• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakekat dari Komunitas Basis

Dalam dokumen i (Halaman 73-81)

KONSEP KOMUNITAS BASIS MENURUT FRANCISCO F. CLAVER

2.10 Hakekat dari Komunitas Basis

Gereja perdana ditandai dengan hidup komunitas yang kuat. Namun kemudian, setelah kristianitas terstrukturkan sebagai agama resmi, bukan ciri komuniter yang dominan, melainkan ciri penataan hierarkis, yang menggambarkan struktur pembagian kekuasaan seperti dalam masyarakat.80 Kesadaran akan dimensi komuniter Gereja menguat setelah Konsili Vatikan II. Komunitas Basis Gerejani merupakan wujud nyata dari buah kesadaran itu. Komunitas Basis ditandai dengan adanya relasi intensif serta keprihatinan akan segala aspek kehidupan menggereja.

Ada pengalaman hidup bersama, saling berbagi, dan membantu dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu, semakin kecil anggota dan semakin sempit ruang

79 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 113.

80 Claver, Francisco,The Making of A Local Church, 115.

57 teritorialnya, semakin mereka menghadapi masalah dan kepentingan umum bersama, semakin kemungkinan relasi saling berbagi dan membantu mudah terjadi.

Dalam suasana saling memiliki akan kebersamaan tersebut, tumbuh kepentingan serta komitmen bersama yang akan diperjuangkan pula.81 Mengenai Komunitas Basis Claver mengatakan demikian,

Berbicara tentang Komunitas Basis gerejani berarti berbicara tentang pembaruan Gereja, tentang Gereja Lokal yang hidup. Realitas Gereja tersebut memperlihatkan wajah Gereja sebagaimana digambarkan oleh Vatikan II, yaitu partisipasi, dialog, dan tanggung jawab. Maka Komunitas Basis gerejani memperlihatkan kepada kita gambaran baru Gereja, atau gambaran baru tentang kehidupan menggereja yang relevan dan kontekstual.82

Komunitas Basis mencoba meminimalkan struktur institusional.83 Diharapkan dengan kemungkinan untuk menjalin relasi personal lebih mungkin, sehingga lebih terbuka peluang untuk mengungkapkan diri, menyatakan keinginan serta kebutuhan, bahkan menyumbangkan diri dan memberikan pelayanan sesuai dengan karisma yang ada padanya. Karisma tersebut berdaya guna kalau terintegrasi dengan kebutuhan komunitas, melengkapi apa yang kurang dalam tubuh komunitas.

Selain itu, dalam komunitas tersebut tidak ada kelompok eksklusif, atau pihak yang mendominasi. Dalam komunitas ditumbuhkan interaksi, relasi,

81 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 116.

82 Talking about an basic ecclesial community means talking about renewing the Church, about the living Local Church. The reality of the Church shows the face of the Church as illustrated by Vatican II, namely participation, dialogue, and responsibility. So the ecclesiastical community shows us a new picture of the Church, or a new picture of church life that is relevant and contextual. Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 116.

83 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 117.

58 kederajatan, dan peluang untuk berkembang. Bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran bersama untuk mengelola kehidupan, dalam semangat saling membantu dan melayani, bagi perwujudan misi bersama. Dalam Komunitas Basis, kehidupan menggereja ingin dihayati secara baru, sesuai dengan konteks dan kebutuhan hidup mereka.84

Oleh karena itu, Claver berupaya untuk merumuskan hakekat mengenai Komunitas Basis yang sesuai dengan pengalaman hidup secara aktual. Ada lima unsur yang menjadi pengertian dari Komunitas Basis, yaitu (1) Komunitas Basis adalah komunitas yang hidup dari sabda, (2) Komunitas Basis adalah komunitas, (3) Komunitas Basis adalah eklesial, (4) Komunitas Basis gerejawi adalah basis gereja setempat, (5) Komunitas Basis pemberdayaan umat awam.85

2.10.1 Komunitas Basis adalah Komunitas yang Hidup dari Sabda

Claver menegaskan bahwa dalam Komunitas Basis, “Sabda Allah menjadi titik acuan langsung dan sumber inspirasi seluruh kegiatan harian. Sabda Allah menjadi gerak utama komunitas. Di sana terjadi simbiosis antara Sabda dan hidup nyata, sebagai kunci dalam proses gerak dari Komunitas Basis itu sendiri.”86 Komunitas Basis terbentuk di sekitar Sabda Allah bukan sekitar pribadi imam.87

84 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 118

85 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 108.

86 The word of God becomes a direct reference point and source of inspiration for all daily activities.

The word of God becomes the main movement of the community. There is a symbiosis between the Word and real life, as a key in the process of movement of the base community itself. Claver, F.

Francisco, SJ, The Making of A Local Church, 110.

87 Claver, Francisco, “The Basic Christian Communities in the Wider Context,” dalam EAPR, no 3 (1994): 362-368.

59 Namun jika para imam berperan sebagai pembimbing Sabda Allah, mereka memposisikan diri sama seperti anggota komunitas lain, sebagai pendengar, dan pembagi Sabda yang membebaskan dalam hidup dan perjuangan bersama. Bacaan dan renungan sabda juga hendaknya diaplikasikan atau dikonfrontasian dengan siatuasi atau realitas hidup setempat.88

Dengan demikian, iman kepada Kristus dan Sabda-Nya yang menyatukan serta mengidentifikasi anggota mereka, bukan filsafat, ideologi politik atau budaya tertentu. Komunitas ini merupakan sebuah komunitas yang terorganisir bukan hanya sekelompok orang yang berkumpul bersama secara kebetulan seperti massa atau kerumunan. Mereka bergerak secara teratur dan hubungan antar anggotanya diikat dalam iman yang sama dan membuat mereka saling percaya antara satu dengan yang lainnya.89

2.10.2 Komunitas Basis adalah Komunitas

Komunitas Basis berusaha menentukan suatu pola hidup Kristen yang sangat bertentangan dengan pendekatan yang individualis, egois, dan kompetitif dalam hidup harian yang melekat pada budaya-kontemporer Barat.90 Untuk itu, Komunitas Basis berupaya menghidupkan dua dimensi komunitas, yakni communio dan partisipasi. Dengan menekankan communio, Komunitas Basis ingin menghidupkan iman bukan sebagai pengalaman nyata pribadi tetapi pengalaman

88 Claver, Fransisco, “The Basic Christian Communities in the Wider Context”, 370.

89 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 109.

90 Claver, Fransisco, “The Basic Christian Communities in the Wider Context”, 371.

60 nyata yang dikembangkan dan disharingkan bersama. Sharing iman untuk meningkatkan relasi-relasi interpersonal dalam komunitas sedangkan dimensi partisipasi dimaksud agar anggota tidak tinggal diam dalam pengambilan keputusan tetapi turut menyumbang pendapat sehingga ikut berpartisipasi pula dalam pelaksanaannya.

Komunitas Basis dalam arti komunitas sebenarnya memiliki makna sebagai gerak internal jemaat, suasana hidup menjemaat yang semakin dinamis dan terasa menggairahkan karena setiap orang diberi peluang untuk mengungkapkan imannya secara aktif dalam kebersamaan dengan suatu komunitas tertentu. Dalam suasana seperti ini, karisma-karisma sebagai anugerah Roh Kudus dalam jemaat (bdk 1 Kor 12:1-11) dikembangkan dan ditata (bdk LG 12) demi keperluan seluruh umat. Oleh sebab itu, tidak ada communio tanpa partisipasi dan transformasi91 dan pola relasi yang dikembangkan telah menjadi multiarah bukan lagi satu arah dan satu pusat (sentralistik). Komunitas Basis adalah komunitas yang semakin memperlihatkan suatu pola komunikasi menjadi dialogal demi kepentingan bersama.

2.10.3 Komunitas Basis adalah eklesial

Melalui Komunitas Basis signifikansi Sabda Allah dan sharing doa biblis menjadi nyata. Dapat dipahami bahwa Komunitas Basis adalah persekutuan yang hendak menampilkan wajah Gereja dengan segala harapan dan keprihatinannya.92

91 Claver, Francisco, “The Basic Christian Communities in the Wider Context,” 375.

92 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 119.

61 Bagi Claver, Komunitas Basis perlu dipandang sebagai suatu proses ketimbang sebuah lembaga, suatu kesempatan berziarah sebagai umat Allah ketimbang tempat mapan di dalam susunan perangkat pastoral paroki.93 Komunitas Basis “berhasil”

bila para anggotanya mulai sadar bahwa merekalah Gereja, melakukan suatu tindakan bukan karena perintah melainkan sebagai perwujudan iman mereka sebagai anggota Gereja Kristus.94

Oleh sebab itu, Komunitas Basis menjalankan segala aspek, fungsi, dan kegiatan gerejani, mewujudkan seluruh kehidupan menggereja secara penuh, tidak hanya menghidupi salah satu atau beberapa segi kehidupan menggereja, dengan kegiatannya yang tertentu saja. Komunitas Basis berdasar pada Kitab Suci dan Sabda tersebut dibaca bersama di tengah konteks kehidupan mereka. Hal tersebut adalah fungsi pertama Komunitas Basis yang mendasarkan tindakannya pada Kitab Suci dan misteri perutusan Yesus Kristus di tengah dunia.

2.10.4 Komunitas Basis Gerejawi adalah Basis Gereja Setempat

Komunitas Basis adalah satuan umat yang relatif kecil, berjumlah sekitar 10-15 keluarga yang berkumpul secara berkala, untuk mendengarkan Firman Allah, berbagi masalah harian bersama dan mencari pemecahannya dalam terang Alkitab.

Sebagai satuan dasar Kristiani, Komunitas Basis terdiri dari anggota yang saling

93 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 120.

94 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 122.

62 mengenal. Mereka tidak saja mengenal nama tetapi juga riwayat hidup dan harapan masing-masing anggota. Komunitas Basis di kota berbeda dengan di desa.

Di kota jumlah anggotanya lebih kecil, karena para anggota telah dicabut dari akar budayanya, dan kesempatan bertemu pun sangat terbatas karena disibukkan dengan banyak pekerjaan. Sedang di desa anggota Komunitas Basis sedikit lebih banyak karena orang desa lebih mudah untuk saling mengenal dan punya banyak waktu untuk bertemu. Tentu hal ini berdasarkan pengalaman Claver ketika ia menjadi seorang Uskup di Malaybalay dan Bontoc-Lagawe.

Komunitas Basis adalah unit terkecil dari Gereja Lokal (setempat).95 Berkaitan dengan hal tersebut, Claver menjelaskan bahwa:

Sel kecil dalam suatu komunitas yang dimiliki Gereja. Dia bukan bagian dari keseluruhan tetapi Gereja seutuhnya. Dia adalah Gereja secara keseluruhan dalam bentuk yang terkonsentrasi. Oleh sebab itu, kelompok basis adalah kelompok orang Kristiani yang permanen, berkomitmen untuk memulai Gereja pada skala kecil dan mencakup seluruh situasi budaya dan sosial di tempat mereka hidup dan berada. Komunitas Basis bukan suatu gerakan di dalam Gereja melainkan Gereja itu sendiri yang hidup.96

Mereka merangkul tanpa menilai, menerima secara terbuka tanpa membatasi diri dengan bermacam aturan kendati mereka tetap menjalankan aturan-aturan yang telah ditetapkan bersama.

95Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 120.

96 Small cell in a community owned by the Church. He is not part of the whole but the whole Church.

He is the Church as a whole in a concentrated form. Therefore, base groups are permanent Christian groups, committed to starting the Church on a small scale and covering all the cultural and social situations in which they live and are. Base community is not a movement within the Church but the Church itself is alive. Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 121.

63 Komunitas Basis hendak membangun kehidupan komuniter di tengah konteks setempat, sekaligus mengupayakan terjadinya perubahan dalam kehidupan konkret setempat. Perubahan hanya mungkin kalau berangkat dari tingkat akar rumput, dari masyarakat, dan dari realitas yang terjadi. Dalam hal ini Komunitas Basis merupakan unit terendah dalam tingkat Gereja dan menjadi Gerak Gereja untuk senantiasa terlibat dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan dan membangun relasi yang mendalam antara satu dengan yang lainnya di tingkat paling bawah, yaitu masyarakat sekitar.97

2.10.5 Komunitas Basis Pemberdayaan Umat Awam

Komunitas Basis sebagai basis pemberdayaan umat awam bergerak di basis atau akar Gereja, di antara kaum awam. Claver menegaskan bahwa:

Konsili Vatikan II menegaskan, Gereja itu bukan semata-mata hierarki (uskup dan para imam) melainkan seluruh umat yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Sabda Allah penebus, yang dipersatukan oleh Sakramen Babtis dan bersatu dalam Gereja hierarkis. Karena itu, seluruh umat berpartisipasi dalam pengutusan Gereja untuk membangun tubuh Gereja, menjadi saksi Kristus dalam masyarakat dan untuk tampil sebagai ragi dan garam dunia serta meresapi dunia dengan kasih Allah.98

97 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 109.

98 The Second Vatican Council emphasized that the Church was not merely a hierarchy (bishops and priests) but all people who believed in Jesus Christ as the Word of the Redeemer God, who were united by the Sacrament of Babtis and united in the hierarchical Church. Therefore, all people participate in the mission of the Church to build the body of the Church, to be a witness of Christ in society and to appear as the yeast and salt of the world and permeate the world with the love of God.

Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 117.

64 Konsili memperlihatkan peran hakiki Gereja bahwa “Gereja belum benar-benar berakar atau menjadi tanda Kristus yang sempurna di antara manusia, bila belum ada kaum awam sejati yang giat bekerja sama dengan hierarki. Injil tidak dapat diresapkan secara mendalam ke dalam budi, kehidupan, dan karya suatu bangsa tanpa kehadiran awam yang aktif.”99

Oleh karena itu, Claver menegaskan bahwa sejak Gereja didirikan pembentukan kaum awam Kristiani yang dewasa harus diperhatikan dan keterlibatan kaum awam secara aktif sebenarnya hadir melalui Komunitas Basis. Di sanalah mereka memimpin, menghayati sabda, dan mewujudkan sabda itu dalam konteks hidup sehari-hari.100

Dalam dokumen i (Halaman 73-81)