• Tidak ada hasil yang ditemukan

REPRESENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TRILOGI NOVEL NEGERI 5 MENARA

B. Nilai-nilai Karakter yang Lain 1 Semangat Memotivas

Semangat memotivasi keapada orang laim merupakan karakter seseorang yang sangat baik. Orang yang semangat memotivasi orang lain dapat diartikan bahwa orang tersebut menghendaki agar orang lain itu menjadi orang yang baik dan sukses. Semangat memotivasi orang lain merupakan indikasi bahwa orang itu tidak egois, tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Ustadz Salman, salah seorang pengasuh di PM, sangat piawai dalam memotivasi para santri. Untuk menanamkan prinsip man jadda wajada (siapa pun yang

sungguh-sungguh niscaya akan sukses), beliau tidak hanya memotivasi dengan ceramah tetapi dengan alat peraga yang memungkinkan para santri dapat menangkap secara nyata tentang prinsip man jadda wajada tersebut, sebagaimana tampak pada kutipan berikut.

“MAN JADDA WAJADA”

Teriak laki-laki muda bertubuh kurus itu lantang. Telunjuknya lurus teracung tinggi ke udara, suaranya menggelegar, sorot matanya berkilat-kilat menikam kami satu persatu. Wajah serius, alisnya hampir bertemu otot gerahamnya bertonjolan, seakan mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menaklukkan jiwa kami. Sungguh menginngatkan aku kepada karakter tokoh sakti mandraguna di film layar tancap keliling di kampungku, persembahan dari Departemen Penerangan.

Man jadda wajada: sepotong kata asing ini bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. Dalam hitungan beberapa helaan napas saja, kami bagai tersengat ribuan tawon. Kami, tiga puluh anak tanggung, menjerit balik, tidak mau kalah kencang.

“Man jadda wajada!”

Berkali-kali, berulang-ulang, sampai tenggorokan panas dan suara serak. Ingar bingar ini berdesibel tinggi. Telingaku panas dan berdenging- denging sementara wajah kami merah padam memforsir tenaga. Kaca jendela yang tipis sampai bergetar-getar di sebelahku. Bahkan, meja kayuku pun berkilat-kilat basah, kuyup oleh air liur yang ikut berloncatan setiap berteriak lantang.

Tapi kami tahu, mata laki-laki kurus yang energik ini tidak dimuati aura jahat. Dia dengan royal membagi energy positif yang sangat besar dan meletup-letup. Kami tersengat menikmatinya. Seperti sumbu kecil terpecik api, mulai terbakar, membesar, dan terang!

Dengan wajah berseri-seri dan senyum sepuluh senti menyilang di wajahnya, laki-laki ini hilir mudik di antara bangku-bangku murid baru, mengulang-

ulang mantera ajaib ini di depan kami bertiga puluh. Setiap dia berteriak, kami menyalak balik dengan kata yang sama, man jadda wajada. Mantera ajaib berbahasa Arab ini bermakna tegas: “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil!”

Laki-laki ramping ini adalah Ustad Salman, wali kelasku. Wajahnya lonjong kurus, sebagian besar dikuasai keningnya yang lebar. Bola matanya yang lincah memancarkan sinar kecerdasan. Pas sekali dengan gerak kaki dan tangannya yang gesit ke setiap sudut kelas. Sebuah dasi berwarna merah tua terikat rapi di leher kemeja putihnya yang licin. Lipatan celana hitamnya berujung tajam seperti baru saja disetrika. Sepatu hitamnya bersol tebal dan berdekak-dekak setiap dia berjalan di ubin kelas kami.

Selain kelas kami, puluhan kelas lain juga demikian. Masing-masing dikomandoi seorang kondaktur yang energik, menyalakkan “man jadda wajada”. Hampir satu jam nonstop, kalimat ini bersahut-sahutan dan bertalu-talu. Koor ini bergelombang seperti guruh di musim hujan, menyesaki udara pagi di sebuah desa terpencil di Udik Ponorogo.

Inilah pelajaran hari pertama kami di PM. Kata mutiara sederhana tapi kuat. Yang menjadi kompas kehidupan kami kelak. (N5M:40-41).

2. Menghormati Orangtua

Menghormati orangtua merupakan perilaku terpuji yang harus dimiliki oleh setiap manusia yang beradab. Oleh karena itu, perilaku mulia ini ditanamkan dan dibiasakan dalam proses pembelajaran di PM sehingga dapat merasuk dan menjadi bagian kepribadian para santri termasuk Alif. Perilaku menghormati orangtua ini ditunjukkan oleh Alif ketika mendapatkan informasi bahwa ayahnya telah datang di PM. Begitu mendapat informasi

bahwa ayahnya telah tiba di PM, Alif bergegas ke ruang tamu sembari berteriak dalam hati: ayah datang! Sebuah ungkapan spontanitas yang mencerminkan sikap seorang anak yang menghormati orangtuanya. Ketika bertemu ayahnya, Alif juga mencium tangannya, sebuah kebiasaan mulia sebagai manifestasi sikap hormat kepada orangtuanya.

Ayah datang!

Aku segera menuju tempat penerimaan tamu. Sudah setahun aku tidak bertemu Ayah. Dalam penglihatanku, wajahnya tidak banyak berubah, tapi ubannya makin banyak menyeruak, khususnya di kedua sisi kepalanya yang berambut tipis. Lebih jauh lagi, bahkan uban sekarang telah menjajah sampe kekumis dan cabangnya. Wajahnya tampak letih setelah perjalanan lintas Jawa dan Sumatera.

Aku cium tangan beliau dan duduk di sampingnya, agak lesu. Ayah hanya tertawa tanpa bunyi dan berkata,“ Di kampung lagi musim durian”. Lalu apa hubungannya dengan kedatangan beliau? Tidak ada. Aku tahu betul, kalau ayah berbicara di luar konteks, berarti dia sedang gelisah dan mencari cara untuk memulai pembicaraan (N5M : 372-373). 3. Berhemat

Berhemat merupakan sikap dan perilaku yang positif, apalagi bagi seorang pelajar atau santri yang sedang menuntut ilmu di suatu lembaga pendidikan sementara orangtuanya dalam keadaan keterbatasan dana. Dalam keadaan yang demikian ini, jika santri berperilaku tidak

hemat sangat mungkin cita-citanya akan kandas di tengah jalan karena masalah finansial.

Alif termasuk salah satu santri di PM yang orangtuanya tergolong memiliki keterbatasan dana. Oleh karena itulah ia berusaha hidup di PM secara hemat. Saatnya liburan semester pun ia tidak pulang ke kampung halamannya karena jika ia pulang tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Demi menghemat dana, ia memutuskan untuk pulang liburan di akhir tahun saja. Sikap berhemat semacam ini tentu merupakan hasil dari pendidikan dan pembiasaan yang harus diperhatikan oleh orangtua dan para pendidik dalam suatu lembaga pendidikan.

Aku mencoba menghibur diri, kalau pun ada uang, liburanku suatu pemborosan. Waktu yang terpakai untuk naik bus bolak balik bisa 5-6 hari. Sisanya hanya 9 hari yang bisa digunakan di rumah. Karena itu aku memutuskan untuk menunda di libur akhir tahun saja (N5M:214).

4. Kekompakan

Kekompakan merupakan sikap yang lahir dari kesadaran akan pentingnya kerjasama dan bersinergi yang harus dilakukan oleh anggota suatu organisasi atau komunitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama. Dalam konteks menjaga keamanan di suatu lingkungan tertentu, kekompakan merupakan sebuah keharusan yang harus diupayakan bersama,

karena dengan kekompakan setiap anggota kelompok akan merasa aman dan saling terlindungi.

Kekompakan ini juga sudah menjadi budaya di PM dalam melaksanakan kegiatan berbagai kegiatan, lebih- lebih dalam menjaga keamanan di lingkungan PM, sebagaimana terungkap dalam kutipan berikut ini.

Melihat kami memasang wajah jeri, Tyson mencoba menghibur. “Tapi jangan takut, kami sudah menyiapkan pasukan patroli khusus dari ustadz dan murid Silat Tapak Madani. Mereka akan berkeliling dari satu pos ke pos lain. Tugas kalian adalah menjaga pos masing-masing. Kalau ada apa-apa, beri isyarat dengan peluit. Siapa yang mendengar peluit harus meniup peluitnya sendiri, sehingga nanti menjadi pesan berantai buat semua orang,” katanya lugas sambil membagikan peluit berwarna merah kepada setiap orang (N5M: 240 ).

5. Mengakui kelebihan orang lain

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam bidang tertentu seseorang memiliki keunggulan tetapi dalam bidang yang lainnya dia lemah. Keadaan semacam ini memang sudah sunatullah agar manusia dapat memetik pelajaran dan hikmah darinya, yakni bahwa orang itu harus menjalin kerjasama agar dapat menutupi kelemahannya masing-masing. Kerjasama akan dapat terwujud dengan baik manakala pihak-pihak yang menjalin kerjasama itu dapat secara ikhlas dan jujur mengakui kelebihan orang lain.

Representasi sikap dapat mengakui kelebihan orang lain ini terungkap dalam kutipan berikut dimana Alif mengakui kelebihan teman-temannya. Misalnya, Alif mengakui bahwa Baso dan Raja memiliki keunggulan dalam bidang hafalan dan bahasa Arab, sementara ia sendiri mengakui kelemahannya dalam dua bidang tersebut.

Walau sudah dibakar oleh motivasi Kiai Rais, aku tetap agak grogi menghadapi ujian ini. Beda sekali dengan semua ujian yang pernah aku rasai sebelum ini. Bebanku terasa berlipat ganda, karena terdiri dari ujian lisan dan tulisan. Selain itu pelajaran lebih sulit karena tidak dalam bahasa Indonesia. Yang membuat aku gamang adalah kelemahanku dalam bahasa Arab dan hapalan. Aku bahkan tidak tahu apakah kualitas bahasa Arab yang aku punya cukup untuk membuatku naik kelas. Kalau belajar bersama, aku selalu minder dengan kehebatan Baso dan Raja. Keduanya, terutama Baso, sangat gampang dalam menghapal. Sementara kualitas bahasa Arabnya tinggi dengan tata bahasa dan kosakata yang kaya (N5M : 194).

6. Suka membantu orang lain

Suka membantu atau menolong orang lain merupakan sikap dan perilaku yang dilakukan seseorang dengan tujuan agar orang yang dibantu itu merasa lebih ringan dan lebih mudah dalam menyelesaikan urusan tertentu. Sebagai makhluk sosial, setiap manusia tidak mungkin menjalani kehidupan ini sendiri, tanpa bantuan atau pertolongan orang lain. Seseorang yang suka

membantu kesulitan orang lain, suatu ketika jika ia mengalami kesulitan juga akan dibantu oleh orang lain.

Sikap saling membantu ini juga dipraktikkan oleh Alif dan teman-temannya di PM. Mereka saling membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, sebab masing- masing mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Siswa yang memilki keunggulan dalam ilmu tertentu dapat membantu siswa yang lain yang memiliki kelemahan dalam ilmu tersebut, dan sebaliknya.

Sementara aku? Semua pelajaran bagiku adalah kerja keras dan perjuangan. Yang aku syukuri, dua kawan cerdasku ini orang baik yang selalu mau membantu dan berbagi ilmu. Mereka masih bersedia berulang-ulang menerangkan bab-bab yang aku tidak paham-paham berkali-kali. Aku mencoba menghibur diri bahwa aku tidak sendiri. Atang, Dulmajid, dan Said juga punya masalah yang mirip, dan kami sangat berterima kasih kepada Baso dan Raja (N5M : 194).

7. Rajin Berdoa

Selain berusaha atau beriktiar secara lahiriyah, manusia juga diwajibkan berusaha secara batiniyah atau berdoa, yakni memohon kepada Allah agar diberi kemudahan atas berbagai urusannya. Dengan berdoa, seseorang dapat terhindarkan dari sifat sombong atau takabur, karena jika berhasil meraih kesuksesan ia akan merasa bahwa kesuksesannya itu semata-mata karunia dari Allah. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah

berdoa, ia akan merasa abah keberhasilannya itu hanya karena usahanya sendiri. Hikmah lain, bagi orang yang rajin berdoa adalah merasa lebih dekat dengan Allah, sebagaimana perasaan Alif yang terdapat pada kutipan berikut ini.

Maka, di diari terpercayaku, aku tuliskan rencana konkrit untuk mengatasi masalah ujian ini. Yang pertama, aku ingin meningkatkan doa dan ibadah. Salah satu hikmah ujian bagiku ternyata menjadi lebih mendekat pada-Nya. Bukankah Tuhan telah berjanji kalau kita meminta kepada-Nya, maka akan dikabulkan? (N5M : 194-195).

8. Berprasangka baik (husnudzon)

Berprasangka baik adalah sikap atau perilaku seseorang yang menganggap bahwa dalam setiap kejadian atau peristiwa selalu ada hikmahnya atau ada pelajarannya yang baik. Orang yang senantiasa berprasangka baik, pikiran dan perasaannya lebih tenang, lebih cermat dan bijaksana dalam mengambil keputusan dalam suatu masalah. Jika warga masyarakat saling berprasangka baik, maka kehidupan yang harmonis akan tercipta di tengah-tengah masyarakat.

Dalam salah satu hadits qudsi Allah SWT berfirman bahwa Dia selalalu mengikuti persangkaan hamba-Nya. Artinya, jika seseorang berprasangka bahwa Allah adalah Dzat Yang Mahabaik, maka ia akan senantiasa memperoleh kebaikan-kebaikan dari Allah. Oleh karena itu,

dalam hal berdoa, seseorang harus berprasangka bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya.

Agar cita-citanya tercapai, Alif selain berprasangka baik kepada Allah juga menambahi ibadahnya, sebagaimana tampat pada kutipan berikut ini.

Aku akan menerapkan praktik berprasangka baik bahwa doaku akan dikabulkan. Tapi berdoa saja rasanya kurang cukup. Aku mencanangkan untuk menambah ibadah dengan shalat sunat Tahajjud setiap jam 2 pagi. Di papan pengumuman asrama telah tertulis, “Daftarkan diri kalau ingin dibangunkan shalat Tahajjud malam ini”. Aku langsung mendaftar untuk dua minggu ke depan (N5M:195).

9. Optimis dan pantang menyerah

Optimis merupakan sikap dan tindakan seseorang yang meyakini bahwa usaha yang dilakukannya akan berhasil dan pantang menyerah adalah sikap dan tindakan seseorang yang tidak kenal putus asa, selalu bersemangat dalam belajar atau bekerja hingga tercapai tujuannya.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, setiap santri di PM diwajibkan menggunakan bahasa Inggris dan Arab. Agar menguasai dua bahasa asing itu, kepada para santri dimotivasi oleh para ustadz bahwa mereka optimis bisa jika mau berusaha dan terus berusaha serta pantang menyerah.

“Dan yang tidak kalah penting, bagi anak baru, kalian hanya punya waktu 4 bulan untuk boleh berbicara bahasa Indonesia. Setelah empat bulan semua wajib berbahasa Inggris dan Arab, 24 jam. Percaya kalian bisa kalau berusaha. Sesungguhnya