• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tafsir dan Kajian Mengenai Zat Allah 1.Pengertian Iman

Dalam dokumen Akidah Akhlak Dalam Perspektif Islam (Halaman 26-34)

IMAN KEPADA ALLAH

A. Tafsir dan Kajian Mengenai Zat Allah 1.Pengertian Iman

IMAN KEPADA ALLAH

A. Tafsir dan Kajian Mengenai Zat Allah 1. Pengertian Iman

Sebelum diuraikan pembahasan mengenai tafsir dan kajian Zat Allah, ada baiknya dibahas terlebih dulu mengenai pengertian iman.

Dari segi (lughat) bahasa, kata iman berarti: pembenaran (tashdiiq).

Inilah yang dimaksud dengan kata mu’minun dalam Firman Allah Swt.

sebagai berikut:

) نيقداص اهنك ْ ل انل نمْ ب ْ أ ام

17

)

Artinya : Dan kamu sekalian tidak akan membenarkan kami,

walaupun kami orang-orang yang benar” (QS : Yusuf, ayat 17).

Dalam ayat di atas makna mu’minin adalah mushaddiq, yakni

orang-orang yang membenarkan. Adapun makna iman dari segi istilah adalah pembenaran atau pengakuan hati dengan penuh yakin tanpa ragu-ragu akan segala apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., yang diketahui dengan jelas sebagai ajaran agama yang berasal dari Wahyu Allah Swt.

Pengertian iman yang demikian itu telah disepakati oleh para

ulama Islam, baik ulama salaf maupun ulama khalaf. Jika seorang

membenarkan dengan hati yang penuh dengan keyakinan akan agama

Islam, maka ia adalah orang mukmin. Demikian kata Imam Nawawi,

orang tersebut tidak wajib mempelajari dalil-dalil untuk mengukuhkan

iman atau ma‟rifatnya kepada adanya Allah. Jadi orang awam maupun

muqallid juga termasuk ke dalam golongan orang mukmin.

Pembenaran maupun pengakuan itu tepatnya di dalam hati, yakni

setelah adanya pengakuan ma’rifat atau ilmu. Iman dalam arti yang

demikian sama artinya dengan i„tiqad (keyakinan, kepercayaan), yakni

mengikat hati dalam bentuk kepercayaan kepada sesuatu yang telah diketahui wujud kebenarannya.

Kaitan atau gantungan iman atau i’tikad itu disebut aqidah.

Mengakui adanya Allah adalah iman atau i’tikad sedangkan adanya

Allah disebut aqidah. Dengan demikian aqidah adalah wujud Allah dan

dengan hati yang penuh yakin. Dalam tahapan selanjutnya oleh para

mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari setelah membenarkan atau

tasdiq dan harus diikuti dengan tasmit, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat : mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada yang

serupa dengan-Nya(Jalal Musa, 1975 : 16), sehingga orang tersebut baru

sempurna keimanannya dan mengamalkannya sebagai buah daripada

iman. Lebih lanjut oleh golongan Mu’tazilah iman itu harus ada tiga

unsur, yakni membenarkan (tasdiq), tasmit mengucapkan dengan lisan

dan„amal bi al-arkan (mengamalkan dengan perbuatan).

Siapa Allah itu ?

Allah, nama yang Maha Mulia, dari Zat yang Maha Suci, yang kita percayai dan kita beramal berusaha karena-Nya ( Hamka, 1985 : 31).

Ketahuilah bahwa Dzat Allah itu jauh lebih besar daripada jangkauan akal manusia atau daripada pengetahuan alam fikiran manusia, sebab daya kemampuan akal itu terbatas bagaimana pun ketinggian pengetahuan yang dicapainya pasti terbatas pula. Tenaga listrik atau magnet adalah suatu daya kekuatan yang kita gunakan dan kita manfaatkan di dalam hidup ini, tetapi sedikit pun kita tidak mengetahui hakikatnya. Dan hingga kini tak seorang pun mampu menjelaskannya kepada anda betapa pun hebatnya akal fikiran orang itu. Bagi kita mengetahui hakikat sesuatu itu kurang bermanfaat; yang penting ialah apabila kita mengetahui barang sedikit daripada keistimewaan-Nya yang berguna bagi kehidupan kita.

Banyak orang yang memperbincangkan Dzat Allah Swt., dan mereka tersesat. Perbincangan dalam hal itulah yang menyebabkan

mereka tersesat, kacau dan berselisih karena mereka

memperbincangkan sesuatu yang mereka tidak mengerti batas-batasnya dan tidak mampu mengetahui hakikatnya. Oleh sebab itulah maka Rasulullah Saw. melarang kita memikirkan Dzat Allah Swt., dan menyuruh kita memikirkan keadaan makhluk-Nya. Dalam hadis Nabi Saw. disampaikan yang artinya sebagai berikut :

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa banyak orang yang

memikirkan Dzat Allah Swt., lalu Nabi bersabda, “Berfikirlah kamu

tentang makhluk Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah, sebab kamu benar-benar tidak akan mampu melakukannya”

Menurut Al-‘Iraqi, hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu

Al-Ashbihani meriwayatkannya di dalam kitab “Al-Targhib wa

Tarhib” dengan sanad yang lebih shahih daripada itu. Juga seperti itu

pula Abusy Syaikh meriwayatkannya. Bagaimanapun juga arti daripada hadis tersebut adalah benar/ shahih.

Demikian itu bukanlah merupakan penghalang bagi kebebasan berfikir, bukan pengekangan dan bukan pula penyempitan lapangan akal, melainkan justru merupakan penjagaan bagi akal itu sendiri. Akal dilindungi agar supaya tidak sampai tersungkur jatuh ke dalam lembah kesesatan. Akal dihindarkan daripada usaha mencoba-coba mengatasi penyelidikan yang ia tidak mempunyai kelengkapan sarana-sarananya, di samping daya kemampuannya tidak memadai utuk memecahkannya betapa pun hebatnya kemampuan yang ada padanya.

Oleh sebab itu, di dalam memahami kebesaran Allah Swt. hendaklah memusatkan segala perhatian dengan memikirkan keadaan

makhluk dan berpegang teguh kepada sifat-sifat-Nya yang wajib(Syekh

Hasan Al-Banna, alih bahasa: M. Hasan Baidaie, 1983 : 15-17). 2. . Iman kepada Allah

Beriman kepada Allah Swt. merupakan dasar dari iman. Dari ajaran asas ini timbullah bagian-bagian atau rukun-rukun iman yang lain. Beriman kepada wujud Allah adalah beriman kepada yang ghaib, dan beriman kepada yang ghaib memerlukan dalil-dalil yang rasional untuk membuktikan kebenaran keimanan itu. Dalam hal ini berbeda dengan kepercayaan tentang adanya hal-hal yang empiris karena dapat dibuktikan dengan sentuhan indera. Dalil-dalil tentang wujud Allah ada yang berdasarkan akal dan ada juga yang berdasarkan wahyu yang merupakan dalil yang lengkap bagi pengetahuan kita tentang Allah. Sebab, sesuatu yang ghaib pada dasarnya sangat sukar dapat dipahami oleh akal manusia yang terbatas, dan karena itu hanya Allah sendiri yang Maha Tahu akan diri-Nya.

Dalil-dalil rasional dalam berbagai bentuknya mengenai wujud Allah telah pernah dibuat orang, terutama para filosof, dan ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi umat beragama. Semua dalil itu menunjukkan kesepakatan mereka bahwa Allah itu ada dan Dia adalah pencipta dan pengendali alam semesta. Namun begitu, tidak semua orang lantas beriman begitu saja dengan hanya setelah mengetahui dan membaca dalil-dalil yang rasional itu. Betapa pun kuat dan logis dalil-dalil itu, tetapi iman itu hanya diterima oleh

orang-orang yang memiliki kesiapan ruhani dan hidayah Ilahi disebabkan

iman itu, pada hakikatnya, merupakan karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, seperti halnya rezeki yang hanya diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Adapun orang-orang

yang tidak memperoleh karunia dan hidayah iman itu dan karenanya tidak mengakui wujud Allah sebagai pencipta alam semesta, maka orang tersebut disebut sebagai orang kafir. Orang-orang yang semisal

ini disebut dalam al-Qur’an, antara lain :

ام ًَبق ءْيش هلك ْم ْيلع ا ْ شح ىتْ ْلا م هلك ةكئَ ْلا م ْيلإ انْلهز انه أ ْ ل

ا اك

ل هَ ءاشي ْنأ هَإ ا نمْ يل

ن ل ْجي ْمه ثْكأ هنك

) 111 )

Artinya: “Dan sekalipun kami benar-benar menurunkan para

malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara kepada mereka dan kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi (kebanyakan mereka tidak mengetahui) arti kebenaran”(QS: Al-An’am, 111).

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan wujud

Allah dengan memberikan bermacam-macam dalil. Hal yang seperti ini tidak dijumpai dalam kitab-kitab suci agama yang terdahulu. Dalam kitab Taurat dan Injil tidak dijumpai satu ayat pun yag menunjukkan dalil wujud Allah. Seolah-olah kepercayaan kepada adanya Allah harus diterima begitu saja tanpa perlu adanya dalil atau penjelasan yang mengukuhkan kebenarannya. Kemungkinan hal yang seperti itu hanya sesuai dengan masa dahulu yang padanya kitab-kitab itu diturunkan. Pada masa itu, manusia hidup dalam situasi yang diliputi oleh berbagai khurafat dan mitos, daya penalaran mereka masih belum meningkat. Antara kenyataan dan khayalan atau dongeng belum jelas batasnya dalam pemikiran. Kebenaran tidak hanya terdapat dalam kenyataan empiris tetapi juga dalam cerita yang bersifat mitos. Tentu saja kitab-kitab suci yang seperti itu hanya sesuai dengan zaman itu dan tidak sesuai dengan zaman sekarang. Dalam zaman kini, orang sudah lebih rasional dalam keimanan dan kehidupan dan tidak begitu mudah percaya kepada hal-hal yang ghaib.

Al-Qur’an diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

yang hidup dan berdakwah dalam kalangan bangsa Arab. Bangsa Arab ini mempunyai berbagai kepercayaan dan pada umumnya mereka

dikenal sebagai bangsa penyembah berhala. Al-Qur’an membawa

ajaran yang bersifat universal yang tidak hanya ditujukan kepada bangsa Arab saja, tetapi juga kepada seluruh umat manusia yang dahulu, sekarang dan akan datang. Memang harus demikian halnya,

karena al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan kepada

manusia. Oleh karena itu, dalam masalah yang berkaitan dengan

meyakinkan dalam ayat-ayatnya dan mengajak manusia mempergunakan nalarnya, sehingga dengan itu mereka mengakui adanya Allah dan tidak akan menyembah akan selain-Nya. Jadi,

dakwah al-Qur’an dalam aqidah dibangun berdasarkan akal dan karena

itu ia akan selalu berperan sebagai penyuluh dan pendorong bagi menusia untuk lebih maju dalam kehidupan ruhani dan jasmani di segala zaman.

Bangsa Arab terdiri dari berbagai kabilah yang masing-masingnya mempunyai aqidah yang berbeda, tetapi pada umumnya mereka penyembah berhala. Di antara kabilah itu ada yang tidak percaya kepada adanya Tuhan, pencipta alam semesta dan juga tidak percaya kepada adanya kebangkitan dari kubur pada hari akhirat. Menurut kepercayaan mereka, manusia hidup di dunia ini karena alam

(natur) sedangkan mati itu karena masa (dahr). Kepercayaan mereka

ini direkamkan dalam al-Qur’an, antara lain dalam surat al-Mukminun:

35-37

اًبا ت ْمتْنك ْمُتم ا إ ْمكه أ ْمك عيأ

) ن ج ْخم ْمكه أ اًماظع

35

ا ل تا ْيه تا ْيه )

) ن ع ت

36

نيث عْب ب ن ْح ام اي ْح ت ايْ ُ لا انتايح هَإ يه ْنإ )

) 37 )

Artnya: “Apakah Dia menjanjikan kepada kamu, bahwa

apabila kamu telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, sesungguhnya kamu akan dikeluarkan (dari kuburmu)? Jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu, (kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan bangkit lagi” (QS :

Al-Mu’minun, ayat 35-37).

Sebaliknya, ada kabilah yang percaya akan adanya Allah, pencipta alam semesta, tetapi mereka tidak percaya kepada adanya kebangkitan dari kubur pada hari akhirat. Tentang kepercayaan mereka ini direkamkan antara lain dalam surat Yasin: :

س ًَثم انل ض

) ٌميم يه اظعْلا يْحي ْنم اق هقْلخ ي

78

ا ييْحي ْلق )

ٌميلع قْلخ لكب ه ه م ه أ اهْشْ أ هلا

( 11 )

Arinya : “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan

melupakan asal kejadiannya; dia berkata: “Siapakan yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh”? Katakanlah (Muhammad), “yang akan menghidupkanya ialah

(Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha

Di samping itu, terdapat kabilah yang mengakui adanya Allah dan kebangkitan dari kubur pada hari akhirat, tetapi mereka menyembah berhala dengan keyakinan bahwa berhala yang disembah itu akan memberi mereka syafaat dan mendekatkan mereka di sisi

Allah pada hari akhirat. Dalam al-Qur’an, kepercayaan ini disebut

dalam surat Yunus:

هَ ْنع ا اعفش ءَ ه ن ل قي ْم عفْني َ ْمهُ ضي َ ام هَ ن د ْنم ن بْعي

َ تا ا هسلا يف ملْعي َ ا ب هَ ن بنتأ ْلق

اه ع ىلاعت ه احْبس ضْ ْْا يف

) ن ك ْشي

18 )

Artinya : “Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang

tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi

syafaat kami di hadapan Allah.” Katakanlah, apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketehui-Nya apa yang ada di langit dan tidak (pula) yang dibumi? Maha Suci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS : Yunus, ayat 18)

Berdasarkan kepercayaan yang menyimpang dan sesat itu,

al-Qur’an membawa ajaran yang benar yang bertujuan membetulkan

aqidah yang salah dengan menyatakan bahwa aqidah yang benar dalam masalah ketuhanan adalah berdasarkan tauhid yang murni. Ditegaskan

bahwa tauhid itu ada tiga macam: TauhidUluhiyah, Tauhid

Rububiyyah, dan Tauhid al-Asma wa al-Shifat.

Dalil wujud Allah, dalam upaya menegakkan aqidah yang

benar, kita menjumpai banyak ayat al-Qur’an yang memperlihatkan

berbagai dalil yang meyakinkan untuk membuktikan kebenaran wujud Allah yang berpangkal pada ajaran tauhid. Dalil-dalil yang terdapat

dalam al-Qur’an itu tidak hanya sesuai dengan tingkat pemikiran dan

pemahaman orang-orang yang terpelajar. Berbeda dengan kitab-kitab suci yang terdahulu, seperti kitab Taurat dan Injil, yang tidak

mengemukakan sesuatu dalil tentang adanya Allah, maka al-Qur’an

sebagai kitab suci terakhir diturunkan telah mengemukakan berbagai dalil sebagai pembuktian kebenaran wujud Allah. Dalil-dalil itu ada yang berasal dari alam ini, ada yang berdasarkan pada pengalaman batin dan ada juga yang berasal dari wahyu.

Dalil kauni, yang dimaksud dengan “dalil kauni” ialah dalil

yang berdasarkan wujudnya alam ini yang menunjukkan kepada adanya Allah. Alam yang kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri

tidak mungkin adanya dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Allah yang menciptakan alam ini tidak hanya sekedar mencipta, lalu dibiarkan berjalan sendiri, seperti halnya jam, tetapi juga dipelihara dan dikendalikan dengan sempurna. Hal yang demikian ini dapat disaksikan setiap waktu betapa tertibnya aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan serta hukum-hukum yang diciptakan Allah bagi alam ini yang disebut sunnatullah.

Tidak ada suatu benda apa pun di alam ini yang menyimpang dari garis atau ketentuan yang telah ditetapkan Allah dalam sunah-Nya. Allah adalah pencipta, pemelihara, pengendali serta pengasuh alam ini

seluruhnya. Oleh karena itu, Dia disebut dalam al-Qur’an sebagai rabb

seperti yang dapat dibaca dalam ayat pertama surat al-‘Alaq, wahyu

pertama yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya.

Di samping itu, kita juga dapat menyaksikan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini telah diciptakan Allah dalam wujud berpasang-pasangan seperti yang disebut dalam surat Yasin:

َ اه م ْم سفْ أ ْنم ضْ ْْا بْنت اه م ا هلك جا ْ ْْا قلخ هلا ناحْبس

ن لْعي

) 36 )

Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya

berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang mereka tidak ketahui”(QS : Yaasin, ayat 36).

Selain itu, kita juga menyaksikan bahwa segala sesuatu yang berada di alam ini tunduk dan patuh kepada suatu aturan yang berada di bawah suatu pengendalian yang sangat tertib. Tidak ada suatu benda pun yang menghalangi atau merintangi jalannya benda-benda lain, tetapi semuanya saling membantu untuk mencapai tujuannya yang telah ditetapkan. Fenomena ini telah dijelaskan dalam surat ar-Rahman:

) نابْسحب قْلا ْ هشلا

5

) نا جْسي جهشلا مْجهنلا )

6 )

Artinya: “(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) yang

Mahaperkasa, Mahapenyayang, agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi

peringatan, karena itu mereka lalai” (QS : Yaasin, ayat 5-6). Manusia juga diseru untuk melakukan wisata penyelidikan di atas bumi untuk mengetahui asal-usul dan awal mula ciptaan. Allah berfirman dalam surat al-Ankabut :

هَ هنإ خ َْا ْْشهنلا ئشْني هَ همث قْلخْلا أ ب فْيك ا ظْ اف ضْ ْْا يف ا يس ْلق

ٌ ي ق ءْيش لك ىلع

) 20 )

Artinya: “Katakanlah, berjalanlah di bumi, maka

perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai menciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh Allah

kuasa atas segala sesuatu”(QS : Al-Ankabut, ayat 20).

Dan lebih khusus lagi, betapa manusia diseru untuk memikirkan apa yang dalam dirinya seperti firman Allah dalam surat adz-Dzaariyaat:

) ن صْبت َفأ ْمكسفْ أ يف

21

)

Artinya: “Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu

tidak memperhatikan” (QS : Az-Zariyat, ayat 21).

Demikianlah sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang dapat

diturunkan di sini sebagai contoh tentang ajakan atau seruan kepada manusia untuk mempergunakan akalnya untuk memikirkan alam raya ini yang terbentang di hadapannya dan juga segala isinya karena dapat menghantarnya kepada keyakinan tentang wujud Allah Swt.

Dalil pengalaman batin, dalil kedua yang paling berkesan tentang adanya Allah ialah dalil yang berkaitan dengan jiwa atau batin manusia. Dalam jiwa manusia terdapat kesadaran tentang adanya Allah, sehingga ia merasa lebih dekat kepada-Nya terutama pada saat-saat tertentu.

Pengertian manusia dengan kesadaran batinnya lebih dekat kepada Allah daripada dirinya dapat dilihat dan dirasai pada saat dia menghadapi suatu kesulitan besar dalam hidupnya atau dalam situasi musibah yang sedang menimpanya. Pada saat ia menghadapi musibah atau bencana, maka kesadarannya akan wujud Allah lebih terang dan lebih kuat dalam diri atau jiwanya daripada kesadarannya kepada dirinya sendiri. Pada saat itu ia mulai berdoa dan memohon bantuan Allah bagi keselamatan diri dan keluarganya yang dicintai dari musibah yang sedang menimpanya, walaupun ia barangkali sebelum itu tidak mengakui adanya Allah. Dengan sebab musibah itu, batinnya tergugah kepada iman, sehingga kesadarannya kepada wujud Allah lebih terang dan lebih diyakini. Memang kita sering menjumpai adanya sebagian orang yang melupakan Allah pada waktu ia berada dalam kemewahan hidup atau dalam kedudukan yang terpandang dalam masyarakat atau lain-lain sebagainnya, sehingga telah menyebabkan

timbulnya semacam keangkuhan dalam batin atau jiwanya yang dapat

menutupi hakikat dirinya. Dalam al-Qur’an keadaan orang-orang

seperti ini dijelaskan dalam firman Allah, surat ar-Rum:

ٌقي ف ا إ ًة ْح هْنم ْم قا أ ا إ همث هْيلإ نيبينم ْم هب اْ عد ٌ ض اهنلا ه م ا إ

ن ك ْشي ْم ب ب ْم ْنم

) 33 )

Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya,

mereka menyeruTuhannya dengan kembali(bertobat) kepadan-Nya, kemudian apablia Dia member sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka menyekutukan Allah” (QS : Ar-Rum, ayat 33)

Manakala manusia berada dalam keadaan yang gelap karena musibah yang menimpanya, maka pada waktu itulah kesadaran batiniah akan wujud Allah menjadi lebih terang dan lebih kuat. Dan Allah akan selalu memperingatkan manusia yang lalai atau lupa akan Allah dengan memberi ujian musibah, sehingga ia akan kembali kepada-Nya. Seolah-olah musibah atau bencana itu ibarat alat pembersih batin yang penuh dengan kekotoran maknawi, sehingga menjadi bersih seperti semula.

Dalil wahyu, adapun yang sangat jelas dan meyakinkan tentang wujud Allah adalah wahyu Ilahi. Kepada orang yang belum beriman,

wahyu Ilahi yang telah mengambil bentuk dalam ayat-ayat al-Qur’an

adalah suatu pertanda akan adanya Allah karena tidak ada orang yang mampu menirunya.

Kepada orang yang telah beriman, dalil ini tidak saja dapat mengukuhkan keimanan kepada Allah, tetapi juga dapat menjelaskan kepadanya sifat-sifat Allah yang sangat diperlukan manusia dalam kehidupannya. Sebab, melalui wahyu Allah, manusia tidak hanya dapat mengetahui wujud Allah, tetapi juga sifat-sifat-Nya yang Maha

sempurna(Ahmad Daudy, 1997 : 48-).

Dalam dokumen Akidah Akhlak Dalam Perspektif Islam (Halaman 26-34)