kandang.

Jumlah waktu yang dihabiskan untuk makan, memanjat pada cabang, dan bergerak dalam kandang sangat bervariasi. Hal ini terkait dengan jumlah individu di dalam kandang dan faktor lingkungan yakni tingkat stres (pendatang baru tampaknya tidurnya lebih lama), suhu lingkungan dan adanya hujan. Selama cuaca dingin trenggiling tidur lebih lama. Aktivitas tidur tampaknya meningkat selama hujan ringan.

Makan adalah aktivitas makan yang dilakukan dengan cara mendatangi tempat makan atau piring makan dan memulai makan. Makanan yang dikonsumsi digunakan untuk memperoleh energi yang diperlukan untuk beraktivitas. Namun untuk memperoleh energi diperlukan tempat yang khusus untuk melakukan aktivitas. Hal ini berhubungan dengan sarana dan prasarana yang akan digunakan di penangkaran.

Gambar 40. Perilaku berendam trenggiling jawa di penangkaran UD Multi Jaya Abadi

Minum adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara menjulurkan lidah ke dalam air (Gambar 41 a,b) sambil bersuara. Defekasi adalah aktivitas membuang metabolisme dalam bentuk padat. Aktivitas urinasi dilakukan dengan cara membuang metabolisme dalam bentuk cair. Perilaku makan dan minum meliputi aktivitas makan, minum, defekasi (buang air besar) dan urinasi (buang air kecil). Biasanya aktivitas defekasi dan urinasi dilakukan di dalam bak air atau baskom (Gambar 41 c).

Gambar 41. Perilaku berendam trenggiling jawa di penangkaran UD Multi Jaya Abadi

Minum adalah aktivitas yang dilakukan dengan cara menjulurkan lidah ke dalam air (Gambar 42 a,b) sambil bersuara. Defekasi adalah aktivitas membuang metabolisme dalam bentuk padat. Aktivitas urinasi dilakukan dengan cara membuang metabolisme dalam bentuk cair. Perilaku makan dan minum meliputi aktivitas makan, minum, defekasi (buang air besar) dan urinasi (buang air kecil). Biasanya aktivitas defekasi dan urinasi dilakukan di dalam bak air atau baskom (Gambar 42 c).

Gambar 42. Aktivitas minum (a, b) dan Defekasi (c) pada trenggiling jawa

Saat terjaga, trenggiling jawa dapat menghabiskan waktu sampai 45 menit di depan pintu masuk lubang untuk mengendus dan menyelidiki. Perilaku ini untuk memastikan aman untuk mulai beraktifitas, dan aktivitas mengendus ini akan lebih lama jika di dekat pintu masuk lubang ada trenggiling lain atau predator.

Setelah terjaga, trenggiling jawa sering buang air besar, kemudian makan, minum, dan mandi. Sebagian besar satwa ini melakukan mandi, minum dan buang air di dalam baskom air ataupun di kolam kecil yang disediakan. Idealnya, di kandang trenggiling disediakan tempat untuk menggali lubang kecil di tanah dan kemudian buang air besar di lubang ini. Namun, buang air besar atau buang air kecil di tempat tidur dapat menjadi indikasi bahwa trenggiling tidak sehat.

Penelitian Sawitri et al., (2012) menyatakan bahwa perilaku trenggiling jawa di kandang meliputi perilaku bergerak, tidur, makan, berjalan, memanjat, serta membuang kotoran yakni defekasi dan urinasi. Selain itu, perilaku tidur merupakan aktivitas paling menonjol yang dilakukan oleh trenggiling jawa baik berpasangan (72%) maupun individu (68%) terutama pada siang hari. Frekuensi relatif perilaku tidur dibedakan menurut

a   b   c  

Gambar 41. Aktivitas minum (a, b) dan Defekasi (c) pada trenggiling jawa

Saat terjaga, trenggiling jawa dapat menghabiskan waktu sampai 45 menit di depan pintu masuk lubang untuk mengendus dan menyelidiki. Perilaku ini untuk memastikan aman untuk mulai beraktifitas, dan aktivitas mengendus ini akan lebih lama jika di dekat pintu masuk lubang ada trenggiling lain atau predator.

Setelah terjaga, trenggiling jawa sering buang air besar, kemudian makan, minum, dan mandi. Sebagian besar satwa ini melakukan mandi, minum dan buang air di dalam baskom air ataupun di kolam kecil yang disediakan. Idealnya,

di kandang trenggiling disediakan tempat untuk menggali lubang kecil di tanah dan kemudian buang air besar di lubang ini. Namun, buang air besar atau buang air kecil di tempat tidur dapat menjadi indikasi bahwa trenggiling tidak sehat.

Penelitian Sawitri et al., (2012) menyatakan bahwa perilaku trenggiling

jawa di kandang meliputi perilaku bergerak, tidur, makan, berjalan, memanjat, serta membuang kotoran yakni defekasi dan urinasi. Selain itu, perilaku tidur merupakan aktivitas paling menonjol yang dilakukan oleh trenggiling jawa baik berpasangan (72%) maupun individu (68%) terutama pada siang hari. Frekuensi relatif perilaku tidur dibedakan menurut posisinya (Gambar 42) yaitu melingkar (5,82%), terlentang (2,45%), memanjangkan tubuh (0,82%). Pencatatan perilaku dimulai dari satwa beraktivitas yakni pukul 18.00 sampai 23.00 WIB, kemudian tidur pukul 6.00 sampai 18.00. Kondisi lingkungan kandang di UD. Multi Jaya Abadi Medan pada bulan Juli, 2010 yakni suhu udara rata-rata 31,200C sampai 36,500C dengan kelembaban 70,40% sampai 71,60%. Oleh karena itu, diperlukan penyediaan prasarana box tidur yang diletakkan di atas cabang yang

kuat dan agak besar, ataupun liang tidur di lantai.

Pada kondisi daerah sub tropis, menurut Nguyen et al., (2014), perilaku

dan aktivitas M. javanica di CPCP berhubungan dengan musim, perubahan

suhu lingkungan dan panjang siang hari. Selama musim dingin (sunset 05:00), trenggiling umumnya bangun dan mulai mencari makan yang telah disediakan pukul 06.00 atau 07.00 pm. Apabila musim panas (sunset 07:00), rata-rata satwa bangun terlambat yakni sekitar pukul 08.00 atau 09.00 pm. Hal ini kemungkinan besar terkait dengan siang hari yang lebih panjang.

Gambar 42. Posisi tidur trenggiling jawa di Penangkaran UD Multi Jaya Abadi

Novriyanti (2011) menyebutkan bahwa aktivitas makan pada trenggiling jawa di penangkaran UD. Multi Jaya Abadi, menghabiskan waktu sekitar 22% sampai 24% dan sisa waktu yang ada digunakan untuk bergerak seperti berjalan dan memanjat (10%). Sebaran penggunaan waktu tidur pada siang hari yang dimulai

dari pukul 06.00 sampai 18.00 WIB, sedangkan puncak aktivitas tidur terjadi pada pukul 06.00 sampai 07.00 WIB, kemudian pukul 09.00-11.30 WIB diantara jeda waktu tersebut digunakan trenggiling jawa untuk bergerak dan mendinginkan badannya dengan minum air atau berendam di baskom. Rata-rata frekuensi relatif perilaku bergerak menurut Sawitri et al., (2012) terdiri dari berjalan (3,51%),

mendatangi pakan (2,72%), memanjat (2,23%), dan berdiri (0,64%).

Perilaku memanjat pada trenggiling jawa di penangkaran Medan diperlihatkan dengan memanjat pagar atau dinding kawat menggunakan kaki depan dan memasukkan kepala serta moncongnya ke dalam lubang kawat. Hal ini terkait dengan kondisi stres (Challender, 2008) pada satwa sehingga mengakibatkan luka pada hidung dan cakar atau kaki. Dengan demikian, penyediaan kayu bercabang yang cukup kuat diperlukan untuk aktifitas memanjat menggunakan kaki depan dan belakang serta cakarnya sedangkan ekornya untuk bergelantungan.

Berdasarkan pengamatan Nguyen et al., (2014) pada M. javanica di CPCP,

rata-rata waktu yang digunakan untuk memanjat cabang ranting sekitar 14,50% dari keseluruhan waktu aktif dan rata-rata untuk berdiri di atas kaki belakang sambil mengendus udara sekitar 13,0% dari waktu aktif berjalan atau mencari makan di lantai (Nguyen et al., 2014).

Kandang penangkaran M. javanica di CPCP terdiri dari tanah yang

ditimbun sehingga trenggiling selalu menggali lubang tersebut untuk mencari makanan. Waktu yang dihabiskan untuk menggali sangat kecil yakni sekitar 1% dari waktu aktif dan trenggiling lebih memilih untuk menggali dan tidur dalam lubang di bawah kayu atau tunggul pohon.

Satwa ini terkenal soliter sehingga perilaku sosial di penangkaran perlu diketahui guna menentukan kebutuhannya terhadap sesamanya (jantan, betina, jantan dan betina yang dijodohkan, betina yang menyusui, dan remaja). Hal ini untuk menghindari stres dan timbulnya perilaku abnormal seperti tidak mau makan (Challender, 2008).

5.5.1 Perilaku Makan

Pakan M. javanica di CPCP berupa semut, telur, dan larvanya beserta

daun-daun kering disimpan di dalam tanah, yang digali di dalam kandang (kandang dicor sedalam 1-2 m kemudian ditimbun dengan tanah) sehingga trenggiling dapat menggali sesuai dengan perilakunya sebagai penggali yang unggul. Pengamatan perilaku makan pada trenggiling jawa di CPCP terdiri atas pakan berupa semut hidup, dan makanan beku. Semut hidup (Oecophylla smaragdina) bersama seluruh

sarang daun ditempatkan dalam mangkuk besar yang dikelilingi air. Trenggiling menggapai pakan tersebut menggunakan lengan atau kaki depan dengan cara memindahkan materi daun yang ada kemudian kepalanya langsung ke sarang dan lidahnya menjilat semut. Trenggiling juga mengkonsumsi semut yang berkeliaran

di mangkuk makanan. Daun yang dijadikan sarang oleh semut berasal dari

Crematogaster spp. dan berserat. Dalam CPCP, sarang ini dikubur dalam tanah atau

digantung di cabang dalam kandang trenggiling, dan hal itu menambahkan unsur pengkayaan perilaku. Trenggiling masuk ke pusat sarang dengan lengan atau kaki depan untuk menggapai telur dan larva, dan mengkonsumsi semut-semut yang ada.

Makanan beku dimasukkan dalam mangkuk kecil dan trenggiling menggunakan lidahnya untuk menjilat semua makanan tersebut. Jika proporsi telur semut dan larva lebih sedikit dibandingkan dengan proporsi semut dewasa, trenggiling akan menggunakan lengan atau kaki depannya untuk menggali lagi. Sebuah interpretasi yang mungkin dari perilaku ini adalah bahwa trenggiling menunjukkan preferensi untuk telur dan larva karena kandungan lemaknya tinggi, dan akan secara aktif mencari makanan ini tapi ini memerlukan penelitian lebih lanjut, baik dalam populasi penangkaran maupun di alam. Trenggiling menggunakan lidah lengket panjang mereka untuk minum air dari mangkuk air atau dari air di parit yang mengelilingi mangkuk makanan hidup.

5.5.2 Perilaku Tidur

Menurut Nguyen et al., (2014), sebagian besar trenggiling jawa di CPCP

tidur di kotak yang telah disediakan. Namun pada musim panas beberapa trenggiling tidur di pipa beton, atau dekat kolam air karena lebih dingin dari kotak tempat tidur. Saat hujan atau selama cuaca dingin, biasanya disediakan dengan tikar panas dan beberapa trenggiling terlihat tidur di dalam log berongga dan di tempat terbuka pada cabang pohon yang terkena sinar matahari penuh karena lebih dingin dibandingkan dengan kotak tempat tidur (Gambar 43).

Sumber Foto: Nguyen, et al., (2014

Gambar 43. Trenggiling tidur di dalam log (kiri) dan sudut lantai ketika panas

Perilaku tidur merupakan salah satu kebebasan yang dimiliki untuk mencapai animal welfare dan yang memerlukan pertimbangan para pengelola

penangkaran termasuk perlindungan dari kondisi cuaca buruk (hujan, panas, dan angin kencang), ketersediaan udara segar, tempat yang teduh dan hangat, tempat yang terjangkau sinar matahari, ketersediaan lorong bawah tanah yang sesuai bagi satwa yang suka menggali tanah, ketersediaan pohon, fasilitas untuk memanjat dan bahan lainnya yang memungkinkan penggunaan ruang yang vertikal bagi satwa yang suka memanjat.

5.5.3 Perilaku Sosial

Selama minggu pertama setelah melahirkan, biasanya induk meninggalkan bayi di dalam kotak tidur untuk mencari makan di sekitar kandang, namun si induk sering kembali untuk memeriksa bayinya. Setelah seminggu lewat, bayi trenggiling sering ikut bersama induknya dan berada di atas pangkal ekor hingga umur disapih. Beberapa pengalaman di CPCP dimana bayi trenggiling jawa yang tidak memiliki induk (yatim piatu) dicampur dengan bayi dan remaja trenggiling dalam satu kandang dan terlihat bayi-bayi tersebut menaiki pangkal ekor remaja trenggiling. Namun hal ini harus dipantau karena tidak semua remaja atau induk dewasa trenggiling mau dinaiki pangkal ekornya oleh bayi. Bagi remaja atau induk dewasa yang tidak mau dinaiki oleh bayi, selalu meringkuk dan terlihat lebih stres dengan kehadiran sang bayi. Kadang-kadang sang jantan dewasa dinaiki oleh satu atau dua betina sehingga jantan merasa terganggu (Gambar 44). Apabila terlihat kondisi seperti ini, sebaiknya trenggiling tersebut dipisah dan tidak boleh dicampur.

Sumber Foto: Nguyen, et al., 2014

Gambar 44. Perilaku sosial trenggiling jawa di CPCP, Vietnam

Sebaiknya trenggiling betina dewasa dicampur sebanyak tiga (3) individu dalam satu kandang agar tidak terjadi perebutan dalam hal pakan atau ruangan,

sedangkan pasangan jantan dan betina serta kelompok campuran yang terdiri dari dua betina dan tiga jantan. Pengalaman ini telah membuktikan bahwa betina dewasa dapat dicampur bersama-sama tanpa agresi apapun (Nguyen et al., 2014). Namun pengalaman di penangkaran UD Multi Jaya Abadi bahwa

apabila terdapat dua jantan dan tiga betina di dalam satu kandang, akan terjadi perkelahian baik antar jantan maupun antar betina, sehingga hal tersebut harus dihindari atau dipisah (komunikasi pribadi penulis dengan keeper trenggiling

jawa di UD Multi Jaya Abadi). Hal ini juga terjadi pada dua jantan dalam kandang individu dimana antara satu dengan yang lain saling melihat, kemudian terjadi kontak visual dan perilaku agresif sehingga menyebabkan stres. Perilaku tersebut meliputi memanjat kawat, menggaruk-garuk dan menempelkan serta memasukkan kepala dan moncongnya ke kawat secara berulang kali. Hal ini dapat menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan pada jantan dan apabila kondisi ini tidak dihindari, akan berakibat fatal. Sebaliknya apabila kedua jantan tersebut dipisahkan oleh dinding tembok yang kokoh sehingga tidak saling melihat satu sama lain, masalah tersebut di atas tidak akan terjadi. 5.5.4 Perilaku Perkenalan

Sedikit pengalaman dalam memperkenalkan trenggiling dewasa yang baru tiba ke dalam kandang yang sudah ditempati oleh trenggiling lainnya. Ini merupakan aspek penting dari penangkaran dalam pengelompokan satwa, karena akan terjadi perilaku kompetisi dalam hal pakan dan ruang. Oleh karena itu, animal welfare perlu diperhatikan sebelum penggabungan dilakukan.

Kebutuhan perilaku satwa trenggiling dalam kandang akan terpenuhi apabila satwa tersebut sejahtera, namun hal ini sering dilupakan atau diabaikan oleh penangkaran atau kebun binatang. Semua satwa yang dipelihara dalam kandang harus diberikan kesempatan untuk mengontrol lingkungannya dan kesempatan untuk membuat pilihan.

Memperkenalkan obyek baru pada satwa, dapat mendorong adanya kegiatan yang bisa dilakukan, tetapi hal-hal baru yang diperkenalkan itu akan segera memudar sebagaimana pengenalan terhadap sarana pelengkap dalam lingkungan kandang itu mulai berkembang. Menjaga satwa dalam kandang yang selalu dalam kondisi baik dan selalu memberikan rangsangan yang alami merupakan prospek yang menantang.

5.5.5 Perilaku Mandi

Trenggiling yang berada di dalam kandang, tidak tahan terhadap kondisi atau cuaca yang panas. Terlihat pada trenggiling jawa di penangkaran Medan, ketika suhu dalam kandang >300C sering mandi di dalam baskom. Demikian juga M. javanica di CPCP Vietnam, trenggiling mandi di dalam baskom air atau

kolam. Trenggiling biasanya berjalan dalam kolam dan meluncur dari cabang ranting pohon lalu meluncur di atas air (Gambar 45).

Sumber: Nguyen, et al., 2014

Gambar 45. Perilaku mandi trenggiling jawa di CPCP, Vietnam

Perilaku mandi jarang dilakukan oleh trenggiling terutama di musim dingin. Peningkatan aktivitas mandi umumnya dilakukan setelah makan semut hidup (Nguyen, et al., 2014). Hal ini dilakukan untuk menghangatkan badan,

mengurangi gatal-gatal akibat gigitan semut, atau untuk menghapus semut yang ada di bawah sisik.

5.5.6 Perilaku Stres

Perilaku stres ditandai oleh aktivitas memanjat pada kawat kandang dan di sepanjang langit-langit kawat secara cepat, berjalan sangat cepat di tanah atau cabang, berulang kali memasukkan kepala dan moncong melalui kawat, mencakar, dan menggaruk pintu kandang. Trenggiling yang menampilkan perilaku ini sering melukai diri sendiri di wajah dan cakarnya. Umumnya satwa ini kurang makan dan minum sehingga berat badanya menurunkan dan akhirnya meninggal. Meskipun mungkin ada banyak sejumlah faktor penyebab stres yang diyakini memainkan peran penting, yakni suhu lingkungan, kualitas pakan yang tersedia, dan sifat kandang.

Vijayan et al., (2008) dan Nguyen et al., (2014) melaporkan bahwa angka

kematian tertinggi pada trenggiling jawa di Singapura dan Vietnam terjadi pada bulan Januari dan Februari dimana terjadi musim dingin yang paling dingin. Penggunaan thermoregulasi sangat penting untuk mengurangi tingkat kematian di penangkaran. Pada musim dingin, trenggiling menghabiskan waktu harian untuk tidur di tempat yang lebih hangat.

5.5.7 Perilaku stereotipe

Perilaku stereotipe adalah istilah yang sering muncul dalam mendiskusikan kesejahteraan satwa terutama satwa yang dikurung dalam kandang (ISAW, 2013).

Perilaku stereotipe merupakan pengulangan gerakan yang secara relatif tidak bervariasi dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Bentuk perilaku ini biasanya dialami oleh satwa dalam hampir semua aktifitasnya tanpa menunjukkan adanya rangsangan normal yang akhirnya membawanya dalam keadaan stereotipe.

Sejumlah M. javanica di kandang dalam CPCP telah diamati dan salah

satu satwa berjalan berulang kali pada cabang pohon. Perilaku stereotipe berhenti

ketika cabang kandang diatur ulang. Hal ini menunjukkan bahwa secara rutin mengatur ulang sarana prasarana di dalam kandang dapat membantu untuk mengurangi timbulnya perilaku stereotipik pada trenggiling di penangkaran. Sebagian besar perilaku stereotipe terjadi ketika satwa gagal mengatasi atau