IMAN KEPADA ALLAH
D. Tafsir dan Kajian mengenai Sifat Allah
Ada beberapa (i‟tiqad) keyakinan yang seharusnya menjadi
pegangan dan keyakinan seorang muslim mengenai asma‟ wa shifat
(nama dan sifat Allah). Ada beberapa (i‟tiqad) keyakinan yang seharusnya
menjadi pegangan dan keyakinan seorang muslim mengenai asma‟ wa
shifat (nama dan sifat Allah).
Tentang asma’ )nama) Allah, Abu al-Hasan al-Asy’ari menulis:
إ سيل ءا سْاف
اه س َ هسف هب ْمسي مل مساب ىلاعت َ ي س نأ انل جي َ انيل
انعم ىلع َ هيلع ن لس لا ع جأ َ هل س هب
“Nama-nama (Allah) itu bukanlah untuk kami dan kami tidak boleh
memberi nama Allah Swt. dengan nama yang Dia sendiri tidak menamakan (Diri-Nya dengan nama itu) dan rasul-Nya pun tidak menyebut-Nya dengan sebutan (nama) itu serta orang-orang Islam pun tidak bersepakat untuk menyebut-Nya dengan nama itu dan tidak pula bersepakat untuk memberikan makna nama itu (Abu Hasan
Al-Asy’ari, Al-Luma‟ fi al-Radd „ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida‟, Beirut: Dar
Di samping itu, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni dalam kitab
Aqidah Al Wasithiyah, beliau rahimahullah menyatakan:
هباتك يف هسف هب فص ا ب نا يْا َاب نا يْا نم
حم هل س هب هفص ا ب
لب ليث ت َ فييكت يغ نم ليطعت َ في حت يغ نم ملس هيلع َ ىلص
يصبلا عي سلا ه ءيش هلث ك يل ه احبس َ نْب ن نم ي
“Di antara bentuk iman kepada Allah adalah beriman kepada apayang Allah sifatkan pada diri-Nya sendiri dalam Al-Qur‟an dan apa yang Rasul-Nya Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam- sifatkan tanpa
melakukan tahrif, ta‟thil, takyif, dan tamtsil. Akan tetapi, mereka (Ahlus
Sunnah) itu beriman bahwa tidak ada yang semisal dengan Allah dan Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”
Pernyataan yang senada dengan pendapat Ahmad bin Abdul Halim Al-Haroni itu kita jumpai dalam perkataan ulama lainnya, yakni Imam Ahmad bin Hambal, yang mengatakan:
هَ فص ي َ
سْف هب فص ا ب هَإ
هفص ْ أ ، ه
ل س هب
ثي حْلا نآْ قْلا اجتي َ ، ه
“Allah tidaklah disifati kecuali dengan apa yang Allah sifatkan pada
diri-Nya sendiri atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya. Hendaklah tidak mensifati Allah selain dari Al-Qur‟an dan Al-Hadits” (Mar’i bin Yusuf Al Hambali Al Maqdisi, Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, 1426 H : 234).
Dalam pernyataan di atas yang tentu saja hasil dari penelitian dan
penyimpulan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita dapat mengatakan
bahwa i‟tiqad yang mesti diyakini seorang muslim adalah sebagai berikut:
Pertama: Hendaklah seseorang menetapkan nama bagi Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Swt. dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya melalui sabdanya.
Kedua: Penetapan nama dan sifat Allah di sini tanpa melakukan
tahrif dan ta‟thif serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil.
Tahrif adalah menyelewengkan makna nama atau sifat Allah dari
makna sebenarnya tanpa adanya dalil, semisal mentahrif sifat mahabbah
(cinta) bagi Allah menjadi iradatul khair (menginginkan kebaikan).
Takyif adalah menyebutkan hakikat sesuatu tanpa menyamakannya dengan yang lain, seperti menyatakan panjang tangannya adalah 50 cm. Takyif tidak boleh dilakukan terhadap sifat Allah dikarenakan Allah tidak
Tamtsil adalah mengumpamakan sifat Allah dengan sifat makhluk, sebagaimana menyatakan Allah memiliki tangan dan sama dengan tanganku.
Keempat hal itu terlarang dalam mengimani nama dan sifat Allah.
Pelarangan ini disebabkan Allah subhanahu wa ta‟ala berfirman,
يصبْلا عي هسلا ه ٌءْيش هلْث ك ْيل
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” )QS. Asy-Syura: 11).
ٌءْيش هلْث ك ْيل
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” adalah bantahan
terhadap orang yang melakukan takyif dan tamtsil, yaitu yang menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk atau menyebutkan hakikat sifat Allah padahal yang mengetahuinya hanyalah Allah.
Selain ayat-ayat itu, Al-Asy’ari menukil pula Firman Allah di
Surah Al-Ikhlas (QS. 112: 4):
ٌحأ ا فك هل نكي مل
“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Al-Asy’ari
menegaskan, kalau Allah bersifat seperti makhluk, baik secara keseluruhan maupun sebagian, maka Allah berarti sama dengan makhluk,
dihukumi dengan hukum makhluk, baharu (hadats, muhdats), berarti
Allah itu tidak qadim, dan mustahil Allah itu tidak qadim. Oleh sebab itu, Allah Yang Mahasuci tidak seperti para makhluk (Abu Hasan
Al-Asy’ari, 2000: 16).
Sedangkan ayat,
يصبْلا عي هسلا ه
“dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Melihat” adalah
bantahan untuk orang yang melakukan tahrif dan ta’thil dikarenakan
dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Allah memiliki sifat mendengar dan melihat. Makhluk pun memiliki sifat mendengar dan melihat, tetapi tentu saja kedua sifat Allah ini berbeda dengan sifat makhluk. Oleh
karenanya, kedua sifat tersebut tidak boleh ditahrif (diselewengkan)
maknanya dan tidak perlu dita‟thil (ditolak maknanya), sebagaimana hal
Abu Salafy ketika menyanggah hujjah saudara Fadhil Ustadz Abul
Jauzaa mengenai keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, ia menyatakan
sebagai berikut:
“Yang tampak dari nash-nash yang menyebut secara lahiriyah
bahwa Alah Swt. di langit jelas bukan demikian maksud sebenarnya. Ia
mesti dita‟wil, sebab Allah tidak bisa ditanyakan dengan kata tanya: Di
mana Dia? Kata di mana? Tidak pernah disabdakan Nabi Saw., seperti
telah kami buktikan.”
Itulah dasar pemahaman Abu Salafy ketika ingin menyanggah
ideologi keberadaan Allah di atas „Arsy-Nya. Dia mempunyai keyakinan
bahwa dalil-dalil yang menyatakan semacam itu, hendaklah dita‟wil yaitu
diartikan dengan makna lainnya dan jangan dipahami secara zhohir
(tekstual). Inilah kerancuan Abu Salafy tatkala memahami nama dan sifat Allah.
Adapun yang dimaksud dengan memahami secara zhohir
(tekstual) di atas adalah memahami makna yang tertangkap langsung di dalam benak pikiran. Kami contohkan adalah ketika kita mengatakan,
“Ali melihat singa.” Maka makna yang tertangkap adalah Ali benar-benar
melihat binatang buas yang dinamakan singa. Inilah yang dimaksudkan
memahami secara zhohir. Walaupun masih ada kemungkinan makna
singa di situ bisa dengan makna lainnya, semisal dengan arti pemberani.
Misalnya kita katakan, “Ali Sang Singa menaklukan musuh-musuhnya.”
Yang dimaksudkan di sini bukan singa binatang buas, tetapi bermakna pemberani disebabkan dipahami dari konteks kalimat. Namun kalau kita mendengar kata singa secara sendirian, tentu yang tertangkap dalam benak kita adalah singa yang termasuk binatang buas.
Ketika memahami sifat Allah pun mesti seperti itu. Hendaklah kita memahami secara zhohir, sesuai makna yang tertangkap dalam benak kita tanpa kita takwil (palingkan) ke makna lainnya tanpa adanya indikator
atau dalil. Inilah yang diperintahkan dalam Al-Qur’an ketika kita
memahami ayat Al-Qur’an. Coba kita perhatikan ayat-ayat berikut ini.
Allah Swt berfirman,
) ني لاعْلا ليزْنتل هه إ
192
) نيم ْْا ُ لا هب ز )
193
نم ن كتل كبْلق ىلع )
) ني ْن ْلا
194
نيبم يب ع ناسلب ) (195)
“Dan sesungguhnya Al-Qur‟an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di
antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas” )QS. Asy-Syu’ara, ayat 192-195).
Lihatlah ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan
dengan bahasa Arab yang jelas, yang artinya bisa langsung kita pahami. Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman,
ن لقْعت ْمكهلعل اًيب ع اً آْ ق انْلعج اه إ
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur‟an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” )QS. Asy-Syu’ara: 192-195). Ayat ini pun
demikian yaitu menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dengan
bahasa Arab yang mudah dipahami secara zhohir, tanpa perlu dipalingkan ke makna lainnya.
Begitu pula Allah Swt. memerintahkan agar kita mengikuti apa yang Allah turunkan, artinya sesuai yang kita pahami di benak kita. Allah
Ta’ala berfirman,
ءايلْ أ ه د ْنم ا عبهتت َ ْمكب ْنم ْمكْيلإ زْ أ ام ا عبهتا
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” )QS. Al
-A’rof: 3).
Apabila Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab
agar mudah direnungkan dan dipahami, lalu Allah memerintahkan untuk mengikutinya, maka wajib bagi kita memahami ayat-ayat yang ada secara zhohirnya sesuai yang dimaksudkan oleh bahasa Arab kecuali jika hakikat
syar’i yang dikehendaki bukanlah demikian. Begitu pula hal ini berlaku
pada ayat-ayat yang menjelaskan sifat Allah )tangan, wajah, istiwa’, dsb).
Bahkan berpegang dengan zhohir pada nash-nash yang menjelaskan sifat Allah lebih utama kita praktekan karena penunjukkan sifat Allah harus
tauqifiy (harus dengan dalil), tidak ada ruang bagi akal untuk merinci sifat Allah.
Jika ada yang mengatakan, “Janganlah pahami ayat yang
menunjukkan sifat Allah secara zhohir, karena makna zhohir bukanlah yang dimaksudkan?” Kita jawab, “Apa yang dimaksud dengan zhohir yang kalian inginkan?”
[Pertama] Kalau yang kalian maksudkan adalah memahami makna yang tertangkap pada nash dengan memahami sifat Allah tersebut
sesuai dengan yang layak bagi-Nya tanpa melakukan tamtsil (penyamaan dengan makhluk), maka ini benar. Hal ini wajib diterima dan diimani oleh setiap hamba. Karena tidak mungkin Allah menceritakan mengenai sifat-sifat-Nya, lalu itu bukan yang Allah inginkan dan tanpa menjelaskannya pada hamba-Nya.
[Kedua]. Namun jika zhohir yang dimaksudkan adalah memahami
sifat Allah dengan melakukan tamtsil (menyamakan sifat tersebut dengan
sifat makhluk), maka inilah makna yang tidak diinginkan. Sebenarnya makna ini bukan makna zhohir dari dalil Al-Kitab dan As-Sunnah yang menjelaskan mengenai sifat Allah. Karena pemahaman zhohir semacam ini adalah pemahaman kufur dan batil serta terbantahkan dengan dalil dan
ijma’ )kesepakatan para ulama). (Syaikh Muhammad bin Sholih Al
Utsaimin, 1422 H : 45-46,)
Silakan pembaca menilai pernyataan Abu Salafy di atas yang
menyatakan sifat Allah mesti dita’wil. Pernyataan ini sungguh melenceng
dari ijma’ )kesepakatan ulama). Lihat baik-baik klaim ijma’ dari
pernyataan ulama berikut ini.
Al-Imam Al-Khothobiy mengatakan, “Madzhab salaf dalam
mengimani sifat Allah adalah menetapkan dan memahaminya secara
zhohir (tekstual), mereka menolak menyebutkan hakikat (kaifiyah) sifat tersebut dan mereka tidak melakukan tasybih (menyerupakan sifat Allah
dengan sifat makhluk).” (Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahaby, Tahqiq:
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, 1412 H : 38.)
Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr, “Ahlus Sunnah berijma’ )bersepakat)
dalam menetapkan sifat Allah yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, mereka memahaminya sesuai dengan hakikatnya dan bukan dipahami secara majaz. Namun ingatlah mereka tidak menyebutkan kaifiyah sifat tersebut (seperti menggambarkan bagaimana bentuk tangan dan wajah Allah).
Berbeda halnya dengan Jahmiyah, Mu’tazilah dan Khowarij.
Mereka semua mengingkari sifat Allah, mereka tidak mau memahami sesuai dengan makna hakikatnya. Mereka malah menganggap bahwa
orang-orang yang menetapkan sifat sebagai musyabbihah (menyerupakan
Allah dengan makhluk). Namun menurut mereka yang menetapkan sifat
bagi Allah )yaitu Ahlus Sunnah) menilai bahwa Mu’tazilah dan
pengikutnyalah yang telah menafikan (meniadakan) Allah sebagai
sesembahan.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin mengatakan, “Para
salaful ummah dan para imam telah bersepakat (berijma‟) bahwa
nash-nash yang menjelaskan sifat Allah haruslah dipahami secara zhohir
(tekstual) sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah tanpa melakukan
sifat Allah secara zhohir tidak berarti kita menyamakan Allah dengan
makhluk”(Taqribut Tadmuriyah, hal. 46).
Jadi, kenapa kita harus memahami dalil-dalil yang menjelaskan
sifat Allah secara zhohir (seperti sifat tangan, wajah, ghodob (murka),
istiwa‟ Allah)? Jawabannya:
1. Tidak mungkin bagi Allah membicarakan sesuatu, namun itu bukan
yang Dia inginkan atau menyalahkan zhohirnya tanpa ada penjelasan.
2. Menetapkan sifat bagi Allah adalah tauqifi yaitu butuh dalil, sehingga
kalau makna sifat Allah mau diselewengkan dari makna zhohir harus dengan dalil.
3. Inilah kesepakatan )ijma’) para ulama ahlus sunnah.
4. Inilah yang diisyaratkan oleh Ahmad bin Abdul Halim Al-Haroni
mengatakan, “Mu’tazilah, Jahmiyah dan semacamnya yang menolak
sifat Allah, mereka menyebut setiap orang yang menetapkan sifat bagi
Allah sebagai mujassimah atau musyabbihah. Bahkan di antara mereka
menyebut para Imam besar yang telah masyhur (seperti Imam Malik,
Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pengikut setia mereka) sebagai
mujassimah atau musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan
makhluk).”
Inilah yang mengikuti jejak Mu’tazilah dan Jahmiyah. Tidak beda
jauh antara dia dengan mereka. Namun tenang saja, alhamdulillah tuduhan seperti ini sudah disanggah oleh ulama-ulama terdahulu. Perhatikan kalam mereka berikut ini.
Nu’aim bin Hammad Al-Hafizh mengatakan, “Siapa yang
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia kafir. Siapa yang mengingkari sifat Allah yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, maka dia kafir. Namun, menetapkan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau
yang ditetapkan oleh Rasul-Nya tidaklah disebut tasybih (menyerupakan
Allah dengan makhluk).”
Ishaq bin Rohuwyah mengatakan, “Yang disebut tasybih
)menyerupakan Allah dengan makhluk), jika kita mengatakan, ‘Tangan
Allah sama dengan tanganku atau pendengaran-Nya sama dengan pendengaranku.’ Inilah yang disebut tasybih. Namun, jika kita mengatakan sebagaimana yang Allah katakana, yaitu mengatakan bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran dan penglihatan; dan kita tidak sebut,
‘Bagaimana hakikat tangan Allah, dsb?’ dan tidak pula kita katakan,
‘Sifat Allah itu sama dengan sifat kita (yaitu tangan Allah sama dengan tangan kita)’; seperti ini tidaklah disebut tasybih. Karena ingatlah Allah Swt. berfirman,
يصبْلا عي هسلا ه ٌءْيش هلْث ك ْيل
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” )QS. Asy Syuro: 11).
Syaikh Al-Albani mengatakan, “Seandainya menetapkan
ketinggian bagi Allah Swt. (di atas seluruh makhluk-Nya) bermakna
tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka setiap orang yang menetapkan sifat yang lainnya bagi Allah Swt. seperti menetapkan bahwa
Allah itu Qodir (Maha Kuasa), Allah itu saami‟ (Maha Mendengar) atau
Allah itu bashiir (Maha Mendengar), orang-orang yang menetapkan
seperti ini juga haruslah disebut musyabbihah. Namun tidak seorang
muslim pun pada hari ini yang mereka menisbatkan diri pada Ahlus
Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa orang yang menetapkan sifat
-sifat tadi bagi Allah adalah musyabbihah (melakukan tasybih atau
menyerupakan Allah dengan makhluk), berbeda dengan para penolak sifat
Allah, yaitu Mu’atzilah, dll.” (Lihat Mukhtashor Al-„Uluw, hal. 67).
Jika kita yang menyatakan Allah di atas langit adalah
musyabbihah, maka seharusnya engkau katakan pula pada orang-orang yang menetapkan sifat mendengar, melihat, bahkan sifat wujud adalah
musyabbihah karena sifat-sifat ini juga ada pada makhluk. Namun, pasti engkau akan mengelak, tidak mau mengatakan demikian.
Jadi, jika kami mengatakan bahwa Allah di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya, itu bukanlah berarti Allah serupa dengan makhluk.
Jadi, kami yang menetapkan sifat bukanlah musyabbihah, seperti klaim
Anda.
Justru orang yang menolak sifat Allah atau mengatakan, ‘Allah
tidak berada di atas langit’, karena tidak boleh kita pahami ayat-ayat yang
menyatakan demikian secara zhohirnya, tapi makna yang lainnya’;
mereka itulah sebenarnya musyabbihah? Mengapa, tuduhan ini bisa
berbalik?
Ini buktinya. Perlu diketahui bahwa setiap orang yang menolak
sifat Allah (mu‟athilah) sebelumnya mereka terlebih dahulu
menyerupakan sifat Allah dengan makhluk (melakukan tasybih).
Sebelumnya mereka berpikir, “Kalau kita menetapkan sifat tangan, wajah,
dan sifat lainnya bagi Allah, maka ini sama saja kita menyerupakan Allah
dengan makhluk”. Lalu agar sifat Allah tidak sama dengan makhluk,
setelah itu mereka menolak sifat Allah, yaitu menolak sifat tangan, wajah,
dan sifat lainnya. Inilah pemikiran mu‟athilah (para penolak sifat)
musyabbih”, yaitu setiap orang yang menolak sifat Allah, mereka juga
adalah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Akhirnya, dapat disimpulkan sebagaimana dikemukakan oleh Harun Nasution dalam
bukunya Teologi Islam, terkait dengan apakah Tuhan memiliki sifat atau
tidak? Pertaanyaan ini dijawab oleh dua aliran besar dalam bidang teologi.
Menurut Ahlusunnah bahwa Tuhan itu memiliki sifat. Sifat Tuhan itu
besifat qadim dan tidak dapat dipisahkan dengan zat Allah.
Mu‟tazilah dikenal dengan konsepnya nafyu sifat (meniadakan
sifat-sifat Allah). Akan tetapi, bagi aliran Maturidiyah, sifat Allah tidak
berjumlah 20 tetapi hanya 13 sifat saja. Berikut ini adalah sifat-sifat Allah
dalam pandangan Ahlusunnah :
1. Sifat Wajib bagi Allah adalah sifat yang mesti ada (melekat) pada zat
Allah sebagai bentuk kesempurnaan bagi-Nya. Sifat wajib ini hanya dimiliki oleh Allah sehingga makhluk ciptaan-Nya tidak bisa menandingi dan menyerupai-Nya. Sebagai pencipta, Allah memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan tidak mungkin dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Setiap makhluk juga memiliki sifat, akan tetapi sifat yang dimilikinya tidak sempurna dan tidak bersifat kekal. Ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang melekat pada makhluk
tidak dapat disamakan dengan kekuasaan Allah. Menurut Ahlusunnah
sifat wajib bagi Allah semuanya berjumlah ada 20 sifat yaitu : a. Wujud yang artinya ada
b. Qidam yang artinya terdahulu
c. Baqa‟ yang artinya kekal
d. Mukhalafatul lil khawadisi yang artinya berbeda dengan makhluk e. Qiyamuhu binafsihi yang artinya berdiri sendiri
f. Wahdaniyat yang artinya tunggal/esa g. Qudrat yang artinya berkuasa
h. Iradat yang artinya berkehendak i. Ilmu yang artinya mengetahui j. Hayat yang artinya hidup k. Sama yang artinya mendengar l. Bashar yang artinya melihat m. Kalam yang artinya berbicara n. Qadiran yang artinya Maha kuasa
o. Muridan yang artinya Maha Berkehendak p. Aliman yang artnya Maha Mengetahui q. Hayyan yang artinya Maha Menghidupkan
r. Sami‟an yang artinya Maha Mendengar
s. Basyiran yang artinya Maha Melihat t. Mutakaliman yang artnya Maha Berbicara.
2. Sifat yang Mustahil bagi Allah
Selain memiliki sifatsifat wajib bagi Allah, terdapat juga sifat-sifat mustahil bagi-Nya. Adapun sifat mustahil bagi Allah adalah sifat yang tidak dimiliki oleh Zat Allah. Sifat-sifat mustahil merupakan lawan dari sifat-sifat wajib bagi Allah, yang brjumlah 20 sifat wajib. Maka sifat yang mustahil bagi Allah juga berjumlah 20 sifat, yaitu :
a. „Adam yang artinya tidak ada
b. Huduts yang artinya baru
c. Fana yang artinya rusak
d. Mumatsalasu lil hawadisi yang artinya serupa dengan makhluk
e. Ihtiyajuhu li ghairihi yang artinya membutuhkan yang lain
f. Ta‟adud yang artinya berbilang
g. Ajzun yang artinya lemah
h. Karahan yang artinya terpaksa
i. Jahlun yang artinya bodoh
j. Mautun yang artinya mati
k. Shamamun yang artinya tuli
l. „Umyun yang artinya buta
m. Bukmun yang artinya bisu
n. „Ajizan yang artinya terlemahkan
o. Mukrahan yang artinya terpaksa
p. Jahilan yang artinya terbodohkan
q. Mayyitan yang artinya termatikan
r. Shhomaman yang artinya tertulikan
s. A‟man yang artinya terbutakan
t. Abkaman yang artinya terbisukan.
3. Sifat Jaiz bagi Allah
Kata Jaiz secara etimologis berarti boleh-boleh saja. Sedangkan menurut istilah, Sifat jaiz adalah sifat yang yang menjadi kewenangan Allah Swt. untuk berbuat/menciptakan dan tidak menciptakan segala sesuatu yang mungkin terjadi. Berdasarkan pengertian ini, maka Allah bebas dengan kehendak-Nya sendiri tanpa ada paksaan pihak lain. Mengenai sesuatu yang mungkin terjadi, Allah berhak untuk membatalkan atau meneruskan terhadap ciptaan-nya. Sebagai contoh. Allah menciptakan baik-baik dan yang buruk atau menciptakan salah satunya, atau sama sekali tidak. Semua itu merupakan kekuasaan Allah terhadap mahkluk-Nya. Sifat yang jaiz bagi Allah hanyalah satu, yaitu
“Fi‟lu kulli mumkinin au taraku” (Allah boleh atau berhak
menciptakan segala sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak menciptakannya Allah Swt, bebas menciptakan dan berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Kebebasan Allah untuk berbuat bukan berarti Allah akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia, tetapi semua
yang diciptakan Allah itu ada hikmahnya bagi semua makhluk. Allah berfirman:
تا ا هسلا قْلخ يف ن هكفتي ْم ب نج ىلع اًد عق اًمايق هَ ن كْ ي ني هلا
ك احْبس ًَ اب ا ه ْقلخ ام انهب ضْ ْْا
) اهنلا ا ع انقف
191
)
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia
-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka”(QS : Ali Imran, ayat 191).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Iman kepada Allah adalah membenarkan dengan seyakin-yakinnya
akan adanya Allah Swt, yang memiliki sifat kesempurnaan serta mustahil dari sifat kekurangan. Beriman kepada Allah merupakan bagian pertama sebagai syarat sahnya sebagai orang Islam, yakni mengucapkan dan membenarkan keberadaan Allah Swt, sesungguhnya Dia adalah pencipta segala sesuatu, yang Maha mengetahui alam ghaib dan alam yang nampak, Tuhan segala sesuatu, yang Maha Esa, yang Maha Tunggal, Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada Tuhan selain-Nya yang memiliki sifat kesempurnaan dan bersih dari segala kekurangan.
2. Seorang muslim baru sempurna apabila telah menetapkan dan
membenarkan dengan sepenuh keyakinan yang mendalam kepada Allah yang Maha Esa, yang mengadakan dan membentuk rupa, Tuhan yang tidak ada yang menyamai-Nya. Allah berfirman dalam surat
Thaha ayat 14 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan
(yang hak) selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat
untuk mengingat Aku” dan dalam surat Al-Hasyr ayat 34 Allah
berfirman: “Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang
membentuk rupa, yang mempunyai asmaul husna, bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi, dan Dialah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
3. Allah adalah Zat Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kalau
saja Allah itu dari memiliki sekutu tentu makhluk akan bertengkar atau berselisih dan kalau sekiranya banyak tuhan, maka akan terjadi di antara mereka (para Tuhan) yang lain. Maha Suci Allah (dari segala sifat kekurangan), Dia Yang Maha Esa yang tidak memiliki sekutu
bagi-Nya dalam kerajaan, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surat