• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman, Perasaan dan Perilaku Perempuan

Dalam dokumen Ringkasaan Disertasi Pramudya (Halaman 70-77)

6. Pokok-pokok Penelitian

6.8. Pengalaman, Perasaan dan Perilaku Perempuan

Perempuan dalam rumah tangga adalah istri, yang dalam bahasa Jawa disebut garwo, akronim dari sigaraning nyowo

(belahan jiwa) suami, yang harus tunduk dan taat pada suami. Perempuan sering disebut wanita, dari bahasa Jawa wanito, yang merupakan akronim dari wani ditoto (mau diatur). Pengkotakan perempuan di ranah domestik ini diperkuat dengan munculnya idiom yang merendahkan martabat perempuan. Ada di antaranya yang menyatakan bahwa perempuan secara kodrati adalah wife,

akronim dari work, iron, fun and enterteinment (kerja, setrika, obyek kesenangan dan hiburan).

Terminologi Jawa juga mengenal istilah konco wingking

(teman di belakang) sebagai label perempuan. Istri dalam hubung- an dengan suami sering kali dianggap sebagai obyek, bukan subyek yang mempunyai kedudukan yang setara dengan suami. KDRT sering kali terjadi baik dalam masyarakat pedesaan atau perkotaan; baik di kalangan yang kurang berpendidikan maupun yang terdidik; baik keluarga yang mempunyai latar belakang agama yang lemah maupun yang kuat. Ada banyak perempuan yang menerima perlakuan demikian dengan sabar, karena kons- truksi sosial yang terbangun, di mana wanita yang baik adalah yang bersabar dan mengalah kepada suami.116

116

Muhadjir M. Darwin, 2005, Negara dan Perempuan: Reorientasi Kebijakan Publik, Penerbit Media Wacara, Yogyakarta, hlm. 23.

Diskriminasi berbasis gender tampil dalam stereotipe, subordinasi, beban majemuk perempuan dan marginalisasi, yang bermuara pada kekerasan. Stereotipe adalah keyakinan yang salah, namun terus diulang dari generasi ke generasi bahwa perempuan dan laki-laki memiliki karakteristik yang berbeda sejak lahir. Misalnya, perempuan lebih lembut, tergantung, pasif dan emosional, sedang laki-laki aktif, agresif, rasional dan pe- mimpin. Subordinasi adalah pembedaan peran dan posisi antara laki-laki dan perempuan, cenderung menempatkan perempuan da- lam posisi lebih rendah, kurang bernilai dan merugikan. Misalnya, laki-laki dianggap lebih tahu, pemimpin dan pengambil keputus- an, sementara itu perempuan adalah pendamping, hak milik laki- laki, mengikuti keputusan suami, dan mengabdi pada keluarga. Akibat stereotipe dan subordinasi, perempuan sering mengemban

beban majemuk. Perempuan sering melakukan tiga peran, yaitu kerja reproduktif (melahirkan, menyusui, mengurus rumah tangga dan keluarga); kerja produktif (mencari uang); dan kerja sosial (membina hubungan dengan tetangga dan keluarga besar).

Perempuan juga mengalami marginalisasi, perempuan sering ditempatkan di tempat yang tidak penting, tidak dapat atau tidak perlu bersuara, diletakkan di belakang. Dengan gambaran di atas mengakibatkan perempuan lebih rentan kekerasan, perempuan dituntut berbagai kewajiban tetapi lebih sering dilupakan hak-hak mereka, sehingga lebih mudah mengalami ketidakadilan dan akhirnya menjadi sasaran kekerasan.117 Stereotipe, subordinasi, 117

Kristi Poerwandari dan Ester Lianawati, 2010. Petunjuki Penjabaran Kekerasan Psikis, Untuk Menindaklanjuti Laporan Kasus KDRT,Program Studi Kajian Wanita, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta. hlm 7-8.

beban majemuk dan marginalisasi juga dialami oleh perempuan Tionghoa yang menjadi korban KDRT.

Ada sepuluh perempuan Tionghoa korban KDRT yang me- rupakan informan kunci dalam penelitian ini. Kesepuluh informan kunci ini diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berdasar- kan latar belakang pendidikan, ekonomi keluarga dan pekerjaan. Pada saat diwawancarai sembilan dari sepuluh informan kunci tersebut berusia antara 35 dan 45 tahun. Rentangan umur tersebut menunjukkan bahwa mereka lahir antara tahun 1963 dan 1970, yang berarti di masa anak-anak dan remaja, mereka pernah mengalami perlakuan diskriminatif pada zaman Orde Baru berkuasa. Paling tidak orangtua mereka mengalami diskriminasi dan mengajarkan kepada mereka tentang jati diri sebagai etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka dalam istilah Liem Sing Meij, mengalami double colonization, di mana mereka menghadapi tekanan internal dan eksternal sekaligus. Penelitian ini juga me- libatkan satu orang informan perempuan Tionghoa korban KDRT yang berusia antara 25 dan 30 tahun pada saat diwawancarai. Perempuan ini lahir sesudah tahun 1980, di mana pada tahun- tahun tersebut politik diskriminasi Orde Baru sudah mulai surut pengaruhnya. Klasifikasikan informan kunci juga didasarkan pada latar belakang pendidikan, ekonomi keluarga, pekerjaan dan usia korban. Klasifikasi ini sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa KDRT dapat terjadi kepada siapa saja, di mana dan kapan saja, tanpa memandang latar belakang pelaku dan korban. Pan- dangan teoritis ini sesuai dengan dokumen PBB yang menyatakan bahwa KDRT dapat terjadi di seluruh dunia, di semua lapisan atau kelas sosio-ekonomi dan jenjang pendidikan, melampaui batas- batas budaya dan agama.

Informan kunci pertama dalam penelitian ini adalah El, seorang karyawan perempuan dengan latar belakang ekonomi yang terbatas. Ia menikah dengan pemilik perusahaan, tempat di mana dia bekerja. El sempat kuliah selama dua semester, dan suaminya adalah sarjana. Usia pasangan ini sebaya, sekitar 35-40 tahun, dan mereka aktif mengikuti kegiatan di gereja. Setelah menikah, El membantu suaminya mengelola perusahaan milik keluarga. Atas dasar klasifikasi bentuk kekerasan, El mengalami baik kekerasan fisik maupun psikis secara bersamaan dan terus- menerus. Terhadap perlakuan tersebut, El tidak berani melawan. Ia takut suaminya justru akan lebih marah, dan perlakuan itu telah membuatnya rendah diri.

Suatu hari El mengetahui kalau suaminya mempunyai istri simpanan, dan kemudian dia mengajukan gugatan cerai. Di tengah proses persidangan, El disuntik obat bius secara paksa oleh pe- rawat rumah sakit jiwa yang datang ke rumah atas permintaan suaminya. El mengalami koma selama 18 jam dan kemudian mengalami pendarahan sehingga harus dirawat lebih dari 3 bulan. Terhadap peristiwa itu, El tidak melakukan tuntutan, ia memaaf- kan suaminya. Ia beranggapan suaminya tidak bersalah, karena menggagap dirinya sedang depresi sehingga perlu diobati. Ia yakin suaminya tidak bermaksud mencelakakan dirinya.

Informan kunci kedua adalah Tn, seorang karyawan perempu- an dari bank swasta dengan kedudukan sosial yang mapan. Ia sarjana hukum yang menikah dengan seorang dokter. Pasangan suami-istri ini beragama Kristen dan usia mereka sepadan, antara 40 dan 45 tahun. Setelah menikah, Tn berhenti bekerja dan hanya sebagai ibu rumah tangga, suaminya praktik dokter dan memim- pin sebuah rumah sakit. Atas dasar klasifikasi bentuk kekerasan,

Tn mengalami kekerasan fisik, psikis dan seksual secara ber- samaan dan terus- menerus.

Tn beranggapan bahwa sudah sewajarnya jika tugas istri sebagai ibu rumah tangga harus tinggal di rumah, merawat rumah tangga dan anak, serta membahagiakan suami. Oleh karena itu, ia rela meninggalkan kariernya, dan menganggap permintaan itu sebagai bentuk kasih sayang. Tn juga tidak melawan ketika harus “terpaksa” melayani kebutuhan biologis suami, karena dia ingin membahagiakan suaminya.

Informan kunci ketiga adalah In, seorang ibu rumah tangga dengan latar belakang pendidikan sarjana dan tidak bekerja. Suaminya seorang sarjana dan bekerja wiraswasta. Keduanya beragama Katolik dan berusia sekitar 35-40 tahun. Suami In telah selingkuh dan mengakuinya terus terang, bahkan menceritakan pengalamannya berselingkuh dan kehebatan pelayanan seksual dari pasangan selingkuhnya kepada In. Ketika mendengar cerita tersebut, In tidak marah dan juga tidak berpikir untuk bercerai.

Informan kunci keempat adalah Zs, seorang perempuan dengan pendidikan terakhir SMA. Ia menikah dengan pria sebaya dengan dirinya yang juga tamatan SMA. Sebelum dan setelah menikah, mereka belum mempunyai pekerjaan tetap, sehingga menumpang di rumah orangtua laki-laki. Mereka beragama Kris- ten dan berusia sekitar 40-45 tahun. Zs sering menerima pukulan dan tendangan dari suaminya, sehingga menurut klasifikasi bentuk kekerasan, Zs mengalami kekerasan fisik terus-menerus. Ketika Zs mendapat perlakuan tersebut, ia tidak berani melawan karena takut kalau suaminya semakin marah.

Informan kunci kelima adalah Nw, seorang perempuan de- ngan latar belakang pendidikan sarjana dan telah menjadi karya-

wan tetap di perusahaan swasta dengan posisi jabatan cukup tinggi. Suami Nw juga seorang sarjana, yang bekerja sebagai agen asuransi dengan penghasilan tidak tetap. Pasangan ini memeluk agama katolik dan usia mereka sebaya, antara 40 dan 45 tahun. Nw selalu mendapat “omelan” dari suaminya karena setiap peri- lakunya selalu dinilai salah. Selain itu Nw juga pernah men- dapatkan pukulan dari suaminya, dan menurut klasifikasi bentuk kekerasan, ia telah mengalami kekerasan fisik dan psikis terus- menerus.

Informan kunci keenam adalah Ln, seorang perempuan dengan latar belakang pendidikan sarjana, berperan sebagai ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Suami Ln seorang sarjana dan memiliki beberapa perusahaan. Mereka beragama Kristen dan berusia sekitar 40-45 tahun. Suatu hari Ln didiagnosis menderita kanker. Meski demikian, suaminya tidak berperan aktif untuk membawanya berobat. Setelah beberapa waktu Ln tahu bahwa suaminya ternyata mempunyai istri simpanan. Ln menurut klasifikasi bentuk kekerasan telah mengalami kekerasan psikis dan penelantaran.

Informan kunci ketujuh adalah Kt, seorang dosen perempuan, suaminya seorang sarjana tetapi tidak memiliki pekerjaan tetap. Suami istri ini beragama Kristen dan berusia sekitar 40-45 tahun. Kt sering menerima pukulan, tendangan, hinaan dari suaminya, dan menurut klasifikasi bentuk kekerasan, ia mengalami kekeras- an fisik dan psikis secara bersamaan dan terus menerus. Suatu ketika suami Kt menuduh dirinya selingkuh, kemudian Kt dan anaknya diajak naik mobil. Teryata di dalam mobil si suami itu telah menyiapkan bensin, yang kemudian disiramkan pada Kt dan juga anak mereka sambil mengancam akan membakar keduanya.

Informan kunci kedelapan adalah Dt, dokter perempuan yang menikah dengan seorang insinyur yang bekerja sebagai karyawan tetap sebuah perusahaan swasta. Mereka beragama Kristen dan berusia sekitar 40-45 tahun. Suatu hari suami Dt menerima pe- mutusan hubungan kerja karena perusahaan tutup. Sejak saat itu suaminya menganggur dan berubah kepribadiannya. Suami Dt mempunyai perilaku seksual yang menyimpang dan Dt selalu mendapatkan kekerasan seksual, yang menurut klasifikasi bentuk kekerasan ia telah mengalami kekerasan seksual dan psikis secara terus-menerus.

Informan kunci kesembilan adalah Fn, perempuan dengan pendidikan terakhir SMA. Ia menikah dengan laki-laki dengan latar belakang pendidikan yang sama. Keduanya berusia sekitar 40-45 tahun dan beragama KongHu Cu. Suami Fn menuduh dirinya selingkuh. Ia dipukuli, ditelanjangi dan sekujur tubuhnya disulut rokok. Fn menurut klasifikasi bentuk kekerasan telah mengalami kekerasan fisik dan psikis terus- menerus.

Informan kunci terakhir adalah Vd, perempuan dengan latar belakang pendidikan sarjana, dan suaminya juga seorang sarjana. Keduanya beragama Kristen dan berusia sekitar 30-35 tahun. Vd adalah karyawan tetap sebuah perusahaan, sedangkan suaminya dekorator yang tidak mempunyai penghasilan tetap. Suami Vd memiliki utang kepada banyak orang, dan sebagai istri Vd sering kali mendapat tekanan dari para kreditur untuk segera melunasi utang-utang suaminya. Sementara itu suaminya senantiasa berkata kepada banyak orang bahwa yang utang adalah Vd karena suka berfoya-foya. Vd menurut klasifikasi bentuk kekerasan telah mengalami kekerasan psikis yang terus- menerus.

Temuan penelitian ini menunjukkan fakta bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat dipisah ke dalam klasifikasi bentuk kekerasan, tetapi juga dapat merupakan gabungan dari dua atau lebih bentuk kekerasan. Para korban umumnya merasa bingung, malu jika aibnya diketahui orang lain. Mereka tidak berdaya ka- rena merasa lemah, takut melawan, merasa bersalah, dan rendah diri. Oleh karena itu para korban KDRT memilih untuk mengalah, memaafkan dan tidak berpikir untuk bercerai karena takut berdosa.

Dalam dokumen Ringkasaan Disertasi Pramudya (Halaman 70-77)