6. Pokok-pokok Penelitian
6.4. Hak Asasi Manusia dan Feminisme
Peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari hukum yang dibuat secara sengaja oleh institusi negara, dalam konteks ini peraturan perundang-undangan tidak mungkin muncul secara tiba-tiba, dan peraturan tersebut dibuat dengan tujuan dan alasan tertentu.65 Ketika melalui proses sosiologis, politis dan yuridis, Undang-undang No. 23 Tahun 2004 dipengaruhi oleh pemahaman internasional tentang hak asasi manusia (HAM), dan feminisme. Untuk mengkaji pengaruh tersebut, peneliti meng- gunakanteori tentang hak asasi manusia dan feminisme.
63
A. Hamid S. Attamimi, dalam Esmi Warassih,ibid, hlm. 37.
64
Ibid, hlm. 139-140.
65
Ifdhal Kasim, Edisi 6 Tahun II, 2000.Mempertimbangkan Critical Legal Studies dalam Kajian Hukum di Indonesia, Jurnal Ilmu Sosial Transfor- matif, Yogyakarta, hlm. 25.
Hak asasi manusia merupakan suatu perangkat asas-asas yang timbul dari nilai-nilai yang kemudian menjadi kaidah-kaidah yang mengatur perilaku manusia dalam hubungan dengan sesama.66 Hak asasi manusia pada hakikatnya telah ada sejak janin tumbuh dalam kandungan seorang ibu, dan hak itu akan terus ada sampai akhir hayat. Hak asasi manusia adalah hak seorang manusia yang asasi, yang tidak bisa diintervensi untuk ditiadakan oleh orang lain, kelompok atau lembaga mana pun.67 Hak asasi manusia adalah hak yang mendasar dan menyatu dalam jati diri manusia secara universal (human rights are based on the affirmation of human equality).68
Hak asasi manusia dibedakan menjadi dua jenis. Pertama,
Hak Asasi Individual,adalah hak fundamental yang melekat pada pribadi manusia secara individual, yakni hak atas hidup. Misal- nya, hak untuk memperoleh kebebasan pribadi dan kebebasan beragama. Kedua, Hak Asasi Sosial, adalah hak yang melekat pada manusia sebagai makhluk sosial yang dibagi dalam hak ekonomi, sosial dan budaya. Misalnya, hak untuk memperoleh kebutuhan pokok untuk hidup (pangan, sandang, pendidikan, ke- sehatan dan kerja).69
John Locke mengatakan bahwa manusia dilahirkan bebas dan setara, artinya setiap manusia memiliki hak-hak yang tidak dapat dilepaskan dari dirinya, Hak Alamiah. Hak alamiah tersebut ter- lepas dari segala adat istiadat atau aturan tertulis. Hak alamiah 66
Anthony Flew, 1984.A Dictionary of Philosophy, StMartin’s Press, New
York, hlm 306.
67
A. Bazar Harahap dan Nawangsih Sutardi, 2006.Hak Asasi Manusia dan Hukumnya, Pecirindo, Jakarta, hlm. 7.
68
Tom Chambell, dalam Arend Souteman, 2001. Pluralisme and Law, Kluwer Academic Publiser, Boston, hlm. 63.
69
mendahului posisi legal, kultural, ekonomi dan sosial manusia dalam satu komunitas.70 Selanjutnya John Locke dan Jefferson mendefinisikan hak asasi manusia dengan menegaskan bahwa hak tersebut diberikan Sang Pencipta kepada manusia, agar ma- nusia dapat hidup bahagia dan sejahtera. Hak asasi manusia tidak boleh diambil oleh siapa pun juga, karena hak tersebut berupa hak untuk hidup (rights of file), dan hak untuk memperoleh kebebasan (liberty). Dengan adanya hak tersebut, setiap manusia menjadi setara dalam hukum dan politik.71
Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia, mendefinisikan bahwa hak asasi manusia
adalah seperangkat hak yang melekat keberadaannya pada manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Mahaesa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilin- dungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi ke- hormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. HAM berlaku baik untuk perempuan maupun laki-laki, dan menjamin setiap individu untuk hidup dengan martabat dan kebebasannya. HAM menjadi sesuatu yang penting, karena secara tradisional hak asasi manusia hanya berurusan dengan hukum negara yang terjadi di ruang publik, terpisah jauh dari ruang privat di mana sering kali terjadi pelanggaran hak asasi perempuan. HAM secara tradisional mengkategorikan kekerasan dengan tidak menyertakan perempu- an di dalamnya dan meminggirkan isu-isu perempuan.72
70
Rocky Gerung, 2006.Hak Asasi Manusia, Teori Hukum, Kasus. Filsafat Hukum,UI Press, Jakarta, hlm. 7.
71
A. Bazar Harahap dan Nawangsih Sutardi, Hak Asasi Manusia dan Hukumnya,op.cit, hlm. 6.
72
Gadis Arivia, 2006. Feminisme: Sebuah Kata Hati, Kompas, Jakarta, hlm. 310.
Hak asasi manusia secara prinsip memiliki sifat-sifat dasar yanginherentatau melekat pada diri manusia. Hak asasi manusia itu universal, berlaku untuk semua orang. Hak asasi manusia itu
inalienableatau tidak dapat dipungkiri; indisibleatau tidak dapat dibagi; dan interdependent atau saling tergantung. HAM harus dilindungi, dihormati dan dipertahankan, tidak dapat dikurangi atau dirampas oleh siapa pun.
Konsep universalisme ini mendapat tentangan dari penganut aliran sosialisme, karena dinilai mengutamakan individualisme yang dapat menumbuhkan kapitalisme serta memperkokoh ke- senjangan sosial. Pandangan ini telah mengakibatkan benturan ideologis atas konsep klasik HAM di Barat dan Timur, sehingga melahirkan persepsi dan teori hak asasi manusia yang berbeda. Pengaruh paham sosialisme memunculkan teori relativisme budayayang intinya berpandangan bahwa HAM harus diletakkan dalam konteks budaya tertentu dan menolak pandangan adanya hak yang bersifatuniversal.
Selain universal, prinsip dasar hak asasi manusia lain yang penting adalah:
1. Kesetaraan, suatu gagasan untuk meletakkan semua orang terlahir bebas dan memiliki kesetaraan dalam HAM.
2. Non-diskriminasi, konsekuensi dari prinsip keseta- raan karena diskriminasi melahirkan kesenjangan perlakuan.
3. Kewajiban positif untuk melindungi hak-hak ter- tentu.73
73
Rahayu, 2010. Hukum Hak Asasi Manusia (HAM), Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, hlm. 3-13.
Ada dua konvenan tentang HAM internasional, yaitu Konve- nan Hak Sipil dan Politik (SIPOL) dan Konvenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (EKOSOSBUD). Konvenan Hak SIPOL termasuk Non Derogable Right, yaitu hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan atau dibatasi (dikurangi) pemenuhannya oleh negara, meskipun dalam kondisi darurat sekalipun. Konvenan Hak SIPOL di antaranya memuat hak-hak seperti hak hidup; hak bebas dari perbudakan dan penghambaan; hak untuk tidak dijadi- kan obyek dari perlakuan penyiksaan atau penghukuman keji; hak untuk diperlakukan secara manusiawi dan tidak direndahkan martabatnya sebagai manusia; hak untuk mendapatkan pemulihan menurut hukum; hak untuk dilindungi dari penerapan hukum pi- dana karena utang; hak untuk bebas dari penerapan hukum pidana yang berlaku surut; hak diakui sebagai pribadi di depan hukum; kebebasan dalam berpikir dan berkeyakinan atau beragama.
Konvenan EKOSOSBUD termasuk Derogable Right, yaitu hak-hak yang dapat ditangguhkan atau dibatasi (dikurangi) pe- menuhannya oleh negara dalam kondisi tertentu. Konvenan hak EKOSOSBUD di antaranya hak untuk bekerja; hak untuk menik- mati kondisi kerja yang adil dan baik; hak untuk membentuk dan ikut dalam organisasi; hak mendapatkan pendidikan; serta hak berpartisipasi dan berbudaya. Namun seperti hak SIPOL, penang- guhan atau pembatasan dapat diperketat, yaitu diatur oleh hukum dengan maksud semata-mata untuk memajukan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat yang demokrasi.74
Sejumlah teori hukum telah digagas sebagai reaksi terhadap fenomena ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat. Salah satu teori yang menyoroti ketidakadilan dalam implementasi hu- 74
kum dan mempertanyakan netralitas hukum adalah teori hukum feminis.75 Teori ini muncul seiring dengan berkembangnya gerakan Critical Legal Studies di Amerika Serikat. Teori hukum feminis adalah sebuah pemikiran yang berusaha melakukan terobosan terhadap berlakunya hukum, yang telah melahirkan diskriminasi terhadap perempuan.76 Teori hukum feminis ini dilandasi feminisme yurisprodence, yakni filsafat hukum yang didasarkan pada kesetaraan hak di bidang politik, ekonomi dan sosial, di mana melalui beberapa pendekatan telah diidentifikasi unsur-unsur gender dan akibatnya pada hukum yang netral serta pelaksanaannya.77
Charlotte Bunch menulis, bahwa perjuangan hak asasi pe- rempuan memang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan hak-hak perempuan, apalagi hak asasi perempuan lahir dari sebuah kon- ferensi dunia tahun 1993, di mana telah ditetapkan bahwa hak-hak perempuan harus diartikan juga sebagai hak asasi manusia.78 Teori hukum feminis secara kritis berpendapat bahwa hukum yang dimaknai melalui positivisme hukum akan berdampak tidak sesuai dengan perspektif perempuan, yang tidak terwakili oleh putusan-putusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan penguasa atau negara yang cenderung memiliki pola pikir patriarkis. Dunia tidak pernah menyadari kalau sistem hukum memang berkelamin laki-laki, walaupun kesadaran tersebut hanya bisa muncul bila orang bergerak dalam ranah sosiologis hukum. Sebaliknya studi 75
Niken Savitri,HAM Perempuan: Kritik Teori Hukum Feminis terhadap KUHP,op.cit,hlm. 26-27.
76
Margaret Davies,1994. Asking the Law Question, The Law Book Company Limited ltd, hlm. 167.
77
Ibid.
78
Charlotte Bunch, 1990, Women’s Human Right: Towards A Revision of Human Rights,Human Rights Quarterly 2, hlm. 486.
hukum positivistis, dogmatis, dan analitis justru tidak mampu membawa manusia pada kesadaran seperti itu.79
Feminisme memiliki komitmen dalam kesetaraan dan berke- yakinan bahwa unsur biologis membuat laki-laki dan perempuan berbeda, di mana kategori seks tersebut juga membedakan per- buatan laki-laki dan perempuan. Namun, jika terjadi suatu per- bedaan, kaum feminis menyebutnya sebagai suatu rekayasa sosial. Feminisme dalam hubungannya dengan hukum meyakini bahwa subordinasi perempuan berakar dari serangkaian hambatan berdasarkan adat kebiasaan dan hambatan hukum, yang memba- tasi keberhasilan perempuan dalam dunia publik karena berasumsi bahwa perempuan tidak secerdas laki-laki dan perempuan tidak berpotensi seperti laki-laki.80 Dalam kajian kritis hukum feminis, terdapat lima hal penting dalam cara berpikir kritis feminis, yaitu: adanya bias gender secara implisit, jeratan atau ikatan ganda, dilema dari perbedaan, reproduksi model dominasi laki-laki, dan membuka pilihan-pilihan perempuan.81 Patricia Cain mengatakan bahwa pengkajian hukum secara feminis dapat disebut sebagai
teori feminis bila didasarkan pada pengalaman perempuan. Pe- nekananpengalaman perempuan berguna untuk mengidentifikasi eksklusivitas hukum, khususnya penderitaan perempuan yang tidak dikenali (dipahami dan direfleksikan) oleh pengadilan atau
79
Satjipto Rahardjo, 2004.Membicarakan Feminis Jurisprodence,Makalah Temu Ilmiah Pengajar dan Peminat Hukum yang Berperspektif Gender, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.
80
Rosemarie Putnam Tong, 2008. Feminist Thought, Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, alih bahasa Aquarini Priyatna Prabasmoro, Jalasutra, Yogyakarta, hlm. 2.
81
Niken Savitri,HAM Perempuan: Kritik Teori Hukum Feminis terhadap KUHP,op.cit,hlm. 28-29.
peraturan, atau telah terminimalisir karena pengalaman perem- puan tidak secara cukup terekspresikan dalam hukum.
Feminisme berusaha membuat cakrawala penalaran hukum yang baru, yaitu dengan memberi penekanan pada perempuan dengan cara membongkar adanya bias gender dalam perundang- undangan, standar dan konsep yang kasat mata terlihat obyektif dan netral tetapi di balik itu semua telah menimbulkan dampak yang merugikan perempuan.82 Terhadap perundang-undangan yang demikian feminis meyakini bahwa penyebabnya terletak pada proses perumusan hukum dan kebijakan yang dibuat oleh laki-laki, dengan kacamata laki-laki, dan didasarkan pada norma laki-laki. Akibatnya, pengalaman perempuan, kepentingan dan makna keadilan bagi perempuan tidak diperhitungkan. Produk hukum termasuk putusan pengadilan yang demikian, akan sulit memberi keadilan yang sesungguhnya kepada perempuan.
Feminist legal theorists have established that law does not reflect women’s realities and experiences and is’blind’ to gender differences existing in reality. Oleh karena itu harus dilakukan perubahan dalam program pembangunan hukum, yakni dengan mengkondisikan budaya politik dan budaya hukum dalam norma masyarakat bersangkutan.83
Kajian tentang standar norma masyarakat sejumlah fakta sosial menunjukkan bahwa selama ini di dalam masyarakat telah digunakan standar tunggal, di mana laki-laki dijadikan norma dan 82
Martha Chamallas, 2003.Introduction to Feminist Legal Theory,Aspen Publisher, hlm. 5.
83
Bartlett, 1991; Weisberg, 1993; Griffiths, 2001; Bentzon, 1998, dalam Sulistyowati Irianto dan Antonius Cahyadi, 2008.Runtuhnya Sekat Perdata dan Pidana: Studi Peradilan Kasus terhadap Perempuan, Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia dan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hlm.14.
diberlakukan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Padahal, pengalaman perempuan dan laki-laki sering kali berbeda, karena seksualitas dan tradisi dalam masyarakat yang menomorduakan perempuan.84 Piere Bourdieu ketika meneliti struktur dominasi laki-laki dengan menggunakan metode etnografi di daerah Kabyle (Kabil) di pegunungan Aljazair menyimpulkan bahwa dominasi maskulin benar-benar telah mengakar dalam alam bawah sadar kita, sehingga kita tidak bisa mengenalinya meski secara sekilas saja. Budaya maskulin dapat tertanam dalam bawah sadar manu- sia, karena budaya itu tidak harus selalu muncul secara terang- terangan dan eksplisit sebagai pembelaan terhadap kaum lelaki, tetapi dapat berupa dikotomi-dikotomi dalam masyarakat yang mengekslusifkan pengalaman perempuan, nilai-nilai ketidakber- pihakan pada perempuan (netralitas, empirisme dan positivisme dalam hukum).85 Akibatnya menurut Marlilyn Frey, perempuan sering kali harus berhadapan dengan ikatan ganda ketika akan mencari keadilan bagi dirinya. Ikatan ganda tersebut adalah dilema bagi perempuan, karena dipaksa untuk memprediksi dari pilihan yang harus diambil dan yang mengandung risiko paling sedikit bagi dirinya.86
Perempuan dalam berbagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, sering kali harus menghadapi dilema. Korban KDRT harus memilih, antara melaporkan pelaku kekerasan yang tidak lain adalah suaminya sendiri yang selama ini memberikan nafkah bagi keluarga, atau tidak melaporkan yang berarti perempuan 84
Donovan, 2001; Barett dan Phillips,1992; Wallace,1989; dan Smith, 1999, dalam Liem Sing Meij, Ruang Lingkup Sosial Baru Perempuan Tionghoa; Sebuah Kajian Pascakolonial,op.cit,hlm. 9.
85
Sulistyowati Irianto dan Antonius Cahyadi,Runtuhnya Sekat Perdata dan Pidana: Studi Peradilan Kasus terhadap Perempuan,op.cit, hlm. 303.
86
harus memaafkan pelaku atau membiarkan kekerasan terjadi. Kondisi hukum yang tidak memberikan pilihan ini, membuat pe- rempuan lebih suka diam dan membiarkan dirinya terjerat dalam kondisi yang dianggap memiliki risiko paling kecil, yaitu mem- biarkan kekerasan terus berlangsung dan membiarkan hak-haknya terabaikan.87