Tusuk gigi
HASIL DAN PEMBAHASAN Masa Inkubasi Penyakit
Berdasarkan hasil pengujian Friedman, aplikasi perlakuan tunggal pupuk Kalium tidak berpengaruh terhadap masa inkubasi Fusarium spp., hanya aplikasi perlakuan tunggal pola tanam yang memberikan pengaruh nyata terhadap peubah masa inkubasi Fusarium spp. (Tabel 2).
Tabel 2 menunjukkan bahwa masa inkubasi Fusarium spp. pada perlakuan j3 (tanaman bawang merah 1 baris dan bawang sabrang 1 baris) lebih lama dibandingkan perlakuan j4 (tanaman
bawang merah 2 baris dan bawang sabrang 1 baris) dan perlakuan j1
(monokultur bawang merah), namun tidak berbeda dengan perlakuan j5 (tanaman bawang sabrang ditanam mengelilingi pertanaman bawang merah). Penyakit moler disebabkan oleh patogen Fusarium spp. yang mempunyai ukuran mikro, sehingga perkembangannya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama suhu dan kelembaban.
Perbedaan bentuk pola tanam akan mempengaruhi suhu dan kelembaban mikro di pertanaman, sehingga perkembangan patogen Fusarium spp.
juga bervariasi pada setiap bentuk pola
178 tanam yang diaplikasikan. Selain karena faktor lingkungan, kecepatan masa inkubasi patogen juga dipengaruhi oleh virulensi patogen dan ketahanan inang (Latifah dkk, 2011).
Aplikasi pola tanam tumpangsari yang tepat akan lebih mampu menekan penyakit moler dibandingkan pola tanam
monokultur. Hal ini diduga karena tanaman bawang sabrang pada pola tanam tersebut mampu mengeluarkan eksudat akar yang mengandung senyawa fitokimia untuk menekan perkembangan penyakit.
Tabel 2. Pengaruh aplikasi pola tanam terhadap masa inkubasi dan produktivitas Perlakuan Masa Inkubasi (hsi) Produktivitas (t ha-1) j1 (monokultur bawang
merah) 33 a 6,31 b
j3 (tanaman bawang merah 1 baris dan bawang sabrang 1 baris)
38 b 2,29 a
j4 (tanaman bawang merah 2 baris dan bawang sabrang 1 baris)
31 a 3,29 ab
j5 (tanaman bawang sabrang ditanam mengelilingi pertanaman bawang merah)
35 ab 2,50 a
Keterangan : Angka dengan diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji komparasi berganda pada taraf nyata 5 %
Penelitian Hasanah (2011) menunjukkan bahwa eksudat akar tanaman bawang sabrang mampu mempengaruhi aktivitas larva nematoda Meloidogyne spp. hingga mencapai persentase mortalitas 87,7 %. Pada daun dan akar tanaman bawang sabrang terdapat kandungan kimia (bioaktif) berupa alkaloid, saponin, tannin, flavonoid, dan steroid.
Alkaloid merupakan senyawa yang bersifat basa, sehingga kemungkinan akan menekan pertumbuhan cendawan karena cendawan tumbuh pada pH 3,8-5,6 (Rahayu & Rahayu, 2009). Purwita dkk.
(2013) juga menyebutkan dalam penelitiannya bahwa senyawa flavonoid termasuk golongan fenol yang dapat berfungsi sebagai antifungi. Senyawa fenol bekerja dalam sel terutama mendenaturasi protein sel dan merusak dinding sel cendawan. Dinding sel yang rusak menyebabkan tidak adanya cadangan
energi sehingga menghambat
pertumbuhan hifa cendawan. Senyawa tanin merupakan senyawa turunan
fenol yang bersifat lipofilik sehingga mudah terikat pada dinding sel dan mengakibatkan kerusakan dinding sel.
Selain itu tanin dapat menghambat sintesis kitin yang merupakan komponen penting dinding sel
cendawan dan menyebabkan
pertumbuhan hifa cendawan
terhambat. Saponin bersifat surfaktan yang berbentuk polar sehingga akan memecah lapisan lemak pada membran sel yang pada akhirnya menyebabkan gangguan permeabilitas membran sel, hal tersebut mengakibatkan proses difusi bahan atau zat-zat yang diperlukan oleh cendawan dapat terganggu, akhirnya sel membengkak dan pecah (Sugianitri, 2011). Terpenoid, termasuk triterpenoid dan steroid merupakan senyawa bioaktif yang memiliki fungsi sebagai anticendawan. Senyawa tersebut dapat menghambat pertumbuhan cendawan, baik melalui membran sitoplasma maupun mengganggu pertumbuhan dan perkembangan spora cendawan (Lutfiyanti dkk, 2012).
Prosiding Plant Protection Day II (2):175-182 Pengaruh Pupuk Kalium dan …
179 Menurut Rosmahani (2006), apabila gejala awal penyakit moler terlihat pada tanaman umur 5-10 hst, maka patogen ini terbawa oleh bibit. Sedangkan apabila gejala awal terlihat pada tanaman umur di atas 10 hari, maka patogen ini adalah patogen yang tertular dari tanah.
Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata masa inkubasi Fusarium spp. adalah 34 hsi, sehingga penularan patogen tidak berasal dari bibit, namun dari tanah. Masa inkubasi pada penelitian ini jauh lebih lambat dibandingkan masa inkubasi pada penelitian Latifah dkk. (2011) yaitu 12,5 hsi dan masa inkubasi pada penelitian Santoso dkk. (2007) yaitu 24,6 hsi. Hal ini disebabkan oleh ketahanan tanaman terhadap penyakit moler yang cukup baik karena tercukupinya unsur Kalium bagi tanaman bawang merah pada penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis tanah, unsur Kalium sebelum tanam telah masuk ke dalam kriteria tinggi, yaitu sebesar 48,36 mg 100 g-1. Sedangkan setelah tanam,
unsur Kalium yang terdapat di dalam tanah berada dalam kriteria sedang, yaitu 38,70-39,13 mg 100 g-1. Unsur Kalium berperan untuk memperkuat dinding sel, sehingga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit tertentu (Fageria et al., 2009).
Gejala Penyakit Moler
Pada Gambar 1 terlihat beberapa tahapan gejala yang ditunjukkan daun tanaman bawang merah yang terinfeksi, yaitu terpelintirnya pangkal daun bawang merah dan perubahan warna pangkal daun yang semula berwarna hijau tua menjadi hijau muda kekuningan hingga putih (1), dan perubahan warna kekuningan yang dimulai dari pangkal daun tanaman merambat ke bagian tengah (2) dan ujung daun tanaman bawang merah (3). Infeksi lebih lanjut menyebabkan daun tanaman semakin lama semakin berkurang (4 dan 5) dan berakhir dengan kematian tanaman (6).
Gambar 1. Tahapan perkembangan penyakit oler pada tanaman bawang merah (sumber: koleksi pribadi, 2016)
Menurut Semangun (1996), Fusarium spp. dapat bertahan lama dalam tanah dalam bentuk klamidospora.
Cendawan ini menginfeksi akar, terutama melalui luka misalnya luka akibat perpanjangan akar lateral. Meskipun demikian, cendawan ini dapat juga menginfeksi akar yang tidak mempunyai luka, khususnya pada ujung akar.
Cendawan berkembang sebentar di jaringan parenkim, kemudian menetap dan
berkembang di dalam berkas pembuluh angkut. Keberadaan patogen tersebut di dalam berkas pembuluh angkut menyebabkan tersumbatnya berkas-berkas pembuluh tersebut dan menyebabkan penumpukan zat hara di bagian batang semu, sehingga batang semu bawang merah tumbuh lebih panjang dan daun bawang merah menjadi terpelintir dan meliuk-liuk. Namun, penyumbatan berkas pembuluh angkut
180 tanaman tidak hanya sekedar keberadaan patogen tersebut. Fusarium spp. juga akan mensintesis enzim atau toksin untuk mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah.
Kematian pada tanaman diawali dengan nekrosis dan kelayuan tanaman tersebut. Rusaknya kloroplas menyebabkan menguningnya bagian-bagian yang lazimnya berwarna hijau.
Apabila nekrosis ini terjadi secara sistemik dan terdapat pada semua daun, biasanya merupakan gejala sekunder yang disebabkan karena serangan patogen pada bagian lain dari tanaman. Begitu pula dengan gejala kelayuan yang merupakan gejala sekunder akibat adanya gangguan di dalam berkas pembuluh angkut atau adanya kerusakan pada akar, yang menyebabkan tidak seimbangnya penguapan dengan pengangkutan air. Hal inilah yang menyebabkan hilangnya turgor pada daun bawang merah. Fusarium spp.
membentuk banyak enzim pektinase yang dapat menghancurkan dengan cepat substansi pektin dalam lamela tengah parenkim xilem dan terjadilah akumulasi massa koloidal di dalam pembuluh angkut.
Massa penyumbat inilah yang menyumbat berkas pembuluh angkut pada tanaman bawang merah terinfeksi. Selanjutnya, Fusarium spp. akan membentuk asam fumarat dan likomarasmin yang dibentuk
agak lambat jika dibandingkan dengan enzim pektolitik. Likomarasmin yang bersifat racun diangkut ke dalam tubuh tanaman. Ini menyebabkan berubahnya permeabilitas sel terhadap air, dan pengaruh terpentingnya adalah terjadi percepatan proses transpirasi tanaman (Semangun, 1996).
Kejadian Penyakit Moler
Kejadian penyakit moler tertinggi terdapat pada perlakuan f2k1j1 (dengan Fusarium spp. + 60 kg ha-1 K2o + pola tanam monokultur bawang merah), yaitu sebesar 55,71 % dan disusul oleh perlakuan f2k1j5 (dengan Fusarium spp. + 60 kg ha-1 K2o + pola tanam tanaman bawang sabrang mengelilingi pertanaman bawang merah), yaitu sebesar 50 %.
Penyakit hanya akan terjadi jika pada satu waktu di satu tempat terdapat tanaman yang rentan, patogen yang virulen, dan lingkungan yang sesuai.
Penyakit tidak akan terjadi jika patogen yang virulen bertemu dengan bagian tanaman yang rentan, tetapi lingkungan tidak membantu perkembangan patogen dan tidak meningkatkan kerentanan tanaman. Interaksi antara tanaman, patogen, dan lingkungan inilah yang sering disebut segitiga penyakit (Semangun, 1996).
Gambar 2. Rata-rata persentase kejadian penyakit moler di lahan penelitian Keterangan: k=pupuk KCL, 1=100 kg ha-1, 2=200 kg ha-1, 3=300 kg ha-1, f1= tanpa Fusarium spp., f2= diinokulasi Fusarium spp. j1 = monokultur bawang merah; j2 = monokultur bawang sabrang; j3 = tana-man bawang merah 1 baris dan bawang sabrang 1 baris (1:1); j4 = tanaman bawang merah 2 baris dan bawang sabrang 1 baris (2:1); j5= tanaman bawang sabrang ditanam mengelilingi pertanaman bawang merah
Produktivitas Tanaman Bawang Merah Berdasarkan hasil pengujian Friedman, aplikasi perlakuan tunggal keberadaan Fusarium spp. dan pupuk Kalium tidak 0.00
20.00 40.00 60.00
k1 k2 k3 k1 k2 k3
f1 f2
Kejadian Penyakit (%)
j1 j3 j4 j5
Prosiding Plant Protection Day II (2):175-183 Pengaruh Pupuk Kalium dan …
182 berpengaruh terhadap produktivitas tanaman bawang merah, hanya aplikasi perlakuan tunggal pola tanam yang memberikan pengaruh nyata terhadap peubah masa inkubasi Fusarium spp.
(Tabel 2).
Tabel 2 menunjukkan bahwa produktivitas tanaman bawang merah dengan pola tanam monokultur bawang merah lebih besar dibandingkan produktivitas tanaman bawang merah dengan pola tanam tanaman bawang merah 1 baris dan bawang sabrang 1 baris dan tanaman bawang sabrang ditanam mengelilingi pertanaman bawang merah, namun tidak berbeda dengan produktivitas tanaman bawang merah dengan pola tanam tanaman bawang merah 2 baris dan bawang sabrang 1 baris.
Perbedaan produktivitas tanaman bawang merah ini disebabkan oleh jumlah benih umbi bawang merah yang ditanam pada masing-masing perlakuan. Benih umbi bawang merah yang ditanam pada pola tanam monokultur bawang merah adalah 35 benih umbi, tanaman bawang merah 1 baris dan bawang sabrang 1 baris adalah 15 benih umbi, tanaman bawang merah 2 baris dan bawang sabrang 1 baris adalah 20 benih umbi, dan tanaman bawang sabrang ditanam mengelilingi pertanaman bawang merah adalah 15 benih umbi bawang merah.
Produktivitas pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan produktivitas rata-rata tanaman bawang merah di Kalimantan Selatan. Rendahnya produktivitas bawang merah pada penelitian ini dikarenakan penanaman dilakukan di luar musim tanam. Pada umumnya bawang merah ditanam pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan penanaman dilakukan pada saat musim hujan. Penanaman bawang merah yang dilakukan di luar musim tanam banyak mengalami gangguan. Ini disebabkan keadaan cuaca pada musim hujan kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman bawang merah,
namun menguntungkan bagi
perkembangan patogen (Rahayu & Berlian, 2004). Kondisi yang kurang menguntungkan inilah yang menyebabkan hasil produksi bawang merah lebih rendah,
sekitar 75-80 % lebih rendah dari produksi di musim kemarau (Wibowo, 1989).
Kerugian akibat penurunan produktivitas bawang merah dapat ditutupi dengan penanaman bawang sabrang yang mempunyai nilai jual tinggi. Rata-rata produktivitas tanaman bawang sabrang pada penelitian ini yaitu 6,76 t ha-1. Hasil produktivitas bawang sabrang ini lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian Raga et al., (2012), yaitu 6,55 t ha-1.
KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian ini yaitu aplikasi perlakuan kombinasi dengan 120 kg ha-1 K2O berpola tanam bawang sabrang mengelilingi bawang merah merupakan aplikasi perlakuan terbaik dari segi kejadian penyakit moler (Fusarium spp.),sedangkan perlakuan tunggal pola tanam monokultur bawang merah merupakan perlakuan terbaik dari segi produktivitas bawang merah.
DAFTAR PUSTAKA
Astuty, S. 2006. Hasil dan kandungan bioaktif komponen tanaman bawang sabrang (Eleutherine americana Merr.) pada pengolahan tanah dan pemberian pupuk Kalium di tanah ultisol. Tesis. Program Studi Pasca Sarjana Agronomi Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
Fageria, NK, MPB Filho, dan JHC Da Costa.
2009. Potassium in the Use of Nutrients in Crop Plants. CRC Press Taylor & Francis Group, Boca Rat.
London. New York.
Hasanah, N. 2011. Efek beberapa eksudat akar tanaman yang bersifat nematisidal terhadap mortalitas nematode puru akar (Meloidogyne spp.). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat.
Banjarbaru.
Latarang, B, dan A Syakur. 2006.
Pertumbuhan dan hasil bawang merah (Allium ascalonicum L.) pada berbagai dosis pupuk kandang.
Agroland. 13: 265-269.
183 Latifah, A, Kustantinah, dan L Soesanto.
2011. Pemanfaatan beberapa isolat Trichoderma harzianum sebagai agensia pengendali hayati penyakit layu fusarium pada bawang merah in planta. Eugenia. 2: 86-94.
Lutfiyanti, R, W-F Ma‘ruf, dan E-N Dewi.
2012. Aktivitas anticendawan senyawa bioaktif ekstrak Gelidium latifolium terhadap Candida albicans.
Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan. 1: 26- 33.
Nuryadin, R. 2006. Potensi ekstrak umbi Bawang Dayak (Eleutherine Americana Merr.) terhadap penghambatan pertumbuhan Salmonella typhimurium dan Escherichia coli. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
Purwita, A-A, N-K Indah, dan G Trimulyono. 2013. Penggunaan ekstrak daun srikaya (Annona squamosa) sebagai pengendali cendawan Fusarium oxysporum secara in vitro. Lentera Bio. 2: 179-183.
Raga, Y-P, Haryati, dan M Lisa. 2012.
Respons pertumbuhan dan hasil bawang sabrang (Eleutherine americana Merr.) pada beberapa jarak tanam dan berbagai tingkat pemotongan umbi bibit.
Agroekoteknologi. 1: 159-171.
Rahayu, E dan N Berlian. 2004. Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rahayu, T, dan T Rahayu. 2009. Uji anticendawan Kombucha coffee terhadap Candida albicans dan Tricophyt mentagrophytes. Penelitian Sains dan Teknologi. 1: 10-17.
Rosmahani, L. 2006. Pengelolaan Hama dan Penyakit Bawang Merah secara Terpadu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. Jawa Timur.
Santoso, S-E, L Soesanto, dan T-A-D Haryanto. 2007. Penekanan hayati penyakit moler pada bawang merah dengan Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii, dan Pseudomonas fluorescens P60. HPT Tropika. 1: 53-61.
Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sugianitri, NK. 2011. Ekstrak Biji Buah Pinang (Areca catechu L.) dapat Menghambat Pertumbuhan Koloni Candida albicans secara In Vitro pada Resin Akrilik Heat Cured. Tesis.
Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Biomedik Universitas Udayana.
Bali.
Syakir, M dan Gusmaini. 2012. Pengaruh penggunaan sumber pupuk Kalium terhadap produksi dan mutu minyak tanaman nilam. Littri. 2:60-65.
Wibowo, S. 1989. Budidaya Bawang (Bawang Putih, Bawang Merah, Bawang Bombay). Penebar Swadaya Anggota IKAPI. Jakarta.
Prosiding Plant Protection Day II (2):184-191 Potensi Air Sulingan Beberapa …
184
POTENSI AIR SULINGAN BEBERAPA BAGIAN TANAMAN KOPI SEBAGAI