• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKOLOGI TRENGGILING JAWA

4.2 Perilaku di alam

Perilaku merupakan suatu aktivitas yang melibatkan fungsi fisiologis berupa penerimaan rangsangan melalui panca indera dan perubahan rangsangan

menjadi aktivitas neural, aksi integrasi susunan syaraf dan aktivitas berbagai organ motorik, baik internal maupun eksternal (Tanudimadja dan Kusumamihardja, 1985).

Aktivitas puncak trenggiling jawa dilakukan dari jam 03.00-06.00, dimana periode aktif harian adalah 127±13,10 mt, sedangkan daerah jelajahnya berbentuk jajaran genjang seluas 23,46-69,70 ha (Lim & Ng, 2008) dimana 56,30 ha atau 80,77% merupakan daerah jelajah trenggiling jantan, namun daerah jelajah trenggiling betina lebih kecil (13,40 ha atau 19,22% dari luas daerah jelajah). Kondisi ini terkait dengan status trenggiling jawa betina yang sedang mengasuh anaknya sehingga waktunya lebih banyak di dalam sarang dan lokasi sarang berdekatan dengan lokasi tempat pakan berupa sarang semut dan rayap. Hal ini berarti trenggiling jawa betina membutuhkan waktu dan energi yang relatif sedikit untuk memperoleh pakan.

Trenggiling jawa beraktivitas pada malam hari atau nokturnal. Satwa ini pada siang hari tidur di dalam liang-liang bawah tanah atau lubang-lubang pohon yang menempel dengan tanah. Aktivitas trenggiling jawa yang menggali lubang dalam ekosistem, juga berfungsi menggemburkan tanah di dalam hutan. Trenggiling jawa juga merupakan satwa pemangsa serangga perusak pohon seperti semut dan rayap yang sering menggerogoti pohon hingga mengalami pengeroposan. Oleh karena itu, keberadaan trenggiling ini secara tidak langsung dapat menjaga kelangsungan regenerasi ratusan jenis pohon yang ada di hutan dengan memakan hama tanaman (EBN, 2010). Perilaku trenggiling Jawa di alam terdiri dari perilaku makan, bergerak, tidur, mempertahankan diri, dan berkembangbiak.

4.2.1 Perilaku Makan

Perilaku ini meliputi aktivitas mencari makan dan minum. Menurut Likasta (2014), trenggiling menggunakan daya penciuman yang tajam ketika mencari semut atau rayap dengan cara membaui daerah yang diduga merupakan tempat bersarangnya mangsa (Gambar 27). Saat menerobos masuk ke dalam sarang semut, selaput yang terdapat pada saluran hidung dan telinga trenggiling akan menutup untuk mencegah masuknya semut. Di samping itu, mata trenggiling juga dilindungi oleh membran niktitans yang tebal (Lekagul & McNelly, 1988). Tempat trenggiling jawa mencari pakan di alam yakni di tunggak-tunggak pohon yang telah membusuk atau di bawah pohon yang tumbang dan terdapat di hutan ataupun di koridor hutan terutama di daerah ekotone yang merupakan daerah pemukiman dan perkebunan teh, kelapa, dan kebun masyarakat (Bismark, 2009). Bekas mencari pakan semut terlihat banyak di tebing-tebing sungai atau di ladang masyarakat berupa bekas garukan kukunya. Untuk mencapai lokasi yang cukup sulit tersebut, satwa ini menggunakan ekornya untuk berpegangan pada alang-alang (Imperata cylindrica).

Gambar 27. Perilaku trenggiling jawa saat mencari pakan

Saat ini trenggiling sulit ditemukan di perkebunan teh karena adanya penggunaan herbisida untuk mematikan rumput sehingga sarang semut jarang dijumpai karena di sekitar lubang semut, berbau pestisida. Di samping itu, adanya intensifikasi pemeliharaan pohon teh untuk menghilangkan kadaka atau paku sarang mengakibatkan tidak tersedia tempat tidur trenggiling di perkebunan teh. Trenggiling biasanya tidur di paku sarang yang lebat atau rimbun. Menurut Nowak (1999), jikalau trenggiling Jawa berada di atas pohon, akan tidur di lubang batang pohon atau di paku sarang burung (Asplenium nidus), pelepah

daun aren (Arenga pinnata) atau pelepah daun kelapa (Cocos nucifera).

Pakan trenggiling berupa semut dan rayap diambil dari sarangnya di atas pohon atau dipermukaan tanah sehingga satwa ini termasuk myrmecophages

(Corbet & Hill, 1992). Sarang semut atau rayap dibongkar dengan cakar kaki depannya yang kuat dan panjang, kemudian dengan lidahnya yang panjang dan mengandung kelenjar ludah yang berfungsi sebagai cairan pekat seperti lem, serangga tersebut dimakan atau disedot. Untuk menggerakkan lidahnya, terdapat otot yang panjang dan kecil seperti cacing pada mulut yang kecil, sehingga rahangnya dapat terbuka dengan waktu yang pendek atau cepat (Yasuma, 1994). Berdasarkan pengamatan Lim (2008), prosentase waktu yang digunakan oleh trenggiling jawa jantan dewasa untuk makan semut sebesar 67% sedangkan rayap 33% dengan rata-rata waktu 2,29 mt. Menurut Suyanto (2002), satwa ini diperkirakan memerlukan serangga sebagai pakannya sebanyak 125 gr semut atau setara dengan 200.000 ekor semut dan pupanya, bahkan dapat mencapai 300-400 gr setiap makan dalam sehari, tergantung tingkat pertumbuhan dan umurnya, sehingga dapat diperkirakan bahwa trenggiling dewasa dapat menghabiskan lebih dari 70 ribu serangga per tahun (Rodrigues, 2011). Hasil

penelitian Manshur et al., (2015), bahwa trenggiling jawa memanfaatkan pakan

dari ordo Hymnoptera (semut) sebanyak 2,40 koloni/ha dan ordo Isopteran

(rayap) sebanyak 0,87 koloni/ha.

Trenggiling jawa membuat sarang di dalam tanah dengan cara menggali dan berbentuk seperti terowongan. Wardika (2016) melaporkan, panjang galian sampai ke tempat trenggiling beristirahat dapat mencapai 8 m. Kedalaman lubang untuk tidur ataupun istirahat dapat mencapai >6 m, tergantung jenis tanah dan adanya perakaran pohon. Apabila trenggiling jawa berada di dalam lubang maka akan ditemui gundukan tanah di depan lubang (Lekagul & McNelly, 1988). Penggalian lubang sarang trenggiling menunjukkan bahwa jalur menuju sarang tidak dilakukan secara garis lurus tetapi memiliki percabangan ke kiri dan ke kanan, berliku-liku hingga berujung pada lubang tempat beristirahat. Hal ini merupakan strategi trenggiling untuk mengelabui pemangsa atau predator. Pintu masuk menuju lubang sarang trenggiling biasanya selalu ditutup dengan daun-daun atau rumput yang berada di sekitarnya. Beberapa sarang ditemukan di dalam tanah pada lubang pohon mati dan rongga di bawah pohon mati yang berada di bagian akar pohon besar atau membuat lubang di dalam tanah yang digali dengan menggunakan cakar kakinya ataupun di bawah batu. Sarang-sarang tersebut memiliki diameter lubang berkisar 20-40 cm, kedalaman mencapai 1 m dan memiliki rongga yang cukup besar pada bagian dalam. Namun umumnya trenggiling menggali tanah untuk membuat sarang atau mencari makan dengan kedalaman 3,50 m. Standar ukuran sarang trenggiling adalah ukuran kepala dan sarang sesuai struktur tanah.

Di samping itu, trenggiling jawa juga ditemukan pada pelepah aren dan dipercabangan pohon hidup (Wardika, 2016). Umumnya sarang di dalam tanah ditemukan pada topografi berbukit atau miring. Menurut penangkap, trenggiling jawa tidak selalu membuat sarang baru tetapi seringkali menempati sarang satwa lainnya seperti landak dan sigung (teledu) atau sejenis musang.

Perilaku minum pada trenggiling jawa tidak jauh berbeda dengan cara memperoleh mangsanya. Nowak (1999) mengatakan, ketika minum trenggiling jawa mengeluarkan lidahnya dan memasukkannya kembali dengan cepat. 4.2.2 Perilaku Bergerak

Perilaku bergerak pada trenggiling jawa meliputi aktivitas berjalan, memanjat, dan menggali lubang. Trenggiling adalah hewan plantigradi, dimana

keberadaan kuku pada kaki depan dan belakang tidak menghalanginya ketika bergerak. Aktivitas berjalan di alam pada satwa ini, terlihat sering berhenti kemudian berdiri dengan bertumpu pada kedua kaki belakang dengan bantuan ekornya lalu kepala mengarah ke atas sambil mengendus atau melihat kemungkinan apakah ada musuh atau predator (MacDonald, 1984). Perjalanan trenggiling Jawa rata-rata per hari sejauh 0,70-1,80 km. Trenggiling china lebih

banyak menghabiskan waktunya di darat sehingga dikelompokkan sebagai trenggiling daratan (terestrial), sedangkan trenggiling jawa termasuk trenggiling pemanjat atau termasuk satwa arboreal.

Trenggiling jawa saat menggali lubang semut, bertumpu pada kedua kaki belakang dan ekor sebagai penyangga, sementara kedua kaki depannya digunakan untuk menggali lubang. Selanjutnya, trenggiling melingkarkan badannya untuk menjebak semut-semut agar tidak keluar dari sarangnya. Apabila telah selesai ”mandi semut” maka trenggiling berenang dalam air agar kulit dan sisiknya

bersih dari semut-semut yang tersisa (Nowak, 1999).

Trenggiling dapat memanjat pohon dimana kedua kaki depan dan cakarnya digunakan untuk mencengkeram batang pohon dengan kuat. Cengkeraman pada batang pohon juga diperkuat oleh belitan dari gerigi sisik di lateral ekor (Grzimek’s, 1975). Trenggiling jawa yang telah berada di atas pohon akan melakukan aktivitas makan atau tidur (Gambar 28).

Gambar 28. Perilaku trenggiling jawa di atas pohon (Sumber: Likasta, 2014)

4.2.3 Perilaku Tidur

Trenggiling jawa merupakan satwa nokturnal dan pada siang hari tidur dimana saja, di tanah atau di atas pohon, tergantung jenisnya. Tempat tidur tersebut berupa lubang baru yang digali atau bekas lubang satwa lain yang tidak dihuni lagi. Menurut Lim & Ng. (2008), penggunaan lubang untuk tidur oleh trenggiling Jawa dibedakan menurut lingkungan sekitar lubang yaitu lubang di bawah tanah yang mengarah pada lubang pohon dari pohon mati (25%), lubang pada pohon yang mati (38%), dan lubang di bawah pohon yang hidup (37%). Selanjutnya di Sumatera, lubang tidur ditemukan berlokasi di bawah pohon tumbang 58%, dan 42% ditemukan di bawah pohon yang masih berdiri tegak.

4.2.4 Perilaku Mempertahankan Diri

Trenggiling di alam terutama di hutan primer dan sekunder, selalu menghadapi predator seperti ular python (Malayophyton reticulatus), anjing

hutan (Cuon alpinus), dan macan tutul (Panthera pardus). Anjing hutan

umumnya memakan bagian leher sampai kepala sedangkan bagian bawah yaitu badan ditinggalkan. Macan tutul akan memakan semua bagian tubuh trenggiling kecuali sisiknya. Sebagai bentuk perlawanan terhadap predator dan mempertahankan diri dari serangan, trenggiling mengeluarkan bau yang tidak sedap dari kelenjar di dekat anus, sehingga diharapkan musuhnya akan meninggalkannya atau menggulungkan badannya dan menggelinding (Collins, 1975; Grzimek’s, 1975).

4.2.5 Perilaku Berkembangbiak

Trenggiling termasuk satwa soliter yang hanya bertemu dengan pasangannya pada saat satu musim kawin dalam setahun (Grosshuesch, 2012). Trenggiling jantan akan menarik trenggiling betina dengan cara meninggalkan tanda-tanda yang berbau menyengat dari kotorannya (urine dan faeces), apabila

terdapat lebih dari satu jantan dalam areal yang sama maka akan terjadi perkelahian untuk memperebutkan sang betina. Trenggiling melahirkan satu anak, namun Payne & Francis (2005) melaporkan kelahiran anak trenggiling dua individu. Masa kebuntingan satwa ini sekitar 140 hari, kemudian melahirkan sepanjang waktu, namun treggiling jawa di Singapura melahirkan bulan September di hutan alam (Norman & Lim, 2007). Lokasi kelahiran di lubang pohon atau di liang selama 3-4 hari induk trenggiling akan berdiam diri. Masa menyusui berlangsung selama empat bulan (September-Desember), penyapihan dilakukan dengan memperkenalkan pada makanan berupa serangga, setelah anak berumur dua tahun akan hidup terpisah dari induknya.