6. Pokok-pokok Penelitian
6.9. Pemaknaan KDRT Perempuan Tionghoa
Blumer mengatakan bahwa dunia empiris terdiri dari manusia beserta berbagai kegiatan sehari-hari mereka. Pengetahuan dan perilaku intim itu hanya dapat diperoleh melalui tangan per- tama.118 Selanjutnya dijelaskan bahwa simbol dalam interaksi manusia sebagai berikut: Interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran dengan menemukan makna tindakan orang lain, interaksi simbolik bertumpu pada tiga premis utama, yaitu:119
1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu (benda) itu bagi mereka.
2. Makna tersebut merupakan hasil interaksi sosial se- seorang dengan orang lain dalam masyarakat.
118
Herbert Blumer, 1992, Simblolic Interactions Perspektive and Method, Prentice Hall, Englewood Cliffs, NJ, hlm. 34.
119
Ibid, hlm. 2, lihat Ian Craib, 1986.Teori-teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Rajawali Press, Jakarta, hlm 112.
3. Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi berlangsung melalui penafsiran oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan sim- bol-simbol yang dihadapi.
Dengan demikian dunia “makna” adalah dunia yang tidak tampak yang ada di kepala seseorang atau tepatnya di alam pikiran. Dunia makna menjadi nyata ketika diwujudkan dalam bentuk simbol- simbol oleh pembuat makna, namun simbol-simbol tetaplah dunia abstrak yang belum dibahasakan secara jelas.
Rumusan Undang-undang No. 23 Tahun 2004
Hermeneutika
Verstehen
Makna KDRT Menurut Pefempuan
Ketika mengalami KDRT, para informan kunci memilih diam, mengalah, tidak melawan, tidak membantah, memaafkan, tidak marah, tidak ingin bercerai, dan bekerja keras untuk menu- tup aib keluarga. Jika perilaku mereka dikaitkan dengan budaya Tionghoa dan teori-teori tentang kekerasan dalam rumah tangga, maka terlihat adanya korelasi. Perilaku tersebut sejalan dengan nilai-nilai dalam budaya hukum masyarakat Tionghoa yang menempatkan perempuan di bawah laki-laki; istri yang dituntut untuk tunduk kepada suami yang merupakan kepala keluarga; dan kewajiban istri untuk membahagiakan dan melayani suami.
Perempuan korban KDRT memilih patuh dan bungkam ka- rena mereka berhadapan dengan kekuatan yang timbul dari dalam dan dari luar dirinya.120 Perilaku pasrah, mencerminkan bentuk ekspresi dari perasaan frustrasi ketika mengalami KDRT, di mana nilai-nilai dalam budaya hukum tidak memberikan pilihan kepada mereka. Mereka diam karena merasa tidak berdaya, sehingga membiarkan diri terjerat dalam kondisi yang dipandang memiliki risiko paling rendah, yang secara tidak langsung membiarkan kekerasan terus berlangsung dan hak-hak mereka terabaikan.121 Itulah kondisi yang menyebabkan perempuan Tionghoa memak- nai KDRT sebagai hal yang wajar, dan mereka lebih memilih untuk menyelesaikan persoalan KDRT kepada orang atau ke- lompok orang senior yang dianggap bijak dan berintegritas tinggi.
120
Liem Sing Meij menyebutkannya sebagai kondisidouble colonization.
121
Fenomena ini menurut kaum feminis dikatakan sebagai reproduksi pola dominasi laki-laki, bahkan ditegaskan bahwa adanya perubahan di bidang hukum untuk memajukan perempuan hanya retorika belaka, karena perubahan tersebut telah membuat kaum laki-laki semakin memperkuat dominasi mereka terhadap perempuan, Martha Chamallas, dalam Niken Savitri, HAM Perempuan: Kritik Teori Hukum Feminis terhadap KUHP, op.cit, hlm. 30.
Pilihan tersebut justru semakin menjauhkan mereka dari upaya perlindungan hukum yang diberikan oleh negara. Hal ini ter- cermin dari perilaku beberapa informan kunci, seperti El yang meminta kasus pidana penyuntikan obat bius dicabut di Ke- polisian. Mn tidak menginginkan perceraian, walau telah disiram bensin oleh suaminya dan akan dibakar bersama anaknya. In tidak menginginkan perceraian, walau suaminya telah mengaku ber- selingkuh dan bahkan membandingkan pelayanan seksual korban dengan teman selingkuhnya.
Namun demikian ketika korban mendapat tekanan terus- menerus, data penelitian menunjukkan adanya perilaku korban yang menyimpang, yaitu dengan mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Hal ini tercermin dari kasus El yang memutuskan pergi ke luar negeri justru ketika mengalami pendarahan akibat suntikan obat bius yang didalangi suaminya—El ingin melakukan bunuh diri. Sz, Nw, Vn dan Dt pergi meninggalkan suami tanpa pamit. Jalan pintas yang diambil oleh para informan kunci ini sejalan dengan teori kekerasan yang mengatakan bahwa dampak dari kekerasan biasanya korban me- ngalami perasaan bingung, malu, hilang rasa percaya diri, depresi bahkan bisa bunuh diri.122 Jalan pintas dipilih korban karena merasa sudah tidak kuat menahan penderitaan sedangkan budaya hukum tidak memberikan solusi pemecahan.
Pemaknaan perempuan Tionghoa korban KDRT yang meng- anggap KDRT sebagai hal yang wajar, ternyata sejalan dengan pemaknaan pelaku KDRT, seperti tercermin dari fakta yang ditemukan dalam penelitian ini. Hal ini dapat diketahui dari alasan
122
Meyske S. Tungka, Liana Poedjihastuti dan Pramudya,Cinta Kok Gitu..., loc.cit.
YS suami El, ketika menjawab pertanyaan mengapa dia meme- rintahkan matri rumah sakit jiwa untuk menyuntik paksa El:
“Saya tidak bermaksud mencelakai istri saya, tindakan tersebut saya lakukan karena saya melihat istri saya stress sehingga perlu ditenangkan dan dirawat di rumah sakit.”
Kalimat dengan motif yang sama juga diucapkan oleh Hs suami Fn, ketika ditanya mengapa dia tega menyulut rokok di sekujur tubuh istrinya, Hs menjawab:“Sebagai kepala rumah tangga, saya hanya memberi pelajaran kepada istri saya, agar dia berkata jujur tentang perselingkuhan yang dia lakukan.”
Sedangkan Mn suami Kt, ketika ditanya oleh hakim: “Mengapa kamu menyiram bensin kepada istri dan anakmu di mobil dan memainkan korek api?” Mn menjawab: “Saya hanya menakut- nakuti istri saya agar dia mengaku telah selingkuh.” Jf suami Nw, dan Ls suami Tn, juga memberikan alasan yang sama ketika ditanyakan mengapa dia melakukan perbuatan tersebut kepada pasangannya: “Nw selalu berbuat ceroboh. Sebagai suami saya berhak untuk mengatur dan menegur bila dia melakukan kesalah- an,”kata Jf saat ditanya mengapa dia selalu marah kepada Nw.
Sedangkan Ls melarang istrinya bekerja, dan melakukan aborsi anak yang keempat, dengan alasan: “Sebagai ibu rumah tangga, dia tidak usah bekerja di luar rumah. Dia harus mengurus dan menjaga anak-anak, dan melayani saya. Saya juga menilai tiga orang anak sudah cukup, sebab semakin banyak anak akan semakin banyak uang yang dibutuhkan, sehingga anak ke- empat tidak perlu ada dan terjadinya juga tidak direncanakan.”
Alasan-alasan yang dikemukakan para pelaku KDRT menun- jukkan bahwa mereka melakukan perbuatan KDRT semata-mata dalam rangka menjalankan hak sebagai laki-laki, yang adalah
kepala rumah tangga. Oleh karena itu mereka merasa wajar jika perbuatan itu dilakukan demi keluarga.
Pemahaman serupa juga terjadi pada pelaku KDRT dari etnis lain. Ad adalah seorang laki-laki etnis Jawa yang beragama Islam. Ia sering memukul Yn, istrinya, dan ketika ditanya mengapa melakukan perbuatan itu, ia menjawab:“Saya tidak bermaksud menyakiti atau menganiaya dia, namun sebagai kepala rumah tangga saya berhak mengatur istri saya, menegur dan meng- ingatkan dia.”
6.10.Penyebab Terjadinya Kesenjangan Pemaknaan KDRT