• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Pendekatan Ekspositori a Pengertian Pendekatan

Dalam dokumen Kristin Cahyani S841102008 (Halaman 56-61)

commit to user BAB

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, PENELITIAN YANG RELEVAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Teori 1 Hakikat Kemampuan Mengapresiasi Puis

3. Hakikat Pendekatan Ekspositori a Pengertian Pendekatan

Pengertian pendekatan telah diuraikan pada halaman 25, bahwa dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya, yaitu pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang mengacu pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

b. Pengertian Pendekatan Ekspositori

Pendekatan ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach) (Wina Sanjaya, 2007: 177). Dikatakan demikian, karena dalam pendekatan pembelajaran ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui pendekatan ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Pendekatan ekspositori menurut Syaiful Sagala (2006: 7) dikatakan sebagai pendekatan yang menempatkan guru sebagai pusat pengajaran, yang menunjukkan bahwa guru berperan lebih aktif dibanding siswanya karena guru telah mengelola dan mempersiapkan bahan ajar secara tuntas, sedangkan siswa

berperan lebih pasif tanpa banyak melakukan aktifitas karena hanya menerima bahan ajaran yang disampaikan guru.

Pendekatan ekspositori juga dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal (Wina Sanjaya, 2007: 177). Dengan demikian pendekatan ini dapat dikatakan identik dengan metode ceramah .

Jaanu (2001: 2) menyatakan bahwa pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan pada penjelasan guru tentang fakta, konsep, prinsip, dan hubungan generalisasi dengan maksud untuk memberikan pemahaman pada siswa. Ini terdiri dari metode ceramah, presentasi, narasi dan

buku teks. Hal itu sedikit berbeda dengan yang diungkapkan oleh Swaak, Jong

de, dan Joolingen van, (2004), bahwa pembelajaran ekspositori membayar lebih banyak perhatian untuk langsung 'mengekspos' definisi dan persamaannya untuk peserta didik.

Selanjutnya, O. N.Agbulu dan E. E. Idu (2008: 245) menyatakan bahwa

pendekatan ekspositori adalah guru mengetahui segala sesuatu dan bahwa pelajar hampir kosong. Dalam pendekatan ini peran guru adalah untuk memberikan pengetahuan hanya dengan mengatakan atau menjelaskan kepada murid-muridnya. Pendekatan ekspositori berasal dari gagasan umum bahwa

studen trelationships, guru memberikan perwujudan pengetahuan, memberikan apa yang ia tahu kepada murid-muridnya.

Pendekatan ekspositori adalah strategi mengajar yang dilakukan guru dengan menyajikan materi pelajaran tentang aturan dan memberikan contoh yang menggambarkan aturan. Contoh termasuk hubungan bergambar, penerapan aturan, konteks melalui informasi sejarah, dan informasi prasyarat. Contohnya adalah disediakan untuk memberikan elaborasi kontekstual dan membantu siswa melihat subjek dari perspektif yang berbeda (dalam http://www.ed.psu.edu/NASA/expotxt.html/ diunduh tanggal 26 januari 2012).

Sementara itu, Killen menamakan pembelajaran ekspositori ini dengan istilah pembelajaran langsung (direct instruction), karena dalam pembelaran ini materi palajaran disampaikan langsung oleh guru (Killen dalam Wina Sanjaya, 2007: 177). Sedangkan Muijs dan Reynols (2008: 41) menyatakan bahwa pengajaran langsung yang juga dikenal dengan sebutan a ctive tea ching

(pengajaran aktif) atau whole-cla ss tea ching (pengajaran seluruh kelas), mengacu pada gaya mengajar di mana guru terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada murid-muridnya dengan mengajarkannya secara langsung kepada seluruh kelas.

Bertolak dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan ekspositori adalah pendekatan pembelajaran dengan cara penyampaian materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data dan fakta secara verbal, dengan tujuan materi yang disampaikan dapat dikuasai dengan baik.

c. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Ekspositori

Keunggulan pendekatan ekspositori adalah praktis dari sisi pesrsiapan dan media yang digunakan, efisien waktu dan biaya, dapat menyampaikan materi yang banyak, lebih mudah mengontrol kelas, siswa tidak perlu persiapan, mendorong guru atau dosen menguasai materi, dan siswa dapat langsung menerima pengetahuan ( Wina Sanjaya, 2007: 188-190).

Selain itu pendekatan ini juga memiliki kelemahan, antara lain : (1) berpusat pada guru, (2) siswa pasif, (3) ketrebatasan kemampuan pada tingkat rendah, (4) mudah terganggu oleh hal-hal yang bersifat visual, (5) rentan dengan kebisingan, (6) membutuhkan daya ingat yang tinggi, (7) kurang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan, (8) bersifat verbalisme, dan (9) tidak dapat diketahui tingkat kepahaman terhadap materi yang disampaikan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa pendekatan ekspositori merupakan pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan memberikan penjelasan seperti halnya metode ceramah.

d. Langkah-langkah Pembelajaran Ekspositori

Langkah-langkah pembelajaran ekspositori menurut Wina Sanjaya (2007: 183-188) yaitu: 1) persiapan, 2) penyajian, 3) menghubungkan, 4) menyimpulkan, dan 5) penerapan (Wina Sanjaya, 2007: 184). Langkah- langkah tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Persiapan (prepa ra tion), tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Keberhasilan

pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ekspositori sangat bergantung pada langkah persiapan. Langkah yang dapat diberikan adalah dengan memberikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif, memulai dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai, dan membuka wawasan siswa.

2) Penyajian (Presenta tion), langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan penggunaan bahasa, intonasi suara, menjaga kontak mata dengan siswa, dan menggunakan joke-joke yang menyegarkan.

3) Menghubungkan (Cor relation), langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran denga pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dengan struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Maksud pemberian korelasi ialah memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.

4) Menyimpulkan (Genera liza tion), menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disampaikan. Langkah menyimpulan merupakan langkah yang sangat penting dalam pendekatan

ini sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses penyajian. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan.

5) Penerapan (Aplication), langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Dengan langkah ini, guru dapat mengetahui penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Guru dapat memberi tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan atau dengan memberikan tes sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.

4. HAKIKAT MINAT BELAJAR

Dalam dokumen Kristin Cahyani S841102008 (Halaman 56-61)