6. Pokok-pokok Penelitian
6.10. Penyebab Terjadinya Kesenjangan Pemaknaan
Hukum dan budaya adalah dua variabel yang berhubungan secara korelatif, artinya hukum dengan budaya saling mempe- ngaruhi. Perpektif pertama menempatkan hukum mempengaruhi budaya dan menempatkan budaya sebagai variabel terikat, artinya hukum memberi arah dalam pengembangan budaya sehingga budaya terikat pola yang digariskan oleh hukum. Perspektif kedua menempatkan hukum pada posisi dependent variable, artinya budaya menentukan arah kebijakan hukum sehingga hukum terikat pada format yang telah digariskan oleh budaya. Dengan demikian, hukum merupakan penjelmaan dari budaya. Pandangan kaum positivis yang menganggap hukum sebagai teks dan meng- eliminasi peran manusia ke ranah empiris, ternyata tidak dapat menggambarkan representasi kehidupan hukum yang autentik, karena dalam realitas kehidupan ditemukan perilaku manusia sebagai hukum. Oleh karena itu, tidak mungkin mengabaikan peran manusia dalam bekerjanya hukum, sebab hukum bukan
sekadar apa yang ditulis dan dikatakan oleh teks,123melainkan ada juga hukum di luar lingkaran itu, yaitu pada perilaku dan tindakan manusia. Hukum sebagai teks bersifat “diam”, namun melalui perantara manusia hukum menjadi “hidup”.124
Peran manusia adalah pada perilaku dan tindakan, yang dapat mengakibatkan hukum ditambah dan diubah, karena perilaku manusia lebih bervariasi dan bukan mesin yang bekerja secara otomatis dan berfungsi mengaplikasi hukum yang ditulis dalam perundang-undangan.125 Roger Cotterell menjelaskan hal ini de- ngan menggunakan istilah “The Invocation of Law”.126 Cotterell berpendapat bahwa negara menyediakan fasilitas melalui pem- buatan hukum, namun untuk selebihnya diserahkan kepada rakyat tentang apa yang ingin dilakukan, apakah akan menggunakan hu- kum atau tidak. Jika rakyat memilih untuk tidak memakai hukum, maka hukum akan menjadi hukum yang berlaku namun tidak dipakai rakyat.127 Oleh karena itu Satjipto Rahardjo menegaskan bahwa tidak mungkin peran manusia ditinggalkan dalam bekerja- nya hukum, sebab hukum bukan sekadar apa yang ditulis dan di- katakan teks.128
123
Chambliss dan Seidman mengatakan bahwa hukum adalah “the myth of
the operation of law is given the lie dialy”, dalam Satjipto Rahardjo, 2009. Hukum dan Perilaku, Kompas, Jakarta, hlm. 20.
124
Black mengatakan bahwa perantaraan manusia seperti itu disebut mobilisasi hukum, dalam Satjipto Rahardjo,Ibid, hlm. 21.
125
Chambliss dan Seidman mengatakan“the Myth of the operation of law is given the lie dialy”, sedangkan Roger Catterell menggunakan istilah untuk perilaku manusia sebagai“the inovation of law”,dalam Satjipto Rahardjo, Ibid, hlm. 20.
126
Roger Cotterell, 1992, The Sociology of Law: An Introduction, Butterworhs, London,
127
Hukum yang “ditidurkan” atau Statury Dormancy, Chambliss, 1969, dalam Satjipto Rahardjo,Hukum dan Perilaku,op.cit, hlm. 21.
128
Dengan demikian hukum bukan hanya yang dibentuk melalui penguasa dalam wujud peraturan tertulis, namun hukum juga diproduksi oleh masyarakat, yakni melalui perilaku individu yang timbul secara serta merta karena adanya interaksi individu dalam masyarakat. Perilaku tersebut adalah perilaku mandiri tanpa ada hubungannya dengan kepatuhan hukum, karena itu tidak selalu harus bertolak dari kesadaran untuk patuh kepada hukum tertulis yang dibuat penguasa.129 Kenyataan menunjukkan ada banyak anggota masyarakat yang tidak cukup memperoleh pengetahuan tentang hukum, namun dalam berperilaku patuh ketika berhadap- an dengan hukum. Mereka menaati hukum sebagaimana yang ditafsirkan dan dipahami secara awam. Perilaku tersebut adalah perilaku mandiri dari masyarakat, yang didasarkan pada pema- haman, asumsi pikiran dan kepercayaan mereka, sehingga perin- tah hukum dilaksanakan secara jujur sesuai dengan pemahaman, asumsi, pikiran dan kepercayaan mereka tanpa menyadari bahwa di belakang perintah hukum terkandung status, kewenangan dan dunia lain yang tidak mereka pahami.130
Jadi, dasar kehidupan dan akitivitas hukum manusia bukan terletak pada peraturan, melainkan pada kepercayaan dan keingin- an menjaga hubungan berdasarkan kepercayaan tersebut. Oleh karena itu sekalipun fasilitas berupa hukum telah disediakan un- tuk mengatur hubungan antarindividu, namun para pelaku dapat dan lebih senang memilih sendiri pola hubungan yang diinginkan. Terhadap kecenderungan itu Elickson menegaskan bahwa segmen
129
Penelitian Stewart Macaulay tahun 1970 dan 1996 tentang Hukum Kontrakdi Amerika Serikat; dan penelitian Francis Fukuyama tahun 1999 tentangfenomena Slug, Satjipto Rahardjo,Ibid, hlm. 21-24.
130
Kasus Millie Simpson sebagaimana yang dilaporkan Elwick dan Silbey tahun 2001, dalam Satjipto Rahardjo,Ibid, hlm. 24.
kehidupan sosial tidak dibentuk oleh hukum, melainkan oleh rakyat sendiri dan di luar jangkauan hukum (shaped beyond the reeach of law). Van Doorn mengatakan bahwa perilaku manusia cenderung jatuh di luar skema yang disediakan untuknya.131 Sedangkan tentang kepatuhan yang ada adalah kepatuhan yang didasari dari kesadaran hukum yang dibangun oleh masyarakat sendiri, bukan kesadaran sebagaimana yang diinginkan oleh hukum. Oleh karena itu ilmu hukum bukan hanya hukum yang di- konstruksikan oleh penguasa, namun juga hukum sebagai peri- laku, sehingga ilmu hukum tidak serta merta untuk memaksa melainkan terbuka untuk melihat dan menerima apa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Dalam sistem hukum modern, hukum sebagai perilaku tidak sebagaimana yang diatur dalam teks.132
Meskipun sebuah organisasi sudah disusun secara rasional dengan mengatur peran-peran pelaku, namun manusia selalu dapat melarikan diri (ontsnappen) dari setiap konstruksi. Hal tersebut memang telah ditakdirkan karena itu merupakan proses alami. Adanya rumusan peran dalam organisasi yang diisi oleh orang-orang dengan kepribadian, asal-usul sosial, kepentingan ekonomi, politik, dan pandangan hidup yang berbeda-beda, telah melahirkan tafsiran menurut pribadi masing-masing.133
Perempuan Tionghoa korban KDRT memilih bersabar, mengalah, memaafkan, dan bungkam, ketika mengalami KDRT yang dilakukan oleh suami. Mereka lebih memilih menahan penderitaan daripada harus membuka aib dalam keluarga dengan melaporkan perbuatan suami ke aparat penegak hukum. Mereka lebih memilih mempercayakan penyelesaian masalah kepada 131 Ibid, hlm. 80-81. 132 Ibid, hlm. 29. 133 Ibid, hlm. 81.
kelompok senior daripada melaporkan ke aparat penegak hukum. Mereka lebih memilih bungkam dan memaafkan pelaku daripada harus berbuat dosa dengan mengajukan gugatan cerai kepada suami. Namun ketika merasa perilaku mereka tidak dapat meng- ubah keadaan, mereka memilih untuk pergi meninggalkan suami dan bahkan seorang informan kunci mencoba bunuh diri, daripada harus menempuh jalur hukum untuk melaporkan suami atau mengajukan gugatan cerai.
Perilaku perempuan Tionghoa korban KDRT tersebut adalah perilaku mandiri meski menyimpang dari tujuan pembentukan Undang-undang No. 23 Tahun 2004 yang bertujuan melindungi perempuan sebagai kelompok subordinasi dalam rumah tangga. Perilaku mandiri perempuan Tionghoa korban KDRT ini tidak dapat dikatakan tidak menghendaki perlindungan hukum seba- gaimana yang diatur Undang-undang No. 23 Tahun 2004, sebab perilaku tersebut terbentuk dari perasaan dalam tekanan double colonization. Di samping itu juga merupakan dampak dari kekerasan yang mereka alami, yang telah merusak rasa percaya diri para perempuan Tionghoa korban KDRT. Perilaku mandiri adalah hukum yang hidup, sehingga kepatuhan mereka terhadap peraturan yang ada, yaitu Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tidak lagi didasarkan pada kesadaran hukum sebagaimana di- inginkan oleh pemerintah, melainkan didasarkan pada kesadaran hukum yang dibangun sendiri berdasarkan penafsiran dan pema- haman sendiri.
Sementara itu Undang-undang No. 23 Tahun 2004 memaknai KDRT sebagai pelanggaran terhadap HAM, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan dan diskriminasi. Peraturan tersebut me- rupakan perwujudan dari kebijakan publik untuk menghapus
KDRT dan melindungi perempuan. Kebijakan publik ini di- pengaruhi oleh pemahaman hak asasi manusia dan feminisme, yang menekankan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan di dalam keluarga. Pemerintah menghendaki agar masyarakat berperilaku seperti yang dirumuskan dalam peraturan, oleh karena itu pemerintah menghendaki perempuan Tionghoa korban KDRT dapat berperan aktif untuk melaporkan dan menuntut pelaku, sehingga korban dapat dilindungi dan pelaku dikenakan sanksi.
Di sisi lain, seperti yang telah diuraikan bahwa perempuan Tionghoa dalam memaknai KDRT dipengaruhi oleh budaya hu- kum dan tafsir ajaran agama yang dipeluk. Mereka memaknai KDRT sebagai sesuatu yang wajar, sehingga berperilaku sabar, mengalah, memaafkan, pasrah dan bungkam. Oleh karena itu mereka memilih untuk tidak menempuh jalur hukum yang di- sediakan pemerintah yang diatur dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2004.
Dengan demikian ada kesenjangan antara makna KDRT menurut rumusan Undang-undang No. 23 Tahun 2004 dengan makna KDRT menurut perempuan Tionghoa. Kesenjangan pemaknaan ini timbul karena perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi, sehingga mengakibatkan terjadinya perbedaan perilaku antara yang dikehendaki oleh undang-undang dengan perilaku perempuan Tionghoa korban KDRT.
6.11.Pertentangan Hukum yang Dibuat Pemerintah dengan