• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unsur Mendasar dari Proses Pembangunan Komunitas-Komunitas Basis

Dalam dokumen i (Halaman 66-73)

KONSEP KOMUNITAS BASIS MENURUT FRANCISCO F. CLAVER

2.9 Unsur Mendasar dari Proses Pembangunan Komunitas-Komunitas Basis

Tahun 1984, Claver yang terlibat dalam Konferensi Para Uskup Katolik Filipina mengangkat suatu survei mengenai prioritas-prioritas pastoral dari para Uskup Filipina berdasarkan hasil dari keputusan sidang FABC pada tahun 1974.

71 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 131.

72 Local Church congregation is the true leaven of the gospel and becomes an instrument in the hands of holy spirit. Then Inkulturasi as a dialogue first and foremost must occur between faith of a congregation that lives in a concrete culture with that culture itself. Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 133.

50 Claver menegaskan dalam pertemuan tersebut bahwa program Komunitas Basis Gerejawi perlu dirumuskan karena akan sangat berperan bagi kehidupan menggereja Filipina di masa yang akan datang. Claver menyebutkan ada lima unsur yang mendasar dari seluruh proses pembangunan komunitas-Komunitas Basis.73 Lima unsur tersebut, yaitu (1) menyatu dengan yang miskin, (2) pengalaman akan realitas, (3) analisis atas realitas, (4) refleksi iman atas realitas, dan (5) tindakan atas dasar kenyataan.

2.9.1 Menyatu dengan yang Miskin

Menyatu dengan yang miskin dan terlibat merupakan unsur paling dasar dari seluruh proses pembangunan Komunitas Basis. Inilah dasar bagi unsur-unsur lainnya dan fondasi bagi tindakan serta kegiatan yang bisa dikerjakan bersama dengan Komunitas Basis. Akan tetapi, apakah maksudnya menyatu dengan kaum miskin dan terlibat? Memang tidaklah mudah memutuskan untuk melayani mereka jika hanya memiliki rasa cinta yang samar-samar dan kurangnya pemahaman serta perhatian terhadap kaum miskin.

Secara fundamental, kaum miskin adalah titik pijakan dan yang dimaksudkan dengan titik pijakan adalah jawaban yang diberikan atas pertanyaan siapa yang kita layani? Kaum miskin atau orang-orang yang membuat mereka miskin dan sistem dosa yang mereka hadirkan? Karena perhatian mendalam pada kaum miskin dalam perjuangan menuju kesejahteraan, demokrasi, kemajuan sosial

73 Claver, Francisco, SJ, The Making of A Local Church, 108.

51 serta kemanusiaan penuh, memiliki suatu pemaknaan yang mendalam bahwa melayani mereka berarti melayani perjuangan yang adil dan legitim.

Akan tetapi, kita sebagai orang Kristiani terpanggil untuk berdoa supaya Roh Kudus memberikan rahmat-Nya kepada kita untuk berjumpa dengan Kristus dalam diri saudari-saudara kita yang miskin, mengalami pertobatan baru kepada Kristus dalam diri orang miskin dan melayani mereka dalam Kristus. Claver melihat bahwa kaum miskin adalah miskin dalam hal materi, secara ekonomis dieksploitasi, secara politis ditekan, secara sosial ditindas, dan secara kultural diasingkan. Mereka ini adalah kaum buruh, petani, nelayan kecil, masyarakat suku, dan kaum perempuan yang dilecehkan.74

Orang-orang Kristiani tidak sampai pada titik pijakan macam ini atau pilihan mendahulukan kaum miskin. Hal ini merupakan akibat dari sulitnya melihat kemiskinan sebagai realitas sosial dan memasuki kehidupan kaum miskin dalam spiritualitas penjelmaan dan pelayanan. Spiritualitas ini harus diperoleh, dikembangkan, dan dikuatkan khususnya dalam hadirnya Gereja melalui Komunitas Basis. Komunitas Basis harus ikut terlibat dan menyentuh realitas tersebut.

2.9.2 Pengalaman akan Realitas

74 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 112.

52 Unsur kedua adalah pengalaman akan realitas. Claver menjelaskannya dengan pemahaman, yaitu encuentro, exposure, dan immersion.75 Pertama, encuentro berarti bertemu dengan realitas kemiskinan, eksploitasi, dan penindasan.

Kedua, exposure berarti menyingkap diri kita sendiri terhadap situasi dan mengizinkan situasi tersebut menyingkapkan dirinya bagi kita. Dalam exposure terjadi suatu integrasi dalam arti menyatu dengan kaum miskin dengan kesiapsediaan dan kehendak untuk menerima realitas dari sudut pandang kaum miskin. Di sana akan terjadi dialog kehidupan, yang berarti di antara hidup kita dan hidup mereka yang miskin, antara situasi kita dan situasi mereka. Akan tetapi, Claver melihat bahwa kata yang lebih tepat dengan analogi penjelmaan Kristus dan pengosongan diri-Nya adalah immersion yakni mencelupkan atau menceburkan dirinya, pikirannya, emosinya, kehendak, dan tubuhnya ke dalam situasi kaum miskin dan realita yang dijumpainya.

Pada hakekatnya, dengan pengalaman akan realitas tersebut, Komunitas Basis sungguh-sungguh ikut ambil bagian dengan situasi yang sedang dihadapinya dan sungguh-sungguh menjadi bagian di dalamnya. Mereka harus tetap berdoa, bernyanyi, berefleksi bersama dalam komunitas-Komunitas Basis gerejani sebagaimana mereka merayakan iman mereka, harapan mereka, cinta mereka, dan perjuangan mereka bersama dengan realitas-realitas yang dihadapi serta dijumpainya.

2.9.3 Analisis Realitas

75 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 113.

53 Unsur ketiga adalah analisis realitas, yang merupakan unsur radikal dalam proses pembentukan Komunitas Basis. Disebut radikal, karena adanya upaya untuk memecahkan permukaan kenyataan dan menyeberang batas antara persepsi dan konsep. Analisis terhadap realitas mencoba melihat akar dari sebuah situasi, mempelajari konsekuensinya, membentuk hubungan-hubungan antara gejala yang terjadi dalam masyarakat, membuka selubung kontradiksi, dan menunjukkan musuh serta pendukung yang tepat dalam sebuah situasi.

Analisis terhadap realitas harus menemukan hubungan dinamis antara masalah-masalah setempat, realitas ekonomi-politik dan sosial yang lebih luas.

Artinya, tidak boleh mengabaikan atau menyembunyikan kontradiksi antara sektor-sektor atau blok-blok yang kuat demi perdamaian yang buruk dan rekonsiliasi yang tanpa dasar. Semua harus dilihat sebagai suatu gejala kemungkinan dan Komunitas Basis masuk dalam kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukannya. Hasil dari tindakan Komunitas Basis pada akhirnya harus sampai pada mempertanyakan akar masalahnya, tidak hanya berhenti pada melihat gejala situasi yang terjadi, dan memiliki visi konkret berdasarkan analisis-analisis yang dihasilkan secara bersama-sama.76

2.9.4 Refleksi Iman

76 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 113.

54 Unsur keempat adalah refleksi iman atas kenyataan yang diusahakan oleh Komunitas Basis seperti yang terdapat dalam semangat teologi Paus Yohanes XXIII.77 Claver menyebut proses itu sebagai refleksi hidup iman pada tingkat akar rumput (grassroot). Proses refleksi ini didasarkan tidak hanya pada Kitab Suci dan ajaran Gereja saja, melainkan juga didasarkan atas situasi konkrit yang terjadi.

Dengan demikian, tindakan yang dilakukan tidak hanya membawa sumber-sumber iman untuk menerangi situasi, tetapi juga suatu upaya untuk mendengarkan situasi dan mengadakan penegasan, apakah situasi itu merupakan tantangan atau panggilan atas pertanyaan mengenai iman kita.

Refleksi iman atas kenyataan sebagai unsur fundamental dari seluruh proses pembangunan Komunitas Basis juga didasarkan atas penerimaan bahwa berteologi bukan hanya wewenang eksklusif para teolog – bahwa masyarakat pinggiran dan seluruh umat Kristiani juga diberkati dengan anugerah yang dimilikinya untuk merefleksikan situasi mereka dalam terang iman akan Yesus Kristus.

2.9.5 Tindakan atas Dasar Realitas

77 Paus Yohanes XXIII dalam membuka Konsili Vatikan II mengatakan bahwa Gereja harus membaca tanda-tanda zaman dan menjadikan kenyataan empiris sebagai titik pijak refleksi teologi.

Sedangkan sebelumnua baik teks Kitab Suci maupun data tradisi merupakan titik pijak bagi teologi, sekarang ini situasi konkret manusialah yang menjadi landasan, karena Paus Yohanes XXIII percaya bahwa dengan merefleksikan kenyataan, kita mengadakan penegasan yang sedang berlangsung di dunia, dan bagi Bapa Suci apa yang sedang berlangsung itu membantu untuk merealisasikan rencana keselamatan Allah bagi dunia. sesungguhnya, inilah metode yang digunakan dalam penulisan dokumen-dokumen seperti Gaudium et Spes, Ecclesiam Suam, Populorum Progressio, Octogesima Adveniens, dan dua dokumen sinode tahun 1971, tentang pelayanan imam dan keadilan di bumi.

Claver, F. Francisco, SJ, The Making of A Local Church, 114.

55 Unsur terakhir, yaitu tindakan atau aksi atas dasar realitas. Yang dimaksud tindakan adalah tindakan kolektif yang lahir berdasarkan analisis dalam suasana doa serta refleksi atas kenyataan.78 Pengalaman telah mengajarkan kepada kita bahwa suatu tindakan semacam ini memerlukan tiga hal berikut, dengan berfokus pada tingkat akar rumput sebagai partisipan yang pertama. Pertama, pendidikan atau penyadaran, yang melibatkan penelitian dan analisis sosial, reorientasi nilai-nilai dan sikap, pengembangan titik pijak yang berorientasi pada lapisan akar rumput dan pengetahuan langsung atas kondisi-kondisi sosial. Hal ini juga memerlukan kedalaman kesadaran masyarakat akan masalah serta kebutuhan mereka sendiri, kesadaran akan daya kekuatan, dan tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan untuk memindahkan penghalang jalan terhadap perkembangan manusia. Penelitian sosial, aksi- refleksi – aksi, adalah titik fokus dalam proses ini.

Kedua, Organisasi Komunitas, yang pertama-tama melibatkan penyatuan masyarakat akar rumput ke dalam komunitas-komunitas Kristiani yang kecil dengan sekurang-kurangnya satu persekutuan berbasis masyarakat untuk berkembang ke dalam pusat-pusat kekuatan yang lebih besar demi partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan program. Beragam kelompok pendukung dari komunitas dan persekutuan ini harus juga dibentuk. Pada hakekatnya, inilah Komunitas Basis Gerejawi bagi masyarakat akar rumput.

Ketiga, Perumusan kembali sistem dan strukturnya, yang melibatkan tindakan komunitas untuk menuju pembaruan struktur-struktur komunitas misalnya

78 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 115.

56 keuskupan, paroki, dan organisasi di bawahnya. Dengan demikian, struktur-struktur masyarakat bagi peribadatan, kesaksian, dan pelayanan merupakan arena pokok bagi perumusan kembali peran dan hakekat dari Komunitas Basis Gerejawi.

Menyatu dengan yang miskin dan terlibat, pengalaman atas kenyataan, analisis realitas, refleksi iman atas kenyataan, dan tindakan atas dasar kenyataan adalah beberapa unsur fundamental dari seluruh proses untuk membangun Komunitas Basis. Inilah komunitas yang melambungkan doa-doa, dan yang meneriakkan solidaritas, komunitas yang peduli terhadap wajah Gereja yang memerdekakan – sebagai saudara-saudari dalam Kristus.79

Dalam dokumen i (Halaman 66-73)