Tusuk gigi
HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman
Keterangan:
r = nilai korelasi antara peubah x dan y n = jumlah pengamatan
xi = nilai variabel x pada tanaman ke-i yi = nilai variabel y pada tanaman ke-i Untuk melihat ada atau tidaknya korelasi, digunakan rumus:
√
√
t hit > t tabel terdapat korelasi, pada t0,05. Data yang diamati yaitu umur berbunga, umur panen, tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, jumlah polong per tanaman, persentase polong isi, jumlah biji per tanaman, bobot 100 butir, bobot biji per tanaman, periode inkubasi, dan keparahan penyakit.
HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman
Informasi tentang keragaman dalam pemuliaan tanaman, terutama keragaman
yang disebabkan oleh faktor genetik, sangat diperlukan. Koefisien keragaman genetik dapat dijadikan dasar untuk menentukan tingkat keragaman suatu karakter dalam suatu populasi.
Karakter umur berbunga, umur panen, jumlah cabang produktif, bobot 100 butir, dan periode inkubasi ragam fenotipe dan genotipe termasuk dalam kategori sempit (Tabel 2). Hal ini menjelaskan bahwa keragaman fenotipe dan genotipe dalam populasi tersebut rendah. Karakter tinggi tanaman, jumlah polong per tanaman, persentase polong isi, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan keparahan penyakit keragaman fenotipe dan genotipe termasuk dalam kategori luas. Keragaman genotipe yang masih luas disebabkan persentase heterosigot masih cukup tinggi yaitu 25 % pada populasi F3, sehingga akan menyebabkan keragaman. Jameela et al. (2014) menyatakan bahwa semakin tinggi keragaman genetik yang dimiliki akan semakin besar peluang keberhasilan bagi program pemuliaan tanaman. Disamping itu, keragaman genetik yang tinggi juga dapat meningkatkan respon seleksi.
Heritabilitas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai duga heritabilitas dalam arti luas (H) yang tinggi terdapat pada karakter tinggi tanaman, jumlah polong per tanaman, persentase polong isi, jumlah biji per tanaman, bobot biji per tanaman, dan keparahan penyakit (Tabel 2). Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Aslichah dkk. (2015) pada populasi F2 hasil persilangan Tanggamus dan Taichung. Informasi tersebut menyatakan bahwa karakter agronomi dan karakter keparahan penyakit memiliki nilai heritabilitas tinggi. Nilai duga heritabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa faktor genetik relatif lebih berperan dalam menentukan keragaman dibandingkan dengan faktor lingkungan. Sifat yang mempunyai nilai duga heritabilitas tinggi menunjukkan bahwa sifat tersebut akan mudah diwariskan pada keturunan berikutnya (Alnopri, 2004; Jameela et al., 2014).
144
Tabel 1. Kriteria keragaman fenotipik, genotipik, dan heritabilitas populasi F3 hasil persilangan Tanggamus dan Taichung.
Karakter Ragam F3 kriteri
a Ragam
F3 kriteri
a H kriteria
Umur berbunga 2,86 3,38 sempit 0 0,00 sempit 0 Rendah
Umur panen 3,46 3,72 sempit 1,62 2,54 sempit 0,47 Sedang Tinggi tanaman 78,53 17,72 luas 72,79 17,06 luas 0,93 Tinggi Jumlah cabang
produktif 2,14 2,93 sempit 1,00 2,00 sempit 0,47 Sedang Jumlah polong per
tanaman 1986,68 89,14 luas 1961,38 88,57 luas 0,99 Tinggi Persentase polong isi 86,10 18,56 luas 76,42 17,48 luas 0,89 Tinggi Jumlah biji per
tanaman 10874,95 208,57 luas 10820,19 208,04 luas 0,99 Tinggi Bobot 100 butir 0,86 1,86 sempit 0 0,00 sempit 0 Rendah Bobot biji per
tanaman 96,06 19,60 luas 91,49 19,13 luas 0,95 Tinggi
Periode inkubasi 1,31 2,29 sempit 0,20 0,89 sempit 0,15 Rendah Keparahan penyakit 29,31 10,83 luas 25,13 10,02 luas 0,86 Tinggi Keterangan : Suatu karakter memiliki keragaman yang luas apabila nilai ragamnya lebih
besar dari dua kali akar ragam, sebaliknya keragaman sempit apabila ragamnya lebih kecil dari dua kali akar ragam (Anderson dan Bancrof, 1952 yang dikutip Wahdah,1996).
Heritabilitas tinggi (H≥ 0,50); Heritabilitas sedang (0,20< H<0,50);
Heritabilitas rendah (H≤0,20) (Mendez-Natera et al., 2012).
Heritabilitas yang termasuk kriteria sedang terdapat pada umur panen dan jumlah cabang produktif per tanaman.
Nilai duga heritabilitas sedang menunjukkan bahwa penampilan karakter tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan yang sama besarnya (Rachmadi, 2000). Heritabilitas rendah terdapat pada karakter umur berbunga, bobot 100 butir, dan periode
inkubasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Aslichah dkk.
(2015). Karakter yang nilai duga heritabilitasnya rendah, seleksi akan berjalan relatif kurang efektif karena penampilan fenotipe tanaman lebih dipengaruhi faktor lingkungan dibandingkan dengan faktor genetiknya (Aryana, 2012).
Prosiding Plant Protection Day II (2):141-146 Parameter Genetik Karakter Agronomi …
145
Tabel 2. Korelasi antara karakter agronomi dan karakter keparahan penyakit populasi F3
hasil persilanganTanggamus dengan Taichung.
Karakter Keparahan penyakit
Umur berbunga Bobot biji per tanaman
-0,26*
Keparahan penyakit berkorelasi negatif dengan umur berbunga dan umur panen. Semakin tinggi tingkat keparahan penyakit, maka akan semakin lama umur berbunga dan umur panen. Semakin rentan suatu tanaman, umur berbunga semakin tertunda atau tidak dapat berbunga sama sekali, tergantung tingkat kerentannya (Kuswanto, 2002 dikutip Kuswanto dkk., 2003). Umur bunga yang tertunda ini dapat mengakibatkan umur panen juga menjadi tertunda. Keparahan penyakit berkorelasi positif dengan persentase polong isi. Keparahan penyakit yang tinggi tidak mengurangi polong isi yang dihasilkan. Hasil polong isi yang tetap baik walaupun keparahan penyakit tinggi, kemungkinan karena tanaman yang diuji tersebut bereaksi toleran. Tanaman dikatakan toleran apabila virus yang menginfeksi tanaman tersebut tersebar ke bagian lain dan seolah-olah penampilannya seperti tanaman yang rentan, tetapi hasil tanaman itu tidak mengalami penurunan yang signifikan. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Riduan dan Sudarsono (2005) pada galur kacang tanah NC-CS30.
Keparahan penyakit berkorelasi negatif nyata dengan periode inkubasi.
Semakin singkat periode inkubasi maka semakin besar keparahan penyakit.
Menurut Diyansah (2012) periode inkubasi berbeda untuk setiap tanaman. Perbedaan periode inkubasi ini diduga berkaitan erat dengan ketahanan tanaman terhadap serangan virus sehingga memengaruhi lama virus menginfeksi tanaman dan
keberhasilan virus dalam memerbanyak diri dalam jaringan tanaman.
Korelasi yang terjadi antar dua karakter tanaman, jika dilihat dari faktor genetiknya, dapat disebabkan oleh pleitropi dan linkage, oleh karena itu kedua karakter tersebut cenderung akan diwariskan secara bersama-sama (Rachmadi, 2000).
KESIMPULAN
1. Nilai keragaman genotipe dan fenotipe luas terdapat pada tinggi tanaman, total jumlah polong, persentase polong isi, total jumlah biji, bobot biji per tanaman, dan keparahan penyakit.
2. Nilai duga heritabilitas yang tinggi terdapat pada karakter tinggi tanaman, total jumlah polong, persentase polong isi, total jumlah biji, bobot biji per tanaman, dan karakter ketahanan yaitu keparahan penyakit.
3. Keparahan penyakit berkorelasi negatif dengan umur panen, umur berbunga, periode inkubasi, tetapi berkorelasi positif dengan persentase polong isi.
DAFTAR PUSTAKA
Alnopri. 2004. Variabilitas genetik dan heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan bibit tujuh genotipe kopi Robusta-Arabika. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 6 (2):2004. 91-96.
Aprianti, R. 2014. Keragaman dan uji korelasi karakter ketahanan kedelai (Glycine max [L.]Merrill) terhadap
146 Soybean Mosaic Virus generasi F2 persilangan Tanggamus x B3570.
(Skripsi). Universitas Lampung.
Lampung. 58 hlm.
Aryana, I.G.P.M. 2012. Uji keseragaman, heritabilitas dan kemajuan genetik galur padi beras merah hasil seleksi silang balik di lingkungan gogo.
Skripsi. Program Studi Agroekoteknologi. Universitas Mataram.
Aslichah, N, M. Barmawi, H. M. Akin, dan N. Sadiyah (2015). Seleksi karakter ketahanan terhadap Soybean Mosaic Virus dan karakter agronomi kedelai generasi F2 hasil persilangan Tanggamus dan Taichung. Prosiding Seminar Nasional dan Rapat Tahunan Dekan. Bidang Ilmu Pertanian BKS-PTN Wilayah Barat Buku 1 Bandar Lampung 19-21 Agustus 2014;44-50 Diyansah, B. 2012. Ketahanan lima
varietas semangka (Citrullus vulgaris Schard) terhadap Infeksi Virus CMV (Cucumber Mosaic Virus). Skripsi.
Universitas Brawijaya. Malang. 63 hlm.
Gultom, T. 2004. Analisis korelasi dan koefisien lintas sifat agronomi terhadap hasil tanaman kacang tanah (Arachis hypogea. L.). Skripsi.
Universitas Sumatera Utara. 127 hlm.
Hakim, L. 2010. Keragaman genetik, heritabilitas dan korelasi beberapa karakter agronomi pada galur F2 hasil persilangan kacang hijau {Vigna radiate (L.) Wilczek}. Berita Biologi.
10 (1): 23-32.
Jameela, H., A.N Sugiharto, dan A.
Soegianto. 2014. Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil pada populasi F2 buncis (Phaseolus vulgaris L.) hasil persilangan varietas introduksi dengan varietas lokal. Jurnal Produksi Tanaman. 2 (4): 324-329.
Kuswanto, L. Soetopo, T. Hadiastono, dan A. Kasno. 2003. Evaluasi daya waris sifat ketahanan kacang panjang terhadap CABMV berdasarkan struktur kekerabatan. Publikasi Penelitian Hibah Bersaing XI (1) Universitas Brawijaya. Malang. 10 hlm.
Mendez-Natera, J. R., A. Rondon, J.
Hernandez, and J. F. Morazo-Pinoto.
2012. Genetic studies in upland cotton. III. Genetic parameters, correlation and path analysis. Sabrao J. Breed. Genet. 44(1):112-128.
Mulia, Y. 2008. Uji daya gabung karakter ketahanan beberapa genotipe kedelai {Glycine max (L.) Merril}. Tesis.
Universitas Lampung. 65 hlm.
Prayogo, Y. 2012. Keefektifan cendawan entomopatogen Lecanicillium lecani (Zare & Gams) terhadap Bemisia tabaci Gen. sebagai vektor Soybean Mosaic Virus (SMV) pada tanaman kedelai. Suara Perlindungan Tanaman. 2(1): 1-11.
Rachmadi, M. 2000. Pengantar Pemuliaan Tanaman Membiak Vegetatif.
Universitas Padjajaran. Bandung.
159 hlm.
Riduan, A., dan Sudarsono. 2005. Daya hasil sepuluh galur introgresi kacang tanah hasil silangan antara Arachis cardenasii dan A. hypogaea. Institut Pertanian Bogor. Hayati. 12 (3):
116-120.
Suharsono, M. Jusuf, dan A.P. Paserang.
2006. Analisis ragam, heritabilitas, dan pendugaan kemajuan seleksi populasi F2 dari persilangan kedelai Kultivar Slamet Dan Nokonsawon.
Jurnal Tanaman Tropika. XI (2) : 86—93.
Wahdah, R. 1996. Variabilitas dan pewarisan laju akumulasi bahan kering pada biji kedelai. Disertasi.
Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung.
Prosiding Plant Protection Day II (2):147-156 Perkembangan Hama pada Padi …
147
PERKEMBANGAN HAMA PADA PADI RATUN