Tusuk gigi
DI WILAYAH GORONTALO
Rida Iswati*, Mohamad Lihawa, Meizen Ayanies, Yunita Abdullah, Sri Mewanti Deti
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo Jln Jenderal Soedirman No. 6 Gorontalo
*Email: [email protected]
ABSTRAK
Ketahanan satu varietas terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae di Gorontalo beragam dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan 10 varietas padi terhadap penyakit HDB dengan enam sumber inokulum berbeda di wilayah Gorontalo. Percobaan pot ditata dengan Rancangan Acak Lengkap 3 ulangan menggunakan 10 varietas padi yaitu Ciherang, Mekongga, Inpari 2, Inpari 7, Inpari 10, Inpari 21, Inpari 23, Inpari 24, Inpari 29, dan Inpari 30. Inokulum X. campestris pv. oryzae berasal dari 6 lokasi yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Pohuwato. Parameter yang diamati adalah masa inkubasi, panjang lesio dan intensitas serangan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa masa inkubasi inokulum X. campestris pv. oryzae tergolong cepat berkisar antara 2,3 hari sampai 5 hari. Panjang lesio berkisar antara 2,35 sampai 13,54 cm. Intensitas serangan berkisar 0,05% sampai 54,56%
dengan kategori sangat rentan sampai sangat tahan.
Kata kunci: ketahanan, varietas, padi, hawar daun bakteri
ABSTRACT
Resistance of paddy varieties to the bacterial leaf blight (BLB) disease caused by Xanthomonas campestris pv. oryzae in Gorontalo is vary from one location to another. This study was aimed to determine the resistance of 10 paddy varieties against BLB disease with 6 different sources of inoculum in the region of Gorontalo. Pot experiment was arranged in completely randomized design with 3 replications using 10 paddy varieties of Ciherang, Mekongga, Inpari 2, Inpari 7, Inpari 10, Inpari 21 Inpari 23 Inpari 24 Inpari 29, and Inpari 30. The X. campestris pv. oryzae inoculum was collected from six locations, i.e. City of Gorontalo, Bone Bolango, Gorontalo District, North Gorontalo, Boalemo District and District of Pohuwato. The measured parameters were the incubation period, length of lesions and disease intensity. The results showed that the incubation period ranged from relatively fast of 2.3 days to 5 days. Lesion size ranged from 2.35 to 13.54 cm. The disease intensity ranged from 0.05% to 54.56% with the category of very susceptible to highly resistant.
Keywords: resistance, variety, rice, bacterial leaf blight
PENDAHULUAN
Tanaman padi merupakan komoditas penting di Indonesia karena merupakan sumber makanan pokok.
hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. oryzae adalah penyakit utama tanaman padi. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh penyakit ini pada musim
hujan berkisar 20,6-35,6%, sedangkan pada musim kemarau dapat mencapai 7,5-23,8% (BBPOPT, 2007). Di Propinsi Gorontalo pada tahun 2013 dilaporkan luas serangan penyakit HDB rata-rata mencapai 54,252 ha menyebar di seluruh kabupaten dengan tingkat serangan beragam serta menyerang dari musim ke musim (BPTPH Gorontalo, 2013).
164 Penggunaan varietas unggul yang memiliki sifat ketahanan terhadap HDB merupakan komponen penting program pengelolaan penyakit. Komponen ini telah menjadi bagian dari budidaya padi di Gorontalo namun dilaporkan bahwa varietas yang tahan di satu lokasi belum tentu tahan di lokasi yang berbeda. Hal ini menyulitkan dalam penentuan varietas yang akan direkomendasikan.
Oleh karena itu, pengujian ketahanan varietas yang biasa ditanam sekaligus varietas yang baru dimasukkan ke Gorontalo terhadap inokulum Xanthomonas sp. dari semua kabupaten di Gorontalo penting untuk dilakukan dalam memperoleh informasi tentang varietas unggul yang tahan terhadap HDB. Hal ini
akan memudahkan dalam
merekomendasikan varietas yang akan digunakan di masing-masing lokasi yang berbeda sesuai dengan keadaan patogennya.
BAHAN DAN METODE
Penelitian eksperimental menggunakan pot percobaan dilaksanakan di Desa Toto Utara, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bonebolango. Pengujian dilakukan pada bulan Maret-Mei 2015.
Inokulum X. campestris pv. oryzae diambil dari daun bergejala HDB dari enam kabupaten yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Bonebolango, Gorontalo Utara, Boalemo dan Pohuwato.
Inokulum yang telah disiapkan diinokulasikan pada varietas padi yang sering digunakan dan beberapa yang baru dikembangkan di Gorontalo yaitu Ciherang, Mekongga, Inpari 2, Inpari 7, Inpari 10, Inpari 21, Inpari 23, Inpari 24, Inpari 29 dan Inpari 30. Benih padi yang telah disemaikan pada bak persemaian dan berumur 21 hari dipindahkan ke pot percobaan dengan diameter 20 cm.
Inokulasi inokulum X. campestris pv.
oryzae dilakukan dengan memotong daun padi 2-3 cm dengan menggunakan gunting kemudian disemprot dengan suspensi inokulum. Padi yang telah diinokulasi disungkup dengan plastik dan didiamkan selama 24 jam.
Parameter yang diamati adalah masa inkubasi, panjang lesio dan intensitas serangan penyakit. Masa inkubasi adalah masa sejak inokulasi sampai dengan timbulnya gejala penyakit HDB yang diamati sejak satu hari setelah inokulasi sampai dengan timbulnya gejala awal berupa munculnya gejala hijau kelabu berdekatan dengan ujung daun yang dipotong. Panjang lesio diukur 14 hari setelah inokulasi dengan merata-ratakan panjang gejala dari lima daun terinfeksi
Intensitas serangan penyakit dihitung dengan rumus yang mengacu pada Heru dkk. (2011) sebagai berikut:
I ∑
Keterangan:
IS = intensitas serangan (%);
n = jumlah daun tanaman dengan skala kerusakan tertentu;
v = nilai skala kerusakan dari tiap kategori serangan;
N = jumlah daun tanaman yang diamati;
Z = nilai skala kerusakan tertinggi
Skala kerusakan dan kategori tingkat ketahanan penyakit HDB berdasarkan Suparyono dkk. (2004) dan disajikan pada Tabel 1. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif.
Tabel 1. Skala Kerusakan dan Kategori Tingkat Ketahanan Penyakit Hawar Daun Bakteri
Skala
kerusakan Luas gejala Reaksi 0 Tanpa gejala Sangat tahan
1 1-5% Tahan
3 6-12% Agak tahan
5 13-25% Agak rentan
7 26-50% Rentan
9 51-100% Sangat rentan
Prosiding Plant Protection Day II (2):163-168 Uji Ketahanan 10 Varietas …
165 HASIL DAN PEMBAHASAN
Masa Inkubasi
Masa inkubasi penyakit HDB pada semua varietas yang diuji dengan sumber inokulum yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 2. Masa inkubasi sebagai tanggapan varietas terhadap kehadiran patogen Xanthomonas beragam dari varietas satu ke varietas yang lain dan sumber inokulum yang satu dengan sumber lainnya. Rata-rata masa inkubasi untuk 10 varietas yang diuji berkisar antara 2,3 sampai 5 hari.
Masa inkubasi patogen pada semua varietas yang diuji tergolong kategori cepat yaitu <8 hari. Hal ini berbeda dengan masa inkubasi pada tanaman padi varietas unggul nasional hasil penelitian lain yaitu 4,67-12 hari dan pada varietas lokal aromatik Sulawesi Selatan selama 7 hari (Hadianto dkk., 2016; Herwati, 2014).
Virulensi patogen atau reaksi ketahanan suatu varietas tanaman terhadap patogen dapat dinilai berdasarkan panjang pendeknya masa inkubasi. Masa inkubasi yang lama menandakan suatu varietas tahan terhadap suatu patogen (Rahim dkk., 2012).
Perbedaan masa inkubasi selain dipengaruhi jenis varietas dan sumber inokulum patogen, diperkirakan dipengaruhi juga oleh kondisi lokasi pengujian terutama keadaan suhu dan kelembaban. Kisaran suhu dan kelembaban di lokasi penelitian masing-masing 26-32oC dan 67-85%. Kisaran suhu dan kelembaban tersebut mendukung pertumbuhan X. campestris pv. oryzae. Kisaran suhu dan kelembaban optimum untuk perkembangan X.
campestris pv. oryzae 25-30oC dan 77-86
% (Andayani, 2010).
Panjang Lesio
Panjang lesio adalah reaksi gejala layu pada ujung daun dan muncul bercak
kelabu pada tepi daun yang kemudian mulai berkerut seluruh bagian daun mulai berwarna putih kecoklatan dan kuning pucat menuju pangkal daun. Hasil pengukuran panjang lesio pada semua varietas yang diuji disajikan pada Tabel 3.
Kisaran panjang lesio antara 2,35 sampai 13,54 cm. Panjang lesio beragam antar varietas yang satu dengan lainnya serta antar lokasi satu dengan lainnya.
Varietas Ciherang menunjukkan panjang lesio di bawah 3 untuk sumber inokulum Kota Gorontalo dan termasuk dalam kategori tahan, selebihnya sebagian besar varietas menunjukkan panjang lesio antara 3-6 cm yang termasuk dalam kategori moderat tahan. Varietas yang panjang lesionya di atas 6 cm yaitu varietas Ciherang, Mekongga, Inpari 2, Inpari 10, Inpari 23 dan Inpari 29 untuk sumber inokulum yang berbeda.
Ketahanan terhadap HDB dapat dilihat berdasarkan panjang bercak (Ogawa et al., 2015). Varietas yang tahan tidak menunjukkan infeksi dan gejala layu pada ujung daun yang diinokulasi pada 14 hari setelah inokulasi. Bercak pada daun dari varietas tersebut tidak berkembang dan hanya kering berwarna coklat tua pada ujung daun dengan panjang lesio kurang dari 3 cm (Hadianto dkk., 2016).
Kedua faktor baik varietasnya sendiri maupun sumber inokulum yang kemungkinan berbeda virulensi berpengaruh terhadap panjang lesion sehingga untuk menentukan ketahanan pada varietas uji perlu dipisahkan berdasarkan sumber inokulumnya.
Menurut Ogawa et al. (2015), panjang lesio pada tanaman padi dipengaruhi oleh sinar matahari dan suhu selama perkembangan penyakit, latar belakang genetik dari varietas, serta konsentrasi
inokulum dan virulensi.
166
Tabel 2. Rata-rata Masa Inkubasi Penyakit Hawar Daun Bakteri pada 10 Varietas Padi dengan Enam Sumber Inokulum
Varietas
Utara Bolaemo Pohuwato Ciherang
Tabel 4 menampilkan intensitas serangan penyakit HDB berkisar antara 0,05-54,56% dengan kategori Sangat Rentan sampai Sangat Tahan. Setiap varietas yang diuji tidak ada yang menunjukkan reaksi ketahanan yang konsisten sama terhadap inokulum X.
campestris pv. oryzae yang bersumber dari lokasi yang berbeda. Perbedaan ini bisa jadi berkaitan dengan adanya perbedaan ras patogen dari masing-masing daerah sumber inokulum yang membawa sifat virulensi yang berbeda-beda. Liu et al. (2006) dan Utami et al. ( 2011) menyebutkan bahwa X. campestris pv. oryzae berkembang dengan bentuk ras yang berbeda-beda di setiap daerah yang menjadi lokasi serangannya karena bakteri ini sangat mudah membentuk strain atau ras baru.
Begitu juga sebaliknya varietas yang diuji menunjukkan respon ketahanan yang berbeda terhadap satu sumber inokulum.
Hal ini berkaitan dengan sifat ketahanan yang dibawa oleh masing-masing varietas secara genetis. Varietas tahan memiliki gen ketahanan terhadap patogen X.
campestris pv. oryzae yang dikendalikan oleh gen R mayor (Liu et al., 2006). Sifat ketahanan ini memengaruhi cepat lambatnya perkembangan patogen.
Perkembangan bakteri X. campestris pv.
oryzae pada varietas tahan lebih lambat dibandingkan pada daun varietas rentan dan bukan berarti tidak dapat diinfeksi tetapi infeksi X. campestris pv. oryzae tidak menimbulkan keparahan penyakit yang tinggi (Kadir, 2009; Susanto & Sudir, 2012).
Utara Bolaemo Pohuwato Ciherang Padi dengan Enam Sumber Inokulum
Prosiding Plant Protection Day II (2):163-168 Uji Ketahanan 10 Varietas …
Utara Bolaemo Pohuwato Ciherang menunjukkan sifat ketahanan yang beragam terhadap X. campestris pv.
oryzae tergantung pada sumber inokulum.
Varietas Mekongga dan Inpari 24 tahan terhadap inokulum Bone Bolango, varietas Mekongga, Inpari 23, Inpari 24, Inpari 29 dan Inpari 30 tahan terhadap inokulum Kota. Tidak ada varietas yang tahan terhadap inokulum Kabupaten Gorontalo.
Semua varietas tahan terhadap inokulum Gorontalo Utara kecuali Inpari 29. Varietas Ciherang, Inpari 2, Inpari 10, dan Inpari 23 tahan terhadap inokulum Boalemo sementara varietas Ciherang, Inpari 23, Inpari 24, Inpari 24 tahan terhadap inokulum Pohuwato.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani, S. 2010. Penyakit Hawar Daun Bakteri. Balai Penyuluhan Pertanian Lembang.
BBPOPT. 2007. Efektivitas Bakteri Antagonis Corynebacterium terhadap HDB/Kresek. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan.
Tersedia online pada
www.bbpoptjatisasi.com. (diakses 20 Februari 2015).
BPTPH. 2013. Hama dan Penyakit Tanaman Padi. Gorontalo. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Hadianto, W, L Hakim, dan Bakhtiar, 2016.
Ketahanan Beberapa Genotipe Padi terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv.
oryzae). Etd.unsyiah ac.id. (diakses 10 Oktober 2016)
Heru, A Djatmiko, B Prakoso, dan N Prihatiningsih. 2011. Penentuan patotipe dan keragaman genetik Xanthomonas oryzae pv. oryzae pada tanaman padi di wilayah Karesidenan Banyumas. J. HPT Tropika. 11(1):35-46.
Herwati, A. 2014. Reaksi Ketahanan Beberapa Varietas Padi Aromatik Lokal Sulawesi Selatan terhadap Isolat-Isolat Penyebab Penyakit Hawar Daun Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae L.). Tesis. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan.
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Kadir, TS. 2009. Menangkal HDB dengan menggilir varietas. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
31(5):1-3.
Liu, DN, PC Ronald, and AJ Bogdanove.
2006. Xanthomonas oryzae Pathovars: Model pathogens of a
Reaksi ketahanan beberapa varietas padi komersial terhadap patotipe Xanthomonas oryzae pv. oryzae isolate Sulawesi Tenggara.
Penelitian Agronomi. 1(2):132-138.
168 Suparyono. 2004. Pathotype profile of
Xanthomoas campestris pv. oryzae, isolates from the rice ecosystem in Java. Indonesian Jurnal of Agricultural Science. 5(2):63-69.
Susanto, U dan Sudir. 2012. Ketahanan Genotipe Padi terhadap Xanthomonas oryzae pv. oryzae Patotipe III, IV, dan VIII. Prosiding Seminar. Penelitian Pertanian
Tanaman Pangan 31(2):110. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.
Sukamandi. Subang.
Utami, D, TS Kadir, dan S Yuriah, 2011.
Faktor virulensi AvrBs3/PthA pada Ras III, Ras IV, Ras VII dan IXO93 patogen hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae).
Jurnal Agrobiogen. 7(1):1-8.
Prosiding Plant Protection Day II (2):169- 174 Keefektifan Formulasi Minyak Mimba …
169
KEEFEKTIFAN FORMULASI MINYAK MIMBA (Azadirachta indica) (MELIACEAE) 50 EC TERHADAP Leptocorisa sp. DAN PENGARUHNYA TERHADAP ARTHROPODA