• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

C. Hakikat IPA a. Pengertian IPA

Menurut Carin dalam Amien, Mohammad (1987:4) mengatakan bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematik, yang di dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Fisher juga mengatakan bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode berdasarkan observasi.

IPA merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan pembelajaran . IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Menurut kurikulum 1994 (dalam Tri Priantoro (2011:5) dijelaskan pengertian IPA sebagai hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melaui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan. Sedangkan menurut Maria Melani Ika (2011:1) hakekat IPA adalah suatu ilmu pengetahuan tentang alam yang diperoleh lewat proses ilmiah dan didasari oleh sikap ilmiah. Berdasarkan pengertian diatas maka dapat dijelaskan bahwa IPA adalah pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmia berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.

b.Hakikat Pendidikan IPA di SD

Hakikat pendidikan IPA menurut Tri Priantoro (2011:1-4) dapat dikategorikan kedalam tiga dimensi yaitu:

a. Dimensi Produk

Dimensi produk meliputi konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam IPA yang merupakan hasil rekaan manusia dalam rangka memahami dan menjelaskan alam bersama dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya.

Produk IPA tidak diperoleh berdasarkan fakta semata, melainkan berdasarkan data yang telah teruji melalui serangkaian eksperimen dan penyelidikan. Fakta adalah fenomena alam yang berhasil diobservasi tetapi masih memungkinkan adanya perbedaan persepsi di antara pengamat (pelaku observer).

Tiga kriteria bagi suatu produk IPA yang benar :

1. Mampu menjelaskan fenomena yang telah diamati atau telah terjadi.

2. Mampu memprediksi peristiwa yang akan terjadi. 3. Mampu diuji dengan eksperimen sejenis.

b. Dimensi Proses

Dimensi proses yaitu metode memperoleh pengetahuan yang disebut dengan metode ilmiah. Metode ilmiah dalam proses IPA memiliki kerangka dasar prosedur yang dapat dijabarkan dalam enam langkah :

2. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan. 3. Pengklasifikasian data.

4. Perumusan hipotesis. 5. Pengujian hipotesis. 6. Deduksi dan hipotesis.

7. Tes dan pengujian kebenaran hipotesis. c. Dimensi Sikap

Dimensi sikap dalah keyakinan, opini dan nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh seorang ilmuwan khususnya ketikan mencari atau mengembangkan pengetahuan baru.

Dalam hal ini yang dimaksud dengan sikap adalah sikap ilmiah terhadap alam sekitar. Ada sembilan aspek sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada siswa Sekolah Dasar, menurut Artoyo dalam Wynne Harlen (1991: 36), yaitu sebagai berikut:

1) Sikap ingin tahu, yaitu suatu sikap yang selalu ingin mendapatkan jawaban yang benar dari obyek yang diamatinya.

2)Sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru

Sikap ini dapat terjadi jika siswa memperoleh jawaban dari rasa ingin tahunya terhadap sesuatu. Akan tetapi hal ini masih bersifat sementara karena adanya keterbatasan berpikir dan panca indera manusia.

3) Sikap kerjasama

Sikap ini berguna untuk memperoleh lebih banyak ilmu pengetahuan. Kerjasama ini dibutuhkan karena pengetahuan yang

kita miliki mungkin masih terbatas dibandingkan dengan pengetahuan orang lain.

4) Sikap tidak putus asa

Adanya kegagalan yang terus menerus tidak membuat para ilmuan putus asa untuk menciptakan atau menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk hidup. Sikap ini juga diharapkan ada pada diri siswa.

5) Sikap tidak purba sangka

Dalam menetapkan suatu kebenaran haruslah objektif. Objektif membuat orang menjadi tidak purba sangka. Oleh karena itu anak Sekolah Dasar melakukan eksperimen dan observasi untuk mencari kebenaran itu.

6) Sikap mawas diri

Para ilmuan itu mejunjung tinggi kebenaran. Kebenaran itu tidak hanya ditujukan di luar diri namun juga terhadap dirinya sendiri. Hal ini juga dikembangkan pada siswa Sekolah Dasar agar senantiasa jujur.

7) Sikap tanggung jawab

Sikap tanggung jawab diajarkan kepada siswa dengan membuat pengamatan dan melaporkan hasil pengamatan maupun eksperimen.

Obyek merupakan unsur yang mutlak diparlukan karena obyektifitas salah satu kebenaran ilmu. contoh: katakan merah kalau bunga mawar itu merah.

9)Sikap kedisiplinan diri

Sikap disiplin diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengontrol ataupun mengatur dirinya untuk mencapai tujuan. Sikap ini dikembangkan di Sekolah Dasar dengan melakukannya pada kegiatan pengamatan maupun eksperimen secara serius. c. Prinsip Umum Pembelajaran IPA

Menurut John S. Richardson (dalam Maria Melani Ika (2011:6) ada 7 prinsip dalam belajar-mengajar IPA, yaitu :

a) Prinsip keterlibatan siswa secara aktif

Guru harus melibatkan siswa untuk memeperoleh ilmu yang mereka cari. Pelajaran yang disajikan harus membuat siswa aktif dan mereka berusaha untuk mencari tahu sendiri.

b) Prinsip belajar berkesinambungan

Dalam proses belajar mengajar selalu diawali dari hal-hal yang dimiliki atau dipahami oleh siswa. Pengetahuan yang sudah dimiliki atau dipahami siswa itu dijadikan jembatan bagi siswa untuk dapat memperoleh pengetahuan baru. Hal ini juga dapat digunakan guru untuk menumbuhkan minat siswa dalam mengolah bahan pelajaran. c) Prinsip motivasi

Guru harus dapat berbuat sesuatu yang menumbuhkan dorongan belajar siswanya. Dorongan dapat bersumber dari kebutuhan yang hakiki dari diri manusia.

d) Prinsip multi saluran

Guru harus menyadari bahwa daya pemahaman masing-masing siswa tidak sama, ada yang mudah paham dengan hanya diberi ceramah oleh guru, ada juga yang baru dapat memahami setelah ia ikut aktif mengolah materi pelajaran. Oleh karena itu guru harus menggunakan berbagai saluran dalam mengajar siswanya, misalnya saja dengan ceramah, diskusi, kemudian dilanjutkan dengan pengamatan/ observasi.

e) Prinsip penemuan

Dalam memahami sesuatu konsep atau simbol-simbol guru tidak langsung member tahu kepada siswanya, tetapi guru member peluang agar siswa dapat memperoleh sendiri pengertian-pengertian itu melalui pengalamannya.

f) Prinsip totalitas

Guru harus berusaha mengkondisikan kegiatan pengajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar, dengan melibatkan siswa secara total melalui pancaindra, emosi, fisik, maupun pikirannya. Dapat dilakukan dengan memvariasikan kegiatan pengajaran siswa dan juga menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman.

Guru harus menyadari bahwa siswanya mempunyai pribadi yang unik atau setiap siswa memiliki pribadi yang berbeda-beda. Perbedaan individu siswanya itu terutama ditujukan pada adanya perbedaan kemampuan (kecerdasan dan ketepatan belajar) dan motivasi belajar. Apabila guru dapat memahami siswanya maka guru dapat menempatkan siswanya untuk mendapat kesempatan belajar yang sesuai dengan kapasitas dan minatnya.

d.Pembelajaran IPA yang efektif

Dalam buku Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif (Depdiknas, 2003:5-6), Tri Priantoro (2011:22) pembelajaran yang efektif secara umum diartikan sebagai Kegiatan Belajar Mengajar yang memberdayakan potensi siswa (peserta didik) serta mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik.

Ciri-ciri pembelajaran yang efektif menurut (Depdiknas, dalam Tri Priantoro 2011:22) :

a. Pertama, berpijak pada prinsip konstruktivisme. Pembelajaran beranjak dari paradigma guru yang memandang bahwa belajar bukanlah proses siswa menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru, melainkan sebagai proses siswa membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain.

b. Kedua, berpusat pada siswa. Siswa memiliki perbedaan satu sama lain. Siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan,

pengalaman, dan cara belajar. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa.

c. Ketiga, belajar dengan mengalami. pembelajaran perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari..

d. Keempat, mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan emosional. Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru.Dengan demikian, pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama.

e. Kelima, mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan. Siswa dilahirkan dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sementara, rasa fitrah ber-Tuhan merupakan embrio atau cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan.

f. Keenam, belajar sepanjang hayat. Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Demikian pula

pembelajaran perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar, yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas.

g. Ketujuh, perpaduan kemandirian dan kerjasama. Siswa perlu berkompetisi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetisi sehat untuk memperoleh penghargaan, bekerjasama, dan solidaritas. Pembelajaran perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri.

Dokumen terkait