• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunitas Basis sebagai Cara Hidup Menggereja di Brasil dan Filipina

Dalam dokumen i (Halaman 56-60)

KONSEP KOMUNITAS BASIS MENURUT FRANCISCO F. CLAVER

2.7 Komunitas Basis sebagai Cara Hidup Menggereja di Brasil dan Filipina

Komunitas Basis muncul pertama kali di Brasil, kemudian berkembang di beberapa kawasan lain, terutama di Amerika Latin. Namun Komunitas Basis juga bertumbuh di berbagai kawasan lain, seperti Afrika dan Asia.49 Mengapa

49 Gereja Afrika Timur menyebutnya sebagai komunitas kecil (small christian communities) dengan penekanan pada aspek inkulturasi pada budaya setempat atau teologi inkarnasi, Healey, Joseph,

“Basic Christian Communities in Africa and in Latin America”, African Ecclesial Review no. 4, Vol.

40 Komunitas Basis berkembang di Amerika Latin, terlebih di Brasil? Thomas Bruneau mencatat ada tiga faktor yang mendasarinya. 50

Pertama, adanya krisis panggilan, baik panggilan imam maupun religius.

Kedua, struktur paroki dilihat tidak memadai lagi dalam menjawab kebutuhan yang berkembang, karena terlalu besar, tidak praktis, serta tidak begitu memperhatikan adanya berbagai perbedaan dalam masyarakat. Dalam paroki kelompok kecil tradisional yang dominan seringkali mereka lebih dekat dengan kelas menengah ke atas, akibatnya, Gereja tidak memiliki jaringan kontak langsung dengan masyarakat bawah. Ketiga, struktur yang ada dalam Gereja sulit untuk menyentuh lapisan masyarakat miskin dan mereka yang terpinggirkan, maka dibutuhkan adanya sarana dan media baru untuk menjalankan opsi keberpihakan pada kaum miskin.51

Dukungan para Uskup Brasil akan Komunitas Basis sudah terlihat sejak awal tumbuhnya Komunitas Basis. Bahkan embrio Komunitas Basis muncul berkat dorongan para Uskup ketika mengeluarkan rencana pastoral 1965-1970 yang disebut sebagai “emergency plan”.52 Pada tahun 1982, CNBB (Conferencia Nacional dos Bispos do Brasil), konferensi para Uskup Brasil, mengeluarkan Surat Gembala tentang Komunitas Basis. Komunitas Basis diakui sebagai cara baru

XXVI (1984): 250 atau Afagbegee, Gabby-Lio, “Inculturation and Small Christian Communities”, African Ecclesial Review, no. 5, vol. XXVII (1985): 120.

50 Brueau, Thomas, “Brazil: The Catholic Church and Basic Christian Communities”, dalam Levine, Daniel, Religion and political Conflict in Latin America, (Chapel Hill: The University of North California Press, 2000), 100.

51 Brueau, Thomas, “Brazil: The Catholic Church and Basic Christian Communities”, dalam Levine, Daniel, Religion and political Conflict in Latin America, 108-109.

52Emergency Plan yang dimaksud karena besarnya wilayah paroki, padatnya penduduk dan besarnya jumlah babtisan, menjadikan banyak umat dalam paroki-paroki mengumpul dalam berbagai komunitas setempat, atau dalam komunitas-Komunitas Basis. Maka menjadi penting bagi pembaruan paroki untuk membentuk komunitas-komunitas semacam itu dan mendukungnya supaya menjadi dinamis. Deelen, Gottfried, “The Church on it is Way to the People: Basic Christian communities in Brazil”, Pro Mundi Vita bulletin, no 81 (2000): 50 – 75.

41 menggereja, yang lahir dari terang rahmat Roh Kudus yang menggerakkan upaya untuk mencari terobosan tindakan pastoral dan pertobatan seluruh Gereja.

Komunitas tersebut menjadi sel yang hidup bagi Gereja dan memberikan sumbangan bagi pembaruan kehidupan Gereja.

Memang dalam konteks Amerika Latin, Komunitas Basis tumbuh dengan ciri kuatnya sebagai komunitas orang miskin, mereka yang menjadi kurban ketidakadilan. Realitas hidup mereka dikenali, kemudian dibukalah penyadaran akan situasi hidup yang mereka hadapi itu. Penyadaran tersebut dikenal dengan istilah konsientisasi. Dengan penyadaran tersebut orang-orang miskin diberi peluang untuk mengungkapkan dirinya, disadarkan akan kemampuannya untuk menentukan diri sendiri, dan memperjuangkan perubahan dalam hidupnya.53 Lewat Komunitas Basis tersebut, kaum miskin yang tersisih dalam masyarakat dan Gereja menemukan tempat untuk bicara serta berpendapat. Di dalamnya mereka mengalami proses perubahan, bahkan proses pertobatan.54

Di Filipina, sebutan komunitas Kristiani atau Komunitas Basis Kristiani merupakan hal yang sudah sangat biasa. Istilah ini secara khusus dapat kita temukan dalam ensiklik Evangelii Nuntiandi dari Paus Paulus VI dan dalam banyak dokumen Gerejadi Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Pada Juni 1977, para Uskup Filipina menyatakan bahwa, “Kita sahkan resolusi Konvensi Nasional Kerasulan

53 Hennelly, Alfred, Theology for a Liberating Church (Washington:Georgetown UP, 1989), 71-72.

54 Marins, Jose, “The Church in Latin America: Basic Ecclesial Communities”, dalam Jenkinson, William (eds.), Trends in Mission: toward 3 millenium (Maryknoll: Orbis Books, 1991), 55.

42 Awam untuk mengadopsi pembentukan Komunitas Basis Gerejawi sebagai arah kerasulan awam yang baru di negara ini.”55

Dalam konteks Filipina, Komunitas Basis sudah dapat ditemukan dari daerah pedesaan sampai ke daerah agro-industri. Komunitas ini telah benar-benar ada dan hidup. Setiap anggota saling kenal satu sama lain secara mendalam serta saling berjumpa dan bertatap muka dalam komunitas. Persoalannya adalah bagaimana memberikan suasana Kristiani dalam komunitas hidup seperti ini;

bagaimana membuat Komunitas Basis sebagai komunitas iman. Hal ini hanya bisa terjadi melalui evangelisasi, katekese, dan organisasi dengan pembentukan visi Kristiani. Oleh sebab itu, tujuan program Komunitas Basis adalah membentuk dan membina komunitas-komunitas Kristiani yang berjuang untuk persamaan dan keterlibatan aktif.56

Kesatuan dari seluruh komunitas Kristiani dalam perjuangan nasional bagi kesamaan di antara semua sektor dan partisipasi yang lebih besar untuk perjuangan kaum miskin, tertekan, dan tertindas adalah tujuan akhirnya, karena masalah-masalah lokal yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristiani berakar pada masalah-masalah yang berskala nasional. Contohnya ialah masalah kemiskinan.

Kaum miskin adalah miskin dalam hal materi, secara ekonomis dieksploitasi, secara politis ditekan, secara sosial ditindas, dan secara kultural diasingkan. Mereka ini

55 We ratify the resolution of the Lay Apostolic National Convention to adopt the formation of the Ecclesiastical Community as a new lay apostolic direction in the country. Claver, Francisco, The Stones Will Cry Out: Grassroots Pastorals, 10.

56 Claver, Francisco, The Making of A Local Church, 107.

43 adalah kaum buruh, petani, nelayan kecil, masyarakat suku, dan kaum perempuan yang dilecehkan.57

Oleh sebab itu, proses refleksi didasarkan tidak hanya pada Kitab Suci dan Ajaran Gereja saja, melainkan didasarkan juga pada situasi konkret yang sedang terjadi. Dengan demikian, refleksi iman atas suatu kenyataan sebagai unsur fundamental dari seluruh proses terbentuknya Komunitas Basis di Filipina juga didasarkan atas penerimaan bahwa berteologi bukan hanya wewenang eksklusif para ahli teologi yang tidak menyentuh realitas tertentu melainkan teologi harus menyentuh masyarakat pinggiran, kaum miskin, rakyat kecil, dan realitas hidup yang sedang terjadi kemudian merefleksikan situasi mereka dalam terang iman dan keterlibatan kaum beriman Kristiani.58

Dalam dokumen i (Halaman 56-60)