• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani

Dalam dokumen Akidah Akhlak Dalam Perspektif Islam (Halaman 128-134)

IMAN KEPADA ALLAH

HAKIKAT MANUSIA DAN DAYA-DAYA RUHANI

A. Hakikat Manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani

Secara realitas kita dapat mengatakan bahwa manusia itu adalah yang dapat kita lihat, yaitu badan atau jasmani. Akan tetapi, ternyata pandangan yang semacam itu adalah keliru dan menyesatkan, karena nyatanya manusia tidak juga dapat diingkari memiliki kehidupan ruhani yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Memang pandangan yang bertitik tolak dari inderawi dan materialitis akan membawa kita kepada pandangan terhadap manusia ini yang disebut materi, dan karena materi bersifat terbatas, maka sudah pasti manusia akan mengalami keterbatasan dan kemusnahan

(mati) dan kalau sudah mati, maka habislah sudah segala perkara (Syahid

Muammar Pulungan, 1984 : 40).

Hakikat manusia dalam pandangan Islam, sebagai halnya dalam pandangan agama monoteisme lainnya, tersusun dari dua unsur: unsur jasmani dan unsur ruhani. Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan materiil, sedangkan ruh manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan immateri (spiritual). Badan, karena mempunyai hawa nafsu, bisa membawa kepada kejahatan, sedangkan roh, karena berasal dari unsur yang suci, mengajak kepada kesucian. Kalau seseorang hanya mementingkan hidup kematerian, maka ia mudah sekali dibawa hanyut oleh kehidupan yang tidak bersih, bahkan dapat dibawa hanyut kepada kejahatan (Harun Nasution, 2013: 30).

Dengan demikian, manusia kita pandang dari dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek ruhani. Seluruh manusia adalah unsur ruhani, begitu juga seluruh manusia adalah unsur jasmani. Ruhani dan jasmani ini bukan merupakan dua bagian karena kedua bagian manusia itu utuh dan menyeluruh.

Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia itu terdiri jasmani (materi), yaitu

dari unsur tanah. Hal ini dapat dilihat dari penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam a.s., sebagaimana dalam Firman Allah sebagai berikut:

ْسم إ ح ْنم اصْلص ْنم ناسْ ْْا انْقلخ ْ قل

ن ن

) 26 )

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia

(Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang

Selanjutnya, dalam ayat berikutnya Allah Swt. berfirman kepada para malaikat tentang maksud Allah menciptakan manusia :

ن نْسم إ ح ْنم اصْلص ْنم اً شب ٌقلاخ ي إ ةكئَ ْلل كُب اق ْ إ

) 28 )

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman, kepada para

malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari

tanah liat kering (yang barasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (QS: Al-Hijr, ayat 28).

Lebih lanjut, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari

menjelaskan sebagai berikut: “Sesungguhnya manusia itu berasal dari Adam,

dan Adan itu (diciptakan) dari tanah” (HR. Bukhari).

Pada dasarnya, segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu Firman-Nya :

ن لْعي َ اه م ْم سفْ أ ْنم ضْ ْْا بْنت اه م ا هلك جا ْ ْْا قلخ هلا ناحْبس

) 36 )

Artinya: "Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan

pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin, Ayat 36).

Adapun proses kejadian manusia kedua (melalui pernikahan) ini oleh

Allah dijelaskan di dalam surat An-Nisaa’ ayat 1, yaitu:

ْنم هثب ا جْ ا ْنم قلخ حا ْف ْنم ْمكقلخ هلا مكهب ا قهتا اهنلا ا ُيأ اي

ًَاج ا

ءاست هلا هَ ا قهتا ًءاس اً يثك

اًبيق ْمكْيلع ناك هَ هنإ احْ ْْا هب ن ل

) 1 )

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An-Nisaa’, Ayat 1).

Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dijelaskan :

"Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam" (HR. Bukhari-Muslim).

Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu, maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.

Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut

Al-Qur’an dan Al-Hadits dapat pula ditinjau secara medis.

Di dalam Al-Qur’an proses kejadian manusia secara biologis

dejelaskan secara terperinci melalui Firman-Nya:

ني ْنم ةلَس ْنم ناسْ ْْا انْقلخ ْ قل

) 12 )

نيكم ا ق يف ًةفْط انْلعج همث

) 13 )

انْقلخ همث

أ همث اً ْحل اظعْلا ا ْ سكف اًماظع ةغْض ْلا انْقلخف ًةغْضم ةقلعْلا انْقلخف ًةقلع ةفْطُنلا

ا ْْشْ

نيقلاخْلا نسْحأ هَ ابتف خآ اًقْلخ

) 14 )

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari

suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air sperma (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air sperma itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik" (QS. Al-Mu’minuun )23): 12-14).

Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah Saw. bersabda :

"Telah bersabda Rasulullah Saw. dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang di antara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan empat kalimat (macam): rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim).

Ungkapan ilmiah dari Al-Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah

menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya, yang dimaksud di dalam

Al-Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan

manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh di antaranya menghasilkan hormon (sperma),

kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat di atas).

Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi

dalam Al-Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah

tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka

dari Amerika, yaitu Prof. Dr. Keith Moore. Dia mengatakan: "Saya takjub

pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al-Qur‟an yang diturunkan pada abad

ke-7 M itu". Selain itu, beliau juga mengatakan, "Dari ungkapan Al-Qur’an

dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk

mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Akan tetapi, jauh

sebelumnya Al-Qur’an telah menegaskan dari nuthfah Dia (Allah)

menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya."

Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya, yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam

Al-Qur’an :

ْخي جا ْ أ ةي ا ث اعْ ْْا نم ْمكل زْ أ ا جْ ا ْنم لعج همث حا ْف ْنم ْمكقلخ

يف ْمكقل

ثَث تا ل يف قْلخ ْعب ْنم اًقْلخ ْمكتا همأ ن طب

ه هَإ هلإ َ كْل ْلا هل ْمكُب هَ مكل

ن ف ْصت ىه ْف

) 6 )

Artinya: "... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi

kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)..."

(QS. Az-Zumar (39) : 6).

Pada ayat berikutnya Allah berfirman sebagai berikut :

ني جاس هل ا عقف يح ْنم هيف ْخف هتْيه س ا إف

) 29 )

Artinya: “Maka apabila aku telah menyempurnakan (kejadian)nya,

dan aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku kedalamanya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS: Al-Hijr, ayat 29).

Dengan demikian, maka jelaslah bagi kita bahwa manusia pertama Adam a.s. adalah terbuat dan diciptakan dari tanah sebagai jasmani, begitu juga penciptaan pasangan (Siti Hawa) diciptakan dari tulang rusuknya manusia pertama. Lebih lanjut Allah Swt. menciptakan manusia yang ketiga dan seterusnya berjenis laki-laki dan perempuan yang banyak tercipta dari sari pati tanah (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) manusia.

Dan akhirnya setelah tubuh (jasmani) disempurnakan Allah bentuknya,

maka Allah-pun menciptakan suatu ciptaan yang disebut “Roh”. Dan Roh

yang diciptakan Allah ini ditiupkan-Nya ke dalam tubuh manusia (yang masih berbentuk janin).

Adapun mengenai hakekat roh itu sendiri, al-Qur’an tidaklah

menerangkan secara rinci hanya member isyarat sebagai dalam firman Allah sebegai berikut :

ًَيلق هَإ مْلعْلا نم ْمتيت أ ام يب ْمأ ْنم ُ لا لق ُ لا نع ك لْْسي

) 85 )

Artinya: ”Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh.

Katakanlah “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedang kamu diberi

pengetahuan hanya sedikit” (QS : Al-Isra’, ayat 85).

Akan tetapi, di dalam al-Qur’an tidak disebut satu ayatpun yang

menghalangi para ulama dan para ilmuan untuk menyelidiki hakikatnya, dan sampai saat ini keberadaan ruh itu sama dengan sesuatu yang tersembunyi (belum diketahui) oleh manusia. Roh itu tetap monopoli pengetahuan Allah Swt. yang pengetahuan manusia tidak akan sampai ke sana, karena Allah sendiri telah menjaminnya, manusia itu hanya diberikan ilmu yang sedikit. Di dalam kehidupaan sehari-hari yang dapat diketahui hanyalah fungsi dari roh

itu sendiiri terhadap kehidupan manusia, untuk menghidupkan.3 (Drs. Syahid

Muammar Pulungan, Manusia Dalam Al-Qur‟an. (Surabaya, PT. Bina Ilmu,

1984)h,45-46)

Bila ditelusuri hakikat ruh menurut al-Qur’an, hadits, dan ulama sufi,

maka istilah ruh juga memiliki dua makna: pertama, sebuah jenis (benda) yang sangat halus yang semayam (sumbernya berasal dari) dalam rongga hati

jasmani. Kemudian ruh itu bertaburan ke seluruh tubuh melalui urat-urat yang bercabang-cabang, mengalirnya ruh di seluruh tubuh itu melahirkan cahaya kehidupan, menumbuhkan perasaam, melahirhan pendengaran, penglihatan dan penciuman. Ia ibarat cahaya sebuah lentera yang memancar, menembus ke seluruh penjuru dan bagian-bagian rumah. Kehidupan ibaratnya sebuah cahaya yang terdapat pada setiap dinding rumah, sementara ruh ibarat lentera, yang setiap kali ia sampai pada sebuah ruangan, maka ruangan itu menjadi terang karenanya. Adapun para ahli medis, apabila menyebut tentang ruh, maka mereka mengibaratkan dengan sebuah pelita yang mampu menerangi seluruh penjuru rumah. Ia ibarat asap atau gas yang halus yang dimatangkan oleh kehangatan hati.

Dalam sebuah hadits Nabi Saw. diceritakan bahwa setelah manusia melalui tahapan penciptaan di dalam perut ibunya, mulai dari tahap segumpal

darah („alaqah), kemudian tahap segumpal daging (mudhgah), sampai kepada

proses penyempurnaan dengan meniupkan al-Ruh ke dalam unsur fisik manusia tersebut. Selain itu, Allah memerintahkan untuk menuliskan empat keputusan, yaitu rizki, ajal, amal dan sengsara-bahagianya. Ditiupkannya ruh ke dalam jasad manusia mengandung pula pengertian menghidupkan jasad dan matinya manusia, sehingga dengan demikian ruh dipandang sebagai substansi

yang menghidupkan. Makna kedua adalah al-Lathifah yang berpotensi untuk

mengenal dan untuk mengetahui makna “hati.”4

(Imam Abu Hamid al-Ghazali,

Ajib al-Qalb Kimia al-Sa‟adah, terjemah K.H.A. Mustafa Bisri, (Surabaya : Pustaka Progresis, 2002). Kaum agamawan berkata bahwa pengetahuan tentang manusia yang demikian itu dikarenakan manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh ilahi, sedangkan manusia tidak diberi pengetahuan mengenai ruh itu sendiri. Allah berfirman:

ًَيلق هَإ مْلعْلا نم ْمتيت أ ام يب ْمأ ْنم ُ لا لق ُ لا نع ك لْْسي

) 85 )

Artinya: “dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:

"Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”(QS. Al-Isra: 85).

Terdapat beberapa kemungkinan tentang ruh yang disebutkan pada

ayat di atas, ruh hewani, ruh insani (jiwa berpikir), ruh al-quddus (jibril) dan

ruh yang bermakna suatu makhluk yang lebih tinggi dari malaikat. Namun yang pasti dimaksudkan oleh ayat tersebut bukanlah ruh hewani yang merupakan subjek kedokteran. Karena pengenalan terhadap hakekat ruh ini berada dalam jangkauan berbagai disiplin ilmu dan berbagai ilmu kedokteran klasik dan psikologi modern, terdapat beragam pemikiran yang tergagaskan tentang hakekat ruh ini. Begitu pula tidak bisa dikatakan ruh adalah jibril,

karena kata ruh yang dimaksud selain dari ayat ini telah dinyatakan

berulang-ulang dalam banyak ayat Al-Qur’an.

Mengenai hakekat ruh yang terdapat pada ayat tersebut, Allamah Thabathabai mengatakan bahwa, secara lahiriah, ruh adalah suatu ciptaan yang lebih luas dan lebih tinggi dari Jibril dan selain Jibril.

Untuk mengenal siapa manusia adalah dengan cara merujuk kepada

al-Qur’an yang merupakan langkah pertama yang harus dilakukan umat islam

pada setiap kepentingan dengan ajaran Allah, sebab al-Qur’an adalah

pegangan utama untuk seluruh aspek kehidupan umat Islam. Termasuk di

dalamnya sebagai pegangan memahami filsafat manusia.5 )Rif’at Syauqi

Nawawi, Kepribadian Qur‟ani, (Jakarta: Amzah, 2001).

Sedangkan, hakekat ruh menurut para sufi, di antaranya ialah menurut Al-Nazzam, ia berpendapat bahwa ruh adalah jism dan jiwa. Ia hidup dengan sendirinya. Ia masuk dan bercampur dengan badan, sehingga badan tersebut menjadi bencana mengekang dan mempersempit ruang lingkupnya.

Menurut Al-Jubbai, ia berpendapat bahwa ruh adalah jism, dan ruh itu

bukan kehidupan, sebab kehidupan adalah a‟rad atau kejadian. Menurut Abu

Al-Hudhail, ia beranggapan bahwa jiwa adalah sebuah definisi yang berbeda dengan ruh, dan ruh pun berbeda dengan kehidupan, karena menurutnya,

kehidupan adalah termasuk a‟rad.6 (Imam abu Hasan Ali bin Ismail Anwar,

Maqalat Al-Islamiyin Wa Ikhtilaf Al-Mushallin, Terjemahan Rosihan, Bandung: Pustaka Setia, 1999, hlm. 69-71).

Dalam dokumen Akidah Akhlak Dalam Perspektif Islam (Halaman 128-134)