• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tafsir dan Kajian Asma Allah

Dalam dokumen Akidah Akhlak Dalam Perspektif Islam (Halaman 34-42)

IMAN KEPADA ALLAH

B. Tafsir dan Kajian Asma Allah

33 )

Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya,

mereka menyeruTuhannya dengan kembali(bertobat) kepadan-Nya, kemudian apablia Dia member sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka menyekutukan Allah” (QS : Ar-Rum, ayat 33)

Manakala manusia berada dalam keadaan yang gelap karena musibah yang menimpanya, maka pada waktu itulah kesadaran batiniah akan wujud Allah menjadi lebih terang dan lebih kuat. Dan Allah akan selalu memperingatkan manusia yang lalai atau lupa akan Allah dengan memberi ujian musibah, sehingga ia akan kembali kepada-Nya. Seolah-olah musibah atau bencana itu ibarat alat pembersih batin yang penuh dengan kekotoran maknawi, sehingga menjadi bersih seperti semula.

Dalil wahyu, adapun yang sangat jelas dan meyakinkan tentang wujud Allah adalah wahyu Ilahi. Kepada orang yang belum beriman,

wahyu Ilahi yang telah mengambil bentuk dalam ayat-ayat al-Qur’an

adalah suatu pertanda akan adanya Allah karena tidak ada orang yang mampu menirunya.

Kepada orang yang telah beriman, dalil ini tidak saja dapat mengukuhkan keimanan kepada Allah, tetapi juga dapat menjelaskan kepadanya sifat-sifat Allah yang sangat diperlukan manusia dalam kehidupannya. Sebab, melalui wahyu Allah, manusia tidak hanya dapat mengetahui wujud Allah, tetapi juga sifat-sifat-Nya yang Maha

sempurna(Ahmad Daudy, 1997 : 48-).

B. Tafsir dan Kajian Asma Allah

Asma Allah adalah dua kata bahasa arab Asma dan Allah. Dalam

kamus arab-indonesia Prof Dr Mamud Yunus, Asma adalah jama’ dari

kata ismun (sammuu) yang berarti nama-nama (Mahmud Yunus, 1999 :

42). Sedangkan Allah adalah nama yang paling popular dari tuhannya umat

Prof Dr. M Quraish Shihab mengatakan sebagai berikut: Jalan menuju lebih dekat mengenal Allah, ada banyak konsep yang menunjukan kita untuk mengenal Allah, di antaranya adalah dengan akal, karenanya di

dalam Al-Qur’an tidak ada pembahasan tentang wujud tuhan, karena hal

itu adalah aksioma. Orang yang tidak meyakini wujud tuhan maka hatinya akan galau dan gelisah.

Namun kemampuan akal ini terbatas untuk mengenal Allah, yang terpenting jangan melampaui batas sampai ingin mengenal Zat-Nya, karena hal ini dipastikan tidak akan mampu. Seperti kita melihat matahari atau bulan, apakah yang kita lihat itu zat matahari dan bulan, tidak, yang kita lihat justru sebenarnya adalah pantulan dari sinar matahari dan bulan.

Oleh karena itu, cukup bagi kita mengenal Allah dengan cara

memikirkan ciptaan-Nya, sebagaimana Sabda Nabi Saw. (Tafakkaru fi

al-khalqi Allah wala tafakkaru fi al-dzati Allah) yang artinya, “Berpikirlah

tentang ciptaan-Nya dan jangan kalian berpikir tentang Dzat-Nya”. Karena memang kita tidak mungkin akan sampai pada Dzat Allah. Memikirkan ciptaan-Nya saja sungguh mengagumkan dan bahkan tidak sampai pada hakikat ciptaan-Nya. Jadi cukup dengan melihat bekas-bekas yang ditinggalkan Allah di alam semesta ini untuk menunjukkan eksistensi Tuhan.

Akan tetapi, kita perlu kenal tuhan, kita disuruh patuh dan untuk itu perlu kenal, bahkan kita disuruh cinta itu perlu kenal, maka Allah memperkenalkan diri-Nya, Aku itu wujud. Aku itu begini dan begitu.

Pengenalan Allah terhadap diri-Nya kepada kita itu unik, keunikannya karena keterbatasan kita dan tidak keterbatasan Dia. Allah seringkali memperkenalkan nama dan sifat-Nya dalam Al-Qur`an dengan hal yang dikenal nalar kita, bahwa Dia Maha Mendengar, Melihat dan lain-lainya, tapi harus kita yakini bahwa mendengar dan melihat-Nya Allah berbeda dengan mendengar dan melihatnya kita yang penuh keterbatasan. Sehingga nama dan sifat Allah itu jangan kita pikir materinya, berarti Allah memiliki telinga dan mulut, hal itu mustahil kita katakan, karena Allah tidak bertempat dan bukan materi.

Setelah Allah memperkenalkan nama dan sifat-Nya, Allah juga

menegaskan bahwa Dia laisa kamitslihi syai`un (tidak ada sesuatupun

yang seperti seperti-Nya). Yang seperti dengan seperti-Nya saja tidak ada, apalagi yang sama seperti-Nya.

Allah memperkenalkan diri-Nya, jika kita merujuk kepada Al-Qur`an, Allah memperkenalkan diri-Nya pertama kali disurah Iqra`:

) قلخ هلا كب مْساب ْأ ْقا

1

) قلع ْنم ناسْ ْْا قلخ )

2

) ْك ْْا كُب ْأ ْقا )

3

)

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhamnu yang

Bacalah, dan Tuhamnulah Yang Maha Mulia” (QS : Al-‘Alaq, ayat 1-3).

Ada dua sifat Allah di sini, khalaq dan akram, dua nama itu yang

pertama diperkenalkan oleh Allah. Memang ada kata Rabb, apa artinya

rabb. Kita ambil contoh, Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Artinya, ini ada dua sifat Allah, dan begitu juga Rabb itu Tuhan yang

memelihara, melihat, mendengar, sifat itu bisa ada pada sifat pada manusia, tetapi ada sifat yang tidak mungkin ada pada kita, ambil misalnya, sifat Keesaan-Nya dan Wujudnya Langgeng.

Ada sifat-sifat Allah yang melekat pada diri-Nya, tapi tidak bisa menyentuh makhluk, meski ada juga sifat-sifat-Nya yang menyentuh makhluk. Hal itu terdapat dalam sifat zat dan sifat perbuatan-Nya. Jadi,

yang mana lebih luas, Allah atau Rabb, karena Allah qudus, Allah wahid,

Allah razzaq, semuanya itu menunjukkan bahwa Allah lebih luas daripada

Rabb. Rabb hanya berkaitan dengan sifat af„al Allah.

Kita kembali ke bahasan tentang Allah. Dia memperkenalkan diri-Nya, khalaq dan akram, kalau di asmaul husna sesuai dengan Firman Allah:

ا ب عْداف ىنْسحْلا ءا ْس ْْا هَ

)

180

)

Artinya: “Dan Allah memiliki Asma‟ul Husna (nama-nama

yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut

Asma‟ul Husna” (QS : Al-A’raf, ayat,180).

Begitu juga yang diriwayatkan dalam satu riwayat bahwaAsma‟ul

Husna itu ada 99:

ةهنجْلا لخد اهاصْحأ ْنم اً حا هَإ ٌةئام اً ْسا نْيعْست ًةعْست ىلاعت َ هنإ

Artinya: “Sesunggunya Allah itu memilki 99 nama, siapa yang

ahshaha (mengetahuinya secara benar), maka dia masuk surga”

Banyak orang salah dalam memahami kata ahsha. Kata ini berarti

mengetahui secara rinci, jadi bukan hanya sekedar mengahapalnya satu demi satu sampai 99. Sebab kalau hanya sekedar meyebutkan jumlahnya hingga menghapalnya, maka ada binatang yang bisa melakukan itu semua, tetapi tidak ada binatang yang bisa memahaminya. Oleh karena itu, kita harus lebih tinggi dari sekedar menghapalnya, yaitu memahaminya secara mendalam dan rinci.

Sepertinya setiap kita mampu mengucapkan kata ar-rahman dan bahkan tahu artinya, tetapi untuk mencapai artinya secara rinci dan dalam

kita berbeda-beda. Akan tetapi, untuk memahami lebih jauh apa arti

ar-rahman membutuhkan pengetahuan yang lebih dalam dari sekedar menghapal. Menghayati makna itu lebih tinggi, dan orang yang menghayatinya, bisa jadi dia sekedar menghayatinya tetapi tidak merasakan nikmatnya. Contoh, ada seorang murid sangat kagum pada gurunya, sangat senang mendengar pelajaran-pelajarannya, sangat ingin menjadi seperti dia, tetapi bisa saja suatu waktu dia tidak memperhatikan gurunya. Berarti boleh jadi ada sesuatu yang menghalanginya untuk memperhatikannya, boleh jadi karena dia lapar, jadi orang yang sudah menghayatipun itu bisa jadi suatu waktu tidak merasakan kenikmatannya sehingga dia lengah, itu sebabnya apa yang dinamai pengenalan itu bertingkat-tingkat.

Ketika kita sudah tahu semua ciptaan Allah sampai mendetail kita

belum tahu Dia, tetapi sudah dinamai makrifatullah. Itu sebabnya Imam

Al-Ghazali berkata, kita harus beristighfar kepada Allah bukan karena kita memberi kepada Allah sifat yang tidak sempurna, tetapi memberi-Nya sifat yang sempurnapun kita mesti harus istighfar karena kesempurnaan kita itu sebenarnya belum sampai kepada tingkat kesempurnaan Allah, itu

sebabnya rasul mengajarkan doa,

لع ًءانث يصْح َ ك احْبس

.كسْف ىلع ْينْثأ ا ك ْ أ ، كْي

Ya Allah Maha Suci Engkau, kami tidak bisa memuji-Mu, kalau begitu pujian terhadap-Mu adalah pujian-Mu atas diri-Mu.”

Pengertian Asma`ul Husna

Kata (ءا سْا) al-asma adalah bentuk jamak dari kata (مسْا) al-ism yang

biasa diterjemahkan dengan nama. Ia berakar dari kata ( سلا) as-sumuw yang

berarti ketinggian, atau (ة سلا) as-simah yang berarti tanda. Memang nama

merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus harus dijunjung tinggi.

Apakah nama sama dengan yang dinamai atau tidak, di sini diuraikan perbedaan pendapat ulama yang berkepanjangan, melelahkan dan menyita energy itu. Namun yang jelas bahwa Allah memiliki apa yang dinamai-Nya

sendiri dengan al-asma dan bahwa al-asma itu bersifat husna.

Kata (نسحلا) al-husna adalah bentuk muannast/feminism dari kata

(نسحا) ahsan yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlative ini, menunjukkan bahwa nama-nama Allah tersebut bukan saja, tetapi juga yang terbaik dibandingkan dengan yang lainnya, yang dapat disandang-Nya atau baik hanya untuk selain-Nya saja, tapi

tidak baik untuk-Nya. Sifat Pengasih, misalnya, adalah baik. Ia dapat

disandang oleh makhluk/manusia, tetapi karena al-asma al-husna (nama-nama

yang terbaik) hanya milik Allah, maka pastilah sifat kasih-Nya melebihi sifat kasih makhluk, baik dalam kapasitas kasih maupun substansinya.

Nama “Allah”

Kata “Allah” sangat popular dikalangan ulama-ulama dulu dan sampai

sekarang sangat popular, apa artinya laa ilaaha illa Allah, tidak ada tuhan

(yang wajib disembah kecuali Allah). Apa artinya tuhan, menurut para ulama

dulu yang kita hormati, kata Allah terambil dari kata ilah artinya yang

disembah, kalau kita katakana la ilaaha illa Allah, maka terjemah harfiahnya

tidak ada tuhan yang disembah kecuali Allah, tetapi kenyatannya ada yang disembah selain Allah, maka terjemah yang pasnya ditambahi tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, selain dari Allah tidak wajib di sembah.

Jadi, kata Allah terambil dari kata ilah asal katanya dan artinya adalah yang

disembah.

Makna kedua, prinsipnya dalam bahasa kalau ada satu susunan kata, ada satu ucapan yang sudah lurus maknanya tanpa dibumbuhi (dalam kurung) itu lebih baik daripada dibumbuhi (dalam kurung) atau tambahan. Jika ada satu kalimat yang sudah lurus dan dipahami tanpa harus ditambah penjelasan embel-embel maka tidak perlu penjelasan. Menurut penelitian tidak sedikit

ulama berpendapat bahwa ilah itu artinya penguasa alam raya yang

menguasai diri kita, yang menguasai segala sesuatu, yang mengatur segala sesuatu. Sekarang lihat laa ilaha illa Allah artinya “Tidak ada penguasa, pengatur di alam raya ini kecuali Allah,” lihat Firman Allah sebagai berikut :

هَإ ٌة لآ ا يف ناك ْ ل

ن فصي اه ع ْ عْلا هَ ناحْبسف ات سفل هَ

) 22 )

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan” )QS. Al Anbiyaa,

ayat, 22).

Kata Allah juga berasal dari kata ya‟lahu, bermakna yang

menakjubkan, yang mengherankan, karena semua ciptaan-Nya itu menakjubkan.

Kalau ingin dibahas hakikat Zat-Nya maka itu akan mengherankan dan

akan menjadikan kita bingung, ingat sabda nabi “Jangan berfikir tentang

Allah, pikirkanlah tentang makhluk-Nya,” kalau kita merasa bahwa tidak ada

yang berkuasa mengatur alam raya ini kecuali Allah. Makna ini lebih berkesan dalam jiwa kita ketika kita berkata tidak ada penguasa yang menguasai alam

disembah kecuali Allah” Yang mana lebih berkesan? Kalau kita mengatakan

yang wajib disembah itu menjadikan kita terdorong untuk menyembahnya tapi kalau kita berkata tidak ada penguasa alam raya ini kecuali Allah itu

menanamkan dalam jiwa kita menjadi tenang, ala bi dzikri Allah tathmainu

al-qulub (ketahuilah dengan berdzikir hati menjadi tenang).

Sebenarnya kita ditekankan pada makna tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah, itulah yang menjadikan Rasulullah saat diancam oleh

seseorang, “siapa yang dapat menyelamatkan kamu dari pedang ini?”

Rasululhah menjawab, “Allah,” mudah sekali, karena tidak ada yang berkuasa

kecuali Allah, jatuhlah pedang itu.

Asmaul husna ini bisa diklasifikasi, pertama, nama-Nya yang khusus, dan tidak boleh disandang orang lain, yaitu nama Allah dan rahman. Kita tidak

boleh menamai makhluk dengan rahman atau Allah, itu nama khusus, boleh

juga kita sandangkan kepada makhluk tetapi ditambah nama abdu (hamba) di

depanya, Abdullah atau Abdurrahman.

Kedua, nama-nama-Nya dan sifat-Nya yang bisa disandang oleh

manusia, seperti kata alim (mengetahui). Dalam Al-Qur’an Nabi Muhammad

Saw disifati dengan Rauf (lembut).

Ketiga, nama-nama-Nya yang tidak disebut secara berdiri sendiri,

harus bergandengan, Allah ya muhyi ya mumit (yang selalu menghidupkan dan

mematikan) atau ya dharr ya nafi‟ (yang memberi mudharat dan yang

memberi manfaaat). Hal itu dilarang agar jangan sampai timbul kesan terhadap Allah sesuatu yang buruk sekalipun kenyataannya memang demikian nama dan sifat Allah.

Al Khaaliq: Allah memperkenalkan diri-Nya dalam surah Al-‘Alaq

dengan khaliq (kata dasarnya khalaqa). Dalam Al-Qur’an kata khalaqa

(mencipta) disebut berulang-ulang, ada juga kata yaj‟al (menjadikan). Jadi

adakalanya Allah menyebut dengan khalaqa dan kadangkala dengan yaj‟al.

Jika Allah menggunakan kata khalaqa maka dia khaaliq (Maha Mencipta)

maka itu menunjukkan kehebatan dan keagungan ciptaan-Nya. Jika Allah

berfirman menjadikan jalan, maka tekanannya ada manfaatnya, seperti firman

Allah ja‟ala lakum min anfusikum azwajan (Allah menjadikan dari diri kamu

pasangan), siapa yang menjadikan itu? Allah.

Allah khalaqa as-samawati wal ardi (Allah telah menciptakan langit dan bumi). Dia mencipta semua yang ada dan ciptaaan-Nya itu mengagumkan, yang sekecilnya pun mengagumkan. Seperti Allah menciptakan lalat yang kita anggap hina dan remeh, tetapi sebenarnya di balik penciptaan-Nya itu ada hal luar biasa baik yang sudah kita ketahui maupun yang belum.

Jadi, Allah memperkenalkan diri-Nya dalam ayat Iqra` bismi rabbika

bahasa arab kalau ada satu kata yang tidak disebut objeknya, maka itu

mencakup segala sesuatu, sama halnya jika saya katakan begini “silahkan

makanlah” di hadapan anda terhidang berbagi macam menu makanan, ada

gado-gado, rendang, opor dan lain sebagainya, maka anda bebas memilih makan apa saja dikarenakan saya tidak menyebutkan objek menu-Nya, sehinga tidak perlu anda bertanya saya makan yang mana?

Sama halnya dengan perintah “bacalah,” silahkan baca apa saja

syaratnya adalah dalam kerangka atau dengan nama Tuhan-Mu. Dengan demikian, Anda bisa mengetahui wujud Tuhan itu melalui ciptaan-Nya. Dikarenakan adanya ciptaan akan sesutu pasti menunjukkan adanya yang membuat, maka seperti alam semesta beserta isinya ini, tidak mungkin tercipta dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya. Tidak terlalu berbeda dalam dunia manusia, jika kita dapati suatu produk yang indah, maka kita pun bertanya siapa yang memproduksinya.

Al Akram: Nama kedua yang Allah perkenalkan akram, Dia tidak

memperkenalkan diri-Nya yang kedua itu dengan kata karim, dalam bentuk

superlatif, yang paling karim, karim itu maknanya banyak. Karim dalam

bahasa terambil dari akar kata yang terdiri dari 3 huruf kaf, ra dan mim, ini

mengandung makna kemuliaan serta keistimewaan sesuai objeknya,

keistimewaan sesuai apa yang disifatinya, kalau saya katakan “dzillun karim,”

awan yang karim, pokoknya apa yang indah.

Contoh lain, kalau saya katakana “rizqun karim,” apa artinya? Apa

yang terbaik dalam bidang rizki? Kata-kata memuaskan, halal, bermanfaat, itu

artinya rizqun karim. Bila saya katakana zaujun karim, istri atau suami

pasangan yang karim, carilah maka yang Anda sukai, bisa berupa akhlaknya

bagus, pokoknya kariim yang paling mulia, yang paling baik, dalam bidang

yang Anda sukai, jadi Allah karim, pokoknya Allah karim, ciptaannya karim rizkinya karim, pokoknya Allah karim.

Ada tiga ayat yang mensifati Allah dengan karim, semuanya menuju

kepada-Nya dengan kata Rabb, bismi rabbik jadi penganugrah, al-karim

adalah Dia yang Maha Pemurah dengan pemberian-Nya, Maha Luas dengan anugerah-Nya, tidak terlampau oleh harapan dan cita yang tinggi serta besarnya harapan, Dia yang memberi tanpa perhitungan.

Al-Karim menurut Imam Al-Ghazali adalah Dia yang apabila berjanji maka menepati janji-Nya, bila memberi maka melampai batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan dia memohon kepada selain-Nya, meminta pada orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana, atau perantara.

Lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan makna dari Allah karim ini antara lain yang disebutkan Dia yang bergembira dengan diterimanya anugerah,

Allah itu gembira karena Dia telah memberi, subhanallah, itu yang saya

gambarkan jadi orang itu simpati, Dia yang bergembira dengan diterimanya anugerah-Nya serta memberi sambil memuji yang diberinya. Contoh ada orang yang ingin memberi sesuatu agak memaksa, beri saya pahala beri saya doa, ada yang bisa meniru itu, bergembira kalau diterima pemberiannya, itulah makna Allah ya karim, bergembira dengan diterima-Nya, serta memberi sambil memuji yang diberi-Nya, Dia yang memberi siapa yang

mendurhakai-Nya. Allah itu karim kepada yang durhaka pun dikasih, bahkan memberi

sebelum diminta. Kata al-karim yang mensifati Allah dalam Al-Qur’an semua

menuju kepada-Nya dengan kata Rabb merupakan sifat pertama yang

diperkanalkan-Nya pada wahyu pertama. Kata-kata itu bersumber dari

kata-kata yang sama dengan Rabb yang memiliki arti berbeda-beda, tapi akhirnya

mengacu pada makna penyembahan, peningkatan, ketinggian.

Allah diperkenalkan dengan dua nama itu dulu, kenalilah Allah, Dia hebat ini dan ini. Sampai di sini boleh jadi ketika Anda melihat

kehebatan-Nya, Anda merasa takut, tapi Dia itu akram, Dia itu baik, maka, ini

mendorong orang untuk mendekat kepada-Nya. Saya kira itu sedikit dari

banyak yang mesti kita terangkan tentang asmaul husna.

Yang terpenting kita ingin mengenal Allah, dan Abu Bakar pernah

ditanya, hal arafta rabbak (kamu kenal Tuhanmu?) Dia jawab, “saya kenal

Allah melalui Allah.” Ditanya lagi, “wa kaifa araftahu (bagaimana kamu

kenal Dia?)”, dia jawab, “Ketidakmampuan mengenal Allah atau kesadaran

bahwa kita tidak mampu mengenal Allah, itulah pengenalan kepada Allah.”

Sadar kalau tidak mampu, sudah sampai sana Anda ragu, itu sebabnya saya katakan, belum tentu orang yang menjawab tidak tahu, itu lebih bodoh dari

pada yang menjawab tahu. Contohnya, orang ditanya “bisa perbaiki listrik?”

Kalau ada orang yang tidak tahu menjawab bisa, terus dia coba-coba lalu gagal, yang mana lebih pinter yang berkata tidak tahu padahal dia tahu atau berkata tahu dan dia tidak tahu.

Sebagaimana yang dikatakan Abu Bakar, “saya sadar saya tidak tahu

itulah puncak pengetahuan,” kalau Anda jawab saya tahu Tuhan begini-begini,

kalau Anda berkata tahu itu pengenalan yang sangat dangkal, contoh-contoh yang diberikan Allah bukan seperti itu Allah, itu sebabnya imam Al-Ghazali

berpendapat untuk mengenal Allah ada dua caranya; Pertama, jalan buntu,

tidak usah bahas tentang Allah cukup kembangkan jiwa Anda. Kedua, beri

contoh, tetapi ketika Anda memberi contoh tekankanlah bahwa Allah tidak seperti itu. Contoh konkritnya, ada seorang yang belum kawin, saya bercerita sama dia bahwa hidup berumah tangga itu rukun dan anak-anaknya baik, itu nikmat luar biasa? Sementara orang itu belum kawin, lalu dia bertanya

“bagaimana nikmatnya itu,” maka saya bisa terangkan atau tidak? Tidak

saya ingin tahu,” lalu saya kasih dia contoh, “apa kenikmatan yang kamu

ketahui yang paling enak kamu rasa?” Dia jawab, “mungkin paling enak

ketemu teman-teman lalu saya ngobrol dengan mereka, nikmatnya luar biasa,

itu puncak kenikmatannya?” Kalau begitu, nikmatnya hidup berumah tangga

itu nikmatnya melebihi kenikmatan kamu bertemu dengan teman-temanmu.

Tergambar atau tidak sekarang? seperti itulah Allah. Allah razzaak (pemberi

rizki), gambarkanlah tapi ketahuilah bahwa apa yang Anda gambarkan itu

tidak melebihi-Nya. (PUSTAKAAFAF.COM: M. Quraish Shihab, Kajian Asma‟ul

Husna, Pada hari Minggu, tanggal 2 Desember 2012).

Dalam dokumen Akidah Akhlak Dalam Perspektif Islam (Halaman 34-42)