6. Pokok-pokok Penelitian
6.12. Pluralisme Hukum sebagai Sarana Merekonstruks
Hukum yang berlaku dalam masyarakat secara empiris terwujud dalam bentuk hukum negara (state law), hukum agama (religious law), dan hukum kebiasaan (customary law),kondisi ini 139
merupakan pembenaran bahwa di dalam masyarakat terdapat ke- majemukan atau keragaman dalam menjaga keteraturan sosial.140 Pluralisme hukum bermaksud untuk mengutamakan keberadaan dan instansi sistem-sistem hukum dalam masyarakat, yaitu hukum negara (state law), sistem hukum rakyat (folk law), dan sistem hukum agama (religious law). Konsep pluralisme hukum dalam konteks ini tidak mengabaikan kemajemukan sosial dan budaya dalam masyarakat, termasuk di dalamnya norma-norma hukum lokal yang secara nyata dianut dan dipatuhi anggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat dibandingkan dengan hukum yang diciptakan dan diberlakukan oleh negara (state law).
Pada masa kini, globalisasi telah merasuk hampir di seluruh kehidupan manusia. Globalisasi bukan sekadar “sebuah per- jalanan dari Barat ke Timur” melalui penyebaran nilai dan konsep demokrasi, hak asasi manusia beserta instrumen hukumnya. Namun globalisasi adalah penyebaran nilai, konsep dan hukum dari berbagai penjuru dunia menuju ke berbagai penjuru dunia. Globasisasi juga diiringi proses glokalisasi, karena nilai-nilai lokal dibawa dari satu tempat ke satu tempat lainnya.141 Akibat- nya, sering kali terjadi pertentangan ketika kebijakan internasional diimplementasikan dan berhadapan dengan entitas regional, etnik dan keagamaan.142
Werner Menski berpendapat, titik akhir dari globalisasi adalah keanekaragaman yang tidak terbatas, bukan sebaliknya 140
Griffiths: “Legal Pluralism is the fact, legal centralism is a myth, an ideal, a claim, an illusion,” dalam Sulistyowati Irianto, 2003. Pluralisme Hukum dan Masyarakat Saat Krisis, dalam Hukum dan Kemajemukan Budaya,Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hlm. 79.
141
Benda–Bechmann, F&K, Griffiths, dalam Sulistyowati Irianto, Plural- isme Hukum dalam Perspektif Global, ibid,hlm. 32.
142
penyeragaman yang sangat tidak realistis. Oleh karena itu globalisasi berjalan seiring dengan glokalisasi (pluralitas). Dalam perspektif hukum, adanya globalisasi telah mengakibatkan batas- an teritorial dan kedaulatan negara menjadi tidak tegas penga- ruhnya, sehingga hukum yang berlaku menjadi semakin plural. Hal ini menyebabkan seorang individu tidak lagi menjadi anggota masyarakat lokal saja, tetapi juga anggota masyarakat suatu negara yang adalah bagian dari masyarakat internasional. Kondisi ini dalam kenyataannya sering kali menimbulkan pertentangan karena adanya perbedaan dengan norma yang berlaku. Oleh karena itu, interpretasi yang dilakukan negara terhadap ketentuan- ketentuan internasional dalam rangka menjadikannya sebagai instrumen hukum positif di dalam negeri, harus mempertim- bangkan tingkat kebutuhan. Hal itu menjadi bagian yang sangat penting, untuk mengurangi atau menghilangkan pertentangan perbedaan norma tersebut. Untuk menjawab persoalan yang timbul dari globalisasi, Werner Menski memberi solusi melalui konsep pendekatan hukumTriangular Concept of Legal Pluralim
(Konsep Segitiga Pluralisme Hukum). Teori Hukum Pluralisme ini memperkuat konsep Lawrence Fiedman tentang adanya unsur sistem hukum ketiga, yaitu kultur hukum.
Teori Hukum Pluralisme telah memberikan sanggahan dan mengganggap bahwa penggunaan satu jenis pendekatan saja, pendekatan normatif (positivistik), atau pendekatan empiris (sosiologis, antropologis, psikologis dan yang lainnya), atau pendekatan nilai dan moral (filsosofis), sudah sangat tidak relevan lagi untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum di era glo- balisasi. Teori Menski melakukan pendekatan hukum normatif, empiris dan filosofis secara proporsional dan serentak untuk
menyelesaikan permasalahan hukum, karena hukum dianggap sebagai fenomena global yang memiliki kesamaan di seluruh dunia, dalam pengertian bahwa hukum selalu terdiri dari nilai etis, norma sosial dan aturan-aturan yang dibuat negara, meskipun dalam realitasnya muncul banyak sekali variasi budaya yang spesifik.143
Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, adalah hukum negara. Makna KDRT dalam rumusan peraturan ini dipengaruhi oleh gerakan hak asasi manusia dan kesetaraan gender, oleh karena itu undang- undang ini mendasarkan pemaknaan pada kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki dalam keluarga, sehingga menganggap KDRT sebagai pelanggaran hak asasi manusia, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan, dan diskriminatif.
Di sisi lain, masyarakat Tionghoa memiliki nilai-nilai budaya hukum yang mengakui ketidaksetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Namun, budaya hukum masyarakat Tionghoa tidak menyetujui adanya KDRT dalam keluarga, karena mereka memahami perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang harmonis. Oleh karena itu mereka tidak menyetujui adanya perceraian, dan menyerahkan semua permasalahan kepada ke- luarga senior yang dianggap lebih bijak. Pemahaman tersebut sejalan dengan tafsir ajaran KongHu cu yang juga menempatkan perempuan di bawah laki-laki, dan istri di bawah suami dalam keluarga. Walau demikian, Konfusius mengartikan perkawinan sebagai salah satu tugas suci manusia dan tujuan perkawinan 143
Werner Menski, 2006.Comparative Law in A Global Context: The Legal System of Asia and Afrika,Cambridge University Press, hlm. 82-128. Lihat juga Suteki, 2013. Desain Hukum di Ruang Sosial, Thafa Media, Yogya- karta, hlm. 195-197.
adalah membentuk keluarga harmonis, damai, maju dan bahagia lahir dan batin, sehingga dalam ajaran ini tidak dikenal adanya perceraian. Pemahaman serupa juga datang dari tafsir ajaran agama Kristen dan Katolik yang menganggap adanya campur tangan Tuhan dalam perkawinan, dan apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak boleh diceraikan. Jika terjadi permasalahan dalam keluarga, tafsir ajaran Konfusius menempatkan cinta kasih dan tafsir ajaran Kristen dan Katolik mengutamakan pengampun- an dan kasih.
Kenyataan menunjukkan, dalam upaya menghapus KDRT di kalangan masyarakat Tionghoa, berlaku kemajemukan hukum, yaitu hukum negara—Undang-undang No. 23 Tahun 2004; budaya hukum masyarakat; dan tafsir ajaran agama yang dianut korban. Oleh karena itu untuk mengarahkan perilaku masyarakat agar tidak melakukan KDRT dan melindungi perempuan sebagai kelompok rentan, tidak dapat dilakukan dengan pendekatan nor- matif saja, melainkan juga melakukan pendekatan dari nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan dari ajaran agama yang dipeluk korban.
Jika Teori Pluralisme Hukum diterapkan dalam permasalah- an ini, maka KDRT harus dimaknai sebagai perbuatan yang me- langgar hukum negara, hukum agama dan budaya masyarakat, karena merusak tujuan perkawinan dengan melakukan pelanggar- an terhadap hak asasi yang diberikan oleh Tuhan, yang seharus- nya dihormati dan tidak boleh diintervensi. Dengan pemahaman tersebut maka kedudukan istri sebagai ibu rumah tangga di bawah suami sebagai kepala rumah tangga, harus dimaknai bukan se- bagai bentuk ketidaksetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Sedangkan penyelesaian masalah rumah tangga
melalui keluarga senior, dapat menjadi bentuk alternatif penye- lesaian yang adil dan yang dapat menjaga aib keluarga.
Tafsir Ajaran Agama KongHu Cu/ Kristen/Katolik
Undang-undang No 23 Tahun 2004 Budaya Hukum
Masyarakat Tionghoa
6.13.Pelembagaan Nilai Baru untuk Perlindungan