• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanan Singkat Sejarah Gereja KAJ

Dalam dokumen i (Halaman 98-107)

KONSEP KOMUNITAS BASIS DALAM SINODE II KAJ

3.2 Perjalanan Singkat Sejarah Gereja KAJ

Gereja KAJ, yang kini meliputi wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang, resmi menjadi keuskupan agung sejak tanggal 3 Januari 1961. Walaupun demikian perjalanan historis Gereja Jakarta tidak dimulai dari tahun itu. Sejarah Gereja Katolik di Jakarta sebenarnya sudah jauh dirintis sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan Jakarta, atau Batavia waktu itu, juga

114 Putranto, C., SJ dalam kata sambutan pada Widiastono, Tony (eds), Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman: Refleksi Keuskupan Agung Jakarta, (Jakarta: Dewan Pastoral KAJ, 1995), 10.

Dikatakannya,”Perubahan masyarakat Indonesia tercermin di ibukotanya, dan ini membawa tuntutan-tuntutan yang lambat laun disadari pula oleh umat Katolik di Jakarta sebagai suatu warna yang melekat pada gerak pastoral Gereja.”

82 telah menjadi “pusat pemerintahan” gerejani untuk kawasan Hindia Belanda, baik sebagai Prefektur Apostolik Batavia (sejak 1807) maupun sebagai Vikariat Apostolik Batavia (sejak 1842). Secara ringkas perjalanan Gereja KAJ dengan kepemimpinan uskup yang berganti dapat diringkas melalui tabel berikut ini:

Uskup Periode

83

84

Melalui tabel tersebut kita dapat melihat peran umat basis dalam kehidupan menggereja di KAJ dengan jumlah umat yang semakin bertambah dan visi dari Uskup KAJ yang selalu mengarahkan pada pemberdayaan umat awam dan keterlibatan aktif dalam bidang sosial-kemasyarakatan. Pada saat ini, Uskup Ignatius Suharyo yang diangkat menjadi Uskup KAJ pada tahun 2010 memandang bahwa umat basis juga diharapkan dapat menjadi model bagaimana Gereja sebagai persekutuan umat Allah ikut terlibat dan berpartisipasi aktif dalam menjawab realitas masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu, penting bagi kita memahami terlebih dahulu konteks dan rumusan yang dihasilkan mengenai konsep Komunitas Basis berdasarkan hasil sinode II KAJ.

85 3.3 Pemaknaan Sinode sebagai Gerak Bersama Seluruh Umat Allah

“Perkembangan yang pesat bisa membawa permasalahan,” demikian dikatakan oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, Uskup Agung Jakarta dalam Surat Gembala tertanggal 21 November 2000. Keprihatinan akan permasalahan yang timbul memunculkan gagasan untuk mengadakan sinode keuskupan. Gagasan tersebut diakui oleh uskup berasal dari dewan imam. Dapat dilihat dari makna sinode sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti “berjalan bersama”.

Dimaksudkan bahwa dengan mengadakan sinode, Gereja KAJ hendak secara bersama melakukan refleksi untuk mengarahkan perjalanannnya ke depan, atau dalam Bahasa Kardinal dikatakannya sebagai mendalami apa yang menjadi panggilan atau perutusan KAJ. Kardinal Darmaatmadja menegaskan bahwa:

Apa yang dibuat dalam sinode ini hanyalah untuk mencoba semakin menyadari kembali panggilan atau perutusan Kristus kepada Gereja-Nya, yaitu KAJ serta untuk mencari kehendak Allah bagi umat KAJ dalam menelusuri perjalanan masa depannya dalam konteks pemberdayaan Komunitas Basis yang disadari bahwa kehidupan menggereja serta berbangsa semakin kompleks dengan aneka persoalan serta pergulatannya.115

Dalam konteks tersebut, Kardinal Julius Darmaatmadja menekankan bahwa proses yang secara khusus dijalankan oleh Gereja KAJ selama lima tahun terakhir, dimulai tahun 2000-2005 dinamai sinode. Sinode, yaitu gerak bersama dalam kehidupan

115 KAJ, Sinode Kedua Keuskupan Agung Jakarta: Maju Bersama Membangun Masyarakat Basis Berkualitas. (Jakarta: Keuskupan Agung Jakarta, 2005), 15.

86 atau kegiatan umat Allah seluruh Keuskupan Agung Jakarta, baik di kalangan awam, biarawan-biarawati maupun imam. Dengan memberi nama sinode, diharapkan gerak bersama ini makin disadari dan dihayati sehingga Gereja KAJ dapat menjadi umat basis gerejawi yang terbuka untuk membangun habitus baru bersama masyarakat di sekitarnya.

Kesadaran itu sebenarnya juga ditandai dengan kehadiran para misionaris yang datang ke Indonesia, khususnya di Jakarta dan hadir suatu persekutuan umat Allah yang rindu untuk berkumpul atas dasar iman akan Yesus Kristus. Persekutuan itu melahirkan suatu gerak bersama dari umat Allah untuk bersama-sama berjuang membangun Gereja yang sungguh-sungguh dapat dirasakan oleh semua orang.

Bahkan sudah sekitar 200 tahun gerakan itu diberi pengakuan secara resmi menjadi bagian dari Gereja Katolik semesta, dengan ditunjuknya seorang Prefek Apostolik untuk wilayah Nusantara pada tahun 1807, yang berkedudukan di daerah yang sekarang menjadi DKI Jakarta.116

Oleh sebab itu, gerakan yang sudah terjadi lebih dari 200 tahun lalu, juga dirasakan oleh umat yang juga bergerak bersama untuk memperdalam Komunitas Basis sebagai komunitas umat beriman agar dapat ikut serta membangun persaudaraan sejati. Dengan cara itu, kehadiran Gereja pada akhirnya dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat dan hal tersebut semakin menegaskan bahwa sinode merupakan gerak bersama seluruh umat beriman di KAJ.

116 Heuken, Adolf. 200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2010), 20.

87 3.4 Sinode dalam Pandangan Eklesiologi

Konsili Vatikan II merefleksikan bagaimana kehadiran Gereja di tengah dunia. Misi Gereja dipenuhi oleh adanya kegiatan yang membuat umat beriman Kristiani sepenuhnya terlibat. Tugas ini harus dipenuhi serta dilaksanakan berkat dukungan dari Uskup Diosesan dengan doa dan kerja sama dari seluruh umat.117 Melalui mereka yang ditunjuk sebagai uskup pengganti para rasul, dan melalui para penerusnya hingga saat ini, tradisi kerasulan diwujudkan serta dinyatakan, arah serta pandangan misi Gereja ditentukan. Artinya, terjadinya sinode di suatu Keuskupan, hendak menegaskan peran Gereja yang mengajak seluruh umat beriman Kristiani untuk bersama-sama merefleksikan Gereja yang terlibat di tengah dunia melalui kepemimpinan uskup sebagai pemimpin jemaat Allah (bdk. LG 20).

Sinode merupakan salah satu langkah yang bertujuan untuk memperbarui kehidupan iman umat dengan langkah-langkah serta konsep-konsep tertentu tentang Gereja setempat yang hendak dirumuskan.118Artinya, ada suatu cara bertindak serta berfikir yang baru dalam menanggapi permasalahan yang terjadi di Gereja setempat. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari konsep Gereja sebagai Umat Allah dengan penegasan kembali Gereja Lokal dan peran kaum awam dalam misi Gereja. Gagasan ini menjadi perhatian dari Konsili Vatikan II yang dengan berani menegaskan pandangannya mengenai peran kaum awam.119

117 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective,” Jurnal Philippine Studies, Vol. 27, No.3 (1979), 376.

118 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective”, 376.

119 Lawlor. H. J, “A Diocese in the Making”, The Irish Church Quarterly, Vol.2 No 7 July (1909), 227.

88 Pandangan tersebut, semakin menegaskan visi Gereja yang berusaha untuk terbuka dan membangun komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Gereja memiliki dua visi yang berbeda, yaitu sosial serta komunal, terus berdampingan dalam kehidupan Gereja pada saat ini. Peran Roh Kudus menjadi penting karena berkat tindakan Roh Kudus, Gereja dapat tumbuh untuk menampakkan kehadiran Kristus ke semua lapisan masyarakat dengan konteks serta budaya yang berbeda.120 Roh Kudus yang menghimpun serta menyatukan kegiatan sinode sehingga sungguh menghasilkan suatu cara serta pendekatan baru dalam Gereja Lokal.

Gereja Lokal atau yang biasa disebut Gereja Partikular bukan hanya bagian dari seluruh Gereja, sebaliknya ia adalah pars pro toto atau bagian untuk keseluruhan.121 Gereja sepenuhnya adalah Gereja Allah dan Gereja Lokal menjadi subyek yang bertanggung jawab penuh untuk ikut serta dalam misi dari Gereja Allah di tengah dunia. Dalam konteks pemikiran tersebut, Gereja Lokal pada dasarnya adalah umat beriman dari komunitas tertentu yang menanggapi Injil sebagaimana dipahami oleh umat beriman lainnya. Dengan kata lain, Gereja adalah ruang bagi sakramen keselamatan yang dapat dirasakan oleh semua orang yang percaya kepada Kristus.122 Dalam perspektif ini, sinode diharapkan membantu Gereja Lokal untuk menegaskan perannya yang sesuai dengan konteks sosial serta budaya yang dihadapi.

Konsekuensi yang mengikuti dari konsep Gereja sebagai umat Allah maupun konsep Gereja lokal adalah perlunya partisipasi dalam kehidupan dan misi

120 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective”, 377.

121 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective”, 378.

122 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective”, 380.

89 Gereja di tingkat lokal. Oleh karena itu, setiap orang harus berusaha memperbarui pemahamannya tentang apa artinya menjadi anggota dari komunitas umat beriman sehingga terwujud representasi Gereja sebagai komunitas iman, harapan, dan kasih.123

Sinode menjadi wujud partisipasi umat beriman yang didasarkan pada persamaan mengenai martabat sebagai anggota umat Allah. Awam memiliki hak dan kewajiban untuk terlibat dalam urusan Gereja karena misi Gereja adalah tanggung jawab semua orang yang telah dibabtis. Meskipun uskup bertugas sebagai pembuat keputusan di sinode, ia harus terdorong oleh ajaran Konsili Vatikan II untuk sampai pada keputusan terakhirnya melalui konsultasi dengan kaum awam, religius, dan klerus. Dalam sinode, wakil komunitas Kristiani dapat memikul tanggung jawab dan membagikan karisma yang dimilikinya untuk pembangunan tubuh Kristus.124

Sinode harus berfokus pada masalah yang tepat dalam membaca tanda-tanda zaman sehingga sinode akan menjadi langkah yang relevan bagi perkembangan Gereja Lokal. Sebagaimana Dekrit tentang Sinode dirumuskan:

Sinode itu harus menjadi alat pembaruan rohani; Sinode hadir untuk mereformasi kehidupan dari Gereja Lokal. Keputusan dan metodenya disesuaikan dengan kebutuhan zaman yang mendesak untuk dicari akar permasalahannya. Sinode harus menempatkan dirinya tidak hanya selaras dengan sejarah tetapi dalam antisipasi penuh doa dan kreatif untuk Gereja masa depan.125

123 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective”, 382.

124 Bdk. Christus Dominus, Art 16 dan Lumen Gentium, Art. 33.

125 Torpigliani, Bruno, “The Diocesan Synod in Theological Perspective”, 385.

90 Oleh sebab itu, sinode adalah peristiwa penting bagi keuskupan. Hal tersebut lebih dari sekadar tonggak sejarah atau peringatan untuk komunitas Kristiani. Sinode merupakan pengelompokan kembali kekuatan untuk mencapai arah yang baru dan ditempuh dengan semangat yang baru pula. Sinode adalah anugerah khusus pembaruan untuk Gereja Lokal. Hasilnya tidak harus berupa pernyataan, kebijakan tertentu ataupun norma-norma tertentu, melainkan semangat baru di hati setiap umat beriman sehingga mereka dengan kesadaran penuh sebagai anggota Gereja siap untuk menampakkan wajah Kristus kepada semua orang.126

Dalam dokumen i (Halaman 98-107)