• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jemaat Perdana sebagai Karakter Komunitas Basis

Dalam dokumen i (Halaman 187-191)

Hasil Sinode II Gereja Keuskupan Agung Jakarta dari Perspektif Eklesiologi menurut Francisco F. Claver

4.5 Refleksi Teologis atas Perumusan Hasil Sinode II KAJ

4.5.2 Jemaat Perdana sebagai Karakter Komunitas Basis

Setelah Yesus wafat dan bangkit, para rasul mulai mewartakan kabar sukacita tentang Yesus. Pewartaan itu didengarkan oleh orang-orang yang memberikan diri untuk dibabtis. Mereka yang telah dibabtis ini telah disatukan dengan Kristus sebagai orang-orang pilihan. Oleh karena itu, mereka yang telah dibabtis dan mengikuti Yesus Kristus masuk dalam persekutuan jemaat.

Persekutuan ini adalah persekutuan yang konkrit, dengan ciri mempunyai anggota,

213 Benediktus XVI, The Apostles: Asal usul Gereja dan Para Teman Sekerja Mereka, 29.

214 Benediktus XVI, The Apostles: Asal usul Gereja dan Para Teman Sekerja Mereka, 28.

171 mempunyai aturan, susunan tertentu, tata cara ibadah tertentu.215 Salah satu sumber utama dalam mengenal karakter jemaat perdana terdapat dari Kisah Para Rasul.

Dalam Kisah Para Rasul ini dikisahkan perjalanan jemaat perdana sisi geografis maupun dari sisi perspektifnya mengenai misi dan sejarah keselamatan.216

Secara geografis dan teologis, kisah perjalanan jemaat perdana ini dapat dikelompokan menjadi tiga bagian. Pertama, bab 1-5 mengisahkan tentang kehidupan jemaat perdana di Yerusalem. Bagian kedua, bab 5-15 mengisahkan tentang peralihan pandangan teologis jemaat perdana. Gereja yang awalnya bercorak Yahudi dengan sifat tertutup mulai membuka diri kepada dunia dan bersaksi ke semua bangsa. Pada bagian ketiga, bab 16-28 mengisahkan bagaimana kehidupan jemaat perdana di tengah bangsa-bangsa lain. Gereja menjadi sebuah persekutuan yang terbuka, yang menjangkau setiap orang dan bersaksi ke seluruh bangsa.217

Di dalam Kitab Suci, kita dapat menemukan beberapa ciri hidup jemaat perdana (lih. Kis 4:32-37). Ciri kuat yang nampak pada jemaat perdana adalah unsur ketekunan. Sikap ini mewarnai banyak hal seperti, ketekunan dalam pengajaran para rasul, tekun dalam persekutuan, tekun dalam perayaan bersama.

Ketekunan berkaitan erat dengan penghayatan komitmen hidup, kehendak kuat, ketahanan, hidup yang selalu bersukacita. Ketekunan jemaat perdana ditandai dengan kesetiaan mereka pada Yesus dan cara hidup yang telah dipilih. Jemaat

215 J.L. Ch, Jemaat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983), 17.

216 Guido, Tisera, Bercermin Pada Jemaat Perdana (Maumere: Penerbit Ledalero, 2002), 9.

217 Guido, Tisera, Bercermin Pada Jemaat Perdana, 11.

172 diajarkan untuk menghayati hidup sehari-hari dengan setia pada tujuan dan cita-cita mereka.218

Salah satu tulisan dari Yustinus Martir mengungkapkan tata cara ibadah jemaat perdana. Pada hari Minggu, semua orang Kristen yang berada di kota-kota dan daerah pedalaman, berkumpul di suatu tempat untuk mendengarkan firman dan rasul-rasul. Setelah pembacaan sabda, para rasul memberikan nasihat supaya seluruh jemaat mengikuti segala contoh yang diberikan oleh Yesus.219 Tertulianus juga menuliskan bahwa jemaat berkumpul bersama-sama untuk merenungkan Kitab Suci dan menuntut nasihat, peringatan serta kata-kata kudus, serta pesan-pesan moral.220

Jemaat perdana berusaha selalu setia dalam pengajaran Sabda. Di dalam pengajaran sabda itu, mereka mendengarkan dan merenungkan kembali hidup Yesus. Seluruh kata-kata, ajaran, peristiwa mengenai Yesus direnungkan dalam terang kebangkitan dan Roh. Anggota jemaat berusaha untuk memahami seluruh hidup Yesus dan menjadikan-Nya panutan hidup dan pemecah persoalan.221 Ketekunan dan kesetiaan pada Sabda ini menjadikan pribadi para jemaat perdana memiliki sifat radikal pada Kitab Suci. Mereka sungguh menghayati dan berusaha dengan sungguh untuk mewartakan serta mewujudkannya.

Beberapa cara hidup jemaat perdana termuat dalam Kitab Kisah Para Rasul.

Salah satu ciri hidup jemaat perdana adalah mengumpulkan dan membagikan harta

218 Guido, Tisera, Bercermin Pada Jemaat Perdana, 42.

219 J.L. Ch. Abineo, Ibadah Jemaat Dalam Abad-Abad Pertama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985) 29.

220 Guido, Tisera, Bercermin Pada Jemaat Perdana, 33.

221 Guido, Tisera, Bercermin Pada Jemaat Perdana, 43.

173 miliknya. Para jemaat mengumpulkan dan membagi-bagikan harta miliknya. Para jemaat mengumpulkan dan membagi-bagikan harta miliknya kepada orang lain yang membutuhkan bantuan. Tindakan ini bertolak dari keyakinan dan kesatuan dalam iman, sehingga kesatuan itu juga terwujud nyata pada segala harta milik yang dimiliki. Pembagian ini bukan semata-mata untuk hidup miskin, melainkan demi perjuangan dan perwujudan nilai berbagi, solidaritas, kepekaan terhadap anggota yang berkekurangan dan membutuhkan.222

Para jemaat tetap berusaha untuk mengumpulkan harta benda, tetapi sampai batas kebutuhan mereka dan tidak berlebihan. Radikalisme Injil muncul dalam usaha untuk hidup sesuai kebutuhan dan membagikan harta yang berlebih kepada orang lain yang membutuhkan. Hal ini menjadi salah satu ciri hidup Kristiani.

Komunitas Basis Gerejawi diinspirasikan dari jemaat perdana dengan tindakan yang konkret yaitu memperhatikan sesama, memiliki kepekaan atas kebutuhan, dan berusaha solider dengan anggota lainnya.

Cara hidup jemaat perdana yang menunjukkan ciri Komunitas Basis terwujud dalam persekutuan hidup bersama. Jemaat perdana dengan setia mengusahakan persatuan di antara anggota jemaat. Persekutuan ini bukan hanya soal kesatuan, melainkan satu tingkah laku, satu cara berfikir, cara berpartisipasi dan hidup yang didorong oleh iman akan Yesus Kristus. Jemaat perdana menunjukkan bahwa kepentingan bersama itu lebih penting daripada kepentingan pribadi. Jemaat perdana tidak memiliki sifat egois. Mereka dapat berbagi dan hidup

222 Guido, Tisera, Bercermin Pada Jemaat Perdana, 44.

174 berdampingan dengan setiap orang, rukun, dapat mengerti satu sama lain, serta bersikap toleransi.

Ketekunan pada Sabda Para Rasul membuahkan tindakan nyata dari para anggota jemaat perdana. Penghayatan iman dan radikalisme. Kitab Suci menjadikan jemaat semakin sadar bahwa hidupnya masuk dalam persekutuan dengan Yesus dan sesama lainnya. Persekutuan iman itu telah menggerakkan sikap persaudaraan yang bukan hanya sekedar kesatuan, melainkan sebuah sikap keterbukaan dengan sesama. Maka, secara jelas dapat dikatan bahwa karakter dasar hidup Gereja sejak awal mula adalah hidup yang terbuka dan memiliki solidaritas yang tinggi.

Komunitas Basis didasarkan pada cara hidup jemaat perdana sebagai sebuah persekutuan yang terbuka dengan sesama, rukun, toleran, solider, dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Dalam dokumen i (Halaman 187-191)