Keterangan : M = mortalitas a = jumlah kutu daun ang mati
b = jumlah kutu daun awal
HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Kuta Daun yang Terinfeksi Hasil pengamatan gejala serangan terhadap kutu daun M.persicae akibat perlakuan ekstrak daun pepaya dan daun sirsak adalah terlihat pada tingkah laku, bentuk dan warna yang ditandai dengan gerakan tungkai awalnya bergerak aktif namun semakin lama semakin lambat, menjadi lemas, berhenti mengisap dan dan sebagian nimfa membengkak. Nimfa yang mati lama kelamaam mengalami perubahan warna dari normal menjadi coklat kehitaman dan menyusut.
Terjadinya perubahan tersebut diduga
akibat pengaruh bahan aktif yang masuk ke dalam tubuh melalui alat mulut ataupun yang terkena pada bagian luar tubuh nimfa secara langsung.
Hal ini disebabkan oleh senyawa alkaloid dan terpenoid yang sangat berpotensi sebagai penghambat makan dan bersifat toksik sehingga dapat menyebabkan kematian larva. Gangguan metabolisme mungkin juga disebabkan oleh terdapatnya senyawa tanin dalam makanan serangga yang dapat mengganggu aktivitas enzim pencernaan serangga (Mahatrini dkk., 2013; Salaki dkk., 2012).
Mortalitas Kutu Daun Pada Tanaman Cabai
(1) Ekstrak Daun Sirsak
Hasil analisis sidik ragam dan uji BNT menunjukkan bahwa penggunaan konsentrasi ekstrak daun sirsak terhadap kutu daun M. persicae memberi pengaruh nyata (Tabel 2).
Tabel 2. Rata-rata Mortalitas Kutu Daun M. persicae dengan Beberapa Konsentrasi Ekstrak Daun Sirsak
Perlakuan Mortalitas (%)
Kontrol A1 (5%) A2 (10%) A3 (15%) A4 (20%)
3,3a 26,7b 53,3c 66,7d 83,3e
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda, berbeda sangat nyata menurut uji BNT 5 %.
Tabel 2 menunjukkan rata-rata mortalitas kutu daun M. persicae yang tertinggi berada pada konsentrasi 20%
(83,3%) sementara yang terendah pada konsentrasi 5% (26,7%). Dari hasil penelitian menunjukkan hubungan antara konsentrasi perlakuan dengan angka mortalitas kutu daun M. persicae, dimana semakin tinggi konsentrasi perlakuan semakin tinggi pula angka mortalitas kutu daun M. persicae. Hal ini disebabkan tingkat kandungan senyawa-senyawa fotokimia pada tanaman sirsak yaitu senyawa Acetogenin. Senyawa Acetogenin dari tanaman Annonaceae memiliki efek kontak yang cukup baik terhadap serangga. Selain senyawa Acetogenin, daun sirsak juga efektif mengurangi populasi kutu daun M. persicae. Hal ini
disebabkan senyawa alelokimia yang terkandung dalam daun sirsak mampu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan nimfa karena bersifat sebagai racun kontak, repellent dan antifeedant. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nurjanah (2010) larutan daun sirsak sebagai insektisida racun kontak, penolak dan penghambat makan. Hal ini dapat disebabkan konsentrasi yang digunakan pada perlakuan daun sirsak paling tinggi (20%). Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan pada pestisida nabati maka senyawa toksik di dalam bahan insektisida juga semakin tinggi.
Sebaliknya konsentrasi yang terlalu rendah menyebabkan senyawa toksik di dalam bahan insektisida nabati tidak dapat
Prosiding Plant Protection Day II (2): 44-52 Efikasi Beberapa Bahan Pestisida …
49 dikenali hama sehingga efektifitasnya menjadi rendah.
(2) Ekstrak Daun Pepaya
Hasil analisis sidik ragam dan uji BNT menunjukkan bahwa penggunaan konsentrasi ekstrak daun pepaya terhadap kutu Daun M. persicae memberi pengaruh nyata (Tabel 3).
Tabel 3. Rata-rata Mortalitas Kutu Daun M. persicae dengan Beberapa Konsentrasi Ekstrak Daun Pepaya
Perlakuan Mortalitas (%)
Kontrol B1 (5%) B2 (10%) B3 (15%) B4 (20%)
6,67a 33,3b 46,7c 73,3d 86,7e
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda, berbeda sangat nyata menurut uji BNT 5 %.
Tabel 3 menunjukkan efektivitas insektisida nabati daun pepaya memberikan hasil yang signifikan terhadap mortalitas Kutu Daun M. persicae.
Mortalitas mencapai 86,7% untuk perlakuan B4, menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Utami (2010) menjelaskan bahwa suatu insektisida dapat dikatakan efektif apabila mampu mematikan 80% serangga uji. Penelitian Ayun dan Laily (2015) mengatakan bahwa hasil analisis fitokimia pada daun pepaya positif mengandung Alkaloid, Triterpenoid, Flavonoid, Saponin dan Tanin. Selain senyawa tersebut daun pepaya juga mengandung enzim Papain (Nechiyana ., 2013). Menurut Juliantara (2012) senyawa-senyawa tersebut berasal dari metabolik sekunder yang dihasilkan pada jaringan tumbuhan, senyawa tersebut juga dapat bersifat toksik serta menurunkan kemampuan serangga dalam mencerna makanan dan pada akhirnya mengganggu pertumbuhan serangga. Senyawa yang digunakan sebagai insektisida nabati yang mengandung bahan aktif Papain yang efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap. Enzim ini masuk melalui lubang-lubang alami tubuh serangga.
Setelah masuk, racun akan menyebar ke seluruh tubuh dan menyerang sistem saraf sehingga mengganggu aktivitas serangga.
Enzim Papain juga dapat bekerja sebagai enzim protease yang dapat menyerang
dan melarutkan komponen penyusun kutikula serangga dan memberikan respon terhadap kutu daun sehingga menurunkan aktivitas makan dari kutu daun M.
persicae. Sistem kerja zat papain sebagai racun perut di dalam tubuh kutu daun M.
persicae yaitu diserap oleh dinding-dinding yang ada pada organ pencernaan kemudian akan dihantarkan ke pusat saraf sehingga akan berpotensi memberikan tekanan serta menurunkan proses metabolisme organ dalam dan menghambat aktivitas makan kutu daun M. persicae sehingga menyebabkan kematian. Hal ini ditambahkan dengan penjelasan Dono dkk., (2008) yaitu bahwa residu pestisida menyebabkan aktivitas menurunkan bahkan dapat terhenti.
Selain papain, daun pepaya juga mengandung Saponin dan Alkaloid yang merupakan stomach poisoning atau racun perut. Bila senyawa tersebut masuk ke dalam tubuh serangga maka alat pencernaannya akan menjadi terganggu.
Alkaloid juga mampu menghambat pertumbuhan pertumbuhan serangga terutama tiga hormon utama dari serangga yaitu hormon otak (brain hormone), hormon ekdison dan hormon pertumbuhan (juvinell hormon). Tidak berkembangnya hormon tersebut dapat menyebabkan kegagalan metamorfosis.
Flavonoid merupakan senyawa kimia pada daun pepaya yang dapat bekerja sebagai
50 inhibitor kuat pernapasan atau sebagai racun pernapasan. Flavonoid mempunyai cara kerja yaitu masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernapasan yang kemudian akan menimbulkan penurunan fungsi saraf serta kerusakan pada sistem pernapasan dan mengakibatkan serangga tak bisa bernapas dan akhirnya mati.
Flavonoid juga dapat menghambat daya makan serangga. Bila senyawa ini masuk dalam tubuh serangga, maka alat pencernaannya akan terganggu. Senyawa ini juga bekerja dengan menghambat reseptor perasa pada daerah mulut serangga. Hal ini mengakibatkan serangga gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya, akibatnya serangga mati kelaparan.
Kombinasi Ekstrak Daun Sirsak dan Daun Pepaya
Hasil analisis sidik ragam dan uji BNT menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi ekstrak daun sirsak dan daun pepaya terhadap kutu daun M. persicae memberi pengaruh sangat nyata (Tabel 4).
Tabel 4 menunjukkan rata-rata mortalitas kutu daun M. persicae dari 25 kombinasi perlakuan, yang tertinggi berada pada kombinasi A4B4 (92,2%)
sementara yang terendah berada pada kombinasi perlekuan A0B0 (3,3%).
Efektivitas daya bunuh diatas 50% dari 25 kombinasi perlakuan terdapat 18 kombinasi yang berpotensi sebagai insektisida nabati yaitu : A0B3 (56,7%), antara kandungan bahan aktif ekstrak daun sirsak dan ekstrak daun pepaya saling berinteraksi positif ditandai dengan semakin meningkatnya rata-rata mortalitas kutu daun M. persicae.
Matinya kutu daun diduga akibat pengaruh daya bunuh bahan aktif yang terkandung dalam daun sirsak dan daun pepaya. Sastrodihardjo (1992) meneliti senyawa-senyawa aktif seperti alkaloid, polifenol, kuinon, flavonoid, terpenoid dan enzim papain yang terdapat pada tanaman pepaya dapat mempengaruhi beberapa sistem fisiologis yang mengatur perkembangan hama. Saponin yang terdapat pada ekstrak daun sirsak dan pepaya dapat menurunkan aktivitas enzim pencernaan dan penyerapan makanan.
Tabel 4. Rata-rata Mortalitas Kutu Daun M. persicae dengan Perlakuan Kombinasi (Ekstrak Daun Sirsak dan Daun Pepaya) pada Tanaman Cabai
No. Perlakuan Mortalitas (%) Rata-rata Mortalitas (%) Notasi 1.
Prosiding Plant Protection Day II (2): 44-52 Efikasi Beberapa Bahan Pestisida …
51
Ket: Angka yang ditandai dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5%.
Persentase Mortalitas Kutu Daun M.
persicae Berdasarkan Waktu Pengamatan
Mortalitas kutu daun M. persicae dengan perlakuan 25 kombinasi konsentrasi telah terjadi pada 1 hsa (24 jam setelah aplikasi) dengan mortalitas tertinggi pada konsentrasi A4B4 (92,2 %) dan terendah pada perlakuan A0B0 (0,3%). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi perlakuan dan waktu aplikasi lebih awal, menyebabkan semakin tinggi persentase mortalitas kutu daun dan waktu kematiannya lebih cepat.
Matinya kutu daun diduga bahan aktif yang terkandung dalam ekstrak daun sirsak dan ekstrak daun pepaya. Sudarmo (2005) menyatakan bahwa pestisida nabati memiliki efek yang cepat terhadap serangga hama. Namun mudah juga mengalami degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari. Sitompul (2014) menyatakan semakin tinggi pemberian konsentrasi, maka semakin cepat serangga mati, dikarenakan semakin banyak zat aktif yang masuk/terkena pada serangga.
Selain squamosin dan asimisin, daun sirsak juga mengandung tanin yang dapat memblokir ketersediaan protein dalam pencernaan serangga. Sedangkan daun pepaya yang bersifat sebagai penolak dapat menekan serangga M. persicae.
Pabbage dan Tenrirawe (2007) mengatakan bahwa daun sirsak mengandung tanin yang dapat memblokir ketersediaan protein dengan membentuk suatu senyawa yang dapat menghambat enzim pada saluran pencernaan sehingga akan merobek pencernaan serangga dan menimbulkan kematian.
KESIMPULAN
1. Ekstrak Daun sirsak dan daun pepaya efektif sebagai insektisida nabati dalam mengendalikan hama kutu daun M.
persicae pada tanaman cabai dan dapat dimanfaatkan secara terpisah maupun dikombinasikan,
2. Insektisida nabati yang paling efektif adalah kombinasi perlakuan konsentrasi ekstrak daun sirsak dan daun pepaya 20% dengan rata-rata
kematian 92,2% dan untuk masing-masing yang paling efektif untuk ekstrak daun sirsak 20% dan daun pepaya 20% dengan rata-rata mortalitas 83,3% dan 86,7%.
3. Persentase mortalitas kutu daun berdasarkan waktu pengamatan yang tercepat yaitu 1 hari setelah aplikasi dan terendah pada hari ke 4 setelah aplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
A‘yun dan A.N. Laily, 2015. Analisis Fitokimia Daun Pepaya (Carica papaya). Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Kendal payak, Malang. FKIP UNS, Solo.
Dafrinal., R. Widiana dan A. Lusi, 2012.
Kepadatan Populasi Kutu Daun (Myzus persicae) dan Predatornya (Monoshillus sexmaculata) pada Tanaman Cabe (Capsicum annum) Di Kecamatan Kotoparik Gadang Diateh Kabupaten Solaok Selatan. Program Studi Pendidikan Biologi dan Ilmu Pendidikan STKIP PGRI Sumatera Barat.
Dono, D dan Rismanto, 2008. Aktivitas Residu Ekstrak Biji Baringtonia asiatica terhadap Larva Crocidolomia pavonana (Lepidoptera; Pyralidae).
Agrikultura, 9 (3):
Juliantara, K. 2012. Pemanfaatan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) sebagai Pestisida Alami yang Ramah Lingkungan.
Kalshoven, L. G. E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.
Majid M. 2011. Penggunaan Pestisida Nabati Sibaleng (Sirih, Bawang Putih, Lengkuas) untuk Pengendalian Hama Plutella xylostella pada Tanaman Sawi. Skripsi Fakultas Pertanian
Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Bali.
52 Nechiyana., A. Sutikno dan D. Salbiah,
2013. Penggunaan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) untuk Mengendalikan Hama Kutu Daun Aphis possypii pada Tanaman cabai (Capsicum annum L.). Artikel Riau.
Nurjanah, R. 2010. Uji Efektivitas Daun Sirsak (Annona muricata) sebagai Pestisida Nabati terhadap Pengendalian Hama Tanaman Sawi (Brassica juricea L). Fakutas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhhamadiyah. Surakarta.
Pabbage dan Tenrirawe, 2007.
Pengendalian Penggerek Batang (Ostrinia furcanalis) dengan Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata).
Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan PEI dan PFI VXII Komda Sulawesi Selatan.
Rante, C. S, D. T. Sembel, M. Meray, dan N. N. Wanta. 1995. Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Tanaman Kubis di Kecamatan Tomohon Kabupaten Minahasa.
Media Publikasi Ilmiah, Fakultas Pertanian UNSRAT, Eugenia, I (4) : 44-50.
Salaki, Ch., G.S. Manengkey dan F.
Rondonuwu., 2007.
Keanekaragaman Bacillus thuringiensis isolat Lokal Sebagai Agen Pengendali Hayati Hama-hama Tanaman Kubis Di Kabupaten Minahasa. Fakultas Pertanian Unsrat Manado.
Setiawati, W., R. Murtiningsih dan T.Rubiati, 2008. Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati. Cara pembuatannya untuk Mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman.
Balai Sayuran Lembang, Bandung Barat.
Sembel, D dan D. Tarore. 2011.
Kesuksesan Pelepasan Parasitoid
Diadegma semiclausum
untukPengendalian Hama Kubis Plutellaxylostella di Desa Paslaten Tomohon. Laporan Penelitian Universitas Sam Ratulangi Program Pascasarjana Manado.
Sitompul, A.F., O. Syahrial dan Y.
Pangestiningsih, 2014. Uji Efektifitas
Insektisida Nabati terhadap Mortalitas Leptocorisa acuta T (Hemiptera; AlydidaeP) pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.) di
Rumah Kaca. Jurnal
Agroekoteknologi, 2 (3): 1075-1080.
Tigaw, S, 2015. Efektivitas Ekstrak Bawang Putih dan Tembabakau sebagai Insektisida Nabati Terhadap Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.) pada Tanaman Cabai (Capsicum sp.).
Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado.
Sudarmo, S. 2005. Pestisida Nabati;
Pembuatan dan Pemanfaatannya.
Kanisius, Yogyakarata.
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Utami, S dan N.F. Haneda, 2010.
Pemanfaatan Etnobotani dari Hutan Tropis Bengkulu sebagai pestisida Nabati. JMHT.16(3):143-147.
Prosiding Plant Protection Day II (2): 53-59 Evaluasi Residu Insektisida terhadap …
53
EVALUASI RESIDU INSEKTISIDA TERHADAP FEKUNDITAS WERENG COKLAT