• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEOR

B. Pendidikan Karakter

2. Hakikat Pendidikan Karakter

Secara singkat, pendidikan diartikan sebagai suatu proses untuk memanusiakan manusia. Artinya, seorang bayi yang lahir tidak dengan sendidrinya akan menjadi manusia (yang berbudaya). Untuk menjadikan manusia yang

berbudaya haruslah melalui pengembangan dan pembinaan jasmani dan ruhani melalui aktivitas pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai.

Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang

tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Mengacu pada unsur dasar dan komponen pokok pendidikan, secara singkat-padat, Muhadjir (1993) menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya terprogram dari pendidik-

mempribadi untuk membantu peserta didik agar

berkembang ke tingkat yang normatif lebih baik dengan cara yang normatif juga baik.

Adapun pengertian karakter menurut Zubaedi (2011:10) mengacu pada serangkaian perilaku, motivasi, dan

keterampilan. Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti berpikir kritis, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, dan sebagainya. Pengertian karakter Pusat Bahasa Depdiknas mengartikan karakter sebagai “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Dengan demikian, berkarakter berarti berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Musfiroh (2008), karakter

mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana

mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Selanjutnya, dengan uraian yang cukup mendalam, Adhim (2012) menegaskan bahwa karakter identik dengan akhlak sebagaimana dijelaskan oleh para ilmuwan muslim, misalnya Imam Al-Ghazali, dan Imam Qurthubi, dan Az- Zarnuji, sebagai berikut.

Jika karakter berbeda dengan perilaku, berbeda pula dengan kebiasaan dan bahkan tatakrama dan bahkan temperamen, lalu apa yang dapat dilakukan untuk

membangun karakter anak-anak kita? Langkah apa yang dapat ditempuh untuk melakukan pendidikan karakter jika pembiasaan (habituation/habit forming) tidak mempengaruhi karakter anak-anak kita, di rumah maupun di sekolah?

Karakter berbeda dengan kebiasaan. Karakter itu serangkain kualitas pribadi yang membedakannya dengan

orang lain. Krakter menuntut adanya pengahayatan nilai, proses mengidentifikasikan driri dengan nilai-nilai yang diyakini sehingga ia senantiasa berusaha agar bersesuaian dengan nilai yang diyakini sehingga pada akhirnya terjadi karakterisasi diri. Artinya, karakter merupakan proses yang berkelanjutan.Karakter memang cenderung menetap dan sulit diubah, namun bukan berarti sekali terbentuk tidak mungkin berubah. Dari karakter itulah –baik atau buruk– melahirkan berbagai perilaku. Akan tetapi perilaku itu sendiri tidak dapat serta merta dikatakan sebagai karakter.

Perilaku yang berulang setiap hari dapat membentuk kebiasaan, meskipun sebagian hanya menjadi perilaku berulang (repeted behavior), yakni manakala perulangan perilaku tersebut terjadi hanya karena takut terhadap ancaman. Tidak muncul perilaku tersebut jika ancamannya hilang. Hal ini perlu diperhatikan agar kita tidak cepat merasa puas ketika melihat perilaku anak-anak kita. Jangan sampai kita mengira anak-anak telah memiliki kebiasaan yang baik, padahal hanya perilaku berulang semata. Dalam hal ini ada pelajaran yang sangat berharga yang perlu dicamkan oleh para pendidik, bahwa karakter itu tidak terlepas dari

keyakinan dan penghayatan seseorang terhadap nilai-nilai yang dipeganginya. Adapun perilaku itu cerminannya, tetapi

perilaku sendiri bukan gambaran yang dapat memastikan karakter seseorang, kecuali jika ada serangkaian perilaku lain yang searah. Singkatnya begini, orang baik akan mudah tersenyum, tetapi murah senyum belum tentu orang baik. Bukankah para penipu berhasil mengelabuhi orang lain justru karena senyumnya yang memukau? Bukan karena raut muka yang menakutkan.

Satu pilar yang sangat penting dalam pendidikan

karakter adalah adanya sosok panutan (role model). Lantas sosok siapa yang pantas dan tepat untuk dicontoh? Apakah kita akan menjadikan Lawrence Kohlberg sebagai sosok panutan? Padahal tokoh yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Karakter ini justru matinya dengan cara mengenaskan. Dia mati bunuh diri dengan cara

menenggelamkan diri karena krisis karakter. Ini mirip dengan kematian Sigmund Freud. Meskipun bukan bunuh diri, tetapi tokoh yang dikenal dengan Bapak Kesehatan Mental ini mati dengan cara eutanasia (suntik mati) atas permintaan sendiri akibat depresi yang ia alami.

Istilah yang dekat dengan karakter adalah akhlaq, bentuk jamak dari khuluq. Khuluq adalah bentuk, sifat, dan nilai-nilai yang berada pada wilayah batin. Ini menarik untuk dicermati, sebab ketika kita memaksudkannya sebagai sifat

lahiriyah, ia adalah khalq. Oleh karena itu, khuluq –terpuji atau tercela –akan tercermin dalam khalq yang berupa sifat- sifat lahiriyah. Ini berarti bahwa yang harus diperhatikan bukan hanya perilaku yang tampak, tetapi apa-apa yang darinya tercermin dalam bentuk perilaku.

Tentang kaitan antara akhlaq dan perilaku, Imam Al- Ghazali menulis dalam Ihya’ Ulumuddin, “Akhlaq merupakan ungkapan keadaan yang melekat pada jiwa dan darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa perlu berpikir panjang dan banyak pertimbangan.” Agar tidak salah arah, marilah kita tengok pendapat Imam Qurthubi, akhlaq adalah adab atau tatakrama yang dipegang teguh oleh

seseorang sehingga adab atau tatakrama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya. Dalam peristilahan sekarang, adab meliputi manner and etiquettes (tatakrama dan etiket). Ia bukan sekedar serangkaian perilaku, melainkan di

dalamnya juga terkandung sikap. Ini berarti proses

pembentuka adab (ta’dib) memerlukan beberapa unsur, yakni menumbuhkan sikap yang baik, melakukan serangkaian pembiasaan yang terkait, menanamkan kebiasaan bukan hanya bersifat fisik dan mekanik, menumbuhkan motivasi serta menunjukkan keutamaan dari adab tersebut.

Merujuk pada pendapat Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, Adhim (2012) menyatakan bahwa adab merupakan pilar utama menuntut ilmu. Agar seseorang dapat menuntut ilmu dengan baik, hal pertama yang harus dimiliki oleh murid sekaligus ditumbuhkan oleh guru adalah adab. Proses pembentukan adab merupakan tahap yang sangat penting untuk menyiapkan murid dalam menuntut ilmu sekaligus menumbuhkembangkan akhlaq mulia dalam diri mereka. Adab merupakan pilarnya dan akhlaq keyakinan pada agama Islam merupakan fondasi yang sangat penting. Keyakinan itu bersifat afektif, bukan kognitif. Jika keyakinan telah tumbuh, maka pemahaman secara kognitif akan menguatkannya. Sebaliknya, tanpa menyadari dan meyakini, pemahaman yang mendalam pun tidak mempengaruhi sikap, apalagi sampai ke perilaku.

Tegasnya, penanaman keimanan yang kuat harus didahulukan, selanjutnya baru pemahaman keilmuan, dan insya Allah, hanya dengan cara seperti ini peserta didik akan mengamalkan ilmunya. Jadi, urutannya: iman, ilmu, dan amal. Inilah urutan proses pendidikan yang sesuai dengan konsep dari Allah Yang Maha Mendidik (Rabb) sebagaimana tertuang dalam Al-Quran Surah Luqman:13-19. Konsep ini pula yang diterapkan oleh Pendidik Sejati: Rasulullah saw. dalam

mendidik para sahabatnya, dimana beliau menanamkan ajaran keimanan/aqidah/tauhid dalam waktu yang cukup lama. Konsep pendidikan dari Allah yang diterapkan oleh Rasulullah inilah yang terbukti menghasilkan pribadi-pribadi mulia, sosok-sosok agung, para sahabat yang biografinya tercatat dalam sejarah kemanusiaan dengan tinta emas yang dapat diteladani sampai akhir masa.

Selanjutnya, mari kita bandingkan dengan proses pendidikan yang terjadi sekarang. Begitu masuk sekolah anak-anak langsung belajar. Kurang ada proses yang

diikhtiarkah secara serius membentuk adab pada diri mereka sehingga kurang ada kesiapan belajar belajar, pun kurang ada bekal awal untuk membentuk karakter (akhlaq) dalam diri mereka. Begitu masuk sekolah, serta-merta mereka harus belajar untuk tujuann akademik sebelum sikap dan motivasi belajar mereka dibangun. Begitu anak-anak yang ceria itu masuk ruang sekolah, mendadak keceriaan mereka memudar karena segera memabayang dalam benak mereka ”hantu- hantu angka”: ”hantu matematika”, ”hantu english”, ”hantu ranking”, ”hantu tidak lulus UN”, ”hantu NEM”, dan

sebagainya.

Padahal sekolah seharusnya menyiapkan mereka terlebih dulu untuk memiliki sikap dan motivasi belajar yang baik. Ada

proses perubahan yang terancang, dari segi mental mereka mempunyai motivasi akademik yang baik, sedangkan dari aspek tatakrama dan etiket mereka memilki kesiapan belajar. Mari kita renungkan secara mendalam, Rasulullah Saw. diutus untukn menyempurnakan akhlaq. Namun, apakah yang

Beliau lakukan di masa awal risalahn dakwahnya? Bukan akhlaq yang lebih dulu dibangun, tapi aqidah. Aqidah dulu, baru akhlaq! Jika aqidah/tauhidnya benar dan kuat, insya allah akhlaq/karakter peserta didik juga akan mulia dan kokoh.

Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai- nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat

pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari agama dan budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar

manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas.

Dalam tulisan Muhadjir (1993) karakter dasar manusia ini dinyatakan sebagai nilai-nilai insani yang sesungguhnya itu juga nilai-nilai yang bersumber dari Ilahi yang bersifat universal, misalnya ketaqwaan, kejujuran, kasih sayang, kedisiplinan, tolong menolong, keadilan, kesantunan,

kesabaran, tanggung jawab, saling paercaya, ksetiaan, dan sebagainya. Di antara fungsi utama pendidikan adalah untuk

melestarikan nilai-nilai Ilahi/insani tersebut. Oleh karena masyarakat manusia dapat berlangsung terus (lestari) jika jika ada kemauan untuk menaati atau mengamalkan nilai- nilai Ilahi/insani tersebut.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk

membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang mewujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Khusus untuk peserta didik yang beragama Islam,

penguatan (intensifikasi) pendidikan keimanan/aqidah/tauhid pada pendidikan tingkat dasar dan menengah merupakan tindakan yang harus segera dilakukan. Mengingat,

keimanan/aqidah/tauhid yang benar dan kuat merupakan fondasi yang sangat kokoh untuk menopang berkembangnya nilai-nilai karakter/akhlaq terpuji dalam diri peserta didik. Oleh karena mengembangkan nilai-nilai karakter/akhlaq terpuji tanpa didasari fondasi yang kokoh, ibarat mendirikan gedung tanpa fondasi, tentu kondisinya sangat rapuh,

mengkwatirkan, dan membahayakan karena sedikit ada goncangan akan segera roboh.